Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Sebuah Perasaan


__ADS_3

Satu hari setelah pulang dari Kalimantan. Harjunot memutuskan untuk menepati janjinya untuk mengajak Arsy kencan diakhir masa singgel nya. Motor yang dikendarai oleh Harjunot memasuki pekarangan rumah Langit. Lelaki itu turun dari motor dan berjalan kearah pintu utama.


"Assalamu'alaikum!" sapanya karena kebetulan pintu utama terbuka lebar.


"Wa'alaikumussalam!" jawaban paruh baya mendekati Harjunot.


"Ayo masuk Not!" ajak Bunda.


Harjunot mengangguk dan mengikuti Bunda, dari belakang.


"Pa! Ada Junot!" Kata Bunda saat sudah ada di ruang keluarga.


Ketiga lelaki yang tadi fokus melihat acara sepak bola. Kepalanya menengok ke belakang, saat Bunda bersuara.


"Oh ...kamu Not!" Papa bangkit dari duduknya dan menghampiri Harjunot. Mereka bersalaman dan berpulukkan selayaknya teman. Yang kangen dengan temanya.


"Ayo ... duduk!" ajak Papa sambil merangkul Harjunot. Dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Laos sama Indonesia! Berapa-berapa nih?" tanya Harjunot.


"Tiga : satu!" jawab Kafka.


"Setengah main, menurutmu apa Timnas bisa ngejar sekor mereka!"


"Minim Kak!" sahut Kafka matanya fokus kearah televisi.


"Oh ...ya Pa! Kata Coach Za! Kelau Kaka, mau ngelajutin academic diluar negeri! Rekomendasi dari beliau, kalau bisa masuk klub Sporting Lisbon!" ujar Kafka, membuat Papa menatapnya.


"Benar mau sekolah di sana?" tanya Papa menatap. Kafka mengaguuk pelan.


"Toh kata Coach, di sana Kafka juga masih bisa nglanjutin sekolah Kafka yang disini!"


"Sekolah SMP kurang setahun, mending nanti setelah lulus SMP. Jadi disana kamu langsung SMA!" sahut Gibril.


"Tidak, kalau setahu lagi umurku lima belas lebih dong! Target Kaka, masuk Timnas U-19!" ujarnya.


"Ada yang berbayar dan ada yang gratis!" tukasnya lagi.


Harjunot hanya mendengar pembicaraan saja.


"Ya sudah ikut yang Gratis saja!" goda Gibril.


"Gratis tapi kontrak jadi milik klub." jawab Kafka.


"Lah enak dong ikut main disana!" sahut Gibril.


"Sama-sama jika Ayi pernah kuliah di Malaysia dan Rusia yang ngabisin banyak uang. Aku juga mau Papa, ngeluarin uang buat membiayai Kaka! Aku enggak mau yang gratis!" ujarnya sambil beranjak dari duduknya.


"Woi, jangan marah dong!" Gibri bersuara.


"Siapa yang marah? Aku mau manggil Ayi, kasian Kak Arjunot nunggu lama!"


...***...


Ruang keluarga nampak ramai, seluruh penghuninya berkumpul di sana. Arsy yang ingin berbicara sesuatu. Perempuan itu berdeham sejenak.


"Ehem ...Papa, Bunda! Maaf Ayi baru bisa memberi tahu kalian sekarang!" Arsy menundukkan kepalanya.


Membuat Papa, Bunda, Abang dan Kak Vi mengerutkan keningnya.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Papa.


"Sebenarnya, ingatannya sudah kembali Papa!" celetuk Kafka yang membuat Arsy kesal.


Sontak saja Bunda langsung menutup mulutnya. Seluruh keluarga bahagia karena kabar ini.


"Sejak kapan?" tanya Kak Vi terharu.


"Sebenarnya setelah acara tunangan, Kafka mulai. Menceritakan semua, tapi Ayi ingat keseluruhan. Setelah Enjun, berangkat ke Kalimantan!" jawab Arsy seraya melirik Harajunot.


"Ayi! Dia adalah calon suamimu. Apa kau bisa tidak memanggilnya dengan nama! Mungkin saja Mas!"


Sontak saja Arsy langsung menundukkan kepalanya. Perempuan itu sangat malu dengan perkataan Bundanya.


"Mas Enjun!" Kafka mengedipkan sebelah matanya kearah Harjunot.


Membuat Harjunot tersenyum geli, bagaimana tidak. Jika Kafka berpilaku layaknya anak gadis yang kecentilan.


"Apa manggil Mas, untuk suami adalah kewajiban?" Arsy bertanya.


"Tidak juga, lebih tepatnya! Itu cara para istri menghargai suaminya!" Bunda menjawab.


"Berarti kau tidak menghargai ku Vi! Kau tidak memanggilku Mas!" sahut Gibril.


"Aku memang tidak memanggilmu Mas, tapi aku sangat-sangat menghargai mu. Makanya aku panggil kamu Ayank!" Vi menyandarkan kepalanya di bahu Gibri.


Melihat tingkah kak Vi, yang seperti ulat bulu. Kafka bergidik ngeri.


"Semoga baby Bell! Enggak kayak gitu!" ujar Kafka. Yang membuat Harjunot mengerutkan dahi.


"Maksudnya?" Harjunot bertanya.


"Kak Arjunot, tolong didik calon istriku dengan benar ya! Nanti kalau udah dewasa, biar dia tidak seperti itu!" tunjuknya kearah Kak Vi

__ADS_1


Sontak saja wajah Harjunot langsung datar. Bagaimana mungkin anaknya yang masih bayi, sudah ada yang ngincar mau dijadikan istri.


Papa menahan senyumnya karena melihat ekspresi Harjunot. Sedangkan Kafka tertawa ngakak karena berhasil menggoda calon kakak iparnya.


"Berarti status Kak Arjunot saat ini! Cakpar dan camer dong!" Kafka bersuara.


"Setuju enggak kalau Kaka, nikah sama baby Bell! Istilah kan dari orok kita sudah kenal!"


Arsy melirik kearah Harjunot, yang menahan kesal. Karena kelakuan Kafka.


...***...


Harjunot berjalan keluar pintu dengan kesal. Arsy yang berjalan di belakangnya. Mencoba mensejajarkan langkahnya.


"Kamu kenapa?"


"Marah sama perkataan Kafka?"


"Ya gimana enggak marah, masa dia bilang gitu. Bagaimana pun baby Bell adalah putriku!"


"Ya Allah! Enjun dia cuma bercanda!" Arsy berusaha menenangkan Harjunot.


"Nanti aku nasehatin Kaka! Tapi sekarang kamu jangan emosi!" ujarnya menepuk pundak Harjunot.


Harjunot pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Motor itu parkir di depan restoran bintang lima. Saat Harjunot ingin masuk ke pintu utama lestoran. Arsy yang berjalan dibelakangnya menarik lengannya.


Harjunot menengokkan kepalanya kebelakang. Dan bertanya. "Ada apa?"


Arsy menggeleng pelan membuat Harjunot penasaran.


"Kenapa?" tanya Harjunot kembali.


"Jangan disini, aku enggak mau. Disuruh nyuci piring, seperti tempo hari!"


Harjunot tersenyum karena jawaban Arsy.


"Tenang saja bawa uang!"


Akan tetapi Arsy tetap menggeleng tidak mau. Sepertinya perempuan itu trauma dengan kejadian tempo hari.


"Terus mau makan dimana?" Harjunot terlihat lebih perhatian.


"Pedagang kaki lima yang ada di trotoar aja!" jawab Arsy tanpa ragu.


"Ya sudah ayo!"


Harjunot melajukan motornya pelan. Seraya melihat kanan-kiri jalan. Siapa tahu ada makanan yang cocok.


"Itu Enjun, ramai mungkin saja makanannya enak!" Arsy menujuk ke kanan kiri jalan.


Harjunot pun menyetujui permintaan Arsy. Motor Harjunot berhenti tepat di penjual sate. Harjunot membuka helmnya, dan menengok kearah Arsy.


"Benar mau makan disini? Sate kelinci?"


Arsy mengangguk pelan.


"Tapi ini ramai, kamu mau nunggu emangnya? Terus kursinya juga penuh."


Arsy mengangguk takzim.


"Enggak apa-apa," jawabnya.


Sambil menunggu pesanan datang Arsy yang duduk di jok belakang. Menguncir rambut Harjunot.


"Apa yang kamu lakukan?" Harjunot bertanya sambil menatap layar ponselnya.


"Hehehe! Aku suka banget sama aktor Xu_Kai! Apalagi kalau rambutnya dikuncir ... tampan banget!"


"Terus apa hubungannya dengan saya!"


"Ya, enggak ada! Orang aku suka nguncir rambut Kaka! Lah disini enggak ada Kaka, ya sudah kamu yang aku kuncir! Dah jadi!" Arsy bertepuk tangan.


...***...


Arsy dan Harjunot sudah duduk di kursi warung. Kebetulan pesanannya juga sudah datang.


Arsy sudah menghabiskan lima tusuk sate kelinci. Sedangkan Harjunot memakan sate dengan nasi.


Melihat Harjunot makan nasi dengan lahap. Membuat Arsy menelan ludahnya. Harjunot yang tadi melirik kearah Arsy tersenyum tipis.


"Apa? Kepengen?"


Arsy tersenyum kaku, dia ingin bilang iya tapi sedikit gengsi.


"Ayo cobain dulu, aaaaaaaaaa!" ujar Harjunot yang ingin menyuapi Arsy.


Sontak saja Arsy langsung membuka mulutnya lebar-lebar.


"Anak pintar!" Harjunot mengacungkan jempol.


Sedangkan Arsy mengunyah makanan dengan mulut penuh.


"Bagaimana pendapatmu dengan ucapan Bunda, tadi?" tanya Arsy sambil menyedot minuman.

__ADS_1


"Soal?" Harjunot mengerutkan keningnya sambil memasukkan sate kedalam mulutnya.


"Panggilan untukmu! Maksudnya cara menghargai suami. Apa kamu setuju dengan pendapat Bunda?" tanya Arsy yang menyuapkan nasi ke mulutnya. Kebetulan tadi Harjunot memesankan nasi untuknya.


"Seseorang memiliki pemikiran yang berbeda! Tapi apa salahnya, jika kamu. Mencoba memanggilku dengan panggilan suami-istri!"


"Coba satu-satu! Saya mau dengar!" Sambung Harjunot.


"Bang Enjun!" Harjunot menggeleng.


"A Enjun!" Kembali menggeleng.


"Kak Arjunot!" Harjunot berdecak kesal.


"Kang Enjunnnnn!" Bibir Harjunot cemburut.


"Mas Ali!"


"Dari semua diatas, itu bukan panggilan istri kepada suami. Tetapi panggilan adik ke kakaknya." Harjunot memberi sambel di satenya.


"Terus?"


"Panggil saja Habib Ali!" Harjunot tersenyum lebar.


"Habib Ali? Artinya apa?" Arsy bertanya.


"Habib dalam bahasa Arab artinya ke kasih! Kalau Ali, kamu sudah tahu. Waktu itu sudah saya kasih tahu!"


"Terlalu Alayyyyyy! Masa manggilnya Habib! Habib! Terlalu panjang!" Arsy tidak terlalu setuju.


"Singkat saja Bib! Gampang kan!"


Arsy menyetujui permintaan Harjunot.


"Terus kamu mau dipanggil apa dari si kembar! Umi? Ami? Mommy? Bunda? Atau Mak?" Harjunot tersenyum tertahan.


"Sungguh sangat egois, bagi saya! Jika saya yang baru mengenal si kembar. Akhir-akhir ini langsung dipanggil dengan panggilan yang paling mulia di kalangan wanita."


"Maksudku adalah, aku tidak mau. Mengambil hak mereka, untuk memanggil aku dengan panggilan yang mereka inginkan. Saya memang akan menikah dengan Abinya. Bukan berarti saya, harus menyuruh mereka memanggil saya dengan sebutan yang kamu sebutkan tadi."


"Jangan suka ikut-ikutan saja. Di negara kita, mayoritas, jika orang tuanya menikah. Maka anak harus memanggil orang tua sambungnya dengan sebutan Papa atau Bunda dsb!"


"Aku rasa kita sebagai orang dewasa, sangat teramat egois. Karena kita memaksa anak kecil, memanggil kita dengan panggilan yang kita inginkan! Kenapa anak yang harus dipaksa? Kenapa kita yang sudah dewasa, enggak mau mengenyampingkan ego kita. Setidaknya yang dewasa harus lebih, menghargai. Anak kecil, mau si anak manggil Tante, kakak atau yang lain. Harusnya kita bisa menerima dan menghargai panggilan yang ia berikan untuk kita."


"Toh kita juga enggak pernah ngerasain, gimana rasanya ngandung dan melahirkan! Terus bagaimana seorang Ayah, harus standby jika Ibunya, tengah malam ingin sesuatu. Kita selaku orang tua sambung enggak ngerasain, itu semua! Terus kenapa kita tiba-tiba langsung dapat panggilan yang mulia itu!"


"Aku bicara ini dari sudut pandang orang tua kandung! Bukan orang tua sambung," ujar Arsy yang membuat Harjunot menggeleng tidak percaya.


"Berbeda lagi, jika si anak. Ingin memanggil orang tua sambungnya. Dengan panggilan mulai itu! Yang penting kita sebagai orang dewasa enggak maksa!"


"Dan untuk kasus si kembar yang tidak pernah, melihat Uminya! Kita selaku orang tua, harus memberi tahunya. Selagi masih kecil Jika Umi mereka adalah Umi Fitri! Biar saat mereka besar, bisa mencerna sistuasi yang terjadi. Sebisa mungkin, ayo kita jadi orang tua yang baik buat mereka. Dan jangan egois!"


Harjunot bungkam tidak berbicara. Arsy yang notabenenya akan menjadi orang tua sambung. Sangat pengertian, perempuan itu bisa mengesampingkan egonya.


"Terima kasih! Aku harap kedepannya kita menjadi keluarga yang bahagia!"kata Harjunot singkat.


"Dan satu lagi, aku tidak akan cemburu dengan cinta si kembar untuk Kak Fitri. Karena apa? Karena statusnya berbeda. Kak Fitri ibu kandung levelnya lebih tinggi. Sedangkan aku hanya ibu sambung buat mereka!" Arsy menatap dalam mata Harjunot.


"Akan tetapi berbeda dengan kondisiku yang mungkin akan cemburu. Jika kamu lebih condong ke almarhumah istrimu? Kenapa? Karena statusku dengan Kak Fitri sama! Jadi aku ingin berpesan padamu, untuk berpilaku tidak menyakiti perasaan istri-istrimu! Aku tidak menyuruhmu untuk adil! Tidak sama sekali. Karena aku tahu, bahwa manusia tidak akan bisa adil tentang cinta!"


Sontak saja Harjunot tertegun dengan pernyataan Arsy. Perempuan didepannya benar-benar sudah kembali. Seperti sedia kala.


"Harjunot Ali! Apa kau mencintai ku?" Arsy bertanya kembali tentang cinta. Padahal kemarin Harjunot sudah menjawabnya.


"Mudah sekali bagi seseorang untuk jatuh cinta. Apalagi orang itu pernah dihatinya! Tinggal disiram, akan tumbuh kembali. Aku harap ini bisa menjawab pertanyaanmu!" jawab Harjunot tegas.


"Jadi dulu aku pernah ada di hatimu?"


"Hemmm!" Mengangguk pelan sambil menatap makanan.


"Tapi kenapa kamu dulu tidak mengatakan?" Arsy merenung, andai saja takdirnya tidak seperti ini. Mungkin saja dirinya dan Harjunot sudah memiliki anak. Dan pasti tidak akan ada yang tersakiti karena cinta.


"Bagaimana aku bisa mengatakannya. Jika aku baru menyadari hal itu, saat aku sudah menikah! Katakan Ra, siapa yang tersakiti dalam hubungan ini?"


"Aku, kau atau Fitri?"


Pertanyaan Harjunot membuat Arsy bungkam. Bahwa dalam pusaran cinta ketiganya. Sama-sama tersakiti akan cinta.


"Maka jawabannya adalah kita semua Ra! Kamu yang menderita karena melihat aku dengan Fitri!" Harjunot menarik nafasnya panjang.


"Sedangkan Fitri dia tidak salah apa-apa. Harus menerima ketidak adilan dalam cinta. Saat dihati suaminya, ada nama perempuan lain!"


"Dan aku Ra! Apa yang terjadi padaku? Disaat aku mulai jatuh cinta denganmu. Aku harus berusaha menghapus perasaanku padamu. Karena aku, telah menikah dengan perempuan lain. Dan disaat aku sudah bisa keluar dari cinta yang salah. Kenapa cinta yang benar meninggalkan ku untuk selamanya! Apa aku salah dalam kondisi seperti ini? Aku juga enggak mau! Nyakitin perasaamu dan Fitri! Katakan siapa yang paling sakit dalam pusaran cinta ini?" tanya Harjunot.


Arsy menarik nafas panjang, ternyata Harjunot lah. Yang paling tersakiti dalam kisah cinta ini.


*Hayo siapa yang nyalahin Harjunot, yang tidak suka karena dibilang egois...


Harjunot yang malang...


Tenang saja author bersamamu sayang....


cie panjang*.....

__ADS_1


__ADS_2