
Harjunot menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena salah tingkah. Kafka menarik tangan Arsy agar mendekat.
"Maaf Kak! Atas kelakuan yang Kakak saya lakukan. Saya harap kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi kedepannya!" ujar Kafka tersenyum dipaksakan. Untuk mengurangi kecanggungan yang terjadi.
"Em ...maaf saya permisi!" ujar Harjunot meninggalkan Kakak-beradik itu.Arsy hanya menunduk karena merasa bersalah dan malu semuanya melebur menjadi satu.
'Tuhan, kenapa waktu berpihak kepada mereka? Kenapa waktu memberikan kesempatan untuk keduanya. Padahal mereka tidak akan bersama. Tuhan! Tolong kuatkan dan tegar kan hati Kakakku untuk menerima sebuah kenyataan takdir' batin Kafka termenung memikirkan bagaimana perasaan Kakaknya.
'Satu kata yang pasti, Kakak perempuanku sekarang Hancur' batin Kafka.
"Sejak kapan kau ada disini?" Arsy bertanya dengan suara berat.
Kafka terdiam, dia teringat bagaimana bisa sampai dapur. Saat Arsy berjalan kearah dapur Kafka baru saja keluar dari lift. Terdengar teriakan yang melengking di telinganya. Pemuda tanggung itu ingin segera berlari kearah dapur. Akan tetapi semua terlambat kala ia tersandung kakinya sendiri. Hingga saat ia sampai di pintu dapur, ia mendengar suara orang yang mendesah.
Suara yang tak seharusnya ia dengar, mata yang tak seharusnya menatap hal yang tak semestinya. Akan tetapi jika ia tidak segera memergoki mereka, maka dosanya semakin besar.
"Tidak penting!" jawabnya sambil membuka lemari pendingin.
"Minumlah!" Kafka menyodorkan gelas kearah Arsy agar Kakaknya merasa tenang.
"Kita ke kamar sekarang!" Kafka menggandeng tangan Arsy.
Setelah sampai kamar pribadi Kakaknya. Pemuda tanggung itu menjatuhkan tubuhnya di kasur. Sedangkan Arsy duduk sambil menundukkan wajahnya.
Kafka memejamkan mata, menutup dengan lengannya. Diumur yang belum genap tiga belas tahun, dia disuruh memahami rumitnya kisah cinta. Kisah cinta sang Kakak dengan sahabat Papanya, yang notabenenya sudah beristri.
Sedangkan Arsy termenung mengingat kejadian sepuluh menit yang lalu. Perempuan itu memukul bibirnya berulang-ulang. Menutup kedua telinganya. Seolah tidak mau mengingat kejadian sepuluh menit yang lalu. Dimana bibirnya menempel di bahu seorang lelaki yang bukan muhrimnya. Dan telinga yang mendengar suara dësâhân dari lelaki yang ia cintai. Entah mengapa Arsy begitu jijik memikirkan apa yang ia lakukan. Meskipun dirinya tidak sengaja melakukan hal itu.
"Aku jijik hi ...hiks!" Arsy mengelap lehernya yang bergesekan dengan leher milik Harjunot.
Kafka yang mendengar tangisan itu, dengan sigap ia terbangun dari rebahan nya.
__ADS_1
"Kotor ...hi!"
"Ayi! Ayi! Jangan menyalahkan dirimu okey! Inikan enggak disengaja! Jadi ini enggak semua salah Ayi!" Kafka memegang pundak Kakaknya.
"Tapi tetap saja itu sudah melampaui batas!" Arsy menagis kemudian berlari kearah kamar mandi.
Perempuan itu menggosok giginya berulang kali. Giginya masih merasakan bagaimana ia menggigit pundak Harjunot.
Arsy memejamkan matanya, seolah ingin mengingat sesuatu. Kini otaknya telah memutar rekaman kejadian di dapur. Hingga kejadian menggigit bahu milik sahabat Papanya. Arsy membuka matanya menatap pantulan wajahnya.
"Aku menggigitnya dibagian leher!"
Arsy kembali memejamkan matanya. Membuat air matanya meleleh kembali.
...***...
Sedangkan disisi lain Harjunot membuka pintu kamar tamu. Dia menguncinya perlahan. Menatap kearah istrinya yang tertidur meringkuk. Kini hatinya seolah tergores oleh belati tajam. Sebuah penghianat yang baru saja ia lakukan. Penghianatan melalui fisik, dia teringat bagaimana dia menikmati cembuan dari perempuan lain. Sungguh dia lebih pantas disebut Lelaki Penghianat. Itulah yang ada dalam pikiran Harjunot. Dia tidak tega melihat istrinya hancur karena ulahnya barusan. Dan bagaimana jika istrinya tahu. Jika dihatinya memendam sedikit perasaan untuk perempuan lain.
Langit takut jika dirinya kenapa-napa. Hujan tadi malam sangat lebat. Membuat atasannya menghawatirkan dirinya dan sang istri.
Harjunot berjalan kearah kamar mandi, dia masuk sambil membuka kausnya. Kemudian membuangnya ke segala arah. Harjunot menatap pantulan wajahnya. Betapa terkejutnya ia, saat menemukan tanda yang tak seharusnya ada.
Perlahan Harjunot meraba lehernya dengan tangan. Dia memejamkan matanya, setetes air mata meluncur membasahi pipinya. Air mata menggambarkan ketidak berdayannya seorang Harjunot. Tangannya mengepal memukul wastafel.
"Maafkan aku Fit! Maafkan aku! Aku bukan lelaki yang baik. Orang lebih pantas menyebutku seorang penghianat tidak tahu diri!" Germetak giginya seolah ia geram dengan dirinya sendiri.
"Lelaki yang tidak tahu diri!"
"Lelaki yang kurang bersyukur!"
"Lelaki yang lupa siapa dirinya sebenarnya."
__ADS_1
"Sosok lelaki baj*ngan yang pernah aku temui untuk yang pertama kalinya. Adalah diriku sendiri!" Harjunot mencaci maki dirinya sendiri.
Harjunot melakukan hal itu, karena teringat bagaimana bren*seknya dia. Yang berani menghiyanati istrinya. Harjunot tidak terima jika hatinya mengkhianati istrinya.
Dia begitu mencintai istrinya. Tapi kenapa didalam hatinya juga ada sedikit cinta untuk perempuan selain istrinya.
"Kurang baik apa sih Tuhan, kepadamu Not? Dia memberikan istri sebaik Fitri, kenapa kamu tega mengkhianatinya?"
"Fit! Aku berjanji kepadamu! Aku akan menjadikan dirimu yang mengisi hatiku sepenuhnya. Tiadak ada perempuan lain yang berhak mengisi hatiku selain istriku!" Sebuah janji yang Harjunot ucapkan untuk istrinya.
"Aku akan mencoba menghilangkan perasaan ini dari hatiku! Cukup istriku saja yang mengisinya! Aku tidak butuh perempuan lain!" Harajunot menarik rambutnya karena frustasi.
Lelaki itu memutuskan untuk mandi. Dibawa guyuran shower, Harjunot menyabun setiap jengkal tubuhnya. Khusus di bagian lehernya, dia menggosok berkali-kali. Brlerharap ada keajaiban Tuhan, tanda yang ia benci akan hilang setelah dicuci.
Lelaki itu seolah sudah kehilangan kesuciannya. Banyak orang bicara, jika perempuan harus menjaga diri agar suci. Lantas mengapa hal itu tidak ada didalam kamus lelaki.
"Bagaimana ini mungkin, aku menjaga diriku untuk istriku. Akan tetapi kenapa aku kecolongan! Maafkan aku Fit, karena aku tidak bisa memberikan tubuhku ini, untuk yang pertamakalinya padamu!" Sesalnya.
...***...
Harjunot keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Dia berjalan kearah istrinya yang masih meringkuk. Satu kecupan manis dibibir Fitri, sebagai penebus dosa dan kesalahannya.
"Emmttt!" Fitri mengkilat karena merasa ada sesuatu yang menempel dibibirnya. Perempuan itu mencoba mengerjap-ngjapkan matanya.
Harjunot tersenyum manis karena tingkah istrinya itu.
"Mas Arjunot! Usil ah!" ujarnya seraya mengelap mulutnya.
"Biarin istri sendiri!" Harjunot ingin melupakan kejadian saat di dapur. Hanya dengan menggoda istrinya mungkin saja itu bisa melupakan hal yang memang harus dilupakan.
...***...
__ADS_1