Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Bi! Saya Malu


__ADS_3

"Ayo duduklah, baringkan dia disini!" ujar Harjunot sambil menepuk kasur khusus bayi. Arsy pun meletakkan baby Bell yang masih menangis di samping kembarannya.


Harjunot memasang kaus tangan itu ditangannya. Lelaki itu menyuruh Arsy mendekat kearahnya. Harjunot membuka tutup sepodol itu dengan giginya.


"Sini wajahnya!"


"Enggak mau, saya mencium bau-bau Anda akan mengerjai saya!" ujar Arsy memundurkan badannya.


"Lihatlah karena Anda, putri saya menagis. Jadi Anda harus bertanggung jawab! Kalau tidak, silahkan keluar dari rumah ini!" Ancam Harjunot, dengan berat hati Arsy akhirnya mau melakukan apa yang Harjunot inginkan.


Harjunot memegang wajah Arasy dengan tangan kiri. Lelaki itu tersenyum samar, saat mengingat apa yang akan ia lakukan.


Tinta sepodol itu sudah siap menghiasi wajah putih Arsy. Perempuan itu mencekal pergelangan tangan Harjunot.


Dan bertanya. "Apa yang akan Anda lakukan?"


"Diamlah, mau saya suruh pulang?"


Setelah itu Arsy tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Harjunot mulai memberi kumis dibawah hidung Arsy. Setelah selesai, tangan lelaki itu, mencoret dibagikan pipi. Harjunot memberikan tiga garis tipis dipipi kanan dan kiri. Setelah itu tangannya naik ke atas, tepat di bagian mata Arsy. Harjunot membentuk sebuah lingkaran, dikedua mata Arsy. Dilanjutkan dengan membuat garis, dari sudut mata Arsy ia tarik sampai daun telinga.


"Selesai!" Harjunot tidak bisa menahan tawanya. Karena kreasinya benar-benar jadi.


Sedangkan Arsy menggembungkan pipinya dengan kesal.


"Tawa, silahkan tertawa sepuasnya! Saya doakan semoga Anda tidak bisa berhenti tertawa sampai kapanpun!" cibir Arsy sambil menatap kedua bayi itu.


Baby Bell yang tadi sempat menangis, bayi itu mengeluarkan tawanya saat melihat wajah Arsy yang mirip tikus berkaca mata. Begitupun dengan baby Kai yang tidak mau kalah dengan tawa kembarannya.


'Ah ... mereka benar-benar kompak sekali mentertawakan ku! Awas saja kalau ada kesempatan aku akan membalasnya' batin Arsy.


"Ehem, sepertinya jika Anda menjadi kucing untuk mereka. Nampaknya akan membuat mereka bahagia." Harjunot bersuara.


"Ha? Kucing maksudnya?" Arsy tidak paham.


"Akan saya ajari, sekarang—" Arsy segera memotong.


"Tunggu dulu, sebelum Anda mengajari sesuatu yang menyesatkan kepada saya. Berikan saya cermin untuk melihat wajah saya!"


"Ah ... disini tidak ada cermin. Bagaimana kalau saya foto saja?" ujarnya sambil mengambil ponselnya.


"Baiklah!"


"Nih, Anda bisa melihat wajah Anda!" ujar Harjunot menyodorkan ponselnya.


Arsy pun menerimanya, berapa terkejutnya dia saat melihat gambarnya.


"Aaaaaaaaa," teriak Arsy histeris saat melihat fotonya.


"Huuaaaaaaaa!" tangisan melengking itu membuat Arsy dan Harjunot kaget.


"Cup ...cup anak Abi, jangan nangis Sayang!" Harjunot mengelus kepala kedua anaknya.


"Anda benar-benar sudah kelewatan, masa wajah saya dibuat kayak gini!" Arsy tidak terima dengan perlakuan Harjunot padanya. Perempuan itu menepuk paha Harjunot dengan keras.


"Lebih tepatnya seperti tikus!" tukasnya lagi.


"Hus, Anda terlalu banyak bicara. Karena teriakan Anda putra-putri saya jadi menagis. Sekarang lakukan sesuatu untuk membuat mereka diam, atau Anda mau..." Harjunot menggantung ucapannya.


"Iya, oke! Enggak usah ngancam juga kali!" dengus Arsy kesal.

__ADS_1


"Kasih tau gimana menghibur mereka?" Arsy bertanya sambil menggaruk kepalanya.


"Ah ... buatlah posisi tubuh Anda merangkak seperti bayi!"


Tanpa bicara Arsy mengikuti apa diperintahkan oleh Harjunot. Harjunot mengangkat baby Bell. Kemudian meletakkan diatas punggung Arsy.


"Jalan, dan jangan lupa buat suara!" ujar Harjunot memerintah.


Arsy hanya menurut saja, perempuan itu merangkak mengelilingi ruang keluarga sambil mengeyong seperti kucing.


Harjunot dan putrinya tertawa karena berhasil mengerjai Arsy.


"Sekarang gantian putraku," ujar Harjunot sambil meletakkan putrinya dikasur. Lelaki itu beralih mengangkat putranya, kemudian meletakkan bayinya dipunggung Arsy.


"Meong ...meong!" Arsy mengeluarkan suara. Baby Kai mengeluarkan suaranya saat Arsy mengeyong.


"Sudah, saya lelah!" keluh Arsy.


Harjunot segera mengangkat bayinya. Arsy duduk di samping bayi itu sambil menyeka keringatnya.


"Saya haus!" Arsy bersuara, Harjunot segera berdiri.


"Silahkan diminum!" Harjunot menyodorkan gelas kearah Arsy. Perempuan itu segera meminum air putih itu hingga tandas.


"Makasih!" sindir Harajunot sambil duduk di samping putra-putrinya yang lincah bergerak.


"Ngapain juga bilang terima kasih, kepada orang yang ngerjain saya. Dih ogah!" Arsy mengangkat kedua bahunya.


Harjunot diam tidak meladeni, lelaki itu lebih memilih berinteraksi dengan bayinya.


"Assalamu'alaikum!" Terdengar suara salam dari luar. Membuat Arsy langsung berlari kebelakang Harjunot .Perempuan itu bersembunyi dipunggung Harjunot. Sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Bi, saya malu Bi," ujar Arsy pelan, akan tetapi Harjunot bisa mendengarnya.


'Apa aku tidak salah dengar. Dia memanggil Bi? Apa yang ia maksud Bi itu, babi' batin Harjunot.


"Abi, sih! Kalau ngasih pelajaran enggak kira-kira dulu. Masa wajah saya dicoret tidak ada ampun!"


Deg! Jantung Harjunot berhenti berdetak sejenak. Saat Arsy memanggilnya dengan sebutan Abi.


'Yang benar saja dia memanggilku dengan panggilan Abi! Kenapa hatiku berdebar, saat dia memanggilku Abi! Sudah enggak benar, nih' batin Harjunot menggeleng.


"Not, kenapa dia?" Bu Dewi menunjuk kearah Arsy.


"Di-dia!"


"Hey ... kenapa kamu terbata-bata?"


Harjunot melirik kearah belakang, untuk berbicara dengan Arsy.


"Jangan ngumpet dibelakang saya dong!"


Arsy mulai menampakkan dirinya, perempuan itu masih menutupi wajahnya.


"Nak Arsy, kenapa?" Bu Dewi bertanya.


Arsy yang ditanya mulai menurunkan kedua tangannya dengan pelan.


Bu Dewi ingin tahu sebenarnya kenapa Arsy menutupi wajahnya. Paruh baya itu terus memandang Arsy.


Perlahan tapi pasti, wajah Arsy semakin kelihatan. Bu Dewi menahan tawanya saat Arsy berhasil menurunkan kedua tangannya.

__ADS_1


Arsy memasang wajah cemberut karena ulah Harjunot dia ditertawakan banyak orang.


"Kenapa wajahmu Nak?" Bu Dewi bertanya sambil menahan tawanya.


Arsy melirik kearah Harjunot yang juga mentertawakan dirinya.


"Sebenarnya ini semua karena dia, Tan!" Arsy menunjuk Harjunot.


"Not, apa yang kamu lakukan?" Bu Dewi menatap tajam Harjunot.


"A-aku melakukan apa Bu! Itu semua karena dirinyalah yang minta!"


Arsy melotot, tidak percaya jika Harjunot akan memutar balikkan fakta.


"Bohong Tante!" Arsy mengggeleng.


"Sudah-sudah sekarang kalian mandi bentar lagi adzan magrib! Biar Ibu, yang mengurus si kembar."


Kedua orang itu berjalan beriringan, hingga Harjunot mengeluarkan suara.


"Bu, maafkan saya!" ujarnya memelas.


"Buat apa? Karena Anda telah mengerjai saya seharian?" tanya Arsy nyolot.


"Bukan, tapi karena sepedol yang saya gunakan itu sebenarnya..." Harjunot menggantung ucapannya.


"Apa jangan buat saya penasaran!"


"Permanen!" Harjunot memejamkan matanya.


"Apa?" Arsy terkejut, spontan saja perempuan itu memukul Harjunot tanpa ampun.


"Anda benar-benar keterlaluan. Bagaimana mungkin, Anda tidak mengecek dahulu sebelum melakukan sesuatu. Terus kalau tidak bisa dihapus gimana?"


Harjunot berusaha lolos dari pukulan yang Arsy berikan. Akan tetapi laki-laki itu kuwalahan. Menghadapi perempuan yang marah, tidak ada bedanya dengan macan yang mau menyerang mangsanya.


"Saya hanya bercanda Bu!" Akan tetapi Arsy malah tidak mau menghentikan pukulannya.


Harjunot terus melangkah mundur.


Hal itu mengakibatkan dirinya terpleset kebelakang. Mata Harjunot terbelalak saat melihat tubuh Arsy juga ikut jatuh bersamanya.


...***...


Cup!


Hampir saja bibir mereka bersentuhan. Jika sedetik saja Harjunot telat menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.


Kedua mata mereka saling melempar pandangan. Entah mengapa Arsy begitu gugup saat matanya dan manik mata Harjunot saling menatap satu sama lain. Jantungnya juga berdetak lebih cepat dari biasanya.


Pun demikian dengan Harjunot, lelaki itu juga merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Keringat dingin membasahi dahinya saat perempuan yang pernah ada dalam hatinya sedang mendidih dirinya. Dia juga merasakan jika detak jantungnya dan jantung Arsy saling bersahutan.


Melihat wajah Arsy dari dekat membuat dia ingin tertawa, karena wajah perempuan yang sedang menindihnya penuh dengan coretan.


"Hehem hehem!" Harjunot tertawa tidak jelas karena mulutnya tertutup.


Arsy yang baru sadar jika Harjunot mentertawakannya. Dia langsung bangkit dari posisinya.


"Kalau boleh saya jujur, wajah Anda terlihat sangat lucu jika dari dekat. Ada kumisnya ada kaca matanya! Hahaha!" Harjunot memegang perutnya yang sakit karena mentertawakan Arsy.


Sedangkan perempuan itu ingin sekali menjambak rambut Harjunot.

__ADS_1


__ADS_2