
Mobil yang dikendarai oleh Harjunot berhenti didepan gerbang. Lelaki itu keluar untuk membuka gerbang. Setelah gerbang terbuka, Harjunot kembali lagi ke dalam mobil.
"Dia belum bangun juga rupanya!" gumamnya sambil memasuki pekarangan rumah.
Setelah sampai di depan rumah Harjunot mematikan mesin mobilnya.
"Mbak bangun, Mbak sudah sampai!" panggilannya sambil mengambil kunci mobilnya.
"Dia ini, tidur atau pingsan. Dibangunkan kok enggak bangun-bangun!"
"Hey bangun!" Harjunot menusuk lengan Arsy dengan bolpoin.
"Ck!" Lelaki itu berdecak kesal karena susah payah dia membangunkan putri atasannya. Tapi yang di bangunkan malah tidak bangun juga.
Harjunot berpikir bagaimana cara membangunkan putrinya Dirut. Lelaki itu keluar dari mobil berjalan kearah rumah.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam!"
"Bu, aku pinjam baby Bell dulu ya!" ujar Harjunot mengambil putrinya dari gendongan Ibunya. Bayi itu mengeluarkan suara saat Abinya menggendongnya.
"Uluh-uluh Adek kangen sama Abi ya?" Harjunot mencium kedua pipi putrinya.
Bayi itu memukul wajah Abinya dibarengi dengan mencium pipi Abinya.
"Oh ...baby Kai dimana Bu, aku tidak melihatnya!"
"Dia ada bersama adikmu!"
Setelah itu Harjunot meninggalkan Ibunya.
Lelaki itu berjalan kearah mobilnya. Setelah sampai Harjunot pun masuk ke dalamnya.
"Sayangnya Abi, sekarang kamu bantu Abi ya! Buat bangunin Tante ini!"
"Aaa ...Emmmma!" ujar baby Bell terlihat bahagia karena melihat Arsy.
Harjunot mendekatkan putrinya kearah Arsy. Bayi itu memegang wajah Arsy kemudian meletakkan wajahnya di sana.
Arsy yang tertidur pulas dia merasakan ada sesuatu yang membasahi pipinya. Terus dia juga merasa ada yang menjilati pipinya.
"Emmm!" Arsy mengkilat setidaknya matanya masih tetap terpejam.
Baby Bell tertawa, tangan kecil itu memukul wajah Arsy.
"Jangan ganggu, aku mau tidur!" Arsy bicara dengan mata terpejam.
Harjunot terkekeh geli karena ulah putrinya yang menjilati pipi Arsy.
"Enggggak!" Baby Bell menguluarkan suara layaknya seperti bayi pada umumnya.
Bibir baby Bell berada didepan bibir milik Arsy. Bayi itu pun mendekatkan bibirnya dengan bibir Arsy.
Didalam alam bawah sadar Arsy teringat jika dia. Sedang bersama seorang lelaki yang berstatus duda. Perempuan itu memaksakan untuk membuka matanya, dia takut jika yang menciumnya adalah Harjunot.
'Aku tidak menyangka jika sok alim itu berani menciumiku. Oh ternyata gini rasanya ciuman' batin Arsy yang susah membuka matanya.
Arsy mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Dalam penglihatannya yang masih buram. Arsy mendapati kepala gundul dan mulut tersenyum tapi tidak bergigi.
"Tu-tu tuyul!" Arsy berteriak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Baby Bell yang kaget dengan teriakan Arsy. Bayi kecil itu menangis histeris. Harjunot segera memeluk putrinya dan berusaha menenangkannya.
Arsy yang mendengar bayi menangis. Dia menurunkan kedua tangannya perlahan. Sebenarnya yang tadi ia lihat itu beneran tuyul atau apa.
'Ternyata bukan tuyul, aku pikir tuyul! Tapi kenapa wajahku basah semua. Seperti ada air liur yang menempel' batin Arsy memegang wajahnya dengan jijik.
__ADS_1
"Kamu tadi meludahi ku ya?" Arsy menunjuk kearah baby Bell yang sudah berhenti menangis.
Bayi itu tertawa kecil karena Arsy mengajaknya bicara.
"Aku balas ya!" Arsy menangkup pipi Baby Bell. Perempuan itu sudah menjulurkan lidahnya ingin membalas baby Bell yang tadi menjilati pipinya.
Harjunot spontan menahan kepala Arsy. Seraya berkata. "Air liur putri saya tidak bau ya, karena dia hanya minum susu formula. Saya yakin setelah tadi makan di resto, Anda belum gosok gigi kan? Jangan lakukan hal semacam ini, nanti putri saya muntah lagi!" ujar Harjunot yang belum sadar, jika ia memegang kepala Arsy.
"Ya sudah kalau begitu, Anda yang saya jilati bagaimana? Hitung-hitung balas dendam saya dengan putri Anda terselesaikan!"
"Astagfirullah hal adzim!" Harjunot ngeri karena perkataan Arsy. Lelaki itu segera turun dari mobil.
Arsy tertawa ngakak karena berhasil mengerjai Harjunot.
"Dasar sok alim, mana mungkin gue mau ngejilat lu. Jijay ogah gua!" ujar Arsy sambil mengambil tisu untuk mengelap wajahnya.
Setelah itu Arsy keluar dari mobil dan berlari membuntuti Harjunot.
"Assalamu'alaikum! Assalamu'alaikum!" Arsy berteriak seperti animasi dua gundul.
"Wa'alaikumussalam!" Bu Dewi yang duduk di ruang tamu kaget. Saat ada tamu mengucapkan salam dengan teriak-teriak.
"Sore Tante!" Arsy mencium tangan Bu Dewi sambil cengengesan.
Bu Dewi melirik kearah putranya, seolah mengisyaratkan sesuatu. Harjunot mengangguk tersenyum. Tentu saja Bu Dewi paham dengan jawaban putranya itu.
"Putrinya Bu Cahaya, ya?"
"Kok Tante tahu?"
"Kan waktu aqiqahan si kembar, kamu datang ke sini kan!"
'Oh ... iya hampir lupa karena dia. Aku tidak bisa ke Bar' batin Arsy melirik kearah baby Bell.
"Not, Ibu tinggal sebentar ya. Ibu mau masak!"
...***...
"Mbak saya titip putri saya sebentar ya?" Harjunot berdiri dari duduknya.
"Mbak-mbak saya bukan Mbak, Anda ya? Ngapain manggil saya Mbak!" protes keras dari Arsy.
"Terus saya harus manggil Anda, dengan panggilan apa? Dipanggil Bu katanya babu. Dipanggil Mbak protes!"
"Saya punya nama ya Dud!"
"Saya juga punya nama, terus kenapa Anda manggil saya duda- duda mulu!"
"Kan saya enggak tahu nama Anda, dan apa salahnya saya memanggil Anda dengan status Anda sekarang!" Arsy membantah ucapan Harjunot.
"Anda benar-benar lupa nama saya?"
"Cih, emang Anda siapa! Sampai-sampai saya harus mengingat nama Anda!"
"Saya kasih tahu nama saya kalau begitu. Harjunot Ali, itulah nama saya!"
Bayangan hitam putih itu kembali lagi. Dimana seorang perempuan sedang menelpon seseorang dan suara yang ada di dalam ponsel itu. Menyebut nama Harjunot. Arsy ingin mencoba mengingat sesuatu. Akan tetapi memori ingatannya. Beralih ke suatu masa. Dimana seorang perempuan, sedang bersandar di kepala ranjang. Sambil menatap ponselnya, perempuan itu membuka ikon WhatsApp. Dia mendapatkan pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Perempuan itu membuka Poto profil, dan membaca nickname pemilik nomor yang tidak ia kenal. Kepala Arsy sakit saat mengingat ingatannya dulu.
'Kenapa setelah aku dari Rosterdam, ada sesuatu yang aneh. Kata Papa, aku kecelakaan. Tapi kenapa selalu ada bayangan seperti ini' batin Arsy merasa ada yang janggal.
Harjunot meninggalkan Arsy yang terdiam.
Tendangan di pahanya membuat Arsy tersadar dari lamunannya.
"Ho ...ho kamu menendang ku ya?" Arsy bertanya kepada baby Bell.
"He he! Auu!" Baby Bell mengangkat kedua kakinya. Bayi itu menjadikan jempol kakinya sebagai empeng.
__ADS_1
"Mumpung tidak ada duda itu, aku bisa mengigit pipimu yang gembul!" Arsy mendekatkan wajahnya kearah baby Bell. Perempuan itu tertawa kecil sebelum melancarkan aksinya. Arsy menggigit kecil pipi bayi itu. Membuat bayi itu menjerit kencang.
Harjunot yang ada di kamar adiknya untuk mengambil baby Kai. Lelaki itu berlari sambil menggendong baby Kai ke ruang keluarga.
"Apa yang dia lakukan," gumam Harjunot pelan.
Setelah sampai di ruang keluarga Harjunot segera berjongkok menatap wajah putrinya.
"Apa yang Anda lakukan?" Harjunot menatap tajam kearah Arsy.
"Kenapa Anda menuduh saya tanpa bukti," jawabnya santai.
"Anda!" geram Harjunot.
"Lihat ini, kenapa di pipi putri saya ada basah-basahan seperti air liur, terus tanda ini seperti gigitan. Ini Anda yang melakukan!" Harjunot menunjuk pipi putrinya.
Arsy yang tertangkap basah karena keusilannya. Perempuan itu menarik tangan Harjunot yang digunakan buat menunjuk pipi baby Bell. Arsy menggigit tangan Harjunot tanpa ampun. Lelaki itu meringis menahan sakit. Sedangkan baby Kai yang ada dalam gendongan Abinya. Bayi itu tertawa kecil.
Setelah puas menggigit tangan Harjunot, perempuan itu mengusap mulutnya.
"Kamu juga mau saya gigit?" Arsy bertanya kepada baby Kai.
Harjunot segera menjauh dari Arsy.
"Demen banget sih gigit orang, putri saya Anda gigit. Tangan saya Anda gigit, saya tidak akan membiarkan Anda mengigit nya ya!"
"Huaaaaaa!" Tangisan baby Bell membuat Arsy terkejut.
"Tanggung jawab! Buat anak saya diam, jika tidak..."
"Jika tidak apa?"
"Saya bisa menyuruh Anda keluar dari rumah saya. Apa yang bisa Anda lakukan jika Anda tidak memiliki uang? Setidaknya untuk malam ini, Anda bisa menjadi gelandangan di jalan!" Tantang Harjunot.
Arsy takut jika Harjunot menyuruh dia angkat kaki dari rumah itu.
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Coba gendong dia, dan beri dia tepukkan di pantat!" ujar Harjunot dengan suara sedikit merendah.
Arsy pun mengangkat baby Bell dengan hati-hati. Perempuan itu berdiri dan melakukan apa yang Harjunot katakan. Akan tetapi baby Bell tetap menangis.
"Kok enggak mau diam sih?" Arsy bertanya kearah Harjunot.
Sebelum Harjunot menjawab Aghnia dan Ibu datang menghampiri mereka.
"Not, kenapa putrimu nangis?"
Arsy menatap Harjunot dengan wajah mengiba. Agar Harjunot tidak mengatakan, jika dialah yang membuat baby Bell menangis.
"Biasalah Bu, namanya anak kecil. Mungkin saja dia ngantuk!"
"Kalau begitu Ibu sama adik keluar sebentar ya!"
...***...
Tinggallah mereka berempat di rumah itu.
"Ah ... saya punya ide membuatnya berhenti menangis!"
"Gimana?" Arsy bersemangat.
"Tunggu dulu!" Harjunot meninggalkan Arsy yang masih berusaha menenangkan baby Bell.
Tak butuh waktu lama Harjunot kembali sambil membawa sesuatu.
"Dengan ini!" Harjunot memperlihatkan dua barang yang baru ia ambil.
__ADS_1
"Kaos tangan sama spidol? Apa yang kita bisa lakukan dengan itu?"
Harjunot menyunggingkan senyumannya. Membuat Arsy was-was curiga.