
Malam harinya Arsy sedang ada dikamarnya. Perempuan itu nampak sedang mondar-mandir sambil memainkan ponselnya.
"Coba aku kirim pesan saja deh!" gumamnya sambil jalan ketempat tidur.
"Enjun!"
"Malam!"
"Tadi pagi saya keproyek! Tapi tidak ada keberadaan Enjun di sana!"
"Kalau marah sama saya itu, mbok yao Papa jangan di sangkut pautkan! Kasian Papa tahu!'
"Kemarin situ yang bilang gaya saya mirip anak TK! Terus Anda juga bilang saya childs. Nah sekarang saya mau bilang kalau sifat Anda kayak anak PAUD chuildishhhhh!"
"Enjun! Balas dong!"
Arsy meletakkan ponselnya keatas nakas. Perempuan itu mengembung kan pipinya karena tidak dapat balasan dari seseorang.
"Si Enjun ngeselin! Mending aku tidur saja. Besok aku ke tempat kerjanya lagi!" ujarnya seraya memposisikan tubuhnya untuk tidur.
"Si Bunda, juga tak kalah ngeselin! Ngebet banget anaknya disuruh kawin sama Harjunot Alay!" Kebiasaan orang kalau sedang marah. Suka mengganti nama orang seenaknya.
...***...
Pagi hari telah datang, Arsy bersiap untuk pergi ketempat kerja Harjunot. Pagi itu Arsy memakai atasan kemeja, lengan digulung sampai sikut. Dan celana levis hitam serta sneakers warna putih. Nampaknya Arsy tahu jika Harjunot tidak suka dengan gaya pakaian yang terlalu vulgar. Demi kesejahteraan bersama. Arsy memilih untuk tidak membuat Harjunot kesal. Karena gaya fashionnya yang seperti Tarzan kurang baju.
Bukan tanpa alasan Arsy melakukan itu semua, perempuan itu ingin mendapatkan maaf dari Harjunot. Dan dia berharap jika tawaran Harjunot. Uuntuk menjadikannya istri dan ibu untuk anak-anaknya masih berlaku.
"Huft!" Arsy membuang napas pelan.
"Siallll kenapa sekarang aku yang terlihat kayak perempuan murahan!"
"Ngejar-ngejar lelaki yang aku hina karena statusnya. Dan sekarang huaaaaa!" Arsy mengirit saat melihat pantulan wajahnya dicermin.
"Ancurrrr sudah reputasi ku!" Arsy memukul keningnya berulang-ulang. Saat mengingat apa yang terjadi kepadanya sekarang.
"Anda saja si Bunda enggak ngasih sarat seeeegilaaaa ini. Ogah gue nikah sama duda!"
"Oh ...my lord! Mimpi ape gue harus ngejar-ngejar lelaki seperti Harjunot Alayyyyyy!"
"Ahsiallllll!"
Arsy menutup pintu kamarnya dengan keras. Setelah itu dia masuk ke dalam lift.
***
Arsy keluar dari lift dan berjalan menuju ruang makan.
"Pagi semua!"
"Juga!" sahut Kafka, yang lain hanya mengangguk. Tapi tidak dengan Bunda, wanita paruh baya itu tidak menjawab sapaan dari putrinya.
"Mau kemana rapi banget, sopan lagi?" Kak Vi bertanya sambil meletakkan susu di depan Arsy.
"Ngecengin duda! (jual tampang ke duda)" jawab Arsy ketus.
Kak Vi yang mendengar jawaban adik iparnya berusaha menahan tawanya. Sedangkan Abang menunduk dalam sambil menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa ngakak.
Papa hanya menggeleng karena jawaban putrinya terlalu frontal. Bunda hanya mampu tersenyum dalam hati.
__ADS_1
"Ah ... mungkin lagu ini cocok banget menggambarkan keadaan dirimu sekarang Yi" ujar Kafka seraya berdiri dan memposisikan tangannya seperti bermain gitar.
"Aku adalah pengemis cinta!"
"Yang slalu harus mengalah!"
"Bila diputuskan cinta!"
"Dari sang kekasih!"
"Salah itu mah aku bukan pengemis cinta!" Papa membenarkan lirik lagu yang bungsunya nyanyikan.
"Enggak salah dong Pa! Kan sekarang Ayi jadi pengemis cinta!" grutu Kafka kembali duduk.
"Harusnya gini Ka!" sahut Gibril.
"Ehem! Ehem cek-cek satu, dua, tiga!" Gibril memegang sendok seperti memegang mikrofon.
"Aku tidak pernah dikejarrr hoho!"
"Yang ada aku selalu mengejar!"
"Kenapa nasib ku senelangsa ini!"
"Mengejar sosok durennn! Duda keren ya duda keren!"
"Beginilah nasib si Ayi! Kasian sekaliii."
"Berikan tepuk tangan buat Bang Gibril!" seru Kafka sambil bertepuk tangan.
Langit dan menantunya tertawa ngakak karena ulah kedua lelaki itu. Sedangkan Bunda yang tidak bisa menahan tawanya memilih untuk berlari ke dapur. Tujuannya agar Arsy tidak melihat saat ia tertawa.
Sedangkan Arsy yang dijadikan candaan memilih untuk memasukkan roti tawar kedalam mulutnya. Dengan keadaan bibir yang cemberut menahan kesal.
"Bunda, tadi ngapain ke dapur?" tanya Kafka yang tahu jika Bundanya tadi tidak bisa menahan tawanya.
"Tadi Bunda lupa matikan kompor!"
"Oh ... kirain ngapain!" goda Kafka seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Pa, Ayi berangkat dulu ya!" ujarnya sambil mencium tangan Papanya.
"Bun, Ayi berangkat dulu! Doakan semoga Ayi bisa bertemu dia!" Bunda hanya diam tidak menjawabi. Akan tetapi hatinya mengaminkan.
Lagi dan lagi Arsy hanya bisa menghela nafas panjang karena sikap Bunda padanya. Arsy mulai meninggalkan ruang makan itu.
"Yi! Jangan khawatir doa Abang selalu menyertaimu! Aku doakan si duda menerima lamaran dari mu wakawaka!" Gibril tertawa renyah.
"Tarik sessss semongkoooooo!" Kak Vi menimpali ucapan suaminya.
Kafka berdiri dan meletakkan satu kakinya dikursi. Sedangkan satu tangannya keatas sambil memutarkan serbet. "Tsamina mina, eh eh!"
"Waka waka, eh eh...."
"Tsamina mina zangalewa..."
"This time for Africa..."
Sedangkan Arsy yang diledekin terus berjalan meninggalkan ruang makan sambil menutup telinganya.
__ADS_1
...***...
Perempuan itu mulai menggowes sepedanya dengan kecepatan ekstra. Dengan semangat empat lima, berharap pagi itu. Bisa bertemu dengan Harjunot dan meminta maaf kepada duda dua anak itu. Keringat mengucur deras membuat perempuan itu meyeka dengan lengan tangannya. Setengah hampir setengah jam perjalanan Arsy pun sampai di tempat kerja Harjunot. Perempuan itu menyenderkan sepedanya dibawah pohon. Arsy berlari kearah para tukang yang sedang bekerja.
"Siang Bapak-bapak!" sapanya.
"Mbak Arsy ini loh bikin kaget saja!" sahut tukang sambil tersenyum.
"Hahaha! Oh iya dimana si Enjun Pak?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya kearah mana saja. Untuk mendeteksi keberadaan si duda dua anak.
"Mas Arjunot! Hari ini enggak masuk Mbak!"
"Hah? Kenapa enggak masuk Pak?"
"Saya kurang paham masalah itu Mbak! Kalau Mbak pengen tahu tanyakan sama Pak Agas karena Mas Mandor pasti izinnya dengan beliau!" tutur tukang pengaduk semen.
Arsy menggaruk rambutnya yang lepek dan basah karena terkena panasnya matahari dijam sepuluh.
"His ...dia benar-benar membuatku stres mendadak! Aku kemari tapi dianya tidak ada!" gumamnya sambil menggaruk rambutnya frustasi.
"Kenapa Mbak Arsy enggak nyari ke rumahnya langsung! Atau ditelpon gitu!"
"Sudah saya telpon, tapi ponselnya enggak aktif Pak!"
"Kalau gitu samperin kerumahnya saja Mbak! Daripada kangen sama Mas Mandor!" goda tukang itu sambil terkekeh.
"Huh ... najis! Ngapain saya kangen sama dia!" ujar Arsy seperti orang kegelian.
"Emang kalau gadis suka mau-mau kucing ya Mbak?"
"Hah?" Arsy ternganga.
"Mbak Arsy mau sama Mas Mandor tapi gengsi untuk menyatakan perasaan yang sesungguhnya! Maklum sih kalau Mbak Arsy tergila-gila sama Mas Mandor! "
"Orang Mas Arjunotnya baik, sabar gagah lagi!" Tukang itu memberikan dua jempol.
Arsy bergidik ngeri karena perkataan tukang yang ada didepannya itu.
"Bapak-bapak bisa enggak, enggak usah menjujung tinggi Mandor itu! Takutnya telinga saya budek nanti!" ujar Arsy sambil menutup kedua telinganya.
"Hahaha Mbak Arsy! Lucu juga, saya jadi kepikiran jika nanti Mbak Arsy sama Mas Mandor nikah. Saya ngasih kado kondo* saja!"
Arsy yang mendengar perkataan tukang itu langsung berlari menjauh. Perempuan itu mengambil sepedanya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Aihhhhhhhhhhh! Kenapa nasibku se—apes ini!"
"Enggak dirumah, enggak diluar selalu jadi bahan ledekan!"
"Semua ini gara-gara Harjunot Alayyyyyy!"
"Kesel deh!" Arsy menegak minuman dalam botol sampai tinggal setengah.
Arsy memutuskan untuk pulang kerumahnya karena badannya terasa remuk. Karena tiga hari kebelakang selalu gowes sepeda tanpa pemanasan dahulu. Dipertengahan jalan dia merasakan ada sesuatu yang berbeda.
"Hey ...hey kenapa remnya tidak berfungsi! Terus bannya kenapa geyal-geyol!"
"Aaaaaaaaaa!!" Arsy tercemplung ke selokan.
"Aduh!"
__ADS_1
"Pasti si duda sekarang sedang mendoakan aku yang tidak-tidak!"
"Dasar Harjunot Alayyyyyy!"