Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Keputusan Junot


__ADS_3

Harjunot terlelap dalam tidurnya, lelaki itu nampak lelah. Karena masalah yang datang begitu tiba-tiba tanpa menyapa jangankan menyapa menyeru saja tidak.


Dering ponsel membuat dia terbangun dari tidurnya. Tangannya mulai meraba nakas di samping ranjang. Kemudian mengangkat panggilan itu.


"Hmmm!" Menjawab dengan mata terpejam. Jam dua dini hari lelaki itu baru tidur, setelah mengerjakan istikharah. Suara dari dalam ponselnya mengejutkan dia.


"Apa? Baiklah aku akan segera ke sana!" Harjunot langsung mengenakan jaketnya dan lari keluar kamar.


Matanya menatap seluruh ruangan, akan tetapi dia tak menemukan siapapun, di ruangan itu.


"Aku tidak bisa menemui Pak Dirut!" Harjunot bicara sambil berjalan cepat kearah pintu utama dan memijat ponselnya.


Untung pintu utama itu, tidak dikunci. Karena Black juga baru pulang setengah tiga. Tepatnya lima belas menit yang lalu.


Harjunot segera menutup pintu itu, dan berlari kearah motornya. Lelaki itu langsung mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Arsy yang ada di atas sedang tahajjud dia mendengar suara motor digas. Tepatnya saat dia melakukan sujud terakhir. Batinnya bertanya siapa yang menyalakan motor. Dia kenal betul itu suara motor siapa. Hal itu membuat konsentrasi Arsy pecah saat berdialog dengan Allah azza wa jalla.


Arsy segera salam kekanan dan kekiri.


Setelah itu istighfar tiga kali, dilanjut baca "Allahumma atasalam. Waminka salam tabarakta ya dzaljalali wa ikram." Setelah itu Arsy sambungkan dengan. "La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah,lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa 'ala kulli syai'in qodir." 


Setelah itu ia baca Subuhanaallah 33. Hamdallah 33, Allahuakbar 33. Setelah itu ia baca ayat kursi dilanjut Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Setelah itu Arsy berdoa kepada Allah yang Maha Esa. Arsy mencoba mengamalkan apa yang Rasulullah SAW! Ajarkan. Selesai berdoa dia, teringat dengan suara motor itu.


"Apa benar? Itu motor miliknya?"


"Tapi, mana mungkin dia kesini jam segini?"


Disisi lain Harjunot berperang dengan perasaannya sendiri. Saat mengendarai motornya yang membelah jalan.


"Tuhan! Jika memang ini yang Engkau takdir kan, aku tidak bisa menolak. Jika ini yang menurut-Mu baik, ini pasti baik untukku. Jujur aku berpikir, jika putrinya Pak Dirut, adalah jodohku. Karena dia selalu datang dalam mimpiku. Ternyata aku salah, benar aku salah mengartikan mimpi itu. Tapi, puji syukur Alhamdulillah, aku belum benar-benar jatuh di lubang yang salah. Untungnya aku selalu menepis pikirkan-pikiran seperti itu." Harjunot mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


Motor itu memasuki Hospital. Harjunot segera lari kedalam rumah sakit. Dengan napas tersengal-sengal, Harjunot sampai didepan pintu kamar rumah sakit.


Harjunot memejamkan matanya dan masuk kedalam ruangan itu.

__ADS_1


...***...


Disisi lain Arsy berjalan kearah musholla yang ada didalam rumahnya itu. Semua keluarga sudah ada di sana, Arsy segera melepaskan alas kaki. Dan menginjakkan kakinya di musholla itu. Dia membentangkan sajadahnya. Hatinya bergumam, saat melihat pakaian yang Papa kenakan. Biasanya kalau subuh pakai baju koko sama sarung. Kenapa pagi ini berbeda, itulah yang Arsy pikirkan.


"Siap?" Papa Langit bertanya, semua anggota keluarga itu mengangguk. Maka takbir pertama dimulai. Tidak butuh waktu lama sholat itu selesai. Semua orang pada bubar, Arsy masih duduk di sana menatap punggung Papanya yang berdoa kembali. Tidak biasanya Papa berdoa setelah semua keluarga bubar. Arsy setia menunggu Papanya, dia ingin bertanya kepada Papanya.


Setelah lima menit menunggu, Papa memutarkan badannya kearah belakang. Papa Langit tahu, jika ada seorang yang menunggunya berdoa. Papa Langit tersenyum kearah putri tercinta. "Apa yang membuat putriku, menungguku?" Langit bertanya sambil mengelus kepala putrinya yang tertutup mukena.


"Hehe! Ayi perhatikan kenapa pagi ini, Papa memakai baju yang berbeda. Apa ada hal lain? Yang Ayi, tidak ketahui?" Arsy menatap wajah Papanya.


Paruh baya itu tersenyum karena pertanyaan putrinya. "Hari ini, sahabat Papa, akan menikah!"


"Menikah? Tapi apa hubungannya dengan pakaian yang Papa, pakai saat shalat? Yang nikah sahabat Papa, bukan Papa kan? Kenapa Papa, sudah siap-siap sepagi ini? Dan sepagi-paginya akad nikah itu enggak habis subuh juga kali Pa!"


Langit tersenyum kembali karena perkataan Arsy.


"Putriku, kau terlalu banyak bertanya!" Langit mencubit hidung Arsy, kemudian tertawa kecil. Sedangkan Arsy sangat kesal karena sudah dapat cubitan. Di pagi buta dari Papa tercinta.


"Karena kamu bertanya terlalu banyak. Jadi Papa, bingung harus jawab yang mana dahulu."


"Baiklah, Ayi akan ubah pertanyaannya. Tapi Papa, harus jawab!" Arsy bicara sambil membuka telapak tangannya.


"Tentu saja putriku!" Papa Langit, menaruh telapak tangannya di atas telapak tangan putrinya.


"Siapa nama sahabat Papa, yang mau nikah?"


Papa tersenyum karena ulah Arsy yang kekanak-kanakan.


"Kau mengenalnya!"


"Ayi, mengenalnya?" Arsy menunjukkan dirinya sendiri. Papa Langit mengangguk membenarkan.


"Apa Om Dio? Istilah Om Dio, sudah ditinggal istrinya meninggal!"

__ADS_1


Papa Langit menggeleng, hal itu membuat Arsy berpikir. Sekelebat satu nama terbesit dipikiran nya. Namun dengan cepat iya menggeleng, karena itu tidak mungkin benar, pikir Arsy. Menipis satu nama yang terbesit itu.


"Pa! Kenapa tidak mau memberi tahu langsung? Bikin Ayi, penasaran saja!"


"Karena kamu mau saja Papa suruh nebak, coba tadi kamu bilang seperti ini. Pasti kamu sudah mendapatkan jawabannya!" Langit terkekeh karena Arsy mengerucutkan bibirnya.


"Ih ...Papa! Kenapa begitu! Ayo katakan, siapa namanya? Jangan bikin Ayi kepo!"


"Namanya adalah..." Langit tersenyum menatap putrinya yang tidak sabar mendengar jawabannya. Arsy membuka mulutnya karena Papanya menggantung ucapannya.


"Harjunot!"


"What?" Arsy kaget bukan kepalang, itulah nama yang tadi terbesit dipikiran nya.


"Papa, jangan bercanda deh! Masa iya dia nikah dadakan. Harusnya ada acara sebar undangan dong Pa!"


"Emang nikahnya dadakan, Ayi!" jawabannya lembut.


Arsy membisu saat mengetahui kebenaran itu. Entah mengapa hatinya sesak, napasnya tersengal-sengal. Namun dengan cepat Arsy mulai mengatur napasnya kembali.


"Ayi! Apa kau ingin mendengar cerita dari Papa?" Langit mengelus kepala putrinya. Arsy mengangguk setuju, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Papa Langit mulai menceritakan bagaimana kejadian awal. Sampai Harjunot harus menikah hari ini juga.


"Papa, kenapa dia tidak menolak saja! Ini tidak adil padanya, dia harus hidup dengan wanita buta, tuli dan bisu. Bagaimana dia bisa menjalankan kehidupannya Papa!" Arsy bicara tegas dan emosi.


Langit memeluk putrinya untuk menenangkan Arsy. Dia kenal betul jika Arsy tidak menyukai seseorang yang memperlakukan orang lain dengan sewenang-wenangnya.


"Ayi! Terkadang dalam hidup itu ada yang harus dikorbankan! Mungkin Harjunot, memilih ini karena dia tidak mau mengorbankan apa yang menurutnya berharga. Papa, yakin dia pasti memikirkannya dengan matang. Bukan cuman itu Ayi, Harjunot tidak akan mengambil keputusan tanpa memikirkan konsekuensinya. Kau tenanglah, doakan saja semoga ini pilihan yang tepat dan terbaik untuknya." Papa Langit bicara sambil mengelus kepala Arsy dan merengkuh tubuh putrinya itu.


"Tapi caranya tidak seperti ini Papa! Kenapa dia harus mengorbankan masa depannya sendiri? Kenapa orang cenderung lebih memikirkan kebahagian orang lain, dari pada dirinya sendiri? Padahal, jika kita memikirkan kebahagian kita terlebih dahulu. Itu juga bisa berdampak positif bagi seseorang yang dekat dengan kita!"


"Iya itu benar! Tapi kita juga harus tahu tempatnya! Semua itu ada tempatnya Arsy Latthif binti Muhammad Langit Arkana Abdullah!" Langit memanggil nama panjang putrinya. Agar putrinya diam, karena Langit berpikir putrinya itu terlalu baper saat membahas sahabatnya itu. Dalam hatinya Langit berpikir jika Arsy merasa iba dengan Harjunot yang terkenal baik.


...***...

__ADS_1


__ADS_2