Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Menipulasi Tanda


__ADS_3

Arsy menginjak kaki adiknya sebagai kode untuk menolak tawaran Fitri.


"Ehem!" Kafka berdeham untuk menetralkan suaranya.


"Bukan maksud menolak tawaran Kak Fitri! Tapi kami berpikir, jika ini kesempatan kami untuk naik transportasi umum! Ya kan Yi?" Kafka melirik Kakak perempuannya.


"Ah iya, benar!" Arsy segera menimpali ucapan adiknya.


Fitri membisikkan sesuatu kearah suaminya. "Ayolah Mas Arjunot, kasian mereka jika harus naik bus! Cobalah bicara kepada Pak Arkana! Agar anaknya mau bareng sama kita!" Harjunot tersentak karena permintaan istrinya barusan. "Andai kau tahu yang sebenarnya Fit! Aku yakin pasti kamu tidak akan menawari mereka tebengan!" gumam Harjunot dalam hati.


"Kalau mereka menolak, apa kita harus memaksa?" Harjunot bertanya pelan bernada datar. Sebenarnya lelaki itu tidak mau berurusan dengan perempuan bernama Arsy lagi. Toh dia juga sudah berstatus sebagai suami.


"Ayolah! Apa kamu tidak kasian!" Fitri merengek sambil mengguncang lengan Harjunot.


Harjunot membuat napas kasar, baru pertama kali ia melihat istrinya merengek didepannya. Membuat ia merasa tak tega jika harus menolak permintaan istrinya itu. Akan tetapi Harjunot juga tak tega, jika suatu saat nanti hatinya mengkhianati istrinya.


'Fit aku harap ini yang pertama dan terakhir kalinya. Kamu meminta mereka dekat denganmu' batin Harjunot sambil melirik istrinya.


"Saya pikir, apa salahnya kalian menerima tawaran dari kami. Toh hanya sekali!" Harjunot bicara sambil memaksakan senyumannya.


Arsy yang mendengar bagai disambar petir disiang bolong. 'Gila nih orang! Kenapa harus setuju dengan pendapat istrinya sih. Dia tidak tahu bagaimana aku mencoba menjauh darinya' batin Arsy kesal karena perkataan Harjunot.


'Oh waktu ... kenapa harus berpihak kepada mereka kembali. Dengan susah payah aku membentengi mereka dengan tembok pembatas. Tapi gara-gara kau waktu. Mereka harus bersama' batin Kafka mengumpat.


"Terimalah Nak, tak baik menolak tawaran orang. Dan aku akan merasa aman jika kalian bersamanya," tutur Papa Langit.


"Tapikan Pa! Jujur saja aku ingin naik bus saat berangkat sekolah. Dan ini kesempatan baik untuk kita ya kan Yi?" Kafka memberikan kode, agar Arsy menjawab cepat.


"Tentu saja!"


"Ini sudah jam tujuh lebih, yang ada kalian telat. Terus nanti Papa dan Bunda akan dipanggil ke sekolah karena putranya telat masuk kelas! Apa kamu tidak kasian dengan mereka Ka? Sudah terimalah kebaikan mereka, karena sudah mau menawari kalian tebengan!" tukas Gibril mengingatkan bagaimana baiknya tamu mereka.


Kafka dan Arsy saling menggeleng, seolah mereka berkata. Tidak ada cara lain selain menerima.


"Baiklah!" Kakak-adik itu menjawab serempak.


...***...


Kafka dan Arsy tertegun saat melihat mobil warna putih itu keluar dari garasi.


"Gila! Lamborghini A*******r!" ujar Kafka terpukau saat melihat merek mobil mewah itu. Sedangkan Arsy ternganga takjub. "Kaya benar nih orang!"gumam Arsy langsung menyimpulkan.


Harjunot keluar dari mobil itu kemudian tersenyum kearah istrinya.


"Mas Arjunot, nanti ini langsung ke tempat kerjakan?" Fitri bertanya kepada suaminya.


Harajunot mengagukk pelan, menjawab pertanyaan istrinya.


"Ya sudah ayo! Nanti kalian telat!" ujar Fitri yang ingin membuka pintu mobilnya. Tapi dengan cepat Harjunot membukakan pintu mobil itu. Arsy yang melihat keromantisan mereka memilih untuk memalingkan wajahnya.


'Jika sakit hati bisa menyadarkan kita. Maka biarkanlah itu terjadi, karena itu akan membuatmu tahu dimana tempatmu yang sesungguhnya' batin Arsy segera mengelap air mata yang menetes.


Tak sengaja mata Harjunot mengabadikan. Arsy yang mengelap air mata. Hatinya seperti tergores melihat perempuan yang pernah dekat dengannya itu, menitihkan air mata. Kenangan itu masih ada dibenaknya. Kenangan saat mereka bertemu untuk yang pertama kalinya. Hingga waktu menyuruh mereka rehat sejenak. Sebelum persatuan keduanya. Jika itu adalah takdir, tapi jika tidak. Waktu memilihkan mereka menjadi jauh selamanya.


"Ehem ...Bu Guru, apa Anda akan diam saja?" Harjunot bertanya menyatukan genggaman tangan yang berkeringat. Perempuan itu menoleh kearah suara yang memanggilnya, dan betapa terkejutnya Arsy saat ada lelaki berbadan tinggi ada didepannya.


"Maaf! Saya tidak sadar," ujarnya seraya melewati Harjunot.


Mobil yang dikendarai Harjunot melaju cepat.


"Ehem ...Dek Arsy sudah berapa lama mengabdi di sekolahan?" Fitri menengok ke belakang. Sedangkan Arsy yang tadi menatap jalanan menoleh kearah Fitri.

__ADS_1


"Baru kok Kak! Karena aku juga baru pulang dari Muskowa!" jawabannya tersenyum tipis. Harjunot yang tak sengaja menatap kaca spion, ia melihat senyuman milik Arsy.


Arsy yang menatap Fitri, ia mencoba mendongakkan matanya menatap kaca spion. Disitulah mata kedua orang yang ingin membuat jarak bertemu. Segera Harjunot memalingkan matanya, dan memfokuskan matanya kearah jalanan.


'Ya Allah! Kenapa hatiku berdenyut. Aku tahu ini salah, Tuhan izinkan aku melupakannya. Tolong cabut cinta yang ada didalam hatiku ini. Aku tidak sanggup menahan sakit hati, mencintai seseorang yang sudah dimiliki adalah penghinaan terbesar dalam hidup. Memangnya tidak ada apa lelaki lain. Kenapa harus mencintai milik orang. Aku harus gimana Tuhan?' batin Arsy yang menahan tangisnya.


Kafka yang melihat mimik wajah Kakaknya berubah. Segera ia menggenggam tangan Kakaknya. Karena ia tahu Kakaknya membutuhkan kekuatan. Arsy melirik adiknya kemudian tersenyum dengan mata sayunya. "Terima kasih Ka!" ujarnya lirih yang hanya bisa Kafka dengar. Kafka mengagukk pelan dan tersenyum lembut. Harjunot yang melihat Kafka tersenyum tulus. Membuatnya heran karena baru pagi itu, ia melihat Kafka tersenyum lembut.


'Ternyata pemuda itu bisa tersenyum manis juga' batin Harjunot tersenyum sambil menggeleng.


...***...


Kakak-adik itu keluar dari mobil warna putih itu.


"Terima kasih, atas tumpangan yang kalian berikan!" Arsy tersenyum sambil menatap Fitri.


"Sama-sama! Kakak tunggu kamu saat punya waktu luang untuk bermain ke rumah kami ya?"


Harjunot yang mendengar perkataan istrinya dia menghembuskan nafas dengan kasar. 'Disaat ingin menjauh kenapa waktu harus mendekatkan' batin Harjunot yang merasa sesak.


"Hehehe, dengan izin yang Di Atas!"


Fitri mengangguk pelan, setelah itu menatap suaminya. "Mas, kamu kerjakan hari ini?"


"Iya!"


"Ya sudah, nanti aku jemput!" ujar Fitri sambil membuka pintu mobil. Sedangkan Arsy dan Kafka masih berdiri di sana.


"Baiklah saya permisi dahulu!" ujar Kafka berpamitan.


Sedangkan Fitri memeluk tubuh Arsy dengan sayang. Arsy yang mendapatkan pelukan tiba-tiba ia ternganga. Entah mengapa rasa hangat pelukan Fitri, membuat dia menitihkan air mata.


Harjunot yang melihat kedua wanita yang ada dalam hatinya sedang berpuluk kan. Dia mengusap wajahnya kasar.


"Mas Arjunot!" Suara melengking itu membuat Fitri dan Arsy melerai pelukannya. Dan menatap gadis cantik itu berjalan kearah mereka.


"Tan!" Harjunot menerima ciuman tangan dari adiknya.


"Kak Fitri! Bu Arsy!" Tantiyana memeluk Kakak iparnya kemudian mencium tangan Gurunya.


"Eh ...Ka!" Tantiyana melakukan TOS tinju dengan temanya.


Kafka menerima TOS tinju itu sambil mengagukk.


"Wah ... ternyata keluarga kalian saling kenal ya?" Fitri bertanya.


"Keluarga saling kenal maksudnya?" Kafka mengerutkan keningnya.


"Tidak Fit! Sebenarnya mereka tidak tahu jika Tantiyana adalah adikku!"


"Oh!" Fitri mengagukk.


"Ehem, saya masuk dulu ya Kak Fitri! Mari!" Arsy mengagukk tanpa berpamitan dengan Harjunot.


Fitri mengagukk mempersilahkan. Sedangkan Harjunot membuang pandangan kearah jalan raya.


"Tantiyana juga deh! Assalamu'alaikum!" Tantiyana melambaikan tangannya.


Tinggallah sepasang suami-istri. Harjunot tersenyum jail, membuat Fitri was-was.


"Ada apa?" Harjunot menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


Sedangkan Fitri mengerutkan keningnya, penuh selidik. Harjunot menarik tangan Fitri, kemudian memutarkan badan Fitri. Dan mendorong tubuh Fitri pelan. Membuat tubuh itu menatap mobilnya. Kini kedua tangan Harjunot mengungkung tubuh istrinya.


"Mas Arjunot! Jangan seperti ini! Apa kamu tidak sadar kita berada dimana?" Fitri berusaha lepas dari tubuh suaminya.


"Emang kenapa?"


"Malu tahu, pergi sana! Apa Mas Arjunot tidak malu dilihat anak-anak otaknya yang masih bersih Hem!" Fitri mendongak untuk menatap mata suaminya.


"Ya sudah, oke! Aku ngalah tapi bagaimana kalau di mobil! Cuma kissing saja!" Harajunot menyandarkan tubuhnya di samping istrinya.


"Ih ...Mas Arjunot gitu! Nanti saja kalau sudah pulang sekarang Mas kerja ya?" Fitri membuka pintu kemudi, dia melupakan acara cium tangan suaminya. Harjunot mengikuti dari belakang. Dan sudah berdiri di samping pintu mobil yang terbuka.


"Aman Fit!" ujarnya sambil melihat situasi saat itu.


"Apanya?" Fitri keheranan.


"Fit, kissing dulu dong! Suami mau kerja loh!" Harjunot memasukkan kepalanya ke pintu mobil.


"Bukan maksud menolak tapi ini bukan rumah Mas!" Suaranya terdengar lembut, sedikit tertahan karena takut suaminya marah.


"Serahkan pada suamimu, pasti mudah!" Harjunot mengedipkan sebelah matanya. Fitri menutup mulutnya karena tingkah suaminya.


"Fitri!"


"Iya!"


"Beri aku celah sedikit!"


"Apanya?"


"Niqabnya buka sedikit! Atau mau aku yang menyingkapkan Hem?"


Pasangan itu berciuman dengan mesra. Bagaimana lihainya seorang Harjunot jika berciuman. Tanpa digurui dia sudah lihai. Lelaki itu sangat pintar. Fitri mencengkram kemeja suaminya. "Fit!"


"Emtttt!"


"Pejamkan matamu!" perintahnya sedangkan Fitri hanya menurutinya.


"Satu tanda dileher oke!" Harajunot merayu. Ini adalah kesempatannya untuk menutupi kesalahannya.


"Oke!'" Satu tanda yang Harjunot mau sudah ia dapatkan. Dan tanda itu tepat dimana tadi malam Arsy menggigitnya.


'Terima kasih Tuhan, bukan aku bermaksud membohongi istriku. Akan tetapi aku tidak ingin cekcok dengannya. Aku juga tidak mau Fitri marah dan aku juga tidak mau melihat dia kecewa denganku. Sungguh aku ingin mencintai istriku seorang' batin Harjunot kemudian mencium kedua matanya istrinya.


"Sudah ya?" Fitri membuka matanya.


"Iya! Terima kasih!" Harjunot menutup pintu mobil istrinya.


Setelah mencium tangan suaminya Fitri menghidupkan mesin mobilnya.


"Daaaa!" Harjunot melambaikan tangannya. Fitri membalasnya, mobil yang dikendarai Fitri pun menjauh. Harjunot menggeleng sambil tersenyum.


Tanpa diduga dari atas gedung ada dua pasang mata yang melihatnya.


Matanya berkaca-kaca karena melihat keromantisan yang mereka ciptakan. Entah mengapa dadanya sesak, saat melihat adegan romantis.


...***...


Kalau badan Harjunot sebagus ini. Arsy gak bisa move on


__ADS_1


__ADS_2