Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Keyzutan


__ADS_3

Sore itu Arsy baru saja pulang dari rumah Harjunot . Perempuan itu menyempatkan waktunya untuk si kembar.


Mobil yang dikendarai oleh Arsy berhenti di pekarangan rumah Langit. Perempuan itu membuka pintu mobilnya, Arsy mengelap keringat dengan lengannnya.


"Permisi!" Kata kurir sambil mengetuk pintu utama.


Arsy mengerutkan keningnya, saat melihat kurir yang berdiri di depan rumahnya. Perempuan itu memutuskan untuk mendekati kurir tersebut.


"Nyari siapa Mas?" tanya Arsy yang berdiri di belakang kurir.


Mas kurir itu membalikkan badannya, untuk melihat siapa tadi yang bertanya padanya.


"Ini ada kiriman buket bunga! Dari toko Flower Aries. Penerima atas nama Arsy Latthif!"


"Kebetulan saya Arsy Latthif, tapi saya tidak pernah pesan semacam ini!" jawab Arsy dengan ekspresi heran.


"Tapi ini alamatnya benar Mbak! Mohon untuk diterima!" ujar kurir itu memberikan buket bunga besar kearah Arsy.


"Mbak bisa tanda tangan untuk serah terimanya!"


Arsy segera menandatangani kertas yang disodorkan kurir itu.


"Terima kasih Mbak!"


Arsy mengaguuk sambil tersenyum tipis. Perempuan itu menatap buket bunga, sambil mencari secarik kertas yang biasanya, ada nama pengirimnya.


"Kira-kira siapa yang ngasih, ginian! Apa Rasya? Istilah tadi pagi baru bertemu!" Arsy bicara ingin mendorong pintu utama. Akan tetapi langkahnya terhenti saat, ada suara kendaraan berhenti diperkarangan rumahnya.


Perempuan itu membalikkan badannya, untuk melihat siapa yang datang. Bola matanya terputar sempurna saat mendapati JNE. Yang membawa seperti buket bunga. JNE itu berjalan kearah Arsy.


"Maaf! Mbak ini ada pesanan. Atas nama Arsy Latthif!"


"Ha?" Arsy membuka mulutnya karena keheranan dengan keadaan sore itu.


"Dengan saya sendiri Pak! Tapi saya tidak pernah order buket coklat dan permen karet!" ujar Arsy, saat melihat buket yang dibawa JNE.


"Tapi ini alamatnya benar! Penerimanya juga nama Mbak! Jadi mohon diterima!"


Arsy menerima buket coklat dan permen karet dengan kuwalahan. Disaat itu pula pintu utama terbuka.


"Woooo! Orderan Ayi banyak banget!" ujar Kafka sambil memasukkan tangannya kesaku.

__ADS_1


"Bantu bawakan dong!" ujar Arsy, dibalik tumpukan berbagai macam buket.


Dengan sigap Kafka mengambil buket coklat dari tangan Kakaknya.


"Terima kasih ya Pak J!" Kepanjangannya JNE.


...***...


Arsy berjalan kearah kamarnya, dan diikuti oleh adiknya dari belakang. Setelah sampai kamar perempuan itu, meletakkan buket bunga dan permen karet.


"Ayi! Kongsi-kongsi!" ujar Kafka ingin mengambil coklat yang tersusun rapi.


"Eh ... tunggu dulu! Aku tidak tahu siapa pengirimnya!" ujar Arsy sambil duduk di ranjang.


"Pakai dipikir lagi, ya Kak Arjunot lah!" ujar Kafka dengan mata yang tidak bisa berpaling dari si coklat.


"Enggak mungkin lah! Aku tahu, dia enggak bakal se–perhatian ini!"


"Mau taruhan? Kalau ini yang ngirim Kak Arjunot, coklatnya buat aku semua?" Kafka tersenyum licik.


"Ya! Tapi itu tidak mungkin! Ngapain juga dia ngirim coklat, bunga sama permen karet! Ngasih kabar telah sampai di Kalimantan aja enggak!" grutu Arsy kesal, karena dari kemarin sampai hari ini, Harjunot tidak mengirimkan pesan padanya.


"Valentine day! Ini hari terima sayang!" Kafka terkekeh.


"Nih ...ada surat cuintak dari Kak Arjunot!" ujar Kafka sambil menyerahkan secarik kertas, yang tadi ia dapat dari buket coklat.


Arsy menerimanya dan membaca disana tertulis nama Harjunot Ali.


Kafka melangkahkan kakinya, ingin keluar dari kamar kakaknya.


"Mau kemana kamu? Kenapa coklatnya dibawa weyyy?"


"Sesuai perjanjian yang tadi aku berikan!" ujarnya santai.


"Ya tapi enggak dibawa semua Ka! Sisain kek! Sini dulu aku foto, bilang terima kasih padanya!" ujar Arsy.


Kafka melangkahkan kakinya kearah kakaknya dengan malas.


"Kamu tadi sudah tahukan, kalau yang ngirim Kak Arjunot? Jadi kamu mengambil kesempatan ini?" tanya Arsy mengintimidasi.


"Ya kalau orang pintar itu gesit Ayi! Tidak mau mensia-siakan kesempatan!" jawabannya nyengir.

__ADS_1


"Itu licik bukan pintar!" ujarnya sambil mengetok kening Kafka.


"Aelah ... cintanya yang tersampaikan. Bahagia banget! Sudah mau menerima keadaan sekarang?"


"Berdamai dengan masa lalu, jika memang ini takdirnya. Ya sebagai manusia kita hanya bisa ngejalanin kan?" Arsy menganggukkan kepalanya pelan.


"Comeback Arsy Latthif! forget the past. And start all over again. Ayi, with the former character. New thoughts and perspectives!" Kafka membuka tangannya. Arsy memeluk adiknya dengan erat.


(melupakan masa lalu. Dan mulai dari awal lagi. Ayi dengan karakter sebelumnya. Pikiran dan perspektif baru)


"I'am comeback! Menjadi Ayi yang dulu! Dengan sedikit memodifikasi cara berpikir dari yang sebelumnya! Thanks my little brother. You are the one who always knows my position! From then until now!"


(terima kasih adik kecilku. Kamu adalah orang yang selalu tahu posisiku! dari dulu sampai sekarang!)


"Makasih Ka, sudah membantuku mengingat semua!" Arsy melerai pelukannya.


...***...


Arsy POV


Setelah kejadian beberapa hari terakhir, tepatnya saat Bunda marah padaku. Karena menolak pinangan Enjun, aku baru tahu, jika aku mengalami amnesia. Jujur saja aku terkejut dengan pernyataan ini. Pasalnya saat dulu aku siuman. Aku tidak mengingat apa-apa. Yang aku ingat waktu itu adalah aku baru pendaftaran kuliah di negeri Jiran.


Saat aku bertanya kepada Bunda, kenapa aku ada di rumah sakit Rotterdam. Bunda dan seluruh keluarga kompak menjawab jika aku kecelakaan mobil.


Aku teringat perkataan adikku. Yang mau membantu aku mengingat masa laluku. Dan benar saja Kaka, menepati janjinya itu. Kaka membantu aku mengingat masa laluku. Awal aku memutuskan kuliah S1 di negeri Jiran Malaysia hingga aku ambil Sastra di Muskow. Aku salut dengan Kaka, Dia menceritakan sedikit runtun tentang masa laluku. Ya meskipun tidak mendetil, karena dari kecil. Aku dengannya tidak tinggal serumah. Apalagi saat aku kuliah.


Entah dia bisa tahu semua itu dari mana. Tapi katanya dia menggali informasi itu dari Abang Gibril, sewaktu aku dirawat di Rotterdam. Dia bertanya kepada Abang, tentang kehidupanku di Malaysia. Karena waktu aku memutuskan untuk kuliah di negeri Jiran. Abanglah yang ditugaskan untuk menjagaku.


Hingga tibalah aku bertanya tentang Rusia, padanya. Melihat ekspresinya yang datar. Aku bisa menebak, jika dia tidak tahu apa-apa tentang kehidupanku di Rusia. Dia hanya tahu 27% tentang kehidupanku di Rusia. Berbeda dengan saat di Malaysia karena dia memiliki data runtut dari Abang.


Akan tetapi dia menyuruhku untuk menghubungi. Teman yang dulu juga pernah kuliah di Rusia. Hal itu membuat aku mengingat tentang Rayemond. Yang kebetulan waktu itu kita bertemu di taman. Atas kebaikan Mas Rae, aku sudah bisa mengingat masa laluku hampir 90%.


Akan tetapi pertanyaan ku kali ini aku tanyakan pada Kaka, kembali. Apa setelah aku lulus kuliah di Rusia aku ke Indonesia. Aku heran saat aku dari Rosterdam, Bibik Arche nyruh aku ke Indonesia. Lah bukanya Papa dan Bunda ada di Singapore? tanyaku kala itu sama Bibik Arche. Dan dengan gampangnya si Bik Ar bilang jika orang tuaku pindah.


Jujur aja otaku enggak nyampai untuk berpikir keras. Hingga saat aku berada di bandara internasional Soekarno-Hatta. Aku meminta Kaka, untuk sharelok. Rumah Papa yang ada di Indo, betapa terkejutnya aku. Saat melihat lokasi yang Kaka kirim, masa ia dia ngirim alamat RS Citra Medica. Aku bertanya kepada dia kenapa, mengirimkan lokasi Rumah sakit. Si Kaka malah enggak balas.


Dan hal yang terakhir aku tanyakan padanya. Adalah apa Harjunot ada dimasa laluku. Istilah saat aku bersama Enjun aku ngerasa, ada yang aneh. Kenapa saat aku bersama Enjun ada bayangan lelaki dan perempuan selalu bersama. Dan Kaka, juga menceritakan tentang kisah cinta segitiga antara aku, Enjun dan almarhumah Kak Fitri.


Dia juga memberi tahuku, kenapa aku bisa amnesia. Dan ternyata ....Oh ternyata. Karena aku menyalatkan Enjun.


Dan hanya Kaka yang tahu jika ingatanku sudah kembali. Yang lainnya belum, karena Bunda juga masih belum mau bicara banyak denganku. Ya mungkin Bunda, masih kecewa karena sikapku yang keterlaluan itu. Sedangkan Papa, dia sibuk dengan kerjaannya. Karena kantornya ada sedikit masalah.

__ADS_1


POV End.


__ADS_2