
Dud ...dud ...dud! Suara motor berhenti.
Arsy turun dari motor, sambil merapikan rambutnya.
"Terima kasih!"
"Sama-sama!" ujar Harjunot menuggu Arsy melepaskan helm.
"Mampir dulu, soalnya sudah magrib. Nanti telat loh!" Arsy meletakkan helm itu di jok belakang.
Harjunot nampak berpikir sejenak, apa iya dia harus mampir. Tapi kalau dia langsung pulang, dia tidak akan dapat sholat magrib.
"Baiklah!" Harjunot turun dari motornya. Sedangkan Arsy mencari sesuatu didekat pot bunga. Ternyata Arsy mengambil kunci pintu.
Krekkk pintu terbuka. Arsy masuk terlebih dahulu dan menyalakan lampu.
"Masuklah!"
Harjunot hanya mengikuti Arsy dari belakang.
"Kalau mau sholat, ke lantai dua!" Arsy bicara sambil meletakkan paper bag di sofa.
"Hmmm!" Harjunot hanya mengangguk.
"Ayo!" Arsy menyuruh Harjunot masuk kedalam lift.
Harjunot hanya menuruti, saat lift tertutup. Kedua orang itu, nampak canggung.
Arsy yang canggung dia memilih ambil ponselnya disaku celana. Sedangkan Harjunot mundur sedikit, agar tidak berdekatan dengan Arsy.
...***...
Pintu lift terbuka, Harjunot keluar. Sedangkan Arsy menuju lantai tiga di sana ada kamar Papanya.
Setelah sampai lantai tiga, Arsy berjalan kearah kamar Papanya. Perempuan itu masuk untuk mengambil baju dan sarung.
Setelah ada di lantai dua, Arsy melihat Harjunot yang baru keluar kamar mandi. Sepertinya lelaki itu, baru selesai wudhu.
"Pakailah, baju Anda basah!" Arsy menyodorkan baju dan sarung kearah Harjunot.
Harjunot mengambilnya kemudian masuk kamar mandi lagi untuk berganti baju.
Baru Lima menit, lelaki itu sudah keluar. Harjunot berjalan kearah mushola yang ada didalam rumah atasannya itu. Belum juga Harjunot, melangkahkan kakinya untuk menginjak mushola. Matanya menatap punggung seseorang perempuan yang memakai mukena putih, sepertinya dia sudah siap menjadi makmum. Harjunot terdiam membisu, kenapa hari itu. Dia bisa sedekat itu dengan perempuan yang ada didalam mimpinya itu.
__ADS_1
...***...
Arsy yang sudah berdiri menunggu Harjunot lama, dia membalikkan badannya. Untuk mengecek apa, Harjunot sudah ada. Harjunot yang tahu Arsy akan menengok, dia segera berjalan masuk masjid.
Arsy bungkam saat tiba-tiba Harjunot berjalan disampingnya. Arsy mencoba untuk menenangkan detak jantungnya, yang entah mengapa berdetak tidak seperti biasanya.
"Sudah siap?" Harjunot bertanya tidak sedikit menengok kebelakang.
"Hmmm!" Arsy mengangguk pelan.
"Allahuakbar!"
Arsy sebagai makmum dia hanya mengikuti imamnya.
"Assalamu'alaikum warahmatullah!" Salam ke kanan dan ke kiri kemudian berzikir sebentar dilanjutkan doa. Tidak ada cium tangan karena bukan muhrim.
Setelah mereka selesai sholat magrib, mereka keluar dari mushola, yang ada didalam rumah itu.
"Sudah enggak usah ganti, takutnya Anda kedinginan!" ujar Arsy melihat Harjunot mau pergi ke kamar mandi.
"Hmmm!" Harjunot mengangguk.
Kedua orang itu, sudah ada di lantai dasar. Harjunot duduk di sofa, sambil membuka ransel. Kemudian mengambil botol, sambil berdoa sebelum minum. Arsy yang tak sengaja mendengar doa Harjunot, dia bergumam pelan.
Sedangkan Harjunot yang ada di ruang tamu, dia mencari perempuan yang se–sore bersamanya.
"Dimana dia? Aku ingin pamit pulang!" Matanya menyapu seluruh ruangan. Tapi ia tidak menemukan siapapun.
Tapi Harjunot mendengar seperti benturan spatula dan penggorengan. Ditambah hidungnya mencium bau harum. "Sepertinya dia sedang masak! Apa aku harus nyamperin. Tapi apa? Sopan tidak? Ah ... sudahlah! Aku akan samperin perempuan itu, setelah itu aku akan pamit!" Harjunot berdiri dari duduknya.
...***...
Tok ...tok Harjunot mengetuk pintu dapur. Arsy yang sedang masak dia, membalikkan badannya saat mendengar suara ketukan pintu.
"Ah ... masuklah!" Arsy menyuruh Harjunot masuk.
Sedangkan lelaki itu, nampak ragu karena mereka hanya berduaan saja.
"Maaf, saya lancang masuk ke dapur. Sebenarnya saya mau–" Arsy memotong ucapan Harjunot dengan cepat. "Tidak apa-apa, silahkan duduk! Setelah ini kita makan bersama. Maaf karena Bunda, belum masak. Jadi saya masak apa yang saya bisa!" Arsy meletakkan piring berisi nasi goreng dimeja.
Harjunot terdiam, ternyata perempuan yang tadi protes saat dibonceng dengan kecepatan tinggi. Sedang memasak untuknya.
"Ayo masuklah!" ujar Arsy, sambil meletakkan omlet di atas piring.
__ADS_1
Harjunot tidak bisa menolak, karena dia harus menghargai perempuan itu. Bela-belain masak untuknya.
"Suka minum susu enggak? Atau mau yang hangat? Atau mau minuman yang bersoda?" tawaran Arsy terlalu banyak, membuat Harjunot menelan ludahnya dengan susah payah.
"Hayo mau yang mana?" Arsy bertanya sambil membuka lemari pendingin.
"Air putih saja!" Harjunot memilih yang tidak ditawarkan Arsy.
"Hmmm!" Arsy menutup pintu lemari pendingin itu, kemudian berjalan kearah kompor untuk mengambil nampan dan beberapa gelas. Kemudian membuka lemari pendingin itu, dan menutupnya kembali.
Arsy sudah berdiri di samping Harjunot sambil menuangkan air putih.
"Silahkan!" ujarnya sambil menggeser gelas itu.
"Terima kasih!"
Setelah itu Arsy menuangkan susu putih kedalam gelas.
"Kalau nasi gorengnya pedas. Anda bisa minum susu!" Arsy bicara sambil duduk di samping Harjunot.
"Iya! Makasih!"
"Mari makan, maaf jika rasanya tidak seusai bayangan Anda!"
Harjunot memasukkan makanan itu ke mulutnya. Dan benar saja rasanya tidak sesuai yang Harjunot bayangkan.
'Benar, apa yang dia katakan, ini tak seperti yang aku bayangkan' Entah makanan itu enak, atau tidak Harjunot tidak menceritakan secara detail.
Setelah selesai makan kedua orang itu, keluar dari dapur. Dan disaat itu pula, pintu utama terbuka.Kafka yang sudah masuk duluan dia berteriak. "Assalamu'alaikum!"
"Ayi! Kak Harjunot!" Kafka membulatkan matanya, saat melihat Kakak perempuannya bersama lelaki.
"Kak Harjunot, kenapa pakai baju milik Papa? Jangan-jangan kalian–" Kafka menuduh Kakak perempuannya.
"PAPA! BUNDA!" Kafka berteriak keras.
Cahaya dan Langit baru saja masuk rumah.
"Ayi! Kalian pasti ngapa-ngapain kan?" tanya Kafka menunjuk kedua orang itu.
"Iya-iya lah, masa enggak ngapa-ngapain!" Arsy menjawab santai. Sedangkan Harjunot membulatkan matanya karena jawaban Arsy.
"Huwaaaa!" Kafka meloncat karena jawaban Arsy. Pemuda itu, berlari kearah orang tuanya.
__ADS_1
...***...