Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Dipertemukan Kembali


__ADS_3

"Lihatlah Not, jika kamu diuji dengan kehilangan istrimu. Maka, Abang diuji dengan perubahan Ayi! Lihatlah bagaimana dia berpakaian sekarang. Lihatlah wajah atasanmu, dulu sangat membanggakan putrinya. Sekarang sudah sirna, hanya tatapan sendu menatap perubahan putrinya. Di kehilangan ingatannya, dia tidak seperti Ayi, yang dulu. Semua berubah Not. Selama itu pula Abang dan istrinya mendapat ujian tekanan batin. Jadi kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Pada dasarnya setiap insan pasti diuji. Sesuai dengan kemampuannya!" Black berbicara pelan.


Sedangkan Harjunot mengaguuk pelan. Dia melirik kearah Arsy sebentar. Rasa bersalah mulai hadir didalam hatinya. Karena dia Arsy kehilangan ingatannya. Karena dia pula, Langit dan Cahaya mendapatkan cobaan berupa material dan non material. Sungguh dia benar-benar menyalahkan apa yang terjadi kepada orang terdekatnya adalah salahnya.


Kafka tersenyum tulus menatap Kakak perempuannya. Tanpa basa-basi, pemuda tanggung itu langsung memeluk Kakak perempuannya.


Arsy membalas pelukan itu, tidak ada senyum ceria dibibirnya. Hanya senyum terpaksa yang ada.


"Sudah! Ini terlalu berlebihah!" Arsy berbisik di telinga adiknya. Kafka pun mengakhiri pelukan itu.


"Kenapa bisa tahu kalau kita ada disini?" Papa bertanya.


"Oh ... masalah itu! Sebelum keluar dari bandara aku mengabarinya dulu!" Arsy melirik kearah Kafka. Kemudian melanjutkan ucapannya lagi. "Terus dia bilang, jika kalian ada disini. So, aku memutuskan untuk kesini!" jelasnya sambil mengunyah permen karet.


Langit menatap putrinya dengan tatapan nanar. Kenapa sifat putrinya yang lemah lembut. Menghilang begitu saja, yang ada sekarang adalah Arsy yang dingin. Suaranya datar, gaya pakaiannya seperti urakan. Sungguh miris, jika melihat perubahan putrinya yang sekarang.


...***...


Kini Harjunot duduk sendirian di pusaran istrinya. Seluruh keluarga sudah kembali ke rumah Fitri. Bertugas untuk menyiapkan ngaji bersama untuk malam nanti.


"Fit! Aku ikhlas kamu pergi! Yang tenang ya disana. Jangan lupa datang ke mimpi Mas ya? Kalau Mas kangen wajah Fitri, kamu mau kan datang kemimpiku! Aku mencintaimu istriku!" Harjunot mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Jaga anak-anak dari sana! Aku akan menjaga mereka untukmu. Doakan aku semoga bisa menjadi orang tua yang baik bagi keduanya. Aku ingin sekali, merawat mereka bersama denganmu. Tapi doaku tidak terkabulkan. Malah keterbalikkannya. Fit, aku merindukanmu!" Harjunot mengelus nisan istrinya.


"Tuhan, tolong jaga Fitri! Jangan biarkan dia tersakiti. Malaikat, aku harap kalian tidak menyakitinya. Izinkan dia tidur dengan nyenyak, dia orang baik. Tolong kasihanilah istriku. Ya Rabb, jaga Fitri! Tempatkan dia ditempatkan yang paling baik. Dikumpulkan dengan orang yang paling ia cintai yaitu kekasih Mu. Rasulullah! Amin!" Harjunot mencium nisan istrinya. Kemudian berdiri dari duduknya dan meninggalkan istrinya.


...***...


Disisi lain perempuan itu sedang melihat satu persatu bayi-bayi yang ada di inkubator. Arsy diam tidak mengeluarkan suara. Setelah selesai mengelilingi ruangan itu. Arsy kembali lagi, berdiri ketempat semula.


"Mbaknya mau gendong?" tanya Suster.


Arsy melirik kearah Suster itu, kemudian menggelengkan kepalanya.


Suster itu mengerutkan keningnya. Baru kali itu, dia menemukan perempuan tidak mau menggendong bayi-bayi baru lahir.


Arsy melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Jam lima tepat, tapi keluarga bayi itu belum juga kembali pikirnya.


Dia berjalan keluar ruangan untuk menelpon Papanya.


"Halo, Pa! Papa ada dimana? Ini sudah sore kenapa kalian tidak balik ke sini?"

__ADS_1


Arsy mendengar jawaban Papanya.


"Apa? Papa dirumah mendiang almarhumah. Terus aku, disuruh jaga disini gitu!" protes Arsy tidak habis pikir dengan otak keluarga bayi itu.


"Ehem!" Dehaman seseorang membuat Arsy membalikkan badannya.


Lelaki yang tidak ia kenal, sudah berdiri tepat didepannya. Sambil menyilangkan tangannya di dada.


Tatapan kedua saling bertemu. Harjunot memalingkan penglihatannya.


"Baiklah saya permisi!" Arsy berjalan meninggalkan Harjunot.


"Tunggu!" Harjunot menghentikan langkah Arsy.


Perempuan itu membalikkan badannya dan memadang Harjunot dengan tatapan dingin.


"Kenapa? Anda menghentikan langkah saya?"


Harjunot miris mendengar suara datar. Dari perempuan yang pernah ia kenal, yang terkenal lembut. Tapi semua hanya kenangan saja.


"Saya cuma mau bilang, terima kasih!"


Harjunot menatap punggung Arsy dari belakang. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar.


...***...


Sesampainya di rumah Arsy langsung masuk kamarnya. Perempuan itu menjatuhkan tubuhnya di kasur. Menatap langit-langit.


"Melelahkan sekali, baru sampai sudah disuruh jadi baby sitter!" Arsy menggulingkan badannya.


"Eh ... bukan! Tapi gua yang menawarkan diri. Begok banget sih, kenapa dengan mudahnya. Gua mau menyodorkan tenaga gua. Buat jagain anak orang yang enggak gua kenal!"


Tok ...tok...


"Iya!"


"Ayi, kita akan pengajian!" Kata Bunda.


"Silahkan!" Arsy menjawab singkat.


"Apa kamu tidak ikut!"

__ADS_1


"Ayolah Bunda, Ayi baru pulang. Ayi capek!" Arsy menutup telinganya.


Sedangkan Cahaya hanya mengelus dada. Karena jawaban anaknya itu. Langit yang ada di belakang istrinya. Dia mengelus pundak Cahaya.


"Yang sabar Bun, ini ujian! Kita berdoa saja. semoga ada keajaiban."


Cahaya mengaguuk, penuh harap.


...***...


Tujuh hari kemudian, Harjunot melaksanakan aqiqah untuk kedua anaknya.


"Anak Abi! Sudah cantik, ternyata!" Harjunot mencium pipi putrinya.


"Sekarang Baby Bell! Ikut Mbah Uty ya! Abi mau mandi dulu, takut para tamu keburu datang!" ujarnya seraya menyerahkan putrinya kepada Bu Dewi.


Setelah itu Harjunot masuk ke kamar mandi. Tujuh hari sudah dia menyandang status seorang duda beranak dua. Seminggu itu pula dia selalu bergadang. Hanya sekedar membuatkan susu untuk si kembar. Atau karena anaknya menagis karena panas. Harjunot tidak berani mengeluhkan keadaannya kepada Ibunya. Dia tidak mau membebani paruh baya yang selalu ada untuknya itu. Sudah cukup dia merepotkan Ibunya.


Harjunot memejamkan mata dibawah guyuran shower. Lelaki itu mengingat almarhumah istrinya.


"Fitri! Aku merindukanmu!"


Yeeee Harjunot jadi dudaaaaa....


Harusnya blrub ini sudah bisa menceritakan alur ceritanya.



Maafkanlah jika aku telah menecewakan kamu...


Dispisode pertama author sudah beri clu...


Yang mengarah ke kecewakan para pembaca



Saya pribadi ingin meminta maaf karena banyak mengecewakan pembaca!


Tapi dengan respon dari kalian saya banyak belajar!


Thanks for your all.🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2