Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Melepas Masa Dudamu


__ADS_3

Hari ini adalah tepat seminggu Harjunot berada di Kalimantan. Setelah dua hari yang lalu, melakukan CV dengan tunangannya.


Pagi hari di kediaman Langit, keluarga itu berkumpul untuk makan pagi.


"Untuk masalah WO, kamu yang menghandle Vi!" ujar Papa, seraya memasukan makan kedalam mulutnya.


"Siap Pa!" jawab Kak Vi sambil menaruh nasi ke piring.


"Undangan pernikahan mungkin, akan jadi dua harian lagi," ujar Bunda dari dalam dapur.


"Gibril kapan pulang Vi?" Bunda bertanya.


"Mungkin dua-tiga harian, dia harus mengecek keuangan bulan lalu!"


"Pa, Ayi berangkat ke rumah Ibuk ya!" ujar Arsy berdiri dari duduknya. Sambil mencium tangan Papanya.


"Kapan Junot kembali Yi?" tanya Papa.


"Em ... mungkin hari ini! Ayi enggak tahu, dia enggak ngabarin!"


"Ckckck, wah jangan-jangan. Kak Arjunot..." Kafka menggantung ucapannya.


"Hey ...kamu jangan jadi kompor!" tunjuk Kak Vi memperingatkan adik iparnya.


"Hehehe, kalau bisa jadi Bomm! Kenapa harus jadi kompor!" kekeh Kafka.


"Ayi mah, harus jual mahal sama Kak Arjunot! Biarin aja dia yang ngejar, kalau Kak Arjunot, enggak ada kabar. Kamu enggak usah tanya kabar. Kalau dia enggak chat, ya enggak usah chat. Kata Kenanga, cewek itu harusnya dikejar. Emang benar Kak Vi, kalau cewek itu harus dikejar?" tanya Kafka, melirik kearah Kakak iparnya.


"Kaka, pikir itu cewek atau maling. Pakai dikejar segala!" sambung Kafka kembali.


Papa menggeleng pelan karena kekonyolan bungsunya.


"Lebih tepatnya bukan dikejar, tapi di per-juang-kan!" jawab Kak Vi tegas.


Bunda hanya menjadi pendengar setia saja.


"Dan aku tidak setuju dengan, pendapat mu. Jika perempuan itu harus jual mahal. Menurutku dalam suatu hubungan itu, seharusnya tidak perlu ada gengsi-gengsian. Hubungan yang rusak bisa terjadi karena adanya, salah satu pihak. Tidak mau mengawali sesuatu, karena egonya terlalu besar!"


"Misalnya nih, seumpama si cewek, dia maunya cowoknya dulu, yang nelpon atau chat atau bahkan memulai bersikap romantis dsb. Akan ada saatnya si cowok ini berpikir, kayak enggak ada harganya dimata ceweknya! Lama kelamaan dia bosen juga, karena sifat ceweknya. Yang menurutnya terlalu egois, sampai-sampai tidak mau mengawali hal apa pun."


"Kesimpulannya adalah, enggak semua itu harus cowok yang mengawali. Ada kalanya cewek juga harus memperlihatkan, bahwa dia juga memiliki rasa perhatian yang mendalam untuk pasangannya loh. Dan perhatian ini, juga bisa menjadi imun atau enggak vitamin untuk hubungan mereka!" Jelas Kak Vi mengajari adik iparnya.


Kafka menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Maklum umurnya lebih tua, jadi lebih lama berkecimpung di bidang percintaan. Tentunya Kak Vi, juga pernah mengalami hati krekkkk!" Kafka mematahkan kerupuk. Mengimajinasikan jika kerupuk adalah hati.


Seluruh keluarga manahan tawanya, karena perdebatan Kafka dan Vi.


"Kayak kamu tidak saja!" sahut Arsy menggoda adiknya.


"Sorry, hidup dan waktu saya lebih banyak buat menata masa depan. Menjadikan mimpi-mimpi menjadi nyata! Jadi tidak ada waktu, buat memikirkan percintaan. Yang akan membuatku terjerumus dilembah hitam." Sombong Kafka membuat keluarganya menggeleng.


"Ya sudah, Ayi berangkat dulu Pa, Bun!" Arsy mencium tangan orang tuanya.


"Aku nebeng Yi! Hari ini aku latihan sepak bola!" Pemuda itu memang sudah bergabung dengan SSB di Jakarta beberapa tahun terakhir.


"Cepat jika mau barengan, aku tunggu dimobil," ujar Arsy meninggalkan ruang makan.


Sedangkan Kafka langsung berlari kearah lift, untuk mengganti bajunya.


...***...


Sepeninggalan kedua adik-kakak itu. Tersisa tiga orang yang masih duduk di ruang makan.


"Pa, kenapa Bunda ngerasa ada yang aneh dengan Ayi!" ujar Bunda sat membereskan meja makan.


"Beda gimana maksudmu?" tanyanya menyeruput teh hijau.


"Emang Papa, enggak ngerasain ya? Beberapa terakhir, Ayi! Menjadi penurut, ya istilahnya. Sikapnya yang dulu mulai kelihatan!" jawab Bunda yang merasakan perubahan putrinya.


"Iya, Pa! Vi juga ngerasa begitu!" sahut Kak Vi.


"Bunda!! Bekal Kaka, sudah disiapkan belum?" teriak Kafka sambil menutup resleting ransel.


Bunda langsung berlari ke dapur untuk menyiapkan bekal putranya.


"Pa! Nanti latihannya sampai sore, jangan lupa jemput Kaka!" Kafka mengisaratkan Papanya.


"He'em!" Papa mengangguk.


"Aku berangkat ya Bun!" ujarnya sambil menarik kontak makan. Dan berlari keluar rumah.


Kafka menutup pintu mobil, Arsy yang dari tadi menunggu. Perempuan itu segera tancap gas.


"Yi, kenapa belum memberi tahu Papa dan Bunda, jika ingatan mu sudah kembali?" tanya Kafka sambil memakai sepatu. Karena tadi cepat-cepat jadi dia harus memakai sandal.


"Apa ya?" Arsy bertanya kepada dirinya sendiri, dia juga bingung. Kenapa sampai saat ini dia belum memberi tahu kedua orang tuanya. Jika ingatannya telah kembali.

__ADS_1


"Belum sempat saja, entahlah aku selalu lupa. Untuk membahas tentang ini. Setiap kali ngumpul, yang dibahas tentang WO, undangan lah bla-bla. Membuaku tak punya waktu untuk bercerita!" jawab Arsy.


"Kak Arjunot! Bagaimana reaksi dia, saat kamu memberi tahunya!" Kafka menyisir rambutnya agar tidak berantakan.


"Bagaimana reaksinya? Aku tidak tahu!" Arsy menggeleng.


"Maksudnya? Jangan bilang kamu juga belum bercerita padanya!" tebak Kafka.


"Tentu saja, karena terakhir kali kita telponan. Kita ngebahas yang enggak penting! Kebanyakan dia yang bicara. Sampai kelupaan memberi tahunya!!" Arsy bergidik ngeri saat mengingat kejadian sebelum mengakhiri panggilan bersama tunangannya.


"Segeralah, itu akan terjadi. Mungkin kalau memberi tahu saat ngumpul semua enak. Anyway Abang, juga harus tahu. Dua hari lagi dia pulang kan?" ujar Arsy.


"He'em! Terus Kak Arjunot?"


"Emmm ... aku pikir-pikir dulu lah! Nunggu waktu yang tepat!"


...***...


Sore hari pukul tiga sore, Arsy sedang membuka pintu mobilnya. Perempuan itu seharian penuh mengurus si kembar. Mulai dari memandikan hingga menidurkannya.


Ponselnya berdering membuat Arsy, mengetikan aktivitasnya sejenak. Matanya berbinar saat membaca nama penelponnya.


"Iya!" jawabnya, Arsy mendengar suara dari lawan bicaranya.


"Sekarang?" tanya Arsy masuk mobil kemudian menutup pintu.


"Oke!" jawabannya tegas sambil mengenakan seat belt.


Arsy mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah beberapa menit, perempuan itu memarkirkan mobilnya di parkiran Airport. Arsy keluar dari mobilnya, perempuan itu bersandar di depan mobil. Menuggu seseorang yang tadi menelponnya. Matanya menemukan sosok yang tadi menelponnya. Arsy mengangkat tangannya, agar tunangannya melihatnya.


Harjunot berjalan kearah Arsy, lelaki itu membawa beberapa paper bag ditangannya. Saat sudah berdiri didepan tunangannya, lelaki itu menyodorkan paper bag berwarna putih. Kearah tunangannya.


Arsy mendongakkan kepalanya untuk menatap Harjunot. Seolah bertanya. Harjunot yang paham, lelaki itu bersuara.


"Reward, untukmu karena sudah mau jadi supir saya. Seminggu yang lalu!" ujarnya, Arsy pun mengambilnya. Dan melihat isi dari paper bag itu.


"Makanan khas Kalimantan?" tanya Arsy menatap Harjunot kembali.


Lelaki itu mengangguk membenarkan.


"Itu amplang sama rabuk ikan! Pernah makan enggak?" tanya Harjunot, Arsy menggeleng.


"Amplang atau kuku macan terbuat dari ikan tenggiri, bisa juga dibuat dari ikan haruan, ikan pipih, ikan mujair dan lain-lain." Harjunot memberi tahu tunangannya, sebenarnya apa sih bahah dasar kuku macan ini.


Arsy tersenyum manis, membuat Harjunot mengerutkan keningnya.


"Ya sudah kita pulang sekarang!" ajak Arsy.


"Biar saya yang nyetir, kamu duduk aja. Kamu tadi ngebut ya? Lima belas menit sudah sampai sini!" tuduh Harjunot.


Arsy diam tidak menjawab, karena tuduhan yang Harjunot berikan tepat sasaran.


"Ini yang terakhir ya, besok-besok enggak boleh ngebut. Kamu itu cewek!" ujar Harjunot sambil menarik pintu mobil samping kemudi.


"Ayo masuk! Cepat!" perintah Harjunot yang membukakan pintu untuk Arsy.


Arsy langsung berlari kecil, dan masuk kedalam mobil.


Harjunot tersenyum karena tunangannya tidak membantahnya. Lelaki itu segera menutup pintu mobil, kemudian mengelilingi mobil. Harjunot segera tancap gas. Didalam mobil keduanya hanya diam. Sesekali Harjunot melirik kearah Arsy yang hanya menatap luaran mobil.


'Kenapa nih anak, diam enggak seperti biasanya' batin Harjunot.


Tidak ada maksud untuk mengajak bicara Arsy. Harjunot memutuskan untuk memutar musik.


Mungkin saat ini ku akan, melepas lajang ku.


Danku persunting dirimu.


Jadilah pasangan ku dan hidup menua bersama diriku terimalah cintaku.


Audio itu memutarkan lagu yang hitz pada eranya.


Arsy yang mendengar lagu itu, dia tertawa cekikikan. Membuat Harjunot mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" tanya Harjunot heran.


"Lagunya hehe," jawab Arsy sambil membekap mulutnya.


"Apa ada yang salah dengan lagunya?"


"Tidak, hanya saja. Jika ini versi kamu, maka liriknya beda!" Arsy menunduk sambil mengigit bibirnya. Karena menahan tawanya.


"Maksudnya?" Harjunot tetap fokus menyetir.


"Iya, GI ...tu!"


"Iya gitu, gimana. Coba kamu nyanyikan, kalau versi saya gimana!" Harjunot melirik tunangannya.

__ADS_1


"Tapi janji, enggak boleh ngejek suara ku ya?" Kata Arsy melihat tunangannya.


"Ya!"


Arsy menarik nafas, kapan lagi ada konser musik dimobil. Ditambah lagi ada pendengarnya. Bukan kah, itu terlihat indah dalam beberapa hal.


"Emmm ..."


"Kalla hadzil ard mataqfii masahah." Harjunot meneruskan, sontak saja Arsy kaget. Dengan wajah cemberut perempuan itu memukul lengan Harjunot.


"Enggak gitu! Bukan itu, ngeselin!" ujarnya seraya menyilangkan tangannya di dada.


"Ya kan awalannya Emmmm... ya mungkin saja kamu mau nyanyi itu."


"Enggak jadi-jadi! Kamu ngeselin!" Arsy mengibaskan tangannya.


"Jangan gitu dong, saya kan tadi cuma bercanda! Ayo, silahkan nyanyi saya dengerin. Katanya ini versi saya, berarti hanya kamu. Yang tahu liriknya, jadi saya pengen kamu nyanyi!" hibur Harjunot saat tahu sang tunangan ngambek.


"Enggak jadi! Titik!"


"Ayi jangan marah-marah takut nanti lekas tua."


"Kamu yang tua!" Arsy memanyunkan bibirnya.


Harjunot terkekeh geli saat melihat ekspresi tunangannya.


"Ya udah ayo nyanyi!"


"Enjun jangan marah-marah kamu itu sudah tua. Kalau kamu marah-marah tuanya kelihatan!" gerutu Arsy.


Harjunot hanya bisa menggeleng.


"Oke! Yang satunya gimana!" Harjunot.


"Mungkin saat ini ku akan melepas masa dudaku!"


Harjunot tersenyum kecut saat Arsy menyindirnya dengan kagu.


"Kan ku persunting gadisku! Jadilah pasanganku dan hidup menua bersama diriku, terimalah cintaku!"


"Kreatif juga kamu, mau nyindir soal status saya. Pakai dinyanyikan segala!" ujar Harjunot.


Arsy tertawa kecil karena mampu membuat Harajunot kesal.


Mobil itu memasuki gerbang rumah Harjunot. Lelaki itu ingin turun, akan tetapi terurungkan. Saat Arsy menarik lengannya.


"Apa?" Harjunot menengokkan kepalanya kearah Arsy.


"Ada yang harus kamu tahu!"


"Tentang?" Harjunot menatap Arsy.


"Aku ingat semuanya!"


Sontak saja Harjunot terkejut dengan pernyataan Arsy.


"Jadi apa jawabannya?" Arsy bertanya menatap wajah Harjunot.


Harjunot mengerutkan keningnya tidak paham.


"Jawab apa?"


"Yang waktu itu!"


"Waktu itu yang mana?" Harjunot bingung.


"Sebelum aku memejamkan mataku!" tatapan berubah sendu.


Harjunot mulai mencerna perkataan Arsy. Lelaki itu berusaha mengingat kejadian yang Arsy maksud.


"Saya tidak bisa memberimu janji cinta!"


Arsy yang mendengar jawaban Harjunot matanya berkaca-kaca.


"Hanya bisa memberimu janji setia! Arsy Latthif! Saya Harjunot Ali, akan setia. Mencintamu dalam keadaaan terbaik maupun terburukmu. Saya akan selalu bersamamu dalam suka maupun duka. Dan saya berjanji akan menjadikan dirimu dan anak-anak ku sebagai prioritas saya!"


Sontak saja Arsy langsung menangis dan membenamkan wajahnya di dada Harjunot.


Janji setia lebih berharga dari pada janji cinta.


Disaat cinta sudah hilang, maka hilanglah sudah janji itu. Perceraian akan menjadi jalan satu-satunya.


Akan tetapi jika seseorang mengucapkan janji setia. Maka orang itu akan berusaha selalu bersamanya. Menskipun cinta telah hilang, dia akan tetap berusaha untuk mencintainya. Dan berusaha menumbuhkan rasa cinta itu kembali.


Lantas mana yang lebih penting. Janji cinta atau janji setia.


Harjunot mengelus rambut tunangannya.

__ADS_1


__ADS_2