
POV Harjunot
"Abiiiii!" Ku edarkan pandanganku kearah suara yang familiar ini.
Terlihat sosok perempuan muda baru turun dari sepeda. Kini berlari mendekat kearah ku. Dan sekarang perempuan ini, sudah berdiri tepat di depanku sambil cengar-cengir.
"Oba-Abi! Saya tidak pernah merasa buat Anda. Jadi jangan panggil saya Abi!" Keta ku.
"Hehehe! Untung saya, bukan buatan Anda!" jawabnya lempeng, tidak seperti biasanya. Yang selalu nyolot. Bukan hanya bicaranya yang beda tapi gaya rambutnya juga beda. Gaya rambut ombre blonde sebahu. Dengan tatanan rambut beach wafe. Ada satu, dua, tiga jeda mini di bagian atas kedua telinganya. Mungkin bertujuan agar tidak berantakan dan menutupi wajahnya.
"Hei!" Goyangan dilenganku membuyarkan lamunanku.
"Kenapa Anda menatap saya sampai enggak ngedip? Ah ...saya tahu Anda pasti sedang memuji penampilan saya kan? Iyalah cantikkk, anaknya siapa dulu. Haji Langit!" ujarnya dengan nada nyolot. Baru juga dipuji di hati, belum di lisankan. Kenapa makin besar kepala.
"Gaya penampilan Anda, childish! Seperti anak TK!" sahutku cepat, memang benar. Perempuan yang berdiri di depanku tampilan dan wajahnya lebih muda dari umurnya.
"Kenapa kemari?" Tadi pagi aku tidak menjemputnya. Karena ada sesuatu alasan yang tidak bisa ditinggalkan.
"Ya, kan biasanya saya juga kemari. Ikut Anda kerja." jawabnya simpel sekali.
"Kan tadi saya enggak jemput, kenapa enggak istirahat saja? Katanya tadi sakit!Terus kesini tadi goes sepeda?" Aku tidak menyangka jika perempuan ini kesini dengan menggowes. Jarak rumahnya dari proyek yang aku tangani lumayan jauh. Apalagi naik sepeda, tidak bisa ku bayangkan. Jam berapa dia berangkat.
"Pakai jetski! Jelas-jelas pakai sepeda pakai tanya lagi!" gurunya sambil tersenyum mengejek.
Aku jadi teringat sesuatu, ada hal yang harus aku bicarakan dengan perempuan yang ada di depanku ini.
...***...
Author POV
"Not! Junott kenapa diam?" Arsy mengerutkan dahinya.
"Ehem ...begini saya ingin bicara dengan Anda!" Harjunot sedikit ragu.
"Ya sudah bicara saja, dari tadi Anda juga sudah nyap-nyap juga!" Ketusnya sambil menyilang kan kedua tangannya di dada.
"Tunggu sebentar, saya lihat para tukang dulu. Nanti kita bicara dî sana!" Tunjuk Harjunot kearah kursi di kiri jalan.
Tiga puluh menit kemudian, kedua orang itu. Sudah duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Sudah hampir empat menit, kedua orang itu belum juga terlibat pembicaraan.
Arsy melirik kearah lelaki yang duduk disampingnya. Harjunot mengigit bibir bawahnya, lelaki itu seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Ehem!"
"Nikah yuk!"
__ADS_1
Mata Arsy terbelalak mendengar perkataan Harjunot yang mengajaknya menikah. Bagaimana tidak, jika duda dua anak itu. Ngajak nikah tapi bahasanya seperti seorang teman ngajak ke bioskop.
"Buahahahahahaha!" Arsy tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.
Sedang Harjunot melirik kearah Arsy sebentar kemudian memalingkan wajahnya.
"Jujur haha ...ini adalah lelucon yang paling lucu yang pernah saya dengar dari Anda!" Arsy menepuk-nepuk pundak Harjunot sambil berusaha menahan tawanya.
"Saya tidak bercanda! Dan saya tidak berani mentertawakan sebuah pernikahan."
" Saya tidak tahu bagaimana cara menembak seseorang. Arsy Latthif maukah Anda menikah dengan saya?"
"Menjadi Ibu sambung buat si kembar?" Harjunot menatap manik Arsy dengan tatapan sayu.
Sontak saja Arsy langsung berdiri dari duduknya. Tubuh perempuan itu kini membelakangi Hajunot.Wajahnya memerah bukan karena tersipu, akan tetapi menahan kesal. Dadanya naik-turun. Arsy mencoba mengatur pernafasannya. Perempuan itu membalikan badannya menatap lelaki yang duduk diam dengan ekspreksi datar.
"Apa karena saya memanggil Anda dengan panggilan Abi! Jadi Anda terbawa perasaan?" tanyanya sinis.
"Hahahahaha! Denger ucapan saya! Dalam kamus seorang Arsy pernikahan itu tidak ada!" Arsy bertepuk tangan sambil tertawa mengejek.
"Apalagi dengan Anda!" Tunjuk Arsy tepat diwajah Harjunot.
"Lelaki yang merusak kebahagian saya saat ada di Bar!"
"Hal itu membuat saya terbelit. Saya lebih suka hidup bebas tanpa tanggung jawab. Saya tidak akan kecewa dan saya juga tidak akan tersakiti karena sebuah hubungan!"
"Apalagi cinta! Cih, saya tidak sudi menyakiti diri saya! Karena cinta!"
"Cinta itu bisa meyakiti! Karena dalam percintaan, melahirkan penghianatan! Karena cinta membuat otak begok! Rela melakukan apapun asal yang dicintai baik-baik saja. Tidak memperdulikan dirinya sendiri. Karena cinta seseorang rela kehilangan nyawa! Tapi yang dicinta tidak tahu!"
"Cinta bagi saya adalah perjalanan menuju kehancuran untuk diri sendiri!" Emosi Arsy bertambah saat membahas tentang cinta. Entah karena apa, akan tetapi perempuan itu hatinya sesak. Jika membahas cinta.
Harjunot membuang nafas pelah, ada beberapa kalimat yang Arsy ucapkan. Seperti menyindir dirinya.
"Sepertinya umur kita juga beda jauh. Prinsip hidup kita berbeda, sudut pandang kita juga berbeda. Dan banyak lagi ketidak cocokkan untuk hal ini!"
"Bahkan status kita juga beda!"
"Kalaupun saya menikah, saya juga tidak akan menikah dengan duda konsuekesinya banyak!"
Wajah Harjunot semakin datar, telinganya sudah panas. Mendengar ocehan nenek lampir yang ada didepannya.
"Habis nikah enggak bisa berduaan karena sudah punya buntut.Belum lagi kalau dia enggak bisa ngelupain istrinya yang dulu!" Arsy menarik napas dalam-dalam. Marah juga harus diberi jeda sejenak.
"Anda pikir saya seperti anak prawan jaman sekarang. Yang bangga saat dinikahi duda. Atau Anda berpikir, saya akan kegirangan seperti mereka bahkan rela melakukan sujud syukur. Karena dapat duda? Bersimpuh dan bilang, terima kasih telah melamarku," ujar Arsy bersimpuh dikaki Harjunot.
__ADS_1
Sedangkan Harjunot memalingkan wajahnya. Lelaki itu tidak ingin mengeluarkan suara. Karena dia tahu, jika dia ikut nyap-nyap akan runyam nantinya.
"Hahahaha! Atau jangan-jangan Anda berimajinasi. Jika saya akan..." Arsy yang bersimpuh perlahan ia berdiri. Kedua tangannya mengungkung tubuh Harjunot yang duduk santai di kursi.
Perbuatan Arsy mampu membuat Harjunot kembali menghela napas pelan.
Arsy mendekatkan wajahnya dengan wajah Harjunot. Perempuan itu meyunggingkan senyumannya. Saat melihat wajah Harjunot dari dekat nampak kesal.
Gerakkan lambat untuk Arsy akan tetapi untuk Harjunot gerakkan itu sangat cepat.
Cup!
Ciuman dari bibir Arsy mendarat tepat dipipi kiri Harjunot. Perempuan itu melirik manik mata Harjunot.
Jantungnya berdebar tak karuhan, saat bibirnya masih menempel dipipi lelaki itu.
`Menarik juga ternyata´ batin Arsy yang belum melepaskan ciuman itu.
Segera Arsy berpindah mencium pipi kanan lelaki yang tadi mengajaknya nikah.
Harjunot yang baru sadar dia mendorong pelan tubuh Arsy. Sontak saja membuat badan perempuan itu mundur kebelakang.
"Apa yang Anda lakukan?" Harjunot berdiri dari duduknya.
"Melakukan apa yang ada didalam imajinasi Anda!" jawabnya santai.
"Jika Anda sudah selesai bicara. Apa saya bisa kembali?" tanya Harjunot dengan wajah santai yang tidak memperlihatkan kekesalannya.
Tangan Arsy mengepal karena dia tidak bisa membuat lelaki yang ada didepannya marah.
"Baiklah saya permisi!" Harjunot melangkahkan kakinya.
Arsy menatap punggung Harjunot semakin jauh.
Perempuan itu tersenyum miring sebelum melancarkan aksinya.
Arsy mulai memposisikan kakinya untuk menendang sesuatu.
"One, two end threee!"
Takkkkkkk!
"Awwwwww!" pekik Harjunot sambil memegang kepalanya. Lelaki itu mengeratkan giginya, kemudian mebalikkan badannya kearah orang yang membuat kesabarannya habis.
...***...
__ADS_1