
“Hati-hati Pa!” Arsy mencium tangan Papanya. Setelah itu keluar dari mobil dan diikuti oleh adiknya.
“Maafin Kaka, ya Pa! Tadi Kaka, sudah kelewatan bercandanya!” ujar Kafka, yang berdiri di samping pintu kemudi.
“Hmm!” Papa, tersenyum mengangguk.
Kafka mencium tangan Papanya.
Setelah kepergian Papa, kedua orang itu masuk ke gedung sekolah favorit. Sekolah yang megah, di sana terdiri lima lantai. Setiap lantai terdiri dari empat ruangan, lantai satu kelas tujuh A-B-C-D. Dan disusun kelas delapan, lantai dua dan seterusnya. Untuk lantai empat menjadi aula sekolah, terkadang digunakan untuk acara istigosah. Setiap kamis bersama Dewan Guru dan seluruh anak didik.
“Ayi, tahu tidak kenapa aku minta maaf sama Papa?” tanya Kafka berbisik, pagi itu mereka berdua adalah orang pertama yang masuk kedalam sekolah itu.
“Kenapa?” tanyanya menatap adiknya.
“Agar, Papa! Enggak narik uang yang tadi Papa, kasih!” jawabnya terkekeh.
“Dasar, penyabutase nama! Minta maafnya, enggak ikhlas ternyata?” cibir Arsy, sambil mencubit pinggang adiknya itu.
“Awww …dasar anak singa, selalu menyerang tiba-tiba!” Kafka bicara, sambil melepaskan tangan Kakaknya yang jail.
“Hey …kau juga anak singa. Bahkan saat kau lahir singa-singa itu, mengelilingi mu saat kau ditaruh di inkubator!”
“Semua ini gara-gara kita lahir di Singapure, jadi seluruh keluarga manggil kita anak singa!” Kafka menyesal karena dibuat dan dilahirkan di negara singa.
“Harusnya dulu kita lahir di Sumatra, biar nama Ayi ada Rafflesia! Jadi panggilannya bukan Ayi tapi Yihaaaa!”
“Serah,” ujar Arsy meninggalkan adiknya.
Kafka memberi tahu Kakaknya. “Ayi, bukan lift yang itu. Itu lift untuk siswa, yang paling kanan itu untuk Dewan Guru!”
Arsy yang mendengar seruan adiknya, dia membalikkan badannya dan berjalan kearah lift paling kanan. Sedangkan Kafka, sudah masuk kedalam kelasnya.
... ***...
Arsy masuk kedalam lift, pintu lift hampir menutup rapat. Tapi terurungkan, karena ada telapak tangan yang menyetop membuatnya terbuka kembali.
Sosok pria berjas sambil menggandeng anak kecil itu masuk lift. Arsy yang tadi berdiri di tengah-tengah lift, dia mundur kebelakang.
Anak perempuan itu tersenyum kearah Arsy. Sedangkan Ayah dari anak perempuan itu, sedang memijit ponsel dengan tangannya.
__ADS_1
“Baybik!” ujar anak perempuan itu, sambil menarik ujung baju Arsy.
Arsy yang tadi menatap atas. Terkejut saat ada yang menarik ujung bajunya. Arsy pun menatap kebawah, untuk melihat siapa yang menarik ujung bajunya itu.
Anak perempuan itu tersenyum manis kearah Arsy.
Arsy pun membalas senyuman itu sambil mengelus pipi anak itu.
“Ciapa namanya?” tanya anak usia kurang lebih dua tahunan.
“Ar-sy!” jawabnya, sedangkan Ayah dari anak perempuan itu, tidak menghiraukan anaknya yang bicara dengan Arsy.
“Allsyyyy!”
“Iya?” tanya Arsy tersenyum, mungkin saja anak perempuan itu ingin bertanya.
“Baybik Allsyyy! Atu ba-yu yi-hat!” Arsy hanya tersenyum. Dia sangat canggung karena mereka hanya bertiga di dalam lift.
"Siapa namamu?" Arsy memberanikan diri bertanya kepada anak perempuan itu.
"Si Putput!" Arsy yang mendengar jawaban dari anak perempuan itu, dia membulatkan matanya.
"Oh namanya Siput?" Arsy mengangguk paham.
"Ta-lah Baybik! U-kan di-tu. Ayco! Be-li ta-u Baybik! Nam-a-ku!" ujarnya menarik tangan Ayahnya. Ayah anak perempuan itu, menyimpan ponselnya kedalam saku. Kemudian menatap anaknya.
"Bik, namanya Puput!" ujarnya pria itu.
Lift terbuka Abidco menarik tangan anaknya agar keluar lift. Tapi sebelum keluar, Puput menarik tangan Arsy. Yang membuatnya kaget karena ditarik. Arsy yang bertujuan sama dengan Abidco dia mau tidak mau harus keluar lift, bareng dengan duda dua anak itu.
...***...
Puput tersenyum karena dia bisa menggandeng tangan Arsy dan Ayahnya itu.
"Eh ... mohon maaf Pak! Puput menggandeng tangan saya, tidak pantas jika pasangan Bapak! Atau Dewan Guru melihat ini." Arsy memberanikan diri memberi tahu, pria yang tidak ia kenal.
Abidco yang fokus pada layar ponsel, dia menghentikan langkahnya, kemudian menatap kearah suara itu.
Abidco tidak percaya jika dari tadi mereka bertiga bergandengan.
"Maaf, saya enggak tahu! Put, lepaskan tangan Bibiknya!"
Tapi Puput menggeleng pelan.
"Ya sudah, kalau begitu lepaskan tangan Ayah!" ujarnya, tapi Puput malah menggenggam tangan Abidco erat.
"Ayah!" panggilnya dari belakang, membuat Abidco dan Arsy menengok kebagian lift.
"Kakak!" ujar Abidco, sambil melepaskan tangan yang digenggam Puput.
"Maaf!" ujar Kenanga, menunduk sambil menutup lift kembali.
"Ena! Ini enggak seperti yang kamu lihat, Nak!" ujar Abidco, sambil menekan tombol lift. Tapi sial, pintu lift itu tidak mau terbuka. Abidco mengusap wajahnya kasar, anak pertamanya benar-benar salah paham dengannya.
Arsy hanya menggigit bibir bawahnya.
"Mending dikejar saja, biar Puput sama saya. Takutnya nanti, anaknya bilang ke istri Bapak!" Arsy memberi pendapat.
"Ah ... tidak perlu! Nanti malah dia malu, jika saya mengejarnya!"
__ADS_1
Arsy hanya mengangguk saja, karena dia juga tidak kenal dengan pria itu.
"Put! Nanti malam kamu harus minta maaf sama Kakak! Karenamu, hatinya terluka!" ujar Abidco memberi nasehat untuk si Puput.
Puput hanya mengangguk saja, anak perempuan itu menggandeng tangan Ayahnya lagi.
"Puput, bisa lepasin tangan Bibik?" tanya Arsy, takut jika ada yang melihat. Nanti salah paham lagi seperti Kenanga.
Abidco yang mendengar hal itu, dia melirik tangan Arsy yang digenggam anaknya.
"Put, ayo lepaskan tangan Bibiknya, Nak!"
Puput menggeleng kepalanya, sambil tersenyum.
"Ayco! Put-put Baybik!" Puput berhitung dengan nama mereka.
"Ayco! Baybik ba-a pu-yang ya? Bi-al tem-ani Putput a-in!" Puput mendongakkan kepalanya agar melihat wajah Ayahnya.
Arsy membulatkan matanya sempurna, setelah mendengar ucapan Puput. Sambil membatin bertanya, apa anak itu tidak punya Ibu, sampai menyuruh Arsy menjadi teman bermainnya.
"Enggak boleh dong, Nak! Kan di rumah sudah ada Mbah Uty, Tante sama Tatak Ena!"
"Capi di-cana tu-lang!"
"Kurang siapa lagi? Di rumah juga ada Mbah Kakung!"
"Baybuk! Ayco caliin Baybuk, bayu!" Abidco yang mendengar, dia tidak percaya jika anaknya meminta Ibu baru kepadanya.
Arsy yang ada di samping Puput, tidak paham. Sebenarnya apa yang Puput minta.
"Nanti, ya? Sekarang kita masuk ke kantor, bentar lagi bel bunyi.“ Abidco bicara menggendong anaknya.
"Baybik!" ujar Puput dalam gendongan sang Ayah sambil mengarahkan tangganya kearah Arsy.
Abidco tak memperdulikan anaknya yang berteriak, dia terus berjalan menjauh dari Arsy.
"Huh ... baru juga masuk, sudah ada drama!" Arsy membuang napas pelan.
...***...
Jam menunjukkan pukul setengah delapan, seluruh siswa dan Dewan Guru sudah berdatangan.
Arsy duduk di meja pribadinya, tidak ada ruang pribadi di sana. Semua Dewan Guru dan Kepala Sekolah berada di satu ruangan yang sama.
"Eh ... Guru baru?" tanya Sandra yang umurnya di atas Arsy.
"Hem ... iya!" jawabnya sedikit tersenyum.
"Siapa namanya, Bu?"
"Arsy!"
"Ah Bu Arsy, saya Sandra!" ujarnya menjabat tangan Arsy.
"Senang punya rekan kerja seperti Anda Bu!" ujar Arsy menerima jabatan tangan dari Sandra.
"Baybik!" panggil Puput yang baru masuk ruangan.
"Baybik siapa yang kau maksud Put?" tanya Sandra yang berdiri di samping Arsy.
"Baybik Allssyyy!"
Sandra terkejut kenapa keponakannya mengenal Guru baru itu.
"Kok tahu? Emang sudah kenal Sayang?"
"Cu-d-ah dong Tuante!"
"Biyang-in Ayco, uat caliin Baybuk bayu, uat Putput!"
...***...
__ADS_1