
Pagi itu adalah kali pertama Arsy mengajar, perempuan itu sudah siap. Gaya pakaiannya bisa dibilang sopan, rok dibawah lutut, baju lengan se—sikut dan rambut di cepol. Pagi itu Arsy bisa memakai baju dinasnya.
“Pagi, Bu Guru Arsy Latthif!” sapa Papa, menggoda anak kesayangannya.
Arsy tersipu malu, sambil memasukkan tangannya kedalam saku baju.
“Sudah, Pa! Jangan menggoda Ayi!” Bunda Cahaya, yang berdiri di samping Arsy dia memegang pundak Arsy dan tersenyum.
“Bilang saja, Bunda iri,” celetuk Kafka dari belakang.
“Ti-tidak!” jawab Bunda, cepat.
“Maksud Bunda, tidak salah Pa!” Kafka terkekeh, sedangkan Bunda cemberut.
“Ya sudah, nanti malam ya?” Langit mengedipkan matanya, hal itu membuat Cahaya malu.
“Ngapain nunggu nanti malam? Sekarang saja, Pa! Aku akan mengajari gombalan, yang akan buat Papa disayang Bunda!” ujar Kafka sambil memperbaiki ranselnya yang merosot.
“Coba bisikin, sini!” ujar Papa menyuruh putranya mendekat.
“Tapi, Papa harus tambah uang saku Kaka!” Kafka tersenyum puas.
“Baru tahu, kalau gomballan bisa di jual ternyata! Eh …lebih tepatnya di obral. Kayak yang Kaka lakukan!” cibir Arsy yang dari tadi diam.
“Ayi, aku tahu! Ayi enggak pernah digombalin cowok! Tapi aku yakin, tiap hari Ayi dapat gombalan beruang putih saat di Rusia!” ejeknya yang membuat Arsy mendengus sebal.
“Awas …kau Ka!” Ayi memberi peringatan kepada adiknya, dengan kepalan tangan.
“Sudah, jangan debat cepat berangkat!” Bunda Cahaya menengahi anaknya.
... ***...
“Tunggu dulu, acara menggombal belum dilaksanakan Ndan!” ujar Kafka yang tidak mau mesia-siakan peluang buat tambahan saku.
“Tempat dan waktu kami persilahkan Ndan!” Arsy mengikuti adiknya.
“Papa, siniin uangnya!” Papa Langit memberi uang satu lembar, senilai tujuh pulu lima ribu.
“Az-zahra, tahu tidak apa persamaan kamu dengan burung tetangga!” Langit berbicara, karena Kafka berbisik di telinganya.
“Emang apa?” Cahaya menjawab malu-malu.
“Sama-sama, berkicau saat pagi. Hal itu bikin telinga budeg!” Langit yang sadar dengan ucapannya barusan dia menutup mulutnya. Ternyata anaknya menjebaknya. Cahaya yang tadinya tersenyum perlahan bibirnya mengerucut. Sedangkan Arsy menahan tawanya.
__ADS_1
“Parah! Papa bilang Bunda bikin telinga budeg, sudah gitu disamakan dengan burung tetangga lagi!” Kafka menggeleng, sambil meninggalkan Papa Langit yang tertegun.
“Hey …kau yang menyuruhku, mengikuti ucapan mu!” teriak Papa, kepada anaknya yang membuka pintu mobil.
Kafka yang mendengar ucapan Papa, dia membalikkan badannya seraya berkata. “Emang Bunda! Mendengar apa yang Kaka, bisikkan ditelinga Papa?” Cahaya menggeleng.
“Terus Ayi denger enggak, apa yang Kaka bisikkan ditelinga Papa!” Arsy menggeleng sama halnya dengan sang Bunda.
“Tuh, kedua saksi tidak mendengar apa yang Kaka bisikkan ke Papa! Berarti Kaka, tidak bersalah dalam hal ini!” Kafka sangat licik, bagaimana mungkin dia bicara seperti itu pada Papanya.
“Dasar anak enggak tahu diri! Papanya di jadikan tersangka, padahal dia yang salah!” Papa Langit mencibir sinis. Sedangkan kedua perempuan itu saling tatap dan menggeleng karena Papa dan Kafka bertengkar di pagi buta.
“Anakmu tuh Bun!” Langit melirik Cahaya, kemudian menatap Kafka.
“Anakmu juga!”
“Emang iya? Kok Papa, lupa buatnya ya? Atau dia lahir dari rahim sapi, tuh anak!” Langit menatap Kafka tersenyum mengejek.
“Wah …parah! Bunda, masa Papa bilang, Kaka dilahirkan dari rahim sapi! Itu sih secara enggak langsung, Papa menghina Bunda, dengan panggilan sapi. Tapi yang paling parah, Papa lupa buatnya, itu sih secara enggak langsung Papa! Mempertanyakan, Bunda buat Kaka sama siapa?” Kafka membuat Papanya, terkejut dengan pemikiran anak bungsunya.
... ***...
“Bener, Pa? Apa Papa, pikir Bunda main dibelakang Papa? Jelas-jelas wajah Kaka, mewarisi wajahmu juga. Mana ada anakmu yang mewarisi wajahku? Hanya Kakak mereka yang sudah meninggal, yang mewarisi wajahku!” ujarnya menaruh kedua tangannya di dada.
Langit menatap Kafka tajam, semua itu karena si Kafka yang terlalu pintar untuk memutar balikkan fakta. Sedangkan yang ditatap tidak merasa bersalah.
“Ya sudah, nanti kita buat adik untuk mereka. Semoga wajahnya mewarisi Bunda, gimana?” Papa tidak mau kalah dengan otak Kafka, yang membuatnya dalam masalah besar.
“TIDAK BOLEH!” Arsy dan Kafka sepertinya satu pendapat.
Cahaya dan Langit menutup telinga karena anak-anaknya berteriak.
“Kenapa?” tanya Langit ingin tahu, apa alasannya mereka menolak untuk kedatangan adik.
“PAPA! SUDAH TUA!”
Jawaban kedua anaknya membuat Papa, terbengong.
__ADS_1
“Enak saja kalau bicara, Papa masih lima enam juga.”
“Sudah, berhenti berdebat! Cepat berangkat!” titah Cahaya, membuat ketiga orang itu lari masuk mobil. Kalau Ratu rumah sudah marah, semua hanya mengikuti plus ketakutan.
“Kaka, tidak boleh naik mobil Papa!” ujarnya, sambil memasang sabuk pengaman.
“ Hah?” Kafka tidak percaya jika Papa, masih dendam kepadanya.
“Papa bercanda kan?” tanyanya serius.
“Tidak! Papa tidak bercanda, keluar! Kaka buka bagasi, duduklah di sana. Jika tidak ingin terlambat!” Kafka tidak bicara lagi, pemuda itu langsung keluar. Takut juga kalau Papa, sudah marah.
Sedangkan Arsy merasa iba dengan nasib adiknya itu.
“Papa, kenapa Kaka disuruh naik bagasi?” tanya Arsy yang duduk di samping Papanya.
“Biarin, adikmu itu selalu bikin Papa, dalam masalah besar! Tiap hari selalu bikin Papa, dabat dengan Bundamu!”
“Tapi kasian Pa! Mungkin jika di keluarga kita tidak ada yang mempunyai sifat jail. Seperti yang Kaka punya, pasti keluarga kita flat mungkin?”
“Itulah keistimewaan adikmu itu, dalam diriku. Dia selalu bikin keluarga kita tertawa, karena ulahnya. Setiap malam aku selalu menciumnya. Disaat dia terlelap dalam mimpinya.”
“Bukannya Kaka, tidur di kamarnya sendiri? Dan dia selalu mengunci pintu saat tidur!" tanya Arsy bingung.
“Papa, memiliki kunci cadangan!” Arsy mengangguk paham, ternyata Papa, sangat sayang dan perhatian kepada anak-anaknya.
Di bagian belakang Kafka membuka bagasi, sambil menggerutu. “Apa bedanya, angkot sama mobil pribadi milik Papa? Enggak ada bedanya! Karena sama-sama memiliki kernet, dan pagi ini aku harus jadi kernetnya.” Kafka bicara sambil naik bagasi yang terbuka itu.
“Jalan pir!” ujarnya, sambil memberi perintah.
“Tuh kan, dia sangat konyol!” Langit tersenyum.
Arsy mengangguk sambil menutup mulutnya karena adiknya itu.
Akhirnya mobil telah meninggalkan rumah elit itu. Dengan bagasi terbuka dan Kafka duduk didalamnya, seraya berkata. “Kampung Rambuttan, kampung Rambuttan! AYO KITA TEMUI IPIN UPIN DAN MAK CHIK! BETUL-BETUL!” Kafka berteriak di setiap jalan menuju sekolahnya.
Didepan Langit dan putrinya tertawa, karena ulah Kafka. Namun tawanya terhenti, saat melihat Polisi di depan.
“KA! TUTUP BAGASI! ADA POLISI DI DEPAN. NANTI KITA KENA TILANG?” Papa Langit berteriak, memberi informan untuk anaknya. Kafka yang mendengar, dia segera menutup bagasi sesuai arahan dari Papanya. Setelah itu, Kafka duduk di kursi penumpang. Pemuda itu sangat lihai.
“Hah …untung ada Polisi, coba kalau enggak, pasti aku akan ditertawakan teman sekolahku. Karena melihat aku duduk di bagasi!” ujarnya sambil menyenderkan badannya ke kursi penumpang.
__ADS_1
...***...