
Harjunot membuka pintu kamarnya, dia membanting tubuhnya ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamar. Memejamkan matanya, terbesit dalam ingatan Harjunot wajah putih milik Arsy.
"Hah!" Harjunot membuang napas kasar, sambil bangkit dari tidurnya menjadi duduk. Lelaki itu memijat pelipisnya dengan tangan kanan.
"Ini enggak benar! Kenapa aku selalu mimpi perempuan itu? Kita bahkan tidak pernah menyapa, jangankan menyapa bertemu juga baru!"
"Wajahnya sama persis seperti perempuan yang ada dalam mimpiku! Tapi kenapa saat dalam mimpi dia seperti Tarzan yang kurang baju. Sedangkan dalam nyata, dia berpakaian sopan, meskipun tidak berhijab!" Harjunot menatap langit-langit kamar, sambil menyangga tubuhnya dengan kedua tangan dibelakang.
"Tapi, apa hubungan dia dengan Rasya-Rasya itu? Apakah mereka seorang kekasih atau masih dalam tahap PDKT?" Harjunot bertanya kepada dirinya sendiri.
"Bahkan dia tidak menyapaku, heh Not! Lu siapa yang harus disapa?" Sepetinya Harjunot terlihat tahu diri.
"Kira-kira umurnya berapa? Katanya baru lulus dari Rusia! Apa dia semuda itu?" tanya Harjunot, yang menghitung umur Arsy jika menengok dari Arsy lulus kuliah.
"Hah!" Harjunot mengacak rambut dengan frustasi, jika mengingat tentang Arsy.
"Arsy Latthif!" Stelah bicara seperti itu, Harjunot tertidur.
...***...
Disisi lain perempuan itu, sedang menatap langit malam.
"Ternyata Rasyu! Juga mengajar di sekolah Kaka, sebagai Guru olahraga." Arsy berbicara sambil meletakkan tangan didepan bibirnya.
"Besok kita akan bertemu, Rasyu!" Arsy berbicara sambil masuk ke kamarnya. Arsy membaringkan tubuhnya, dia memeluk guling. Arsy mulai memejamkan matanya. Baru juga terpejam, Arsy sudah membuka matanya kembali.
"Hah ... kenapa aku teringat saat tadi aku bertatap muka dengan rekan Papa?" Arsy sudah duduk sambil memeluk guling nya.
"Ayi! Jangan mikirin orang itu oke! Kalau dia suaminya orang Ayi dosa!"
Stelah bilang seperti itu, Arsy mulai membaringkan tubuhnya. Tapi matanya masih terbuka. Otaknya masih mengingat wajah yang pertama baru ia lihat.
"Itu orang sopan!" puji Arsy saat mengingat kelakuan Harjunot saat di meja makan.
"Heh! Dia udah punya pasangan! Tidur Ayi! Tidur!" ujar Arsy, sambil menyembunyikan wajahnya ke bantal guling.
Jarum jam menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Harjunot terbangun dari tidurnya, lelaki itu melangkah ke dalam kamar mandi. Hampir lima menit, dia kembali lagi. Dibentangkan lah sajadah berwarna hijau itu. Setelah itu, ia memperbaiki peci hitam itu. Takbir pertama telah bermulai. Empat rakaat, Harjunot lakukan. Salam dan dzikir ia jalankan hingga mengangkat kedua tangannya untuk meminta kepada Rabb.
__ADS_1
"Tuhan! Aku tidak pernah tahu apa arti mimpiku itu! Hanya Engkau yang Maha Mengetahui! Tunjukkan jalan kepada hamba-Mu yang paling hina ini! Ya Allah yang memiliki Arsy Yang Agung lagi Maha Pemilik apa yang ada di bumi ini! Umurku sudah tidak muda lagi, apa aku ditakdirkan hanya sendiri? Tapi Tuhan! Jika boleh ku meminta pada-Mu! Aku ingin sekali menikah di tahun ini. Ibuku selalu bertanya, terkadang aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tahu! Jika dia, sangat takut jika anaknya tidak nikah. Apa kata orang, mengenai keluarga kami. Dulu aku pernah patah hati karena dia (mantan) meninggalkan ku dengan pria lain. Tapi kali ini aku memohon dan meminta agar Engkau, mendatangkan seseorang yang bisa aku ajak untuk menyempurnakan ibadah ku!" Sebuah doa panjang yang Harjunot, minta kepada Allah.
Disisi lain perempuan itu terbangun dari tidurnya. Arsy berjalan kearah kamar mandi, setelah itu dia memakai mukenanya. Kemudian melakukan takbir, perempuan itu hanya melakukan dua rakaat tahajud.
"Ya Allah! Ya Tuhanku! Dalam sujud ku, aku meminta agar dicintai Allah dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam! Dengan cinta yang istimewa. Aku tidak peduli dengan orang lain, kalau pun mereka tidak suka padaku. Segala puji bagi-Mu! Tuhan seluruh alam! Aku tidak pernah meminta, Engkau, untuk merubah takdirku, takdir yang telah Engkau, tulis sebelum aku diciptakan. Ya Jabar! Aku meminta kepada-Mu! Untuk memperbaiki apa yang Engkau takdir kan padaku. Tuhan! Aku meminta pertemukan aku dengan orang yang tepat. Jika dia sekarang kurang baik, berikanlah hidayah padanya. Agar saat nanti kita bertemu, dia sudah lebih baik dari yang dulu. Jika dia belum mengenal-Mu! Maka izinkanlah dia untuk mengenal-Mu! Jika aku menikah itu karena Mu! Jika aku menikah cintaku pada-Mu, tetap yang pertama! Aku tak akan mencintai sesuatu apapun melebihi cintaku pada-Mu dan Rasulullah! Ya Allah! Dalam doaku, aku ingin sekali sosok lelaki yang mewarisi sifat Rasulullah! Aku tidak tahu, doaku ini benar atau salah. Tapi yang aku tahu, Engkau adalah Yang Maha Mengabulkan, apa yang mustahil menjadi mungkin." Arsy berdoa dalam tangisan, sesekali air mata terjatuh mengenai pipi putihnya.
...***...
Jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh, di rumah mewah nan megah itu sedang melakukan sarapan pagi bersama.
"Bun! Roti gandum buatan Ayi masih?" Papa bertanya sambil mengambil kangkung.
"Tentu saja! Emangnya kenapa? Papa! mau buat bekal?" Bunda bertanya, sambil meletakkan piring didepan Kafka.
"Makasih Bun!" Kafka mengambil sendok dan garpu.
"Sama-sama Nak!" Bunda tersenyum mengelus rambut Kafka.
"Tidak, tadi malam kan Harjunot beliin kita martabak! Jadi, Papa pikir, kenapa kita enggak ngasih roti gandum buatan Ayi! Aku lihat dia sangat suka, tapi dia malu untuk memakannya!"
"Maksudnya itu roti, buat teman Papa?" Kafka bersuara. Sedangkan Arsy baru keluar dari lift, dan berjalan kearah meja makan.
"Dasar, anak laknat selalu telat. Pasti telepon sama Kak Rasya lama!" celetuk Kafka nyinyir.
"Sok tua!" jawab Arsy, sambil meletakkan gelas susu yang sudah tandas.
"Bukanya si kampret prentil! Memang sudah tua Dek?" Gibril menyahut.
"Ah ...iya Ayi sampai lupa Bang! Kaka kan emang wajahnya-wajah orang tua!" Arsy terkekeh geli saat melihat wajah adiknya.
"Iya, kalau Kaka tua! Berarti kalian lansia!" ujarnya sambil memasukkan makanan ke mulut.
"Enak saja! Kalau bicara!" Gibril dan Arsy bicara barengan.
"Lansia! Lanjut atau selesai sia-sia!" Kafka tertawa kecil.
"Ya Allah! Bisa enggak Kafka diganti dengan yang lain?" Arsy bicara dengan kesal.
__ADS_1
"Nih ...Pa! Pesan yang Papa inginkan!" Cahaya bicara sambil keluar dari dapur.
"Kasih, ke Ayi!" ujar Langit, menggeser kotak itu kearah Cahaya.
Sedangkan Arsy yang mendengar ucapan Papa, dia mengerakkan kepalanya seolah bertanya kenapa aku.
Cahaya hanya menurut apa yang suaminya bilang. Dia meletakkan kotak itu, disampingnya Arsy.
"Apa ini? Bunda, buatin Ayi bekal? Karena Papa, yang menyuruh?" tanya Arsy yang mau membuka bekal itu.
"Dasar besar kepala! Siapa juga yang buatin bekal untuk Ayi! Orang itu buat teman Papa!" ujar Kafka mengejek.
"Terus ngapain dikasih aku?"
"Papa! Titip kasih roti itu untuk teman Papa, yang tadi malam kesini?" Langit bersuara.
"Kenapa Ayi? Kan dia teman Papa! Ya Papa, yang ngasih dong!" Arsy protes.
"Kalau satu kantor, Papa! Enggak minta bantuan Ayi! Dia kerjanya di samping sekolahan Kaka! Maka dari itu, Papa titip."
"Lah terus nanti Ayi, bilang apa?"
"Bilang ini dari Papa!" Langit mengajari anaknya bagaimana cara ngasih sesuatu ke seseorang.
"Dasar, Ayi! Sudah besar tapi enggak tahu bagaimana cara berbicara yang benar dan tepat!" Kafka mengejek.
"Kok Ayi? Emang dalam rangka apa, Papa bagi-bagi ginian?"
"Karena dia kesini bawakan martabak kesukaan Bunda dan Kaka! Jadi Papa, berinisiatif untuk membalasnya!"
"Lah ... yang makan martabaknya Bunda sama Kaka! Jadi yang kasih ya, Kaka lah!" ujarnya sambil menggeser kotak itu kearah adiknya.
"Enggak bisa gitu lah, kan Ayi yang disuruh! Kok dilempar ke Kaka!" ujar Kafka menggeser kotak itu ke Arsy.
"Bisa enggak, sekali enggak debat?" Langit menatap kedua anaknya yang menunduk takut.
"Anggap saja itu pengorbanan Ayi! Buat Bunda!" Bunda bersuara.
__ADS_1
Mau tidak mau Arsy harus melakukan itu, meskipun dengan berat hati.
...***...