
"Ehem ... Pak, kamar mandi dimana ya?" Harjunot berdiri dari duduknya.
"Kau lurus saja, belok kiri. Di sana kau akan mendapatkan kamar mandi!" Lelaki itu pun mengangguk karena sudah mendapatkan jawaban.
Harjunot meninggalkan ruang tamu. Lelaki itu berjalan dengan tergesa-gesa sambil menunduk, hingga membuat dirinya menabrak seorang.
Brakkk!!! Keranjang baju itu jatuh.
"Ma-maaf!" Harjunot segera berjongkok, tanpa mengetahui siapa yang telah ia tabrak.
Harjunot memunguti baju-baju yang berserakan di lantai. Lelaki itu ingin mengambil baju berwarna putih. Diwaktu yang bersamaan pula seseorang juga ingin mengambil baju itu. Tangan keduanya saling bersentuhan. Perlahan Harjunot mengangkat kepalanya untuk melihat pemilik tangan. Matanya terbelalak saat mengetahui, sosok perempuan muda.
"Ma-maaf Bu Guru!" Harjunot menarik tangannya cepat kemudian berdiri.
Arsy hanya mengangguk kecil dan menunduk. Sambil memungut baju-baju kotornya.
Jantung Harjunot kembali berdetak kencang, sampai-sampai membuat napasnya tersengal-sengal. Tidak bicara lagi, Harjunot memilih langsung masuk kamar mandi. Didalam kamar mandi, Harjunot mencoba mengatur napasnya.
"Oh ... kenapa ini terjadi Tuhan? Perasaan apa ini? Kenapa hatiku berdebar kencang?"
"Saat aku didekatnya kenapa jadi gerigi?"
"Kenapa baru terjadi sekarang? Kenapa disaat dulu aku selalu menepis perasaan ini, hanya semu yang ku dapat. Dan kenapa sekarang perasaan ini begitu nyata, disaat aku sudah memiliki istri? Kenapa?" Harjunot bertanya sambil memandang pantulan wajahnya didepan cermin. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar. Kemudian membasuh mukanya dengan air.
...***...
Pintu kamar mandi terbuk. Mata perempuan itu menelusuri tubuh yang berdiri tegak didepannya. Dari kaki sampai hal yang tidak harus ia lihat.
"Aaaaaa!" Harjunot spontan menarik bahu Arsy. Membekap mulut perempuan itu dari belakang.
"Emmm!" Arsy memukul telapak tangan Harjunot agar melepaskan bekapan itu.
"Stttt! Kenapa Anda berteriak?" Harjunot masih memeluk tubuh Arsy dari belakang.
__ADS_1
Sedangkan Arsy yang mendengar bisikan ditelinga nya, ada hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuh.
Arsy menyikut perut Harjunot, agar dia terlepas dari pelukan.
"Awwww!"
"Sial! Kenapa aku melihatnya lagi," ujar Arsy kesal sambil menutup matanya.
Harjunot terbelalak karena perkataan Arsy, kenapa anak atasannya itu bicara kasar.
"Sebenarnya apa yang Anda lihat? Dan kenapa Anda berteriak saat melihat saya?"
Arsy tidak menjawab tapi tangan kirinya menunjuk sesuatu, sedangkan telapak tangan kanan ia gunakan buat menutupi matanya. Harjunot mengikuti arahan yang Arsy isyaratkan. Matanya terbelalak saat melihat apa yang Arsy tujukan. Segera Harjunot membelakangi Arsy dan menarik resleting celananya. Wajahnya terlihat kesal dan menahan malu, karena kecerobohannya.
Harjunot memutarkan badannya kembali, dia ingin meminta maaf, tapi apa itu perlu. Harjunot memutuskan untuk diam menahan malu, ingin segera meninggalkan ruangan itu. Akan tetapi saat dia ingin berjalan langkahnya terhenti. Kala Arsy juga mengambil jalan. Saat ia kekanan Arsy juga. Saat ingin kekiri Arsy juga ingin kekiri. Tiga kali mereka selalu seperti itu, membuat Harjunot menghela nafas panjang. Sejujurnya Harjunot tidak mau berbicara lagi dengan Arsy setelah insiden memalukan itu. Tapi waktu menginginkan mereka untuk saling bicara kembali.
"Anda silahkan jalan dahulu!" ujar Harjunot mengalah.
Arsy hanya diam kemudian meninggalkan Harjunot. Setelah itu Harjunot berjalan dengan tergesa-gesa.
Kejadian itu tak luput dari penglihatan mata elang.
...***...
Diruang makan nampak ramai, semua keluarga sudah duduk dengan rapi.
"Selamat makan semua!" Kak Vi tersenyum sambil mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Terima kasih! Maaf merepotkan!" ujar Fitri merasa tidak enak hati.
"Ayolah Fit! Kami sudah mengaggap kalian seperti keluarga sendiri!" tutur Cahaya yang baru keluar dari dapur.
Didalam dapur perempuan itu, sedang duduk termenung. Menopang dagunya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Dek! Kenapa cuma diam, ayo kita makan malam bersama! Kasian yang lain nunggu!" Gibril menatap Arsy.
'Yang benar saja! Bagaimana aku bisa makan bersama dia, setelah insiden tadi! Terus jika aku canggung bagaimana?' batin Arsy.
"Sudah ayo Yi!" Gibril menarik tangan adiknya. Arsy hanya mengikuti dengan langkah malas.
Arsy memilih duduk disamping Papanya, dia hanya diam enggan menyapa. Sedangkan Harjunot duduk diseberang lumayan jauh dari Arsy. Keduanya memilih untuk membuang pandangan. Mata elang itu, mengamati kedua insan itu bergantian. Pemilik mata elang menyimpulkan ada sesuatu diantara kedua insan, yang saling membuang pandangan.
"Kau tahu Yi! Istrinya Harjunot juga dulunya seorang jurnalis dan sekarang memutuskan menjadi novelis loh!" ujar Papa Langit, yang membuat anaknya menatapnya.
"Wah ...hebat dong! Sudah berapa buku yang diterbitkan?" Arsy mencoba bicara tenang sambil menatap Fitri yang duduk disebelah Harjunot. Arsy segera menunduk kembali pura-pura menatap makanan. Bertatapan dengan Harjunot adalah hal yang harus ia hindari untuk kedepannya.
"Baru delapan buku!" jawab Fitri menatap Arsy.
"Banyak itu, dari pada tidak sama sekali!" ujar Arsy sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Kalau kamu, sudah berapa buku yang kamu terjemahkan?" Fitri nampak antusias bertanya kepada Arsy. Meskipun dia juga menaruh sedikit curiga dengan Arsy dan suaminya. Karena gerak-gerik suaminya, setiap ada Arsy pasti berbeda. Seolah ada yang harus ia pahami.
"Em ...baru sebelas!"
Sedangkan Harjunot hanya menunduk menikmati makanannya.
Setelah lima menit mereka saling melempar canda tawa. Arsy berdiri dari kursinya sambil membersihkan meja makannya dengan tisu. "Emmm ...maaf semua! Aku harus kembali ke kamar dahulu karena ada yang harus aku selesaikan!" ujarnya yang mendapatkan anggukan dari semua orang. Sebelum ke kamar Arsy memutuskan untuk mencuci piring dahulu. Hampir tiga menit Arsy keluar dari dapur dan melewati ruang makan. Langkahnya terhenti tatkala ada suara yang memanggilnya.
"Yi! Temui aku di balkon kamar pribadiku!" ujarnya datar.
Arsy membalikkan badannya untuk menatap pemilik suara.
"Baiklah!" Arsy menyetujui kemudian meninggalkan ruang makan.
"Aku permisi dulu! Silahkan dilanjut makannya!" ujar si mata elang sambil mengelap mulutnya. Kemudian meninggalkan ruang makan. Dan segera keatas untuk bicara penting dengan Arsy.
...***...
__ADS_1
Dududududududu...... Mata elang?