
"Saya nikahkan dan saya kawinkan ananda Harjunot Ali! Dengan putri kandung saya Arsy Latthif binti Muhammad Langit Arkana Abdullah. Dengan maskawin uang tunai sebesar 210 juta dan emas seberat 1 gram tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya. Arsy Lattif binti Muhammad Langit Arkana Abdullah. Tunai!" Harjunot menjawab dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi sah?" tanya pak penghulu.
Semua saksi bersuara dan mengangguk.
Arsy dipersilahkan untuk memasuki ruangan ijab qobul. Perempuan itu memakai kabaya warna putih. Dan duduk di samping Harjunot. Penghulu meminta Arsy untuk mencium tangan Harjunot. Perempuan itu pun mengikuti. Harjunot membalasnya dengan ciuman di keningnya. Keduanya menandatangani surat pernikahan mereka.
...***...
Acara selanjutnya adalah sungkeman. Arsy nampak menangis saat sungkeman dipangkuan Papa! Begitupun dengan Papa, yang tidak menyangka. Jika putrinya sekarang bukan hanya miliknya. Akan tetapi ada yang lebih berhak atas putrinya sekarang. Papa menangkup wajah putrinya dan menciumnya dengan penuh sayang.
"Sekarang sudah ada lelaki, yang lebih berhak daripada Papa, Ayi! Sekarang Papa, bukan satu-satunya yang ada di hatimu!"
Sontak saja Arsy langsung memeluk tubuh Papanya.
"Papa, jangan bilang gitu. Ayi tetap milik Papa! Dan tidak ada bekas Papa! Jadi Papa, adalah cinta pertama Ayi! Sedangkan Enjun, dia kekasih pertama Ayi!"
Bergantian sekarang Arsy sungkeman dengan Bunda.
"Ayi! Tidak ada yang bisa Bunda katakan! Kecuali satu, tetap berusaha untuk menjadi istri dan Ibu yang baik! Untuk suamimu dan anak-anak kelak!" Bunda menahan air matanya yang ingin jatuh.
"Doakan Bun! Semoga Ayi bisa ngejalanin kehidupan baru ini! Terima kasih, atas semua jasa Bunda. Yang tidak akan pernah terbalas!"
Langit membisikan sesuatu ditelinga Harjunot.
"Not! Sekarang Ayi, adalah istrimu. Jadi kamu berhak atas dirinya. Bimbinglah dia dan ajaklah kejalan yang benar! Tapi satu hal yang kamu ingat! Jika kamu menyakitinya berarti kamu juga menyakiti diriku"! Tegas Papa, yang mampu membuat Harjunot menunduk semakin dalam.
Harjunot teramat sangat mencintai dan menghormati atasannya itu. Dalam hidupnya tidak ada niatan untuk melukai perasaan atasannya.
"Saya tidak bisa berjanji Pak! Akan tetapi saya akan berusaha! Mohon doanya!" Langit pun memeluk Harjunot.
Acara sungkeman telah selesai. Sekarang saatnya bersalaman dengan para tamu.
"Wah ...Kak Arjunot CLBK sama Bu guru!" Kata Pandy yang baru bertemu Harjunot. Stelah beberapa bulan.
"Cinta lama bersemi kembali?" Harjunot berbisik ditelinga Pandy.
"Cinta lama berujung kawin!"
Harjunot membulatkan matanya saat mendengar penjelasan dari Pandy. Setelah itu Pandy turun dari singgasana pengantin.
Arsy memepetkan badannya kearah Harjunot. Dan berbicara pelan.
"Enjun! Punggung saya gatel garukin dong!"
Harjunot tersenyum kearah tamu undangan. Akan tetapi berbeda dengan tangannya, yang melakukan aktivitas dipunggung Arsy.
"Bawah!" Harjunot pun mengikuti instruksi dari Arsy.
Kini saatnya kedua pasangan itu melempar bunga kearah tamu undangan.
"Baiklah kita hitung satu, dua tiga. Lempar!" Seorang pembawa acara memberi aba-aba.
Harjunot dan Arsy pun melempar bunga itu.
Dan hap! Sosok pemuda mengenakan setelan tuxedo kotak-kotak. Sambil menggendong bayi perempuan yang lucu. Bisa menangkap buket bunga itu.
"Horeee! Aku akan jadi mantunya Kak Arjunot!" ujar Kafka jingkrak-jingkrak sedangkan baby Bell yang ada digendongan nya tertawa.
Harjunot yang mendengar teriakkan itu sontak saja langsung membalikkan badannya. Matanya membulat sempurna, saat melihat putrinya ada digendongan Kafka.
Seluruh keluarga dan tamu undangan terhibur dengan kelakuan Kafka.
Kafka pun berlari kearah dekorasi dengan membawa buket bunga. Serta Baby Bell yang ada digendong dengan snobby.
Arsy menahan senyumnya karena ekspresi Harjunot terlihat kesal.
"Kak Arjunot! Hehehe! Apa ini takdir Tuhan? Katanya kalau dapat bunga. Akan menikah! Mungkinkah itu akan terjadi dengan kami. Emmm ... maksudnya waktu itu kak Arjunot menangkap buket bunga saat acara nikahan beberapa bulan yang lalu. Dan buket bunga waktu itu Kak Arjunot, kasih ke Ayi! Dan sekarang, apa yang terjadi Kak? Kakak benar-benar nikah kan? Terus apa ini juga akan terjadi dengan baby Bell dan aku!" goda Kafka, membuat Harjunot mengambil putrinya dari gendongan Kafka.
"Tidak itu tidak benar! Pamali!" ketus Harjunot.
"Ckckck! Aku berpikir nanti malam. Akan menjaga si kembar. Agar Kak Arjunot bisa berduaan dengan Ayi! Tapi melihat Kakak yang terlalu posesif dengan baby Bell! Membuat aku harus ngebiyarin malam pertama kalian. Diganggu dengan tangisannya si kembar!" ujar Kafka turun dari singgasana pengantin.
Harjunot memikirkan ucapan Kafka, ah lelaki itu mengumpat kesal. Karena Kafka membuat otaknya traveling.
...***...
Acara pernikahan telah usai kedua pengantin itu pun. Memutuskan untuk membersihkan badannya. Jam menunjukkan pukul lima lebih, Harjunot baru keluar dari kamar mandi.
"Yang, kamu enggak mandi! Mau Maghrib ini!" Harjunot bicara sambil mengeringkan rambutnya.
"Ya-ya!" Arsy bangkit dari duduknya.
Waktu makan malam telah tiba, pasangan itu memutuskan untuk keluar dari kamar. Jangan ditanya soal keromantisan. Mereka berdua sudah bisa melakukannya tanpa digurui. Si istri yang bergelayut manja di lengan suami. Dan sang suami yang menghujani kecupan di kepalanya.
Mereka pun masuk kedalam lift, cocoklah buat ngelakuin sesuatu. Aman sudah pasti!
Keduanya pun keluar dari lift sambil bergandengan. Nampak bahagia sudah pasti. Ya kalau kata anak remaja sekarang adalah. Dunia serasa milik berdua. Mungkin itu yang keduanya rasakan.
"Widih pengantin baru mepet terus!" Goda Gibril saat melihat pasangan itu memasuki ruang makan.
Harjunot hanya mampu tersenyum tipis. Sedangkan Arsy langsung ke dapur untuk membantu Bunda.
"Ckckck sekarang, mah bisa nempel! Tapi nanti malam apa bisa nempel? Kalau si kembar tidur ditengah-tengah kalian. Istilah dikamar Ayi! Enggak ada ranjang bayi! Bukan begitu baby Kai?" tanya Kafka kepada baby Kai yang ada dipangkuan nya.
Nampaknya Kafka akan menjadi musuh bebuyutan bagi Harjunot. Ah ...tenang saja Not! Pemuda tengil itu akan segera dilempar ke Portugal. Buat nendang bola.
Harjunot memicingkan matanya. Benar-benar Kafka adalah adik ipar yang tak dirindukan.
"Ka, kenapa kamu suka menggoda Kakak iparmu?" tanya Papa yang menimang baby Bell. Sepertinya bayi perempuan itu ngantuk.
"Kenapa ya? Kak Arjunot tahu enggak, kenapa Kaka, suka goda Kak Arjunot?" tanya Kafka kepada Harjunot.
"Apa?" Harjunot mengerutkan keningnya.
"Menggoda Kak Arjunot lebih, memuaskan. Dari pada menggoda wanita." Sontak saja Papa dan Abang tertawa.
__ADS_1
Sedangkan Harjunot tersenyum kecut.
"Ets ... tapi jangan salah! Sebagai adik ipar yang baik. Aku akan meniru sikap Kak Arjunot! Tak lupa Kaka kombinasikan dengan sikap Papa! Bagaimana jadinya ya?" Kafka memikirkan bagaimana bila dia. Menjadi Papa dan Harjunot.
"Es batu dijual mahal!" celetuk Arsy yang baru keluar dari dapur.
Keempatnya menatap Arsy heran.
"Apa kalian perlu penjabaran?"
Semua mengangguk menyetujui.
"Es batu itu mewakili sifat Papa yang dingin! Itu kata Bunda, saat baru menikah dengan Papa! Bukan begitu Bunda?"
Bunda mengangguk pelan, senyuman dibibirnya terukir jelas.
"Sedangkan dia!" Arsy melirik kearah suaminya.
"Terlalu jual mahal!" Harjunot dan Papa tersenyum kaku. Karena mendapatkan rostingan dari Arsy.
"Hahahaha!" Kafka dan Gibril tertawa ngakak.
Arsy mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Sudah cukup Bib?" tanya Arsy memperlihatkan nasi dipiring. Harjunot mengangguk. Semua pada makan dengan tenang. Berbeda dengan Arsy dan Kafka. Yang makannya sedikit susah karena dipangkuannya ada bayi.
Arsy ingin memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Akan tetapi rambutnya menghalangi wajahnya. Harjunot yang duduk disampingnya pun dengan sigap. Membatu memegang rambut istrinya. Agar sang istri bisa makan.
Arsy tersenyum tipis karena perhatian yang suaminya berikan.
Sedangkan yang lain tidak mau berkomentar terlalu banyak. Fokus sama nasi dipiringnya.
Seusai makan malam semua orang berdiri dari duduknya.
"Anak-anak biar tidur dengan kami! Aku yakin kalian pasti lelah!" ujar Bunda yang pengertian.
...***...
Setelah pembicaraan itu selesai, Harjunot memutuskan untuk ke atas dahulu. Karena Arsy harus membantu Kak Vi membersihkan dapur.
Hampir sepuluh menit menunggu istrinya. Akhirnya sang istri masuk kamar dan menutupnya.
"Yang, tidur dah malam!"
Arsy menatap jam dinding baru jam delapan lebih.
"Masih jam delapan Bib! Aku bersihin badan dahulu!" Arsy masuk ke kamar mandi.
Hampir lima belas menit, tapi Arsy tidak keluar juga dan kamar mandi. Membuat Harjunot berpikir apa yang dilakukan istrinya.
Lelaki itu pun memutuskan untuk berjalan kearah kamar mandi.
Tok ...tok ... tok Harjunot mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang, kenapa lama banget? Kamu ngapain?" Akan tetapi tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi.
"Sayang! Your okay?" Harjunot menggedor pintu depan keras.
Saat ingin mendobrak, pintu kamar mandi terbuka. Harjunot membulatkan matanya saat melihat pakaian yang istrinya kenakan.
Air liurnya ditelan dengan susah payah. Arsy menunduk malu, semua itu ide gila dari Kak Vi. Yang menyuruhnya memakai baju transparan kurang bahan.
Harjunot memegang kedua bahu istrinya. Lelaki itu menggeser tubuh istrinya kearah tembok. Harjunot mengungkung tubuh Arsy. Perempuan itu mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah suaminya. Tatapan sayu Harjunot membuat Arsy merinding.
"Emmmmmm!" suara itu keluar dari mulut Arsy.
Setelah hampir beberapa menit melakukan ciuman dingin. Harjunot pun mengangkat tubuh istrinya. Dan membaringkan diranjang. Kedua orang itu bersembunyi di balik selimut. Posisi saling berhadap-hadapan.
Keduanya saling menatap dalam.
"Aku menyayangimu sampai pada titik. Dimana aku tak tahu bagaimana caranya untuk berhenti!" ujar Harjunot menatap istrinya dalam.
"Akh ....akh ...akh!" teriakan dari dalam selimut. Menggambarkan seseorang kesakitan
"Kenapa kamu mengigit telingaku?" Harjunot bertanya.
"Gemas saja, denganmu!" jawab Arsy lempeng.
Harjunot menarik kepala istrinya agar dekat dengan wajahnya.
"Emmmmmm!"
Arsy memukul pundak suaminya, karena suaminya menghujani kecupan.
"Hentikan! Katanya mau tidur! Ya sudah ayo tidur," ucap Arsy mengingatkan.
"Rubah aktivitas, saya ingin mengeluarkan keringat," Harjunot berbicara sedikit difilter. Agar para pembaca kepo.
"Enggak! Aku mau tidur!' Arsy membelakangi suaminya.
"Sayang!" Harjunot mengelus pundak istrinya yang membelakanginya.
"Hem! Aku ngantuk Bib! Aku juga lelah!"
"Ya sudah ayo tidur!" Harjunot memeluk istrinya dari belakang.
Jam menunjukkan pukul 00:00 Harjunot mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Yang!" Harjunot menggoyang bahu Arsy.
"Hem!" Arsy menyahut tapi matanya terpejam.
"First night! Yang! Dosa kamu nolak suami!"
"Aih ... kenapa kamu harus ngasih UMKM sih YANG!" sahut Arsy kesal.
"UMKM? Ini first night bukan UMKM!" Harjunot meletakkan kepalanya dikepala istrinya.
"Bosen tahu kalau, kamu ngasih UMKM saat pengen menyalurkan nafsumu itu!" gerutu Arsy kesal.
__ADS_1
"Maksudnya!"
"Ultimatum Meminta Ketika Menikah! Dosa kamu nolak suami!"
Harjunot terkekeh geli karena mengetahui kepanjangannya UMKM.
"Emang kamu mau? Kalau aku dosa karena nolak keinginan kamu Yang? Kamu mau aku dilaknat sama Malaikat? Karena nolak ajakan hubungan suami-istri? Kamu mau Hem?" Arsy mengelus wajah suaminya yang menciumnya.
"Enggaklah Yang! Masa saya sejahat itu!"
"Terus tadi apa? Kamu ngasih UMKM kan?"
"Ya sudah kalau begitu, kita kasih jadwal aja. Biar kamu enggak dosa dan sayanya juga enggak nahan!" Kata Harjunot yang sudah memikirkan hari apa saja. Yang cocok buat melakukan kencan suami-istri.
"Malam Jumat!"
"Berarti kamu harus nunggu, seminggu lagi Yang! Karena hari ini malam Sabtu!"
Harjunot melotot istrinya ternyata pintar ngeles.
"Malam Minggu! Sama malam Rabu! Seminggu tiga kali!" Harjunot bersyukur karena otaknya berkerja.
Wah-wah terima kasih otak encer.
"Sudah kayak minum obat saja tiga kali!" Arsy membalikkan ucapan Harjunot.
"Ya sudah biar enggak kayak minum obat. Bagaimana kalau saya tambahin jadi empat!"
"Enggak!" Arsy mengggeleng.
"Enggak ini cuma sekali saja kok! Malam pertama khusus malam ini saja! Seterusnya cuma tiga kali!"
"Malam terakhir enggak Yang?"
Harjunot yang mendengar pertanyaan istrinya. Dia mencubit hidung Arsy.
"Enggak lucu!"
"Lepasin!" Arsy memukul pergelangan tangan Harjunot.
"Siap-siap yang malam ini harus ongoing! Saya mau sholat hajat dulu biar enggak ada gangguan!" Kata Harjunot turun dari ranjang.
Arsy hanya bisa menghembuskan nafasnya.
Setelah sholat hajat, keduanya menyimpan sajadah.
"Berarti aku harus mandi malam-malam dong?" Arsy sangat ogah jika harus mandi malam.
"Ya nanti seusai itu, jika kamu tidak mandi. Ya alangkah baiknya berwudhu! Kamu bisa mandi saat qoriah subuh!" ujar Harjunot sambil melepaskan kancing baju kokonya.
"Ribet! Ribet! Ribet!" Arsy menggembungkan pipinya.
"Ya kamu kan sudah nikah Arsy Latthif! Tentu saja hal ini pasti akan terjadi!" Harjunot duduk di samping istrinya.
Arsy memainkan bibirnya karena jawaban Harjunot.
"Toh kamu juga sudah cukup umur kan?" tanya Harjunot pelan.
"Ya tetap saja takut!"
"Sini duduk di pangkuan saya!" Harjunot menepuk pahanya.
"Enggak mau!" Arsy menggeleng.
"Padahal saya mencoba romantis tapi kenapa kamu menolak?"
Arsy diam bukan tanpa alasan dia menolak. Dia takut suaminya keberatan karena menanggung beban tubuhnya.
"Enjun!"
"Hem!"
"Emang kamu enggak bisa nahan sampai besok?"
Harjunot dia tidak menjawab.
"Kamu mau janji sama saya enggak?" tanya Arsy menyodorkan kelingkingnya.
Harjunot pun menerimanya.
"Apa?"
"Kamu tidak akan meninggalkan saya demi perempuan lain kan!"
"Saya janji!"
"Terus saat kita bertengkar, kamu enggak akan main tangan?"
"Saya janji tidak akan mengampuni, diri sendiri. Jika melakukan itu pada istri saya!"
Arsy mengangguk puas, perempuan itu menghamburkan tubuhnya kearah suaminya.
"Harjunot Ali! Me love you!"
"Me too Baby!" Harjunot memeluk erat tubuh istrinya. Sensor nama produk.
"Ayi ... janji sama Enjun! Malam ini akan melakukan tugas Ayi! Sebagai seorang istri!" Pernyataan Arsy mampu membuat Harjunot girang, bukan main.
Terjadilah unboxing si Arsy. Dimalam itu juga.
"Makasih Arsy Latthif! Telah menjadikan saya yang pertama!"
...Sampai jumpa....
Akhirul Kalam. Karena Allah, author bisa nyelesain novel ini.
Semoga cerita ini nggak dosa. Dan semoga saya diampuni Allah! Amin...
...TAMAT...
__ADS_1