
Harjunot menarik napas panjang, sebelum menjawab permintaan Bapak.
"Beri Junot, waktu Pak!" Harjunot meninggalkan ruang rawat itu. Sedangkan Bapak, menatap punggung anaknya yang mulai tidak terlihat. Bapak menarik napas dan berjalan kearah istrinya.
Harjunot berlari kearah parkiran mobil, setelah sampai diparkiran. Lelaki itu duduk di bangku, untuk menenangkan dirinya. Pijatan di pelipis mampu meredakan nyeri. Matanya terpejam, napasnya mulai optimal. Tangannya merogoh saku bajunya. Matanya kembali terbuka, setelah itu menelpon seseorang.
"Pak! Saya ada masalah, apa kita bisa bertemu?" Harjunot membuang napas lega karena orang yang ia telpon setuju. Jam sepuluh malam, Harjunot mengendarai motornya menuju perumahan kawasan elit daerah Jaksel. Tak butuh waktu lama, lelaki itu sudah memasuki pekarangan rumah atasannya. Harjunot berjalan kearah pintu, pintu itu terbuka lebar. Seolah sudah siap menunggu tamu datang.
"Assalamu'alaikum!" Harjunot mengucap salam, di sana dia bisa melihat dua lelaki sedang bercengkrama dengan melempar candaan.
Kedua lelaki itu refleks berdiri saat mendengar salam dari suara yang familiar. "Wa'alaikumussalam!"
"Masuklah Not!" Lelaki paruh baya memakai kaus, menghampiri Harjunot dengan kedua tangan terbuka. Harjunot mengagukk dan memeluk paruh baya itu. Sedangkan paruh baya, yang dipeluk menggeleng kearah orang yang berdiri di samping sofa. Dan orang itu juga mengangkat kedua bahunya, karena ulah Harjunot.
"Sebegitu besarnya masalahmu Not?" Langit membalas pelukan itu, sambil menepuk punggung Harjunot.
Harjunot masih enggan melepaskan pelukan itu. Setelah ia rasa, puas memeluk dan mendapatkan energi untuk bercerita. Harjunot melepaskan pelukan itu. Langit berjalan kearah sofa dan diikuti oleh Harjunot dari belakang. Harjunot memeluk Black sebentar kemudian duduk. Ketiga orang itu, akan selalu ada disaat salah satu dari mereka sedang membutuhkan. Disaat Langit sedang punya masalah pekerjaan, dia akan meminta kedua orang itu sebagai pendengar ceritanya. Meskipun kadang mereka tidak punya solusi, tapi entah mengapa setelah bercerita beban hidupnya sedikit terangkat. Begitupun dengan Black, saat punya masalah dengan istrinya Archer dia juga meminta solusi untuk menemukan jalan keluar dari masalahnya itu. Langit selaku yang paling tertua dan sudah lama menikah, dia tidak keberatan memberikan patuah untuk Black. Apalagi Archer adalah adik kandungnya. Sedangkan Harjunot yang belum menikah, dia hanya diam mendengar. Dan mengambil pelajaran yang Langit terangkan. Dan itu akan berlaku saat dia sudah menikah.
"Sebenarnya apa masalahmu Not?" Langit bertanya kembali.
Harjunot membuang napas pelan sebelum bercerita.
"Tadi sore, Bapak kecelakaan?"
"Inalillahi wa innailaihi rojiun!" Black terkejut mendengarnya.
"Terus Bapaknya, baik-baik saja kan?" Langit bertanya menatap Harjunot yang menunduk.
__ADS_1
"Bapak baik-baik saja!"
"Syukurlah!" Langit membuang napas lega.
"Jika Bapakmu, baik-baik saja! Lantas apa yang membuatmu dalam masalah? Apa kau membutuhkan biaya besar untuk itu?" Black yang duduk diseberang Harjunot, ingin tahu. Sebenarnya apa yang membuat sahabatnya nelangsa.
"Sebenarnya, yang bikin masalah itu. Bapak menabrak Nenek tua, dan sekarang keadaannya sedang sekarat!"
"Apa kau membutuhkan kuasa hukum?" Langit langsung berpikir jika mereka mau mengusut tuntas kasus tabrakan itu.
"Bukan!"
"Lah terus apa?" Kedua orang itu bertanya serempak.
"Permintaannya yang bikin masalah besar!"
"Apa yang ia minta?" Black curiga, jika keinginan Nenek tua itu, masalah besar untuk Harjunot.
Kedua orang itu, sudah paham tentang masalah yang Harjunot miliki.
"Apa dia menyuruh Bapakmu menikahi cucunya?" Black langsung berspekulasi. Harjunot mulai menceritakan bagaimana dia melihat Ibunya menangis sambil menggenggam tangan Nenek tua itu. Dan Bapak yang menyuruhnya menggantikan posisinya.
Langit dibuat terkejut dengan cerita Harjunot. Tidak mudah menerima seseorang dengan banyak kekurangan. Dia tahu Harjunot lelaki baik, tapi sebaik-baiknya orang pasti memiliki kekurangan untuk memiliki rasa legowo menerima takdir.
"Saya ini mau cari istri, bukan jadi baby sitter! Saya juga pengen dilayani oleh sosok pendamping seperti kalian. Saya tahu tidak ada manusia, yang sempurna di dunia ini! Tapi saya juga belum sanggup, menerima seseorang yang belum pernah saya temui sebelumnya. Bagaimana sifatnya, saya juga tidak tahu tentang keluarganya. Terlebih lagi dengan rentetan kekurangan dia, saya ini hanya manusia yang terkadang tidak bisa menerima takdir yang Tuhan, beri. Saya belum bisa menerima takdir ini dengan lapang dada. Terus saya harus bagaimana? Di sisi lain, Ibu saya tidak sanggup dipoligami! Saya bingung!" Harjunot mengusap kepalanya kasar sambil menunduk. Saat itu matanya berkaca-kaca, dia tidak bisa menahan kesedihan yang ada dalam hatinya.
Sedangkan Langit, yang setia mendengar cerita Harjunot. Paruh baya itu mengusap wajahnya, kemudian termenung memikirkan permasalahan sahabatnya.
__ADS_1
...***...
Black yang mendengar cerita Harjunot, dia menatap plafon rumah seolah ingin mencari jalan keluar untuk sahabatnya itu.
"Not! Masalah ini yang memberi Tuhan! Jadi mintakan solusi pada-Nya. Karena tidak ada manusia, yang bisa mengeluarkanmu dari masalah ini." Langit mulai angkat bicara, sedangkan Harjunot mengangkat kepalanya. Benar, apa kata atasannya itu. Kenapa dia melupakan hal itu. Jawabnya simpel minta kepada Allah.
"Ini sudah jam setengah dua dini hari, sholat lah. Dan mintakkan pada-Nya, untuk memberikan jalan keluar untuk permaslhanmu saat ini! Setelah itu, istirahat sebentar dikamar tamu. Pikiranmu juga perlu istirahat sejenak. Mungkin saja Allah, akan memberikan petunjuk untukmu!" Langit menepuk pundak Harjunot untuk menguatkan.
"Benar Not! Sebaik-baiknya pemberi jalan keluar ada Allah azza wa jalla! Tuhan, itu tidak mungkin memberikan cobaan untuk hamba-Nya, tanpa alasan dan tanpa menyiapkan solusinya. Semua yang Dia, berikan pasti ada jalan keluarnya. Dalam surat Al-Insiyrah, dijelaskan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Dan itu bukan cuma sekali, tapi diulang sampai dua kali. Itu janji Allah! Dan Allah, tidak akan pernah melanggar janji-Nya. Barang siapa yang memegang teguh janji yang Tuhan berikan, maka Tuhan, tidak akan mengecewakannya!"
Harjunot termenung saat Black memberikan sedikit pengetahuan tentang Kekuasaan Tuhan.
"Coba istikharah Not! Dan jangan beranggapan jika kamu istikharah kamu mendapatkan jawaban dari mimpi. Imam An Nawawi rahimahullah. Menjelaskan setelah istikharah seseorang harus mengerjakan apa yang dirasa baik menurutnya." Langit memberikan jeda sejenak. "Kesimpulannya adalah setelah menunaikan sholat kamu disuruh memutuskan apa yang menurutmu baik. Misalnya dalam kasusmu ini Not, kamu memutuskan untuk oke! Aku akan melakukan ini! Dan Tuhan! Akan memantapkan hatimu dengan pilihanmu! Kalau enggak salah seperti itu, kalau salah tolong dimengerti. Aku hanya manusia biasa!"
"Bisa merasakan sakit dan bahagia!" Black mencoba menghibur Harjunot dengan menyanyikan lagu milik Judika.
"Ijinkan ku bicara. Agar kau juga dapat mengerti!" Langit malah meneruskan liriknya itu.
"Cinta karena cinta. Tak perlu kau tanyakan, tanpa alasan cinta. Datang dan bertahta..." Ketiganya sangat kompak, meskipun tidak diberi aba-aba. Entah mengapa suasana seperti malam itu, belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
"Hahaha!" Ketiganya tertawa karena kekonyolan itu.
"Untung saja, istri dan anakku tidur diatas. Jadi tidak mendengar suara kita yang kacau ini!" Langit bicara sambil menyenderkan kepalanya disofa.
"Baiklah, saya akan sholat!" ujar Harjunot seraya berdiri dari duduknya.
"Sudah tahu tempat sholatnya kan Not?" Langit bertanya.
__ADS_1
"Hapal, Pak?" Harjunot terkekeh, setelah itu meninggalkan kedua orang itu.
...***...