Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Kemarahan Bunda Dan Kebenaran


__ADS_3

"Baru pulang, apa Harjunot tidak mengantarmu?" tanya paruh baya yang tadi membaca koran.


"Aku bisa pulang sediri, emang dia siapa yang selalu Papa tannyakan?" jawabnya kesal sambil melewati Papa.


"Apa kalian bertengkar? Kenapa wajahmu kesal?"


Arsy menghentikan langkahnya, perempuan itu menatap kearah Papa.


"Bagaimana aku tidak marah, jika dia mengajak aku nikah!"


Seluruh keluarga menatap kearah Arsy.


"Dikira aku perempuan murahan apa! Yang langsung mau diajak nikah, dalam hidup Ayi tidak pernah berfikir untuk menikah!"


"Aku tidak mau memiliki perana khusus dalam keluarga. Aku tidak mau memiliki tanggung jawab besar dalam hidup ini. Aku hanya ingin memfokuskan kebahagian untuk diriku sendiri!"


Papa membuang napas berat saat mendengar putrinya bicara.


"Jadi kau menolaknya?" Bunda bertanya dengan nada terkejut.


"Tentu saja, tidak ada alasan untukku menerimanya!" jawabnya santai dengan mimik wajah lempeng.


"Apa yang kau katakan padanya, Papa berharap kau tidak bicara yang melampaui batas!" ujarnya tanpa ekspreksi.


"Aku hanya berbicara seperti apa yang aku rasakan saja!"


"Apa yang kau katakkan?" Papa bertanya penuh penekanan.


Arsy mulai meceritakan semuanya kepada keluarganya. Ekspreksi keluargana nampak berbeda. Papa yang telihat datar tanpa ekspreksi. Gigi Bunda yang mulai bergemerutuk karena menahan marah. Rahang Abang yang nampak mengeras, kedua tangannya mengepal karena kesal. Kak Vi yang hanya menghembuskan nafas kasar karena mendengar cerita adik iparnya. Si bungsu hanya menepuk dahi berulang-ulang.


"HENTIKAN!" teriak Bunda membuat Arsy mengerucutkan bibirnya.


"Apa kami tidak pernah mengajarkan sopan santun padamu? Kau menhinanya Ayi, kau sadar tidak dengan apa yang kau lakukan?" Bunda menhampiri putrinya dan ingin menamparnya. Arsy menudukkan wajahnya karena takut. Deng cepat Abang mecekal tangan sang Bunda.


"Bun, jangan nanti Bunda, meyesal!" ujarnya seraya merangkul wanita paruh baya itu. Papa yang melihat kejadian itu hanya diam, tanpa menunjukkan ekspreksi marah atau sedih.


Bunda menagis dipelukan Abang, mengingat kelakuan putrinya yang buruk.


"Aku tidak mau tahu pokoknya besok kamu harus minta maaf padanya! Jika tidak jangan pernah bicara denganku! Dan jangan panggil aku dengan panggilan BUNDA!" ujarnya menatap putrinya yang hanya menunduk.


"Dan apa kau bilang tadi? Dalam hidupmu, tidak ingin memiliki hubungan. Dan kamu juga tidak mau terikat dengan sesuatu hubungan?" Bunda bertanya dengan suara tegas.


"Baiklah! Kalau begitu aku sebagai Bundamu mulai sekarang membebaskan dirimu sebagai seorang anak! Jadi sekarang kita tidak ada hubungan apa pun! Kau bahagia?" Bunda mencekram dan menggoyangkan bahu Arsy. Arsy terdiam menunduk, perempuan itu menahan air matanya yang sudah mengenang dipelupuk matanya. Sedangkan yang lain tidak percaya, jika Bunda begitu marah karena kesalahan yang Arsy buat.


"Kau terlalu sombong, dalam hidup ini kita diciptakan untuk saling melengkapi, saling mengisi. Akan tetapi prinsip hidupmu tidak seperti manusia! Sepertinya kau sudah lupa dengan siapa dirimu yang sesungguhnya!"


"Kamu bukan Tuhan, yang tidak memerlukan bantuan! Kamu itu manusîa ARSY! Apa kau juga berinisiatif untuk memutuskan hubungan dengan Tuhan? Dzat yang maha Kekal?"

__ADS_1


"Bukannya kamu enggak mau memiliki hubungan dengan sesuatu apapun?" sindir Bunda dengan nada sinis.


"Kau sombong Arsy kau sombong!"


Perempuan muda itu bertekuk lutut dihadapan Bundanya. Air matanya mulai menetes.


"BU-bukan begitu Bun-da Ayi tidak bermaksud bi-cara seperti itu! Ba-iklah A-yi aa-aka minta ma-af padanya!"


Arsy mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Bunda.


"Asalkan Bu-nda menarik ucapan Bunda! Ayi tetap anak Bunda kan? Huaaaa!" Arsy meletakkan wajahnya di lutut Bundanya. Bunda yang melihat hal itu sebenarnya tidak tega. Akan tetapi wanita paruh baya itu, ingin putrinya meyetujui permintaan selanjutnya.


"Kenapa? Bukannya kamu enggak mau memiliki hubungan?" tanyanya.


"Ma-maksudnya Ayi bukan gitu hiks ...maksud Ayi, semakin banyak Ayi behubungan dengan seseorang! Kemungkinan besar Ayi akan merasakan kehilangan jika waktunya tiba!"


"Se-karang Ayi! Ada Papa, Bunda, Abang Kak Vi dan Kaka! Ta-pi kalian bukan milikku! Kalian milik Tuhan, nanti kalau Tuhan meminta kalian. Betapa sakit yang harus aku rasakan. Kehilangan sosok yang selalu ada itu meyakitkan. Bagaimana aku bisa hidup tanpa kalian. Itu sebabnya Ayi, tidak mau menambah seseorang dalam hidup ini!"


Semua orang tertegun karena perkataannya. Ternyata perempuan muda itu, telah berpikir jauh mengenai masa depan, yang pasti terjadi. Yaitu sebuah kehilangan dan perpisahan adalah hal yang tak terbantahkan. Setakut itu kah seorang Arsy dengan sebuah perpisahan. Ingin rasanya Bunda memeluk putrinya, akan tetapi keinginannya untuk menikahkan Arsy dengan Harjunot mengalahkan semuanya. Didalam pikirannya Harjunot adalah sosok lelaki yang tepat untuk putrinya.


"Akan tetapi disaat Tuhan, mengambil sesuatu darimu. Tuhan telah meyiapkan gantinya. Tujuannya agar seorang hamba tida merasa sendiri!"


"Jangan memahami sesuatu hanya dengan satu sudut pandang saja. Akan tetapi kita juga harus mau. Melihat sistuasi yang terjadi dengan sudut pandang yang berbeda! Setelah itu barulah kesimpulan ditemukan!" Bunda bersuara lirih.


"Bunda mau kan maafin Ayi?" Arsy menengadah menatap wajah Bundanya.


Arsy menghembuskan napas kasar.


"Baiklah, aku akan minta maaf padanya! Asal Bunda mau memaafkan aku!"


"Akan tetapi Bunda tidak bisa, meyatukan hubungan antara kita!"


Arsy terkejut karena ucapan Bunda, dia berpikir jika sudah minta maaf dengan Haejunot permasalahannya selesai


"Ma-maksud Bunda apa? Ayi kan sudah berniat minta maaf sama Harjunot!"


"Kalau kamu dimaafkan aku maafkan! Pun dengan hubungan kita, kalau dia mau memiliki hubungan denganmu. Maka hubungan kita juga akan terjalin lagi!"


Duarrr! Jawabab Bunda membuat Arsy kesal.


"Ma-maksudnya apa Bunda?"


"Menikahlah dengannya!"


"Maaf Bunda, aku tidak bisa!" Arsy menggeleng menolak.


"Terserah keputusan ada ditangan mu!"

__ADS_1


"Huuuuuuuaaaaaaaa Papa, Ayi harus gimana?" Arsy berlari kearah Papa yang duduk di sofa. Perempuan itu duduk di samping sang Papa dan memeluk Papanya.


"Ayi enggak mau nikah Papa! Ayi takut huaaaaa!" Papa mengelus kepala putrinya.


"Tapi kalau enggak, nanti hubunganku dengan Bunda gimana huaaaaaa! Aku harus apa Papa!"


"Kenapa takut nikah?"


"Tidak bisa dijelaskan Papa!" Arsy mengggeleng.


"Terserah kamu! Aku menunggu keputusanmu malam ini juga!" Bunda Cshaya bersuara.


"Huuuuuuaaaaa Bunda tega nikahin putrinya sama dia yang pernah nikah!" Arsy semakin memeluk erat tubuh Papanya.


"Tiga jam! Tentukan pilihanmu!"


"Bunda, ini bukan acara belanja yang dikasih waktu. Ini soal masa depah haaaaaa!" Arsy meraung-raung.


"Dua jam!"


"Ahhhhhh! Bunda curang!"


"Semakin membantah, waktu berkurang!"


"Arsy juga punya persayratan!" Arsy tidak mau mensia-siakan kesempatan.


"Katakan!"


"Apa Ayi pernah kuliah di Rusia! Sebenarnya apa yang terjadi padaku sebelum aku dirawat di Rotterdam? Apa yang sebenarnya terjadi?" Pertanyan Arsy membuat semua orang membisu.


Hampir dua menit hening, tidak ada yang mau bersuara. Membuat Arsy membuang napas pelan.


"Jika tidak ada yang memberikan keadilan pada Ayi! Maka aku yang akan memberikan hal itu!" ujar Kafka yang membuat semua orang menatapnya.


"Sampai kapan dia akan menjadi orang lain? Apa kalian tidak berpikir, bagaimana hancurnya dia saat mengingat semua? Dia yang dulu seperti itu sekarang menjadi seperti ini!"


"Jangan cuma mengadalkan obat dari Dokter. Seharusnya kita sebagai keluarganya harus mecari cara artenatif untuk kesembuhannya! Entah itu dengan cara mengajaknya ke tempat-tempat yang pernah disinggahi!"


"Atau momen-momen yang mampu membuat ontaknya mengingat sesuatu!"


"Ayi! Jika ada hal yang perlu kau tanyakan! Tanyakanlah ....tapi ada baiknya, jika kamu tidak terlalu memaksakan dirimu untuk mengingat sesuatu yang tidak kau ingat. Aku tidak mau mengabil resiko terlalu banyak!"


"Apa maksudnya, aku tidak paham!" Arsy mengeriyitkan dahi.


"Ada beberapa ingatanmu yang hilang! Kau jangan khawatir, semua akan kembali!" Kafka tersenyum lembut.


"Apa? Ternyata aku kehilangan ingatanku?"

__ADS_1


Semua mengangguk pelan.


__ADS_2