Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Kecemasan Rasya


__ADS_3

Pemuda dua puluh delapan tahun itu, wajahnya nampak cemas. Hatinya begitu terbelenggu oleh rasa kecewa. Tanpa pikir panjang, ia menuliskan sebuah surat untuk teman kecilnya. Terlalu mudah mengambil keputusan, membuat ia kecewa. Sungguh! Kenapa penyesalan itu datang diakhir. Pikir Rasya pagi itu, tangannya mengacak rambutnya dengan kasar. Tergambar jelas, jika Rasya sangat kecewa kepada dirinya sendiri.


 


“Akh!” Teriakan frustasi menggelegar memenuhi kamarnya.


 


“Bodoh!”Cacian yang keluar dari mulutnya untuk dirinya sendiri. Hal seperti itu, nampaknya tidak hanya Rasya saja. Kebanyakan orang yang pernah hidup dimuka bumi pasti pernah marah kepada dirinya sendiri. Rasya keluar dari kamarnya, pagi itu dia harus mengajar.


 


“Berangkat dahulu, ya Ma!” Mencium tangan Mamanya dengan lembut.


 


“Sya! Boleh Mama bertanya?”


 


“Tanya soal apa ya, Ma?”


“Kamu suka dengan anaknya Bu Cahaya?”


“Ah …Mama ini, tanya apa sih!” Kilahnya di depan sang Mama.


“Sya! Bagaimana pun kamu itu putraku, aku membesarkan mu sendiri. Mama tahu, jika kamu mencintai Arsy!” Helaian napas panjang dari Mama Irine, sebelum melanjutkan ucapannya kembali. “Jikalau memang, kau benar-benar mencintainya. Cepatlah utarakan! Jangan sampai kau menyesal!” Rasya terdiam kelu, mulutnya tak bisa berkata apa-apa. Rasa takut kehilangan amat besar. Dia tak mau, jika cinta pertamanya dimiliki orang lain.


“Sya! Dia adalah perempuan baik-baik, akan ada banyak lelaki yang ingin mendapatkannya. Sekarang, terserah kamu. Kamu mau diam. Tidak mengutarakan, dan berakhir penyesalan. Atau kau, akan mengutarakan dan tahu jawabannya. Meskipun jawabannya akan mengecewakanmu nantinya.” Mama Irine seolah tahu, apa yang putranya khawatirkan.


Terbayang dibenak Rasya dua lelaki, yang dekat dengan Arsy. Rasya termenung mengingat kejadian saat di kantor. Kala itu, Rasya melihat kearah Abidco yang mencuri pandang kepada Arsy. Setelah Arsy memberikan pendapatnya tentang pembahasan sore itu tepatnya di kantor. Otaknya kini berputar mengingat kejadian saat di halte, sosok lelaki yang memiliki tubuh berotot. Wajahnya tidak bisa dibilang jelek, kulitnya yang eksotis membuat kaum Hawa daerah Barat lebih tergiur daripada. Pria berkulit putih seputih kain kafan. Rasya mengingat jelas bagaimana Arsy menolaknya, dan ia lebih memilih menemani nan setia bersama dengan teman Papanya. Dalam guyuran air hujan. Rasanya tenggorokan Rasya, tak mampu menelan ludahnya. Sangat kelu, itulah yang Rasya rasakan.


 


 


... ...

__ADS_1


...***...


 


 


Disisi lain, lelaki itu sudah ada ditempat kerjaannya, panas ia rasakan. Ah- hal itu tidak seberapa. Panasnya dunia, tidak sepanas nanti diakhirat. Harjunot melepas sepatunya menggantinya dengan sepatu boots. Berhubung tanah becek karena hujan sering turun diakhir tahun BMKG memperkirakan hujan deras akan berakhir sampai awal tahun. Akan tetapi itu hanya perkiraan saja. Takdir Allah tak ada yang tahu. Setelah itu, ia memakai wearpack dan dilajutkan memasang helm foreman.


“Ehm …Kak Arjunot! Bagaimana kencannya dengan Bu Guru, yang ngajar disitu?” Pandy mengisyaratkan lidahnya kearah gedung favorit itu.


Harjunot ternganga karena ocehan si Pandy, disiang bolong.


Pandy terkekeh saat melihat ekspresi Harjunot. Belum juga, Harjunot membalas ucapan anak buahnya. Suara familiar itu memanggil namanya.


“Kak Harjunot!”


Lelaki tiga puluh tiga tahun itu, menatap pemuda yang berjalan kearahnya.


“Ka! Kenapa kesini?” Tanyanya terdengar akrab.


“Ehem …saya disuruh memberikan ini kepada Anda!” ujarnya terkesan datar. Berbeda saat berada di rumah, pikir Harjunot menilai Kafka.


“Tidak!”


“Terus dari Bundanya?” Harjunot menatap bingung karena jawaban Kafka.


“Tidak juga!”


“Lah terus, dari siapa?” Sedikit memajukan wajahnya karena penasaran.


"Ayi!" Hati Harjunot berdesir karena jawaban Kafka.Tak bisa dipungkiri bahwa hatinya senang. Namun Harjunot segera mengelak dari kenyataan, jika ia sudah memiliki perasaan. Dengan perempuan yang selalu datang didalam mimpinya itu.


"Ehem—" Harjunot mencoba menguasai dirinya agar tidak terlalu GR.


"Kenapa kamu yang ngantar?" Harjunot menelisik ingin mencari tahu.


"Ayi! Dia sakit karena kehujanan mungkin. Sebenarnya tadi dia ingin berangkat mengajar. Tapi seusai memasak. Badannya lemas dan muntah!" Jelas Kafka menceritakan tentang Kakak perempuannya.

__ADS_1


Harjunot ingin membuka mulutnya, tapi Kafka segera berlari karena bel masuk telah berbunyi. Lelaki itu merasa bersalah, karena dia yang menawarkan tebengan kepada Arsy. Perempuan itu jadi demam, penyesalan nampak jelas di wajahnya.


"Ehem, dari siapa Kak?" Pandy yang tadi diam kembali menggoda atasannya.


"Ck! Tidak dari siapa-siapa!" jawab Harjunot menatap kearah anak buahnya yang semangat berkerja.


"Ah—aku tahu pasti dari Bu Guru itu kan?" Tebakan Pandy sangat tepat sasaran tidak melenceng sama sekali pikir Harjunot.


"Sok tahu!"


"Ya tahulah! Orang pemuda yang tadi kesini wajahnya mirip sama Bu Guru, yang cari Kak Arjunot kemarin." Pandy menaikkan kedua alisnya, menggoda atasannya itu.


"Kerja, kita dibayar untuk bekerja bukan ghibah. Karena ghibah sudah ada ahlinya, kita ini enggak punya skill buat hal seperti itu!" Matanya menatap kearah gedung pondasi, dia berharap jika anak buahnya. Bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari perkiraan yang telah disepakati.


"Ah ...iya wanita kalau disuruh ghibah tidak perlu diragukan pasti kaum Adam kalah!" Pandy menimpali ucapan Harjunot.


Harjunot meninggalkan Pandy, lelaki itu lebih memilih duduk di kursi dibawah pohon mangga. Perlahan tangannya membuka kotak makanan itu. Ternyata salad kentang. Harjunot mengerutkan dahinya. Saat melihat secarik kertas yang tertempel di wadah makanan. Harjunot membaca tulisan yang diberi gambar keep smile itu.


"Semoga Anda hari ini tidak berpuasa! Karena saya tahu ini hari selasa. Jikapun Anda puasa Daud, saya yakin ini hari libur. Saya membuatkan ini sebagai bentuk terima kasih. Karena sudah dibelikan baju! Salam Arsy Latthif!" Harjunot yang membaca tulisan itu, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang timbul dalam hatinya. Pipinya merona layaknya seorang wanita yang memakai blush-on.


Mengenai kenapa Arsy tahu jika Harjunot tidak puasa hari itu. Pasalnya puasa Daud adalah puasa yang dilakukan secara selang-seling yakni sehari berpuasa dan sehari berbuka. Sesuai dengan namanya, puasa ini diajarkan oleh Nabi Daud AS. Rasulullah SAW juga pernah menyebut bahwa puasa Daud yang diajarkan oleh Nabi Daud merupakan salah satu puasa yang utama.


"Aku belum mengucapkan terima kasih padanya." Harjunot berpikir bagaimana caranya mengucapkan terima kasih kepada Arsy.


Setan berbisik ditelinga kiri Harjunot, masuk ke otak. Jadilah terbesit ide laknat, idenya adalah mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Astagfirullah! Setan, tidak tahu diri bikin otak mikir sampai segitunya!" Harjunot mencecar setan yang bikin ide konyol itu.


"Ta—tapi apa aku harus melakukan ide itu. Ya Allah, berikan jalan keluar untuk Hamba Mu!" Harjunot tidak mau gegabah mengikuti ide dari setan biadap itu.


 


 


... ***...


Kira-kira idenya apa ya?

__ADS_1


 


__ADS_2