Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Takdir Tuhan


__ADS_3

Harjunot menatap ruang rawat inap dengan ekspresi datar. Jantungnya berdetak tak karuan saat menatap seorang perempuan menangis memegang tangan pasien rumah sakit. Didalam ruangan itu Harjunot bisa melihat banyak orang yang mengerumuni pasien. 


"Huft!" Harjunot membuang napas pelan, sebelum masuk kedalam ruangan itu.


Kakinya kaku seolah tak sanggup melangkah karena kabar yang satu jam ia dengar.


"Mas Arjunot!" Tantiyana memanggil saat melihat Kakak lelakinya masuk kedalam ruangan.


Dengan langkah berat, lelaki itu berjalan mendekati orang yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Harjunot belum tahu betul siapa yang sedang dirawat. Tapi satu jam yang lalu Bu Dewi, memberikan kabar jika Bapak mengalami kecelakaan. Harjunot sangat terpukul dengan kabar itu. Pikirannya berkecamuk saat melihat Bu Dewi, menangis sambil mencium tangan orang yang berbaring di ranjang rumah sakit. 


Klek! Pintu ruangan itu terbuka kembali. Harjunot membalikkan badannya untuk melihat siapa yang datang. Matanya terbelalak saat melihat paruh baya, menutup pintu. Berjalan mendekatinya dan tersenyum.


Harjunot semakin bingung. Jika Bapaknya, baik-baik saja. Lantas siapa yang berbaring di ranjang itu. Apa itu arwah Bapak. Nampaknya Harjunot berpikir terlalu jauh. Tepukan dipundaknya membuat dia tersadar dari apa yang ada dipikirannya. "Astagfirullah hal azim!" Harjunot mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.


"Not! Apa yang kau pikirkan?" Bapak bertanya tersenyum.


"Bapak! Tidak apa-apa?" Harjunot memutarkan tubuh Bapaknya, seolah mengecek apa ada yang lecet.


"Tenanglah Not! Bapak tidak apa-apa! Tapi..." Bapak tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa Pak?" 


"Orang yang Bapak tabrak, dia sedang sekarat!" Bapak menunduk dalam. Harjunot melepaskan tangannya yang ada dipundak Bapak.


"Ma-maksudnya?" 


"Yang berbaring di ranjang itu adalah korban yang Bapak tabrak!" Harjunot langsung membalikkan badannya menatap ranjang rumah sakit itu.


Menatap kenapa Ibunya menangis tersedu-sedu. "Bapak, apa ada masalah lain?" Harjunot kembali menatap Bapaknya.


"Nenek itu, ingin Bapak bertanggung jawab. Dengan cara..." Bapak tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Karena permintaan Nenek yang ia tabrak sangatlah berat.


"Katakan Pak!" Harjunot tidak sabar mendengar ucapan Bapak. Dan kenapa Bapak bersedih.


"Nenek itu ingin melihat cucunya menikah sebelum ia meninggal. Dia bilang jika cucunya itu sedikit cacat! Sudah beberapa tahun, cucunya bisu, buta dan tuli! Dia ingin Bapak, menikah dengan cucunya!" Harjunot tersentak karena jawaban Bapak. Tubuhnya mundur kebelakang sangking shocknya.

__ADS_1


"Not! Kau tahu Bapak tidak bisa melakukan semua ini. Bapak tidak bisa menyakiti Ibumu. Lihatlah dia menangis karena keinginan Nenek itu!" Bapak menatap istrinya sambil menagis. Harjunot menatap Ibunya kasian, hatinya sangat sedih.


Bu Dewi mencoba untuk meminta keringanan agar Nenek yang ditabrak suaminya. Membuat permintaan yang lain, asal jangan menikahkan cucu Nenek itu dengan suaminya.


"Nek! Jika Nenek takut, cucu Nenek sendirian. Setelah Nenek pergi, cucu Nenek bisa tinggal bersama kami!" Bu Dewi berbicara dengan air mata yang meleleh.


"A-ku ing-in Fi-tri me-ni-kah!" Nenek itu mengutarakan keinginannya.


"Tapi, Bapak! Tidak bisa Nek!" Tantiyana juga menagis. Gadis itu berpikir jika Bapak nikah lagi, keluarganya akan hancur.


"Po-kok-nya a-ku ha-nya ing-in me-lihat. Fi-tri me-ni-kah! Se-b-elum Allah me-mang-gi-lku!" Nenek itu tetap bersikukuh.


"Lihatlah Not!" Bapak berbicara dengan tatapan kosong kearah ranjang rumah sakit.


"Not! Apa kau mau membantuku?" Bapak menggenggam tangan Harjunot.


"Tentu!"


"Not! Kamu enggak mau Ibu sedih kan?" Harjunot mengangguk sedikit.


...***...


Kenanga menatap bagaimana Arsy mengurus adiknya. Gadis remaja tanggung itu sadari tadi berdiri didepan pintu ruang inap adiknya.


"Ken! Kenapa diam? Mbah Uty, kira kamu sudah masuk dari tadi!" Paruh baya itu merengkuh pundak Kenanga.


"Aku nunggu Mbah Uty, sama Tante Sandra! Dimana Tante?" Kenanga memandang wajah Mbah Utynya.


"Tante sedang memarkirkan mobilnya! Sebaiknya kita masuk dahulu!" Mbah Uty tersenyum sambil membuka pintu kamar VVIP itu.


Kedua orang yang ada di dalam ruangan itu, mengalihkan pandangannya saat mendengar pintu terbuka. Arsy yang tadi duduk di samping ranjang Puput, perempuan itu berdiri.


Sedangkan Mbah Uty nampak terkejut saat melihat perempuan muda bersama anaknya.


"Ibu! Kenanga!" Abidco tersenyum kearah kedua perempuan itu.

__ADS_1


"Kemari lah, Ayah merindukan mu!" Abidco melambaikan tangannya kearah Kenanga. Gadis tanggung Itu, ragu untuk mendekat ke Ayahnya. Kenanga menatap Arsy, kemudian Puput bergantian. Entah apa yang ada dalam benak gadis tanggung itu. Sedangkan Arsy canggung karena tatapan Kenanga. Abidco tahu apa yang anaknya pikir. 


"Ena!" Abidco memanggil untuk kedua kalinya sambil melambaikan tangannya.


Dengan langkah pelan, gadis itu berjalan kearah Ayahnya. Setelah sampai didekat Ayahnya. Abidco segera memeluk anaknya itu. Kekiri-kekanan, sambil mengelus rambut hitam pekat itu. "Kakak sudah belajar?" Abidco bertanya sambil mencium pucuk rambut sang anak.


Kenanga hanya mengangguk tidak menjawab. Sedangkan Arsy tersenyum saat melihat Ayah dan anak itu berpelukan. Dia teringat dengan Papanya. Apalagi Papa, tidak pernah marah dengannya. Kalau marah hanya mendiamkannya saja. Agar dirinya mencari kesalahan apa yang ia buat. Hingga membuat Papa marah.


"Malam Bu!" sapa Arsy kepada Mbah Uty.


"Malam, siapa namanya kalau boleh tahu?" Mbah Uty mengajak Arsy berjabat tangan.


"Arsy!" Arsy tersenyum sambil menerima acara jabat tangan.


"Wah namanya bagus Masya Allah!" pujiannya.


"Terima kasih pujiannya! Kalau ibu namanya siapa?"


"Rosidah! Panggil saja Mbah Uthy!"


"Arti namanya tak kalah bagus. Orang yang setia, welas asih daan penyayang. Cocok sama kepribadiannya!" Arsy tersenyum tipis.


"Ya diaminkan saja, kalau begitu!"


Keduanya tersenyum lebar, namun dering ponsel Arsy. Membuatnya mengalihkan pandangannya kearah layar ponsel.


"Maaf, saya harus pamit undur diri! Papa, saya sudah menjemput!"


"Ah... sebenarnya Mbah Uthy! Masih ingin bicara dengan kamu!"


"Sama saya juga, mungkin lain waktu bisa bertemu!"


Kenanga hanya melihat kedua orang itu aneh.


"Mari! Assalamu'alaikum!" Arsy mencium tangan Mbah Uthy. Sedangkan Abidco mengangguk menyetujui.

__ADS_1


...***...


__ADS_2