Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Kisah Cinta Sendiri


__ADS_3

Lima Minggu sudah berlalu, pagi itu Arsy sudah bersiap untuk ke sekolahan.


"Yi jangan lupa oleh-olehnya!" Kafka berseru riang.


"Mana uangmu, nanti aku belikan oleh-oleh!" Arsy membuka telapak tangannya. Seolah sudah siap menerima uang dari adiknya


"Ya perhitungan!" Gibril tertawa renyah.


Setelah sudah siap semua Arsy berpamitan kepada orang tuanya.


"Ayi, pamit ya Bun! Doakan semoga perjalanan kami lancar!" Arsy memeluk Bundanya.


"Tentunya, ingat jaga dirimu juga. Jangan lalai dengan tugasmu sebagai seorang Guru yang mengawal anak didikmu!" Bunda mencium kening putrinya.


"Insyaallah Bun!"


"Pa!" Arsy memeluk Papanya, dekapan hangat dari Papa membuatnya enggan melepaskan pelukannya.


"Wah ...Ayi! Papa sangat iri dengan mu!" Papa masih saja memeluk putrinya sambil mengusap rambut sang putri.


"Iri kenapa Pa?" Arsy mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Papanya.


"Sejak dulu Papa, ingin ke gunung Bromo. Tapi sampai sekarang tak kesampaian!" tukas Papa.


"Itu sih namanya traveling yang tak tergapai Pa!" Kafka bersuara sambil meletakkan ransel Kakaknya.


"Yi, sebentar lagi jam enam. Ayo Abang antar, mungkin saja Rasya sudah menunggu!"


...***...


Mobil yang dikendarai oleh Gibril sudah berhenti didepan gedung berlantai lima.


Ketiga penumpangnya keluar dan mengambil ransel yang ada di bagasi.


"Sya, lu cowok kenal dengan keluarga kami. Gua titip Adek gua ya! Meskipun dia sudah besar tapi kadang ya lu tahulah!" Gibril menepuk pundak Rasya lembut.


"Emang Ayi, barang kenapa ada acara penitipan segala?" Nampaknya Arsy tak terima.


Rasya dan Gibril saling menatap kemudian tersenyum bersama. Seraya berkata. "Made in Singapure!" Keduanya tertawa renyah.


"Sudah-sudah, Abang cepatlah pulang! Disini tidak berguna jika hanya mentertawakan ku!" Arsy berbicara sambil mencium pipi Abang.


"Hahaha, oke!" Gibril masuk ke mobilnya


...***...


Akhirnya mereka telah sampai tempat tujuan. Arsy yang baru keluar dari bus, wajahnya nampak putih layu.


"Huek ....huek!" Perempuan itu mabuk kendaraan karena memang baru pertama ia naik bus. Dengan waktu yang cukup lama.


"Ayo anak-anak silahkan bergabung dengan teman kalian. Nanti kalian akan mendapatkan arahan dari Bapak Kepala, agar tidak ada yang tersesat!" Rasya memberi tahu seluruh anak didiknya. Setelah itu Rasya menghampiri sahabatnya.


"Tiffu kamu enggak apa-apa kan?" Rasya bertanya dengan wajah yang cemas.

__ADS_1


"Kepalaku sakit Sya!" Arsy berjongkok karena badannya lemas.


"Huek ...huek!" Rasya memijit tengkuk sahabatnya.


"Keluarkan semua, setelah itu minum yang banyak!"


Setelah semua makanan terkuras dari perutnya. Arsy pun menerima botol air dari sahabatnya.


"Sudah mendingan?" Rasya bertanya.


Arsy mengangguk sebagai jawabannya. Setelah itu mereka ikut bergabung dengan yang lain.


...***...


Tak terasa waktu jalan begitu cepat, rombongan itu memutuskan untuk istirahat sebentar. Rasya yang sedang makan bersama Arsy. Dia ingin mengajak sahabatnya untuk berbincang-bincang. Menjauh dari anak didik dan Dewan Guru.


"Tiffu, aku ingin bicara sesuatu, penting!"


Arsy yang tadi sedang menikmati makanannya. Perlahan menatap sahabatnya penuh tanya.


"Katakan saja, aku akan mendengarnya!" jawabannya seraya memasukkan makanan khas Probolinggo.


"Tapi tidak disini! Ini hanya aku dan kamu!"


Arsy terkekeh geli karena perkataan sahabatnya.


"Baiklah, tapi kita selesaikan makanan ini dulu ya?" Meskipun demikian Arsy tetap menerima ajakan Rasya.


...***...


Pemuda itu berlutut dengan satu kaki, kemudian memegang tangan Arsy. Kepalanya mendongak untuk menatap lawan bicaranya.


Arsy sangat terkejut karena perilaku Rasya. Perempuan itu tahu betul, apa yang akan terjadi nantinya.


"Tiffu, sebenarnya aku sudah sangat lama memendam perasaan ini! Bisakah kita merubah status kita? Aku mencintaimu Tiffu!"


Arsy terdiam, perempuan itu nampak tenang. Saat sahabatnya mengutarakan perasaannya. Arsy menarik napas dalam-dalam. Sebelum menjawab Arsy mengukirkan sebuah senyuman manis.


"Sya! Kau tahu tidak, puncak tertinggi mencintai?"


Rasya terdiam sesaat menatap wajah sahabatnya.


"Aku pernah membaca, bahwa puncak tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan!" Arsy memberikan jeda sejenak. Sebelum melanjutkan ucapannya kembali. "Dan sekarang aku ada diposisi seperti itu! Aku sepertimu Sya! Mencintai seseorang, yang mengharuskan kita untuk merelakannya."


"Aku harap kamu paham maksudku! Dan ini bisa menjawab pertanyaanmu" Arsy menatap wajah Rasya sendu.


"Aku tahu!" Rasya langsung berdiri dan membersihkan celananya.


"Maafkan aku Sya, bukan maksudku melukaimu. Tapi inilah kenyataannya Sya, dalam hatiku tidak ada namamu."


"Aku tahu betul bagaimana rasanya, mencintai seseorang yang tidak mencintai diri kita. Sakit! Kini yang aku rasakan saat aku tahu, jika aku mencintainya." Arsy menarik nafas dalam-dalam, dadanya sangat sesak.


"Dengan sekuat tenaga aku mencoba menghapus perasaanku padanya. Tapi hasilnya nihil, sampai sekarang aku masih mencintainya!" Arsy tersenyum getir mengingat kisah cintanya.

__ADS_1


"Sya, boleh aku meminta satu permohonan padamu?"


"Katakan!" Rasya yang membelakangi Arsy menengok kebelakang.


"Hanya kamu sahabat terbaikku!"


"Maukah kamu mengulang persahabatan kita ini? Memulai dari awal, aku tahu ini tidak mudah bagimu."


"Tapi Sya, apa karena cinta yang tidak terbalas. Kau rela melihat persahabatan kita hancur? Tak jarang aku mendengar, seorang sahabat mencintai sahabatnya. Akan tetapi persahabatan mereka hancur, karena saling mengecewakan. Bukannya kamu selalu ingin terlihat beda dari yang lain?"


"Maka Sya, ini saatnya kamu menunjukkan kepada dunia. Jika Ahmad Rasya Aufan adalah sahabat terbaik bagi Arsy Latthif! Dia lelaki yang rela mengesampingkan egonya. Untuk sang sahabat, dia rela mengubur perasaannya, agar tidak menyakiti hati sahabatnya. Sya! Tolong kabulkan permintaanku!" Arsy mengakhiri ucapannya dengan terengah-engah.


"Apa kamu berpikir semudah itu?" Rasya menyunggingkan senyumannya.


Arsy terdiam, dia tahu itu tidak mudah. Karena dia juga ada diposisi seperti itu saat ini.


"Apa aku boleh jujur?" Rasya membelakangi Arsy.


"Hmmm!"


"Sakit! Ya, itu yang aku rasakan. Sakit saat tahu perempuan yang sejak dulu dicintai mencintai orang lain."


"Sakit saat mendapat penolakan dari orang yang telah ia dambakan."


"Sangat sakit saat tahu! Jika yang ia cintai, tidak pernah mencintainya."


"Tapi lebih sakti lagi, saat seseorang yang kita cintai merasakan sakit." Rasya membalikkan badannya kearah Arsy.


"Tiffu!"


Arsy mengangkat kepalanya untuk menatap sahabatnya itu.


"Sungguh aku ingin tertawa, karena kenyataan ini. Ternyata nasib kita sama, Cinta Sendiri!" Rasya terkekeh sambil menggeleng mengingat takdir. Yang tidak berpihak padanya dan pada sahabatnya.


"Jika pucuk tercinta adalah mengikhlaskan. Sebagai lelaki yang tidak ingin memaksa dan menyakiti perempuan."


"Aku akan berusaha mengikhlaskan."


"Tapi satu hal, aku tidak akan melupakanmu. Semakin dilupakan maka semakin teringat."


"Jadi aku harap, kamu tidak keberatan. Jika, aku masih mengingat dirimu sebagai cintaku!"


Arsy terdiam karena ucapan sahabatnya.


"Akan tetapi aku akan meminta kepada Maha Cinta. Untuk mencabut perasaan yang ada dalam hatiku untukmu!" Rasya meninggalkan Arsy yang mematung. Tak bersuara.


"Tunggu Sya! Aku tidak mau kehilangan sahabatku!" Arsy menatap punggung Rasya.


Rasya tersenyum kemudian membalikkan badannya. "Beri aku waktu untuk melupakan semua. Dan jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan persahabatan kita hancur. Itu janjiku!" Rasya meninggalkan Arsy.


Arsy menatap kepergian Rasya yang semakin menjauh. Dia tidak habis pikir dengan sahabatnya. Yang tidak marah kepadanya juga tidak menampakkan kekecewaan padanya.


"Apa dengan mengutarakan cinta. Semua akan jauh lebih baik? Dari pada memendamnya! Kenapa Rasyu bisa setenang itu."

__ADS_1


Mungkinkah aku harus mengungkapkan perasaan ini...


__ADS_2