Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
I Love You Fit


__ADS_3

Tak terasa bulan jalan begitu cepat. Kini kandungan Fitri sudah menginjak tujuh bulan. Semua tamu sudah berdatangan, tak terkecuali Langit sekeluarga.


"Selamat Not! Bentar lagi menyandang status Ayah!" Langit menjabat tangan Harjunot.


"Makasih, bagaimana kabar putri Anda Pak?" tanya Harjunot sekedar ingin tahu kondisi perempuan yang menyelamatkan dirinya.


Langit melirik kearah istrinya, Mimik wajah berubah sendu. Entah apa artinya, hanya keduanya yang tahu.


"Dia sudah siuman, kurang lebih dua bulan yang lalu. Maaf aku lupa memberi kabar!" ujarnya terkesan memaksakan bibirnya agar tersenyum.


"Sekarang masih di sana?" Fitri ikut bertanya, perempuan itu juga merasa kasian melihat kondisi Arsy.


"Belum bisa pulang, dia diminta stay di sana dahulu. Sampai suami Bibiknya pulang!" Cahaya menjawab.


"Syukurlah kalau begitu!" Harjunot bernapas lega.


...***...


Dua bulan setelah acara tujuh bulanan.


"Mas aku takut Mas, hiks!" Fitri menangis tersedu-sedu di pelukkan suaminya.


"Takut apa? Aku ada untukmu Fit!" ujarnya mengelus kepala istrinya.


Sudah beberapa hari Fitri, selalu menangis. Membuat Harjunot resah dibuatnya.


"Aku takut, jauh dari Mas Arjunot hiks!" ujarnya sambil mengeratkan pelukannya. Dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


'Kenapa Fitri bicara ngelantur, kayak gini sih! Apa ini sering terjadi pada wanita hamil?' batin Harjunot sambil memeluk istrinya erat.


"Aku enggak akan kemana-mana Fit! Kita akan bersama, oke! Jangan nangis dong Fit!" Harjunot mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya.


"Kenapa orang itu mau ngajak aku Mas?" Fitri mengarahkan telunjuknya ke pintu kamar.


Harjunot yang mendengar ocehan ngelantur Fitri dia semakin mendekap tubuh istrinya.


"Enggak ada siapa-siapa Fit! Fitri capek ya?"


"Enggak Mas! Apa Mas, enggak lihat orang berjubah itu!" Fitri terus menunjuk kearah pintu.


"Fitri, kamu lelah! Ayo tidur besok kamu akan lebih baik!"

__ADS_1


"Aku takut Mas! Hiks ...hiks!" Fitri menangis sejadi-jadinya di pelukkan suaminya.


"Aku akan bersamamu, Fitri! Tidur di pelukkan saja ya?" Harjunot mencoba menenangkan istrinya.


Fitri mengaguuk kemudian menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


...***...


Keesokan harinya Harjunot ingin berangkat kerja. Tapi pagi itu istrinya merajuk, memintanya untuk tetap di rumah.


"Mas Arjunot, enggak boleh pergi! Aku takut sendirian!" Fitri menangis layaknya bocah kecil yang meminta mainan kepada orang tuanya.


"Nanti Ibu, kesini Fit. Tadi aku sudah telpon, jadi Fitri enggak sendirian!" ujar Harjunot sambil memeluk istrinya.


"Aku enggak mau, pokoknya harus Mas, yang ada disini! Aku enggak mau siapapun!" Air matanya meleleh, mengingat suaminya akan pergi bekerja.


"Fitri, nanti setelah pertemuan penting dengan pemilik hotel. Aku akan segera pulang!" Harjunot bersuara.


"Enggak! Mas enggak boleh pergi!" Fitri menggeleng sambil menangkup wajah suaminya. Kemudian tangan putih itu menurun, menyusuri setiap lekuk tubuh suaminya. Dan memeluknya kembali seakan mereka tidak akan bertemu kembali.


"Mas Arjunot, jangan tinggalin aku hiks!"


Harjunot mengerutkan keningnya kenapa istrinya itu berprilaku layaknya anak kecil. Padahal sebelumnya Fitri tidak pernah bertingkah seperti itu.


"Fitri! Aku mohon izinin aku berangkat kerja ya?" tanyanya selembut mungkin.


"Silahkan, silahkan pergilah! Tapi ingat satu hal! Jangan nyesel!" Setelah itu Fitri berlari ke kamar.


...***...


Harjunot menatap punggung istrinya. Lelaki itu pun mengejar istrinya kedalam kamar.


Fitri meringkuk membelakangi suaminya. Harjunot memilih naik keatas ranjang kemudian mengelus kepala istrinya dengan penuh cinta.


"Aku baru tau, jika istri Mas Arjunot bisa merajuk," ujar Harjunot terkekeh.


"Biasanya selalu ngayomi, kenapa pagi ini seperti anak kecil?" Harjunot bertanya, tapi yang ditanya enggan menjawab.


"Ya sudah kamu bobok lagi saja, bentar lagi Ibu sampai!"


"Fit!" panggilnya.

__ADS_1


Tapi yang dipanggil hanya diam.


"Sudah bobok a?" tanyanya.


Fitri membalikan badannya untuk menatap suaminya. Harjunot tersenyum tipis karena ulah istrinya.


"Kenapa cemberut?" Harjunot bertanya sambil mencium bibir istrinya sekilas.


Sedangkan Fitri hanya diam, tak mengalihkan pandangan matanya dari wajah sang suami.


"Ayo, kenapa tadi bilang Mas, akan nyesel! Saat Mas, ijin berangkat kerja. Bisa enggak dicabut ucapannya?" Harjunot mengelus pipi istrinya.


"Kalau bisa aku juga ingin mencabutnya!" jawaban Fitri membuat Harjunot tertawa renyah.


"Aku tidak bercanda Mas!"


"Iya-iya, Fit maaf dah!" Harjunot menjewer telinganya sendiri.


Fitri tersenyum tipis saat melihat ekspresi suaminya yang menggemaskan.


"Sekarang Fitri tidur, Mas temenin. Tapi nanti Mas, kerja ya Fit?"


Fitri tidak menjawabi, perempuan itu langsung memeluk tubuh suaminya erat.


Sedangkan Harjunot terdiam memikirkan sesuatu. 'Kenapa perasaanku jadi tak karuan' batin Harjunot sambil terus mengelus kepala istrinya.


Harjunot menatap wajah istrinya lama. Entah mengapa perasaan tidak enak itu kembali. Rasa takut kehilangan seakan muncul dihatinya.


Lelaki itu membuang napas kasar, dan kembali mencium pipi istrinya.


"Aku mencintaimu Fit! Semoga kita ditakdirkan untuk bersama. Kamu adalah segalanya bagiku. Tanpamu, aku bukan siapa-siapa! Kamu mengajarkan aku banyak hal. Bersamamu aku menemukan sesuatu yang tidak pernah aku temui sebelumnya. Kau istri yang tidak pernah menuntut. Kau pun tidak pernah membatah perkataan suamimu. Kau adalah wanita yang sempurna, tapi diberikan kepada lelaki sepertiku yang banyak kekurangan. Jika aku bisa meminta, maka permintaanku adalah aku ingin mengenalmu lebih cepat. Tapi inilah takdir, waktu mempertemukan kita dengan cara yang tidak pernah aku duga. Dulu aku menangis, karena ingin menikah denganmu. Karena yang aku tahu kamu banyak kekurangan. Sekarang air mata ini meleleh karena rasa syukur kepada Tuhan, yang telah mengirimkan sosok wanita sempurna sepertimu Fit! Kaulah Khadijah masa kini! Aku begitu mencintaimu! Sungguh!" Harjunot memejamkan saat mencium kening istrinya. Buliran bening itu meluncur membasahi pipinya dan menetes di pipi istrinya.


"Mas, kerja dulu ya! Kamu bobok yang nyenyak!" ujarnya seraya bangkit dari ranjang. Kemudian menyelimuti tubuh istrinya.


Setelah itu Harjunot berjalan kearah pintu. Harjunot membuka pintu itu perlahan. Belum juga ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Entah mengapa hatinya menolak untuk membiarkan istrinya tidur sendirian.


Harjunot membalikkan badannya untuk melihat wajah istrinya yang teduh saat tidur.


"Andai saja ini tidak pertemuan penting! Pasti aku akan menuruti permintaanmu!" Setelah itu Harjunot membuang napas berat. Kemudian menutup pintu dari luaran kamar.


"Aku mencintaimu Fit!"

__ADS_1


Arsy dengan gaya sopannya



__ADS_2