Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Meminta Izin


__ADS_3

Paruh baya itu mendekati tubuh putrinya yang meringkuk di sofa ruang pribadinya. Papa menyelimuti tubuh putrinya dengan jas kerjanya. Langit tersenyum tipis, saat melihat wajah putrinya yang terlihat damai saat terlelap. Tiga poto ia kirimkan ke istrinya.


"Putrimu nih Bun!" Kirimnya lewat chat Watsaspp.


"Lah kok tidur di sofa? Bukannya itu ruangan Papa?" Balas Bunda.


"Yang dicari enggak ada! Jadi dia memutuskan untuk ke kantor Papanya!" Kirim Papa.


"Oh ... ya sudah nanti suruh pulang bareng Papa saja. Kasian kalau gowes!"


Langit mengakhiri percakapan lewat chat. Paruh baya itu kembali duduk di kursi kerjanya. Memejamkan mata sambil memijit pelipisnya. Paruh baya itu teringat bagaimana Harjunot datang menemuinya untuk meminta ijin padanya.


Flashback on


Jam menunjukkan pukul setengah delapan. Langit baru saja keluar dari mobil. Tak sengaja matanya menatap sosok lelaki yang ia kenal baru turun dari motor dan berjalan menghampirinya.


"Pagi Pak Dirut?" sapa Harjunot.


Langit pun mengajak Harjunot keruangan pribadinya. Setelah sampai di ruangan Direktur. Langit mempersilahkan Harjunot untuk duduk. Dua cangkir teh yang masih mengepul asapnya menemani mereka pagi itu.


"Sebenarnya apa yang membuatmu kemari dipagi buta?" tanya Langit tanpa basa-basi.


Harjunot mendudukan kepalanya dalam. Lelaki itu masih belum bisa mengutarakan maksud kedatangannya ke kantor.


"Not!" panggil Langit sambil meletakkan teh diatas meja.


Harjunot pun mengangkat kepalanya. Berdeham sejenak sebelum memulai pembicaraan.


"Sebenarnya tujuan saya datang kemari adalah. Untuk meminta izin kepada Anda Pak!"


"Izin?"


"I-iya, beberapa hari terakhir saya selalu mendapatkan mimpi. Dalam mimpi itu saya didatangi sosok berjubah panjang. Dan dia bersama sosok perempuan, yang selalu berdiri di sampingnya. Sosok berjubah itu selalu bilang pada saya. Jika perempuan di sampingnya adalah calon istri saya! Jujur saja, saya tidak terlalu menanggapi hal ini dengan serius. Karena sebelumnya juga pernah mengalami mimpi yang hampir mirip. Bahkan dalam mimpi itu saya sudah menikah dengannya. Akan tetapi takdir justru mempertemukan aku dengan almarhumah Fitri!"


"Aneh juga ya Not mimpimu! Terus siapa perempuan yang dimaksud sosok berjubah panjang itu?" Langit mengetuk-ngetukan bolpoin dimejanya.

__ADS_1


"Terus apa hubungannya denganku? Maksudnya? Kenapa kamu meminta izin pada ku?" Langit mengerutkan keningnya.


Harjunot menarik nafasnya dalam.


"Perempuan itu adalah putri Anda Pak!"


Sontak saja Langit langsung membuka mulutnya karena jawaban Harjunot.


"Yang benar saja Not?"


"Bahkan sebelum saya bertemu dengan putri Anda di dunia nyata! Dia sudah datang di mimpi saya. Jujur saja waktu itu, saya berpikir jika dia itu jodoh saya. Akan tetapi tebakan saya salah. Ternyata Tuhan, telah mengirimkan Fitri untuk saya!"


"Jadi maksudmu, untuk mimpimu yang kali ini. Kamu menseriusi nya?" Langit bertanya kembali.


Harjunot mengaguuk kecil.


"Mimpimu lucu juga ya Not! Tidak pernah bertemu, tapi bisa masuk kealam bawah sadar!" Langit mengelus dagunya.


"Saya sendiri juga heran!"


"Pak Dirut, maksud kedatangan saya kemari untuk meminta izin. Apa Pak Dirut berkenan jika saya dan putri Anda memiliki sebuah ikatan? Dengan status saya yang sekarang?" tanya Harjunot sedikit gugup.


Langit terdiam sejenak, sebelum mengangkat punggungnya dari kursi kerjanya.


"Untuk masalah itu, aku sih serahkan pada yang bersangkutan langsung! Kalau Ayi mau, ya silahkan lanjutkan. Toh yang ngejalanin rumah tangga juga kalian berdua! Untuk masalah statusmu, aku tidak mempermasalahkan hal itu."


"Yang jadi masalahnya itu.Kamunya siap enggak ngadepin sifat Ayi yang kekanak-kanakan?" tanya Langit sambil menyeruput teh hangat kembali. Wenak tenan...


Harjunot terdiam memikirkan konsekuensinya menikah dengan Arsy.


Sebelum menjawab dengan keyakinan penuh. "InsyaAllah, saya siap Pak! Mungkin suatu saat nanti jika ingatannya sudah kembali. Dia tidak akan se—cildish sekarang!"


"Yakin banget Not!" Langit terkekeh geli.


Harjunot tersenyum kaku.

__ADS_1


Flashback off.


"Not! Not! Kamu itu dimana pakai menghilang segala!" Langit membuka matanya.


"Haduh ini kisah cinta kenapa rumit banget!" Langit menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


...***...


Jarum jam menunjukkan pukul setengah lima. Arsy belum juga terbangun. Padahal jam segini saatnya para karyawan kantor pulang kerja.


"Yi! Bangun Nak! Kita pulang!" Langit mengelus kepala putrinya.


Arsy hanya diam tidak ada pergerakan sama sekali.


"Anak Papa! Yang cantik, ayo bangun kita pulang! Sebelum pulang kita makan di restoran kesukaanmu!" ujarnya menggoyangkan tubuh putrinya.


"Emmm! Ini jam berapa Pa?" Arsy bangun dari tidurnya sambil meregangkan otot-otutnya. Wenak tenann.


"Jam lima kurang, nanti ini kita mampir ke resto!" ujar Papa sambil menutup pintu.


"Kenapa enggak pulang saja Pa? Makan dirumah!" tanya Arsy sambil mengucek matanya.


"Papa ingin mentraktir putrinya makan sepuasnya. Karena hari ini Papa gajian!" Langit berjalan di samping putrinya.


"Oh ... berarti Papa jadi beliin Ayi motor yang Ayi minta dong! Istilah Ayi kan sudah mau mengikuti persayratan Papa. Ngintilin Harjunot kerja!"


Papa menepuk keningnya karena putrinya masih ingat dengan persyaratan itu.


"Sudah enggak usah dipikirin, nanti Papa belikan!"


Setelah sampai di parkiran Arsy menatap Papanya.


"Pa! Kalau Ayi ikut Papa, sepeda Ayi gimana. Masa ditinggal?" tanya Arsy sambil mengusap rambutnya kasar.


"Gampang, nanti Papa minta bantuan satpam buat masukin sepeda Ayi ke bagasi mobil!"

__ADS_1


__ADS_2