
Arsy keluar dari kamar adiknya, perempuan itu mengusap kedua matanya. Kata-kata Kafka membuatnya tertampar. Arsy berlari kearah kamarnya, mendorong pintu kamar dengan kasar. Brakkkk! perempuan itu menyadarkan tubuhnya dibalik pintu. Air mata terus meluncur membasahi pipi.
"Huaaaaaa!" Teriakan itu menggema di kamarnya.
"Arsy kenapa kau bodoh! Kenapa dengan mudahnya kau jatuh cinta!" Tubuhnya merosot.
"Papa! Maafkan Ayi! Papa. Ayi bukan wanita baik-baik Papa!" Arsy menangis sambil mengepalkan tangannya, seolah mencari kekuatan.
"Ayi tidak tahu! Bagaimana reaksi Papa, saat tahu! Jika putrimu, mencintai lelaki yang sudah menikah. Dan bagaimana pula reaksi Bunda? Pasti Bunda, akan merasa gagal mendidik putrinya. Dan Bunda, dia akan menyalahkan dirinya sendiri. Karena kesalahanku!" Arsy memijat pelipisnya, memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya. Dia telah menghancurkan perasaan keluarganya, yang menyayanginya. Otaknya kini telah buntu, jika memikirkan semua.
"KENAPA CINTA INI HARUS ADA SEKARANG! CINTA TIDAK BERGUNA! PERGILAH-PERGI!" Arsy memukul dadanya. Hingga membuat napasnya tersengal-sengal.
"Aku tidak akan menahan mu! Silahkan pergilah cinta. Tinggalkan hatiku, biarkanlah aku mencintai keluargaku! Izinkan aku mencintai seseorang yang pantas untuk menerima cintaku. Dan hatinya hanya untukku seorang!" Suaranya terdengar lirih karena dadanya seperti terhimpit sesuatu.
...***...
Tok!
Tok!
Tok!
Perempuan berambut pirang itu mengetuk pintu kamar seseorang.
"Iya, sebentar!" jawabannya dari dalam kamar.
Wanita paruh baya yang terlihat masih sangat muda, membuka pintu untuknya.
"Yi! Mari masuk!" Bunda tersenyum lebar, saat melihat yang mengetuk pintu adalah anaknya.
Arsy membalas senyuman Bundanya. Perempuan itu masuk ke kamar kedua orang tuanya. Di sana Arsy menatap punggung Papanya, yang sedang berdiri menatap luaran jendela. Kebetulan malam itu hujan turun mengguyur kota Jakarta Selatan. Dada Arsy semakin sesak saat mengingat umur Papa dan Bundanya.Yang sudah setengah abad. Dalam hatinya berjanji tidak akan membuat kedua orang tuanya kecewa padanya. Itulah janjinya, janji seorang anak untuk tidak mengecewakan orang tuanya.
Arsy berlari kearah Papa, yang kebetulan waktu itu Papa Langit, juga memutarkan badannya. Arsy segera menghamburkan tubuhnya kearah Papa. Dan Papa pun Langsung menerima pelukan itu. Langit tersenyum sambil mengelus kepala putrinya dan memberikan sebuah ciuman.
__ADS_1
"Ayi! Apa ada sesuatu hal yang membuatmu sedih Nak?" tanya Langit yang tahu bagaimana sifat putrinya. Langit tahu betul, jika Arsy sedang sedih pasti dia akan menemuinya dan memeluknya. Namun mengingat beberapa tahun kebelakang, hal seperti itu tidak ditemukan lagi. Karena putrinya kuliah di negara tetangga.
Arsy masih diam enggan untuk menjawab pertanyaan Papanya. Langit memberikan sebuah isyarat kepada istrinya. Cahaya hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Arsy memang lebih dekat dengan sang Papa. Karena Papa Langit memperlakukan dirinya layaknya seorang putri Raja. Memanjakan dirinya dan selalu menuruti apa yang ia inginkan. Sedangkan Bunda, lebih cenderung mengajarkannya menjadi wanita tegar, mandiri yang tidak bergantung dengan orang lain serta tangguh.
"Pa!" Suaranya terdengar bergetar. Membuat kedua orang tuanya heran.
"Iya Sayang, ceritakan sesuatu yang belum kami ketahui!" tutur Langit yang masih setia memeluk putrinya.
"Bunda!" Arsy melonggarkan sedikit pelukannya, agar bisa melihat Bundanya.
"Iya Nak! Kami disini untukmu!" Bunda Cahaya, sangat tahu pasti putrinya sedang ada masalah. Cahaya yang berdiri di samping Langit. Wanita paruh baya itu mengelus rambut putrinya.
Arsy menggerakkan tangannya kearah Bunda, agar ikut serta berpelukkan. Bunda tersenyum, kemudian menghamburkan badannya.
"Pa! Bun! Ayi ingin meminta maaf.Jika selama ini Ayi, selalu bikin kalian kecewa. Atau bahkan terlukai oleh perkataan dan perbuatan yang Ayi lakukan. Tapi satu hal, Ayi! Berjanji tidak akan membuat Papa dan Bunda kecewa! Ayi akan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi! Tapi, jika suatu saat Ayi tidak bisa menepati janji yang Ayi buat. Tolong maafkan Ayi!" Arsy menangis tersedu-sedu karena ucapannya. Sedangkan kedua orang tuanya, menahan air mata yang sudah siap menetes.
"Ayi! Bunda bersyukur mempunyai putri sepertimu Nak!" Bunda Cahaya tidak bisa berkata-kata lagi. Karena ucapan putrinya yang begitu menyentuh hatinya.
"Papa, tahu jika putri Papa! Berjanji. Pasti kamu akan berusaha menepati janjimu."
"Kendati demikian, jika seseorang tidak bisa menepati janjinya. Itu hal wajar!"
"Karena manusia tidak pernah tahu kapan dan dimana dia mengkhianati janjinya. Intinya Papa dan Bunda sudah bahagia, karena putrinya sudah mau berusaha, untuk tidak mengecewakan perasaan orang tuanya."
"Kami bangga mempunyai dirimu Nak!" Langit mengecup pucuk rambut putri dan istrinya bergantian.
...***...
Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Arsy yang telah terlelap, terbangun karena merasa kelaparan. Dengan langkah malas Arsy menginjakkan kakinya ke lantai. Perempuan itu membuka pintu kamarnya. Arsy yang sudah sampai dapur dia membuka kulkas. Menyalakan senter yang ada di ponselnya.
Krokk ....Krokk ...Krokk....
__ADS_1
Arsy yang fokus memilih makanan di kulkas. Dia mendengar suara aneh membuat bulu kuduk berdiri.
Krokk ....Krokk ...Krokk.... Arsy merasakan ada sesuatu yang menempel kakinya. Dia mencoba sedikit tenang. Perlahan ponsel yang tadi ia gunakan buat menerangi kulkas. Ia arahkan ke kakinya. "Aaaaaaaaaa!" Arsy berteriak saat melihat hewan yang ia takuti menempel di kakinya. Sontak saja Arsy langsung naik ke meja makan.
...***...
Langkah kaki itu mendekati dapur. Tak sengaja telinganya mendengar teriakan. Lelaki itu berjalan pelan sambil menyalakan senter ponselnya. Sedangkan Arsy yang ketakutan, dia menangis tersedu-sedu. Saat ia sadar, ada seseorang yang mendekat kearahnya ia langsung meloncat dari meja kearah seseorang yang tidak ia ketahui wajahnya. Tapi dia tahu jika itu adalah sosok lelaki berbadan tegap.
Lelaki itu begitu terkejut karena mendapati seorang perempuan yang bergelantungan di badannya.
"Papa! Papa, Ayi takut ada katak huaaaaaa!" Arsy berbicara sambil mengalungkan tangannya dileher lelaki itu. Jangan tanya kakinya juga melilit tubuh lelaki itu.
Sedangkan lelaki itu tertegun karena posisi Arsy.
"Huaaaaaa!" Arsy yang takut itupun tidak sadar menggigit pundak lelaki itu.
Lelaki itu meringis menahan sakit karena Arsy menggigit pundaknya. Bukan hanya itu tapi kodratnya sebagai lelaki normal yang belum pernah merasakan sensasi itu sebelumnya dia menikmatinya. Lupa akan dosa, ya itu yang ia lupakan.
"Emtttt!" Dêsâhân itu keluar dari mulut seorang lelaki. Membuat Arsy kaget, kenapa malah mendesah bukan berteriak.
'Tuhan, kenapa pelukan ini aku pernah merasakan sebelumnya sekarang aku bisa merasakannya lagi' batin Arsy.
Klek! Lampu dapur menyala menerangi ruangan itu.
Betapa terkejutnya Arsy saat beradu tatapan dengan lelaki yang ia peluk.
"Anda!"
Harjunot menatap lekat manik mata Arsy, keduanya saling bertatapan. Deru nafas kedua insan itu saling bertautan.
Setelah mereka sadar ada orang lain selain mereka. Arsy dan Harjunot menatap kearah orang yang tadi menyalakan lampu. Kedua orang itu terkejut dengan keberadaan orang tersebut. Arsy pun segera turun dari gendongan.
Betapa malunya Arsy dan Harjunot karena mereka tertangkap basah, sedang bersama. Kedua orang itu melihat tatapan kecewa. Dari seseorang yang berdiri mematung menatapnya.
__ADS_1
Siapa Hayooooo?
...***...