Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Malah Nyaman


__ADS_3

"Ayi! Kita mau datang ke aqiqah anaknya teman Papa! Kamu ikut ya?" Bunda Cahaya berteriak.


Arsy yang sedang ada dikamar, dia memikirkan sesuatu. Bibirnya tersungging karena rencana kali ini pasti berhasil.


"Jika aku ikut, nanti aku bisa izin untuk keluar! Papa dan Abang, akan membiarkan aku jalan-jalan. Tidak mungkin mereka mengekang aku didepan khalayak umum!" Arsy yakin jika rencana kali ini akan berhasil.


"Dugem Ayi! Yuhu!" Perempuan itu jingkrak-jingkrak. Saat melihat kebebasannya sudah ada didepan mata.


"Oke Bunda!" teriaknya.


...***...


Seluruh keluarga sudah selesai bersiap. Tinggal menunggu Arsy saja. Pintu lift terbuka, orang yang ditunggu pun datang. Seluruh keluarga menatap kearah Arsy. Kemudian membuang napas kasar bersamaan. Tatkala melihat outfit yang Arsy kenakan.


"Ayi! Apa Bunda mu, tidak memberi tahu mu. Jika kita akan ke acara aqiqahan?" Papa bertanya.


Sedangkan Bunda yang berdiri di samping Papa, merasa jengkel dengan suaminya. Terkesan menyalakannya.


"Papa, kok menyalakan Bunda sih!" cecar Bunda sambil mengerucutkan bibirnya.


Sedangkan Arsy terlihat santai, tidak merasa bersalah.


"Terus kalau Bunda, sudah memberi tahumu! Kenapa kamu pakai baju seperti ini Yi?" Gibril bertanya dengan nada mengintimidasi.


Arsy membuang napas kasar, sambil menggelengkan kepalanya. Dia harus berpikir keras, agar perdebatan itu tidak berkepanjangan. Arsy sangat kesal jika keluarganya selalu mempermasalahkan, gaya dia berpakaian.


"Baiklah, kalau kalian keberatan dengan penampilanku. Aku tidak akan ikut," jawabnya dengan santai.


Akan tetapi hatinya bergumam takut.


'Sial, jika hari ini aku tidak bisa keluar rumah ini juga. Maka hilang sudah, acara senang-senang untuk malam ini. Semoga saja mereka tetap mengajakku keluar. Hanya ini jalan satu-satunya aku bisa ke Bar. Kenapa sih bisnis Abang, tidak bermasalah gituh. Biar aku bisa bebas. Kalau ada Abang, aku tidak bisa leluasa' batin Arsy melirik kearah Gibril.


Papa Langit menjambak rambutnya kasar. Karena putrinya membuat dia gila secara perlahan. Karena tingkah laku putrinya yang buruk.


"Sudah-sudah jangan debat! Mari kita berangkat keburu magrib! Ayi, kau tetap ikut!" Papa bicara sambil berjalan keluar pintu utama.


Arsy tersenyum puas, karena apa yang ia inginkan. Dikabulkan oleh Tuhan.


...***...


Dua buah mobil itu keluar dari kediaman Langit. Dipertengahan jalan, Arsy memikirkan sesuatu. Dan bergumam pelan.


"Mulai besok, aku akan belajar mengendarai mobil." Arsy tersenyum saat menatap luaran mobil. Sambil memainkan liontin kalungnya berbentuk cincin.


"Tapi, siapa yang akan mengajariku. Tidak mungkin aku meminta Papa mengajariku. Apa lagi Abang!" Arsy melirik kearah Gibril yang sedang menyetir. Disaat itu pula Gibril menatap sepi on mobil, membuat tatapan mereka bertemu.


'Apa yang dia rencanakan. Saat ini aku masih ada disini. Tapi saat aku sedang mengurus bisnisku. Siapa yang mengontrol dan mengawasinya. Papa sudah tua, urusan kantor cukup membuat Papa sibuk dan kuwalahan. Ya Tuhan! Kenapa insiden beberapa bulan yang lalu. Membuat Ayi berubah sangat jauh' batin Gibril pusing saat memikirkan perubahan adiknya.


"Mereka tidak akan mengizinkanku. Untuk mengumudi!" Arsy memijat pelipisnya.


"Ayo berpikirlah Ayi!" Arsy memejamkan matanya. Siapa tahu dia menemukan jalan keluar dari permasalahannya.


Bibirnya kembali tersungging dengan indah. "Ahay! Aku bisa membayar seseorang untuk mengajariku mengemudi! Pintar sekali kamu Ayi!" puji Arsy untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


...***...


Kedua mobil itu memasuki pekarangan rumah. Penumpangnya sudah keluar, berbeda dengan yang lain. Arsy masih duduk santai di kursi penumpang.


"Ayi! Turunlah, Papa dan yang lain menunggumu!" Kafka membukakan pintu untuk Kakaknya.


Dengan malas Arsy akhirnya keluar dari mobil itu. Kedua orang itu berjalan mendekati Papa Langit, yang sedang asyik berbincang dengan seseorang. Setelah sampai di dekat Papa Langit. Kedua orang itu menyalami tuan rumah. Kafka mengulurkan tangannya kearah Harjunot. Harajunot pun menerimanya dan tersenyum sambil menepuk pundak Kafka. Sedangkan Arsy yang berdiri disamping adiknya, itu pun mengulurkan tangannya kearah Harjunot. Akan tetapi Harjunot menangkupkan kudua tangannya didepan dada.


Arsy yang mendapat penolakan, dia segera mengibaskan telapak tangannya.


'Sial, dia tidak mau menjabat tanganku. Terlalu sok suci' batin Arsy tidak suka dengan cara Harjunot memperlakukan dia barusan.


Sedangkan Papa Langit, menyunggingkan senyuman saat melihat putrinya kesal.


Kafka yang melihat kejadian itu hanya menggeleng. 'Takdir sangat lucu. Dulu saat Kak Harjunot masih punya istri. Waktu selalu berpihak kepada mereka berdua. Membiarkan mereka bersama. Sekarang saat, status Kak Harjunot singel. Mereka layaknya seperti baru dipertemuan saja. Tidak saling mengenal' batin Kafka terkekeh getir. Mengingat takdir yang mempermainkan kedua orang dewasa itu.


"Pa! Mana Bunda?" Arsy celingak-celinguk mencari keberadaan Bunda.


"Bunda mu, ada didalam membantu mempersiapkan hidangan untuk para tamu," jawab Papa Langit.


Arsy mengagukk paham, sebelum berucap kembali. "Ayi, samperin Bunda ya Pa?"


Papa mengagukk pelan. Arsy segera menarik tangan Kafka.


"Ayo Ka!"


Saat melewati Harjunot, mata Arsy melirik kearah lelaki itu. Dengan tatapan dingin.


...***...


Lima belas menit kemudian, Arsy melihat Bundanya keluar dari sebuah ruangan. Entah ruangan apa ia tidak tahu. Yang jelas sekarang Bundanya berjalan kearahnya. Sambil menggendong bayi yang menangis. Arsy menatap sekilas kemudian menatap ponselnya kembali.


"Oek ...oek!" Tangisan bayi itu memenuhi ruang keluarga.


"Cup ... cup!' Bunda Cahaya menimang bayi blesteran itu. Akan tetapi tetap saja bayi itu menangis.


"Coba biar Vi, saja yang gendong. Mungkin saja baby Bell, tidak nangis lagi," ujar Kak Vi.


Akan tetapi baby Bell tidak mau berhenti menangis saat ia gendong.


Semua orang yang ada di sana, sudah mencoba menenangkan baby Bell. Akan tetapi semua orang tidak bisa membuat baby Bell berhenti menangis.


Harjunot yang mendengar anaknya selalu menangis. Dia berinisiatif untuk menggendong anaknya itu.


"Bu, tolong gendong Baby Kai!" Harjunot menyerahkan baby Kai kepada Bu Dewi.


Setelah itu dia mengambil baby Bell di gendongan Langit. Baby Bell terdiam saat ada di gendongan Abinya. Akan tetapi gantian baby Kai yang menangis. Seluruh keluarga sudah menggendong baby Kai tetapi baby Kai tak kunjung diam. Sepertinya baby Kai hanya ingin digendong Abinya saja.


Disaat itu pula baby Bell yang ingin tidur terbangun. Karena tangisan baby Kai. Dan terjadilah tangisan si kembar memenuhi ruangan keluarga itu. Seluruh orang yang ada di sana bingung harus bagaimana. Berbanding terbalik dengan perempuan yang duduk di sofa dengan santai sambil memainkan peran karet di lidahnya. Perempuan itu idak perduli dengan keriuhan yang terjadi. Arsy berdiri dari duduknya sambil merapikan pakaiannya.


Rencananya kali ini pasti berhasil, melihat situasi yang terjadi sekarang.


"Bun! Ayi—" Bunda segera memotong ucapan Arsy. "Ayi, coba gendong Baby Bell, mungkin saja akan diam!"

__ADS_1


Arsy tercengang karena perkataan Bunda. "Tapi Bun, Ayi ingin bertemu dengan teman Ayi!" Kilah Arsy.


"Enggak ada tapi-tapian!" ujar Bunda sambil meletakkan Baby Bell digendongnya Arsy.


Arsy tersentak karena ulah Bundanya, yang menurutnya terlalu memaksakan kehendaknya.


"Loh ...loh Bun! Ini gimana caranya Ayi enggak tahu cara gendong Baby!"


"Duduklah!" titah Bunda Cahaya.


Arsy pun duduk di sofa, mengikuti perintah sang Bunda.


"Bun, teman Ayi sudah nunggu Ayi!"


"Diam!" Bunda membentak anaknya.


'Baiklah! Sekarang aku akan mengikuti apa yang Bunda inginkan. Setelah itu aku akan pergi dari sini. Jika saja Bunda yang penyayang saja si baby menangis. Apalagi aku, pasti tidak akan berhenti menangis' batin Arsy tersenyum, memikirkan apa yang akan terjadi.


Bunda pun meletakkan baby Bell dipangkuan Arsy.


"Oek ...oek!" Baby Bell menangis saat sudah ada dipangkuan Arsy. Arsy tersenyum lebar karena apa yang ia bayangkan menjadi nyata.


"Tuh, Bun! Dia tetap nangis kan!" Arsy menatap Bunda.


"Coba tepuk pantatnya pelan-pelan, berikan sedikit goyangan agar si baby diam!"


Arsy menuruti perintah Bunda Cahaya.


"Tetap saja Bun!" Katanya.


"Elus-elus pucuk kepalanya! Dan bilang cup ...cup!" Bunda Cahaya mengajari putrinya untuk menenangkan bayi.


Seluruh penjuru menatap kearah Arsy. Tak terkecuali Harjunot, yang sedang menggendong baby Kai.


"Cup ...cup!" Arsy melakukan apa yang Bunda arahkan.


Entah mengapa baby Bell terdiam saat Arsy. Menimang-nimangnya. Arsy sangat shock karena bayi yang ia gendong tertidur pulas. Berbanding terbalik dengannya, seluruh orang yang ada di sana bernapas lega.


"Bunda, kok dia diam?" tanya Arsy dengan mimik wajah polos. Dan menatap bayi yang ada dalam gendongannya.


Semua orang terkekeh karena perkataan Arsy. Hanya satu orang yang bermuka datar, siapa lagi jika tidak Abinya si baby.


"Berarti baby Bell, nyaman ada didalam dekapan Ayi saja!" Papa tersenyum.


Arsy tercengang mendengar perkataan Papanya.


'Huwa dia nyaman di gendongan ku.Tapi aku tidak nyaman dengan keadaan ini. Rencanaku buat ke Bar hilang begitu saja' batin Arsy menangisi keadaannya.


Arsy menatap wajah baby Bell yang tertidur dengan mulut terbuka.


'Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana aku bisa keluar dari sistuasi yang terjadi sekarang. Tuhan! Kenapa bayi ini tidak menangis saja. Huwaaaa! Rencanaku gagal huwaaaa! Tunggu dulu, aku tahu gimana caranya. Keluar dari sistuasi seperti sekarang' batin Arsy tersenyum setelah tadi batinnya menangis.


'Hanya dengan cara ini saja aku bisa keluar. Kalau aku mencubitnya pasti nangis' batin Arsy tersenyum, memikirkan rencana yang ia siapkan

__ADS_1


...***...


__ADS_2