Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Saltyping Bikin Salting


__ADS_3

Harjunot mengambil ponselnya disaku nya, sepertinya setan berhasil memprovokasi Harjunot. Setan kalau ingin ngajak kedalam kesesatan pasti awalannya di lurusin dahulu. Setelah lurus, setan akan berusaha untuk membelokkan manusia agar melakukan apa yang Allah tidak ridha. Atau bisa dibilang talbis tipu daya iblis. Tapi kembali lagi, di dalam Al-quran, Allah banyak menerangkan tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. Dalam QS. Al-Isra'17: Ayat 97. (Dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang Dia sesatkan maka engkau tidak akan mendapat penolong-penolong mereka salain Dia) Dalam QS. Al-Baqarah 2: Ayat 272. Allah seakan bilang bahwa hanya Dia-lah yang mampu memberikan petunjuk tidak satupun dimuka bumi ini yang bisa memberikan petunjuk. Ayat itu berbunyi (Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki) Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga menerangkan dalam surah. Qs. Al-An'am 6: Ayat 125. QS. Az-Zumar 39: Ayat 41.


 


 


Perlahan Harjunot mulai memijit layar ponselnya, satu kontak ia tekan. Tak lama panggilan telah terhubung dengan orang yang bisa membawa dia dalam kebaikan atau kesesatan.


 


“Apa Not?”


Harjunot menelan ludahnya, apa keputusannya yang ia ambil itu benar. Jangan sampai keputusan yang, ia ambil membawa rasa sesal yang amat dalam. Harjunot takut jika itu adalah bisikan setan laknat.


 


“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan-setan yang terkutuk,” gumamnya pelan, akan tetapi orang yang ada di ponsel bisa mendengar meski tidak jelas.


 


“Kurang ajar kau Not, kau menelpon hanya mau bilang setan kepadaku? Pakai doa segala, ngapain bilang berlindung dari setan-setan terkutuk. Kalau kau hanya mau menghinaku seperti itu, tidak usah kau telpon aku. Biar kamu tidak terkena godaan setan!” Cerocos dari ponsel, membuat Herjunot menjauhkan ponselnya dari telinga.


 


“Anda salah paham! Mana berani saya bilang.” Harjunot memberikan jeda sejenak, sebelum bicara kembali. “Anda setan!” Raut wajah seseorang yang sedang duduk di kursi kerjanya sangat geram, karena Harjonot menjawab. Dengan jeda, membuat ia berpikir jika Harjunot memanggilnya setan.


 


“Katakan, kenapa bujang menelpon!” Suaranya terdengar mengolok-olok bahkan sampai tahap sindiran.


 


Sedangkan Harjunot memasang wajah datar, karena olok-olok dari lawan bicaranya.


 


“Hey bujang, apa yang kau pikirkan!”


 


“Saya ingin minta nomer telpon putrinya, Pak Dirut!” Harjunot memejamkan matanya, rasa malu sudah menjalar ke sekujur tubuhnya. Entah apa yang akan dipikirkan oleh Black.


“Apa?” Teriaknya terkejut bukan kepalang. Bagaimana mungkin lelaki yang ia kenal tidak pernah akrab dengan lawan jenis. Siang-siang tidak ada angin topan, meminta nomer keponakannya.


 


“Wah Not! Ada apa denganmu? Enggak ke sambar halilintar?”


Harjunot hanya diam, dia bingung harus menjawab apa. Pertanyaan Black tidak ada bedanya dengan polisi saat bertanya pada buronan.


 


“Not! Itu telinga masih ditempatnya kan? Apa kamu budek sekarang?”


 


“Ah …tentu saja tidak. Sebenarnya, saya hanya ingin bilang terima kasih, kepada dia!”


 


“Terima kasih? Buat apa? Emang Ayi, ngasih apa ke kamu?”


 

__ADS_1


“Tidak apa-apa?” Harjunot enggan menceritakan apa yang sebenarnya.


“Minta saja langsung kepada atasanmu itu,” cetus Black.


 


“Jangan bilang kau tidak berani! Kalau mau deketin anaknya deketin Papanya dahulu!” Setelah itu Black memutus sambungan telpon.


 


Sedangkan Harjunot mengumpat kesal, tidak berguna telponan lima belas menit tapi hasil nol besar.


... ***...


Harjunot memutuskan untuk menelpon atasannya, entah apa yang akan ia bicarakan.


“Assalamu'alaikum!” Salam Harjunot kepada orang yang ada didalam ponselnya.


 


“Wa'alaikumusalam! Ada apa Not?”


 


“Ah …begini saya hanya ingin bilang terima kasih. Kepada putri Pak Dirut, karena sudah repot membuatkan salad!” Harjunot tidak bisa mengutarakan apa yang sebenarnya, ia ingin sampaikan.


Lelaki tiga puluh tiga tahun itu. Merasa tidak enak untuk meminta dua belas angka dari atasannya. Dia takut jika Langit curiga kepadanya.


 


“Tentu, nanti aku sampaikan kepadanya. Maaf Not, sekarang aku ada dijalan jadi tidak bisa bicara banyak!” Harjunot kembali lagi kecewa, kali itu dia berpikir jika atasannya akan bilang 'Mendingan aku kirim nomer putriku. Lebih enaknya kau bilang sendiri'.  Harjunot nampak kesal karena hari itu, ia tidak bisa mendapatkan nomor yang ia incar.


 


Masya Allah! Kenapa wajah yang tadi kesal setelah membuka pesan mejadi cerah bak mentari yang terbit di pagi hari.


 


Sebuah pesan yang mengirimkan satu kontak atas nama Ayi. Pengirimnya adalah Black, benar-benar si Black solmed banget dengan Harjunot. Black sangat mengenal Langit, jadi dia tahu. Jika Langit tidak akan memberikan nomer Arsy kepada siapapun. Black merasa iba dengan Harjunot ia pun tidak bisa menolak permintaan sahabatnya.


 


Harjunot menekan kontak atas nama Arsy, perlahan ia masuk ke layar utama WhatsApp di sana tertulis message. Herjunot mengetik-ngetik kirim, dua kali setelah itu ia mematikan layar ponselnya karena Pak Agas memanggilnya. Pak Agas paruh baya yang bertugas sebagai penanggung jawab dalam pengendalian mutu pelaksana lapangan, prosedurnya serta kualitas material yang benar-benar sempurna. Di lapangan beliau ini menekan para mandor/subcont untuk melakukan pekerjaan dengan hasil yang sempurna. Paruh baya itu sepertinya ingin berbicara dengan Harjunot.


 


“Iya Pak!” Harjunot menunduk sebagai penghormatan untuk paruh baya itu.


Kedua lelaki itu bicara panjang dan lama, tak jarang Pak Agas memperingatkan dan menegur kesalahan yang Harjunot lakukan. Harjunot hanya diam dan mendengarkan, mencatat kesalahan yang ia lakukan di otak agar kedepannya tidak salah.


"Saya harap kesalahan ini tidak terulang lagi." Pak Agas menepuk pundak Harjunot pelan.


"Iya Pak! Saya akan menjadikan pelajaran untuk kedepannya."


...***...


Disisi lain perempuan itu sedang bangun dari tidurnya, kepalanya terasa sakit rasa dingin menyeruak ke sekujur tubuhnya. Alat pemanas ruangan sudah dihidupkan. Arsy mengambil ponselnya yang ia taruh dilaci. Perlahan layar ponsel itu terang, Arsy telah menghidupkannya. Dahinya mengkerut saat melihat nomer yang tidak ia kenal mengirimkan dua pesan untuknya.


"Aneh sekali, kenapa ada yang chat?" Gumam Arsy pelan, tangannya mulai menekankan kontak itu. Arsy melotot saat membaca pesan itu.


[Sayang, mau bilang makasih!] Pesan pertama.


[Sayang, ingin bilang semoga cepat sembuh!] Arsy mulai membuka profil kontak itu, di sana photo profilnya adalah motor Kawasaki hitam. Kini mata Arsy menatap pojok kanan yang tertulis nickname pemilik ponsel.

__ADS_1


"Harjunot!" Arsy terkejut saat melihat pemilik nomor itu. Entah mengapa dia menjadi malu, saat mengingat pesan yang Harjunot kirim.


Disisi lain Harjunot sedang mengecek ponselnya. Harjunot membuka aplikasi WhatsApp. Dan kembali mengecek apa pesan yang ia kirim sudah dibalas. Harjunot menatap centang dua abu, berarti kemungkinan belum dibaca. Tangannya membuka kontak atas nama Arsy Latthif! Harjunot membaca pesan yang ia kirim.


Lelaki itu terkejut karena pesan yang ia kirim typo. Segera ia menghapus pesan itu. Betapa terkejutnya Harjunot saat melihat status typing.


[Saya sudah baca!] Harjunot membaca pesan yang baru dikirim Arsy. Lelaki itu sangat malu dan tersipu karena jawaban Arsy.


[Maaf Sayang] Harjunot mengirimkan pesan itu buru-buru.


Harjunot membaca kembali, dia segera menghapusnya karena typo.


Sedangkan Arsy yang sudah membaca, hatinya berdesir karena pesan yang Harjunot kirim.


Berbanding terbalik dengan Harjunot yang kesal karena typo. Kenapa keyboard ponselnya tidak bisa diajak kompromi.


Yang selalu ia tepis jauh-jauh jika hatinya main rasa dengan perempuan yang ada didalam mimpinya.


[Panggil saja aku, kalau typo jadi...] Harjunot membaca pesan yang Arsy kirim.


[Jadi?] Harjunot membalas kembali.


Sedangkan Arsy yang membaca dia tidak tahu menjawab apa. Tapi otak Arsy lebih pintar dan berguna saat urgent seperti siang itu.


[Jadi Anda tidak perlu menghapus pesan karena typo!]


[Sebenarnya tadi aku mau bilang maaf typo. Eh, yang typo ketinggalan] Harjunot mengirim sambil memberi emoticon miring sambil nangis.


[Hmmm! Kok dapat nomor dari mana?]


[Dari Pak GM! Eh ...maaf ganggu orang sakit.]


[Oh...! Cuma sakit enggak sekarat. Jadi masih bisa balas chat!]


Entah mengapa Arsy nampak baik-baik saja, setelah berbalas pesan dengan Harjunot. Sepertinya badannya yang dingin sudah hilang. Menjadi rasa nyaman, entah karena penghangat ruangan atau karena jasa chating dengan bujang.


[Emmm! Jangan bicara buruk. Karena ucapan adalah doa. Selamat istirahat ya!] Arsy yang membaca pesan dari Harjunot dia kembali lemah karena chatting itu telah berakhir.


...***...


 


 


 


 Thanks sudah mau baca karya amburadul dari aing😊.


Sehat-sehat kalian di sana😘


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2