
"Papa! Ayi katanya! Ngapain-ngapain sama temen, Papa!" Kafka mengadu.
"APA?" Langit dan Cahaya berteriak.
"NOT!"
Harjunot menelan ludah kasar, karena atasannya seperti orang yang mau menelan orang mentah-mentah.
"Saya enggak ngapa-ngapain, putri Pak Dirut!" Harjunot bicara sesuai fakta.
"Tapi kenapa, Ayi bilang seperti tadi?" Kafka menatap kedua orang itu bergantian.
"Terus, kenapa Anda pakai baju Papa saya?" Kafka memberi pertanyaan kembali.
"Otakmu saja Ka! Ngawur, kemana-mana. Orang yang aku maksud, kita ngapa-ngapain itu, maksudnya kita sholat, kita makan dan kita berbincang."
"AYI!" Kafka berteriak karena di prank Kakaknya.
Sedangkan Harjunot, tidak habis pikir. Dia sudah takut, dapat bogeman. Ternyata Arsy ngeprank si Kafka.
"Prank!" Arsy terkekeh sambil lari kearah lift, karena adiknya mengejar.
"Dasar Kakak laknat!" Kafka berlari, sambil masuk lift.
"Maaf Not, tadi aku berteriak padamu. Jika saja kau ngapa-ngapain putriku, aku tidak segan meminta pertanggung jawaban." Langit duduk di sofa.
Sedangkan Harjunot hanya berdiri, Arsy benar-benar membuat dia dalam masalah.
"Duduklah!" Langit menyuruh Harjunot duduk.
"Terima kasih! Karena tadi, kau memberi tahuku. Jika putriku, bersamamu!"
"Sama-sama, tapi harusnya saya minta maaf. Karena saya memaksa dia, untuk bareng sama saya. Jadinya dia kehujanan!" Harjunot merasa bersalah karena dia tidak bisa menjaga Arsy.
"Hmmm!" Setelah berbincang cukup lama. Harjunot memutuskan untuk pulang.
"Kalau begitu saya pamit undur diri Pak!" Harjunot berdiri sambil memakai ranselnya.
"Hati-hati Not! Jangan ngebut, jalanan licin!" Langit menepuk pundak Harjunot.
Harjunot mencari seseorang, tapi dia tidak menemukan orang yang ia cari.
Harjunot sudah menaiki motornya, bahkan tinggal tancap gas motornya juga jalan.
"Mari Pak!" Harjunot mengangguk kearah Langit.
Setelah itu Harjunot meninggalkan kediaman Langit.
...***...
"Ayi!" panggil Kafka yang berdiri di samping Kakaknya dan menatap kepergian Harjunot.
__ADS_1
"Hmmm!"
"Ayi! Suka dengan orang tadi?" Kafka bertanya seolah mencari tahu.
"Bulsit, baru kenal sudah suka. Ya enggaklah Ka!"
"Terus kenapa, Ayi dekat dengan orang itu?"
"Ayi enggak ngerasa begitu." Arsy bicara apa yang ia rasakan.
"Masa?"
"Ka! Aku hanya menghargai dia, karena dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Jadi, aku mau membalas kebaikannya dengan cara menawarkannya, untuk sholat disini."
"Terus ngapain, tadi Ayi! Bilang makan bersama? Seingat aku, Bunda! Tidak membuat makanan, sebelum kita ke rumah Kakek! Ayi, masakin dia?" Kafka bertanya sambil menatap Arsy.
"Masalah itu? Benar! Aku masakin dia, semua itu ada alasannya." Arsy menjawab sambil meninggalkan adiknya.
"Apa alasannya?" Kafka mengejar Kakaknya.
"Rasa iba, dia puasa jadi aku kasihan!"
"Bener?" Kafka bertanya memastikan, sepertinya Kafka tidak suka jika sang Kakak mudah jatuh hati.
"Iya!"
“Enggak ada yang lain kan?” Kafka sudah ada didepan Kakaknya.
Arsy sudah berbaring di ranjang, matanya menatap cardigan warna hitam, yang digantung di tembok. Bibirnya tersenyum tipis, saat menatap cardigan itu.
"Dia sangat beda!" Bibirnya berbicara.
"Jarang sekali, ada lelaki yang seperti dia." Arsy memeluk erat guling nya.
"Dia juga bisa bercanda!" Menginat bagaimana Harjunot, bercanda saat di halte.
“Hey …Arsy! Kenapa kau memikirkan orang itu!” Arsy mengubah posisinya kemudian memejamkan matanya.
...***...
Sedangkan disisi lain Harjunot sedang ada di kamarnya, sambil membuka laptop. Sesekali menghisap rokoknya yang masih utuh.
“Sangat membosankan!” Harjunot bicara sambil menutup laptop tipisnya itu.
Harjunot berjalan kearah meja dan mengambil ranselnya. Kemudian mengambil kotak makan didalam ranselnya.
“Aku sampai lupa, jika roti ini belum aku makan!” Harjunot meletakkan kotak makan itu di atas meja.
Tapi tangan Harjunot kembali masuk ke ransel. Sepertinya Harjunot mencari sesuatu.
“Apa? Yang benar saja! Kenapa bajuku tidak ada?” Harjunot menjungkir balikkan ranselnya.
__ADS_1
“Apa iya? Bajuku masih ada di rumah Pak Dirut?”
“Benar! Saat perempuan itu bilang, untuk tidak usah mengganti baju . Aku lupa mengambil bajuku dikamar mandi!” Harjunot mengacak rambutnya kasar.
“Terus …bagaimana aku mengambilnya?” Harjunot membuang ranselnya dengan kesal.
Akan tetapi matanya melihat secarik kertas, yang terjatuh dari ranselnya.
“Punya siapa ini?” Harjunot berjongkok sambil memungut kertas itu. Membuat Harjunor mengerutkan keningnya
“Seingat ku! Aku tak pernah, menyimpan kertas ini!” Harjunot membalikkan kertas itu.
Di sana tertulis, nama pemilik kertas itu.
“Untuk Latthifu!” Harjunot membaca tulisan itu.
“Latthifu? Apa ini dari pemuda tadi? Seingat ku, tadi dia memanggil perempuan itu dengan panggilan Thifu!” Menggaruk pelipisnya dengan telunjuk. Layaknya seorang yang ingin mencoba memahami sesuatu.
Raut wajah Harjunot, nampak berubah. Setelah menemukan kertas itu, didalam lubuk hati yang paling dalam. Harjunot ingin mengetahui, apa isi surat itu. Akan tetapi dia tak memiliki hak untuk membacanya.
“Sebenarnya, apa yang pemuda itu tulis?” Harjunot berpikir keras, kemudian berjalan kearah ranjang dan duduk di sana.
“Ah …sudahlah! Aku tidak boleh kepo dengan urusan orang lain.” Harjunot meletakkan kertas itu di atas laci. Setelah itu, Harjunot memposisikan untuk tidur.
Lelaki itu tertidur sambil meletakkan lengan kanan
Untuk menutupi wajahnya. Belum juga dua menit, lelaki itu sudah merubah posisinya menjadi miring ke kiri, sambil memeluk guling.
“Hah! Kenapa aku tidak bisa tidur juga?” Herjunot memiringkan badannya ke kanan.
Matanya menatap surat yang ada di atas laci, entah mengapa dia membuang napas kasar saat melihat surat itu.
Harjunot yang tadinya berbaring, lelaki itu memutuskan untuk bersandar di kepala ranjang. Tangannya perlahan mengambil surat itu.
“Sebenarnya, apa yang tertulis dalam surat ini?” Harjunot membolak-balikan surat itu.
“Karena surat ini, aku dibuat tidak tidur karena penasaran!” Harjunot memijat pelipisnya.
“Huft! Baca enggak ya? Tapi kalau aku baca, ini terkesan lancang! Tapi kalau enggak baca, aku akan tetap penasaran!” Harjunot bicara seperti orang bingung. Tanpa sadar, tangan Harjunot membuka kertas itu perlahan.
Tiffu! Gua minta maaf, karena gua enggak berani bilang ke lu secara langsung.
Mungkin lu, akan menilai bahwa gua, bukanlah lelaki yang gentleman. Jika lu tanya, kenapa gua memilih untuk menulis surat ini? Maka jawabannya adalah gua enggak sanggup melihat dan mendengar jawaban yang akan lu beri. Tiffu! Sudah lama, gua memendam perasaan kepada lu. Jika lu bertanya kapan, gua jatuh cinta? Maka jawabannya saat umur lu dua belas tahun. Gua sangat kehilangan lu, saat lu memutuskan kuliah di Malaysia. Saat itu lu sudah berumur, enam belas tahun. Sedangkan gua sudah berumur dua satu. Disitu gua semakin mengerti, bahwa gua benar-benar jatuh cinta dengan lu. Tiffu, apa lu juga sama halnya dengan gua? Yang memendam perasaan dengan teman kecilnya. Sungguh, Tiffu kalau iya. Gua benar-benar bersukur. Tolong Tiffu, jawab dengan cara temui gua di kantin sekolah besok.
TTD
Ahmad Rasya Aufan.
Harjunot meremas surat itu, kemudian membuangnya ke sembarang arah.
...***...
__ADS_1