
Harjunot keluar dari kamar mandi, sambil mengeringkan rambutnya. Lelaki itu sadari sore belum mandi. Dia berpikir jika setelah mandi akan membantu istrinya untuk mandi. Harjunot meletakkan handuknya dikursi. Kemudian berjalan kearah istrinya yang terbaring. Harjunot memutuskan untuk duduk disamping istrinya.
"Fitri! Andai kau bisa bicara, aku akan mendengar ocehanmu! Tidak papa meskipun telingaku harus sakit!" Harjunot kembali mengeluarkan air matanya.
Tidak mudah, cobaan yang Harjunot harus lewati. Dan tidak semua orang bisa menerima cobaan yang Harjunot miliki.
Harjunot mulai membantu istrinya untuk bangun. Setelah itu Harjunot duduk kembali didepan istrinya. Kedua tangannya ingin mencopot kaca mata hitam itu. Jantungnya berdetak kencang, karena detik itu juga. Dia akan melihat mata istrinya. Perlahan-lahan Harjunot mencopot kaca mata hitam itu. Disana Harjunot sudah bisa melihat mata Fitri terpejam rapat. Akan tetapi saat Harjunot menatap mata istrinya lekat, mata perempuan itu mulai membuka. Harjunot diam, entah mengapa bibirnya kelu. Manik mata coklat itu, menatap manik mata berwarna hitam. Tanpa berkedip sedikitpun. Harjunot dan Fitri saling beradu tatapan. Harjunot terlihat seperti orang linglung, saat melihat mata berwarna cokelat itu tidak seperti penyandang tunanetra.
"Fit!" Panggilannya lembut, perempuan itu memejamkan kedua matanya dan membukanya kembali seolah menjawab panggilan dari suaminya.
Harjunot masih belum sadar seratus persen. Itu hayalannya atau memang apa yang ia lihat benar adanya. Tanpa sadar kedua tangan Harjunot sudah ada dibelakang kepala Fitri. Satu tarikan niqab yang digunakan buat menutupi wajah istrinya. Perlahan terlepas dan jatuh dipangkuan Fitri.
Harjunot tertegun saat melihat wajah istrinya itu, dia mundur dari duduknya dan menjauh dari istrinya.
Perempuan itu tersenyum tipis, bibir tipisnya yang merah alami itu menyapa Harjunot.
"Fi-fitri? I-ini ka-mu?" Harjunot bertanya, dia seolah lupa jika Fitri tidak bisa mendengar.
Perempuan itu mengangguk pelan, seolah membenarkan.
Harjunot lagi-lagi terbengong, dia baru sadar bukannya istrinya itu tuli. Lantas mengapa bisa mendengar perkataannya.
"Fi-fitri kau bi-sa men-dengar-ku?" Entah mengapa Harjunot selalu bertanya padahal dia tahu jika istrinya tidak akan menjawab karena istrinya bisu.
"Iya Mas!" Suara itu terdengar halus nan lembut ditelinga Harjunot.
__ADS_1
Harjunot lagi dan lagi dibuat ternganga oleh kebenaran itu.
Harjunot menggeleng cepat, dia segera menepis hayalan itu. Lelaki itu memejamkan matanya dan membukanya kembali, untuk menyadarkan dirinya, jika itu hanya hayalan saja. Tapi apa yang ia lihat masih tetap sama, yaitu mata Fitri yang menatapnya. Dan dia juga melihat senyuman yang terukir jelas dibibir istrinya. Dan bibir Fitri bergetar seolah ingin bicara. "Mas Arjunot, kenapa?" Fitri bertanya sambil memegang tangan suaminya itu.
Harjunot tersentak, karena pertanyaan itu.
"Apa aku ini bermimpi?" Harjunot ingin memukul pipinya keras. Fitri yang melihat hal itu, segera mencekal tangan suaminya agar tidak memukul pipinya sendiri.
"Mas Arjunot! Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu, termasuk dirimu sendiri!" Fitri berbicara lembut sambil meletakkan tangan kiri Harjonot dipaha.
Harjunot terdiam, kenapa istrinya bisa berbicara dan mendengar.
"Fit! Kamu tidak buta? Kenapa kamu bisa mendengar? Dan kamu ju-juga bisa bicara? Harjunot menangkup wajah istrinya yang berkarismaitu. Jika digambarkan seperti apa wajah Fitri dan tubuh Fitri maka jawabannya begitu menawan nan anggun, bentuk wajahnya oval, dagunya lancip. Hidungnya tinggi, tatapan matanya tajam berwarna coklat muda, bulu matanya lentik tidak terlalu kerap dan tinggi badannya sebatas pundak Harjunot.
"Alhamdulillah! Semuanya masih bisa berguna!" Fitri menjawab lembut.
"Apa yang ingin Mas Arjunot, tanyakan? Fitri akan menjawab dan akan menjelaskannya!"
"Aku tahunya, kamu buta, tuli dan bisu! Terus apa semua ini? Kau tidak memiliki kekurangan itu semua, kenapa Nenek, membohongi keluargaku Fit?" Harjunot membuang pandangannya.
Fitri tersenyum tipis, melihat tingkah suaminya yang kekanak-kanakan itu.
"Mas Arjunot! Kalau tanya, itu lihat orangnya!" Harjunot melirik kearah Fitri.
"Nah, aku akan jelaskan. Sebenarnya apa yang Nenek, katakan itu tidak salah! Hanya saja, pandangan Nenek dan keluarga Mas Arjunot! Mengenai makna buta, bisu dan tuli. Berbeda dengan pandangan yang Nenek, maksud! Nenek tidak bermaksud membohongi keluarga Mas Arjunot! Hanya saja keluarga Mas Arjunot yang salah paham!" Jelas Fitri.
__ADS_1
"Salam paham, bagaimana maksudnya? Nenek disana, bilang jika cucunya cacat! Dia juga bisu, buta dan tuli?" Harjunot menatap wajah istrinya.
"Begini nih, Mas! Fitri jelaskan ya?" Fitri memperbaiki posisi duduknya, agar kalau bercerita dengan suaminya nyaman.
"Pertama! Kenapa Nenek, bilang aku buta! Ini dari sudut pandang Nenek, loh Mas! Bukan menurut Fitri!
Itu karena, beberapa tahun terakhir ini, aku jarang melihat sesuatu yang bikin mataku rusak, artinya Tuhan, menghindarkan aku dari zina mata!" Harjunot mendengar dan mengangguk paham.
"Yang kedua! Jawaban sama seperti yang tadi! Intinya adalah karena Allah, yang menjaga pendearan ku agar tidak mendengar sesuatu yang tidak, Dia ridhai! Dan yan ketiga, juga masih sama. Sebisa mungkin aku, menjaga lisanku. Tak bisa dipungkiri, jika manusia akan terkena yang namanya. Zina Al-Laman! Zina yang dilakukan dengan menggunakan panca indera. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: Telah diterapkan bagi anak-anak Adam yang pasti terkena, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berkata-kata, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah berjalan, hati zinanya adalah keinginan (hasrat) dan yang membenarkan dan mendustakannya adalah kem@luan. (HR. Muslim)" Fitri menjeda ucapannya sejenak. "Sebenarnya aku itu manusia biasa, tapi Nenek, selalu bilang Fitri kamu wanita baik! Fitri kamu sempurna! Padahal di dunia ini tidak ada yang sempurna, hanya Allah azza wa jalla! Yang Maha Sempurna. Dan manusia yang paling sempurna adalah Rasulullah!" Harjunot tersenyum tipis mendengar penjelasan istrinya. Dia berpikir jika Tuhan, begitu baik memberikan istri sebaik Fitri sudah gitu tahu agama. Dan selalu berkata lembut.
"Terus, kenapa Nenek! Bilang cucunya cacat? Dan kenapa wajahmu tidak seperti orang Indonesia? Sebenarnya kamu turunan mana Fit?" Harjunot ingin tahu sesuatu yang belum ia ketahui mengenai siapa Fitri yang sebenarnya.
Fitri menunduk karena pertanyaan suaminya itu. Matanya berkaca-kaca, karena pertanyaan yang suaminya lontarkan padanya.
Harjunot menundukkan wajahnya, untuk melihat istrinya. Kenapa Fitri diam dan menunduk.
"Fit! Kau baik-baik saja?" Harjunot menyentuh pundak istrinya lembut.
Fitri mulai mengangkat kepalanya perlahan, dan saat itu Harjunot mendudukan wajahnya, membuat pasangan itu saling tatap.
"Mas Arjunot! Ingin tahu?" Harjunot mengangguk.
Fitri menarik napas kemudian membuangnya perlahan, sebelum mulai angkat bicara.
"Cacat yang dimaksud Nenek! Adalah..." Harjunot menunggu jawaban istrinya, entah mengapa jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
...***...