
Didepan ruangan operasi, paruh baya itu nampak cemas.
"Black! Apa yang bisa kita lakukan?" Langit bertanya dengan wajah datarnya.
"Aku tidak tahu Bang, kenapa semua ini terjadi mendadak?" Black nampak frustasi dengan keadaan sore itu.
"Black! Telpon dia, tanya ada dimana sekarang!" perintah Langit sambil mengacak rambutnya.
Black pun langsung berlari meninggalkan Langit untuk menelpon seseorang.
"Not! Sekarang kau ada dimana?"
Black terdiam mendengar jawaban dari ponselnya.
"Menepilah sebentar, aku ingin membicarakan sesuatu padamu!" tukasnya lagi.
Setelah hampir dua menit, Black diberi tahu. Jika sahabatnya itu sudah melakukan apa yang ia inginkan.
"Yang tabah ya Not!"
"Apa maksud Pak GM! Kenapa harus tabah? Tidak ada masalah kan Pak?" Harjunot bertanya dengan nada yang tidak bersahabat.
"Fitri! Not!" Black menggantung ucapannya. Dia takut jika sahabatnya sangat terpukul dengan kabar duka sore itu.
"Fitri! Kenapa Fitri, Pak?" Hati Harjunot seakan berhenti berdetak. Saat sahabatnya memanggil nama istrinya. Perasaan tak karuan itu kembali muncul. Sekilas perkataan Fitri kembali berputar diotaknya. 'Silahkan, silahkan pergilah! Tapi ingat satu hal! Jangan nyesel'.
Dadanya sudah sesak, kini kedua kakinya menjadi lemas. Saat perkataan istrinya terus terdengar di telinganya.
"Not! Istrimu telah kembali!"
Betapa kagetnya Harjunot saat mendengar perkataan Black. Kini kakinya sudah tak sanggup menahan beban. Harjunot tersungkur dengan mata berkaca-kaca. Dia memejamkan matanya, yang ada hanya penyesalan. Dia menyesal tidak mau menuruti permintaan istrinya. Dadanya sangat sesak, nafasnya tersengal-sengal
"TIDAK!" Harjunot berteriak histeris sambil menatap langit.
...***...
Sedangkan Black mendengar teriakkan itu, dia sangat shock.
"Not! Kau masih mendengar ku?" Berasa tidak ada jawaban. Black semakin resah karena Harjunot tidak menjawab.
__ADS_1
"Not! Hei, katakan kau mendengarku tidak?"
Harjunot yang ada disebrang sana. Dia meletakkan ponselnya ditelinga.
"Iya, Pak saya masih mendengar!" ujarnya seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Katakan kamu dimana sekarang! Aku akan menjemputmu, aku tidak mau kau berkendara saat keadaan mu tidak setabil!"
Setelah mendapatkan jawaban dari Harjunot. Black langsung berlari kearah Langit.
"Bang, aku dan Gibril akan menjemput Junot! Abang tolong tangani yang ada disini!" Black berbicara sambil memejet ponselnya.
"Baiklah, Gibril juga sudah jalan kesini. Tadi aku sudah menelponnya!"
...***...
Disisi lain Harjunot masih merasa shock dengan kabar kepergian sang istri.
" Kenapa ini terjadi, Tuhan! Disaat aku sudah benar-benar mencintainya. Kenapa Engkau mengambilnya! Disaat aku sudah bisa menempatkan dia wanita satu-satunya dihatiku. Sekarang —" Harjunot tidak melanjutkan perkataannya. Lelaki itu menundukkan kepalanya meratapi takdir yang seenaknya mempermainkan cintanya. Harjunot terkekeh getir mengingat apa yang telah ia alami.
"Sangat lucu! Hahahaha!" Harjunot tertawa seolah kehilangan akal sehatnya.
"Anakku! Bagaimana dia? Apa dia selamat?" Harjunot bertanya kepada dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu, kenapa GM tidak memberi tahuku. Tentang anakku, haaaa!" Harjunot menjambak rambutnya kasar.
...***...
Sedangkan Black mencari keberadaan Harjunot. Pria itu memutuskan untuk turun dari mobil. Matanya menemukan sosok yang ia cari. Lelaki berbaju putih dengan lengan digulung. Punggungnya bergetar. Black berjalan mendekati lelaki itu. Kemudian menepuk pundak lelaki itu dengan lembut.
Harjunot yang merasakan ada yang menepuk pundaknya. Dia membalikkan badannya. Setelah tahu jika yang menepuk pundaknya adalah Black. Lelaki itu segera menghamburkan tubuhnya kearah Black. Black pun menerimanya dengan senang hati. Dia mengelus punggung Harjunot.
"Not! Kamu kuat!" Black sangat iba dengan kondisi sahabatnya itu.
"Kenapa ini terjadi pada saya, Pak? Kenapa Fitri, meninggalkan saya sendiri! KENAPA?" Harjunot teramat terpukul dengan kondisi seperti sore itu.
"Kata siapa kamu sendiri Not?" Black masih memeluk tubuh Harjunot, sedangkan tangannya ia gunakan buat membelai rambut sahabatnya.
"Not, kedua buah hatimu ada bersamamu! Sekarang mereka membutuhkanmu! Jangan bersedih hati Not. Ikhlaskan istrimu, dia rela mempertaruhkan nyawanya. Karena ingin buah hati kalian, merasakan dunia ini. Meski dia tidak bisa mendampingi si kembar, tapi pengorbanannya harus kamu hargai. Tidak mudah emang untuk mengikhlaskan. Tapi setidaknya, biarkan dia pergi dengan tenang. Tanpa beban, Not! Kita ke rumah sakit ya?" Black menangkup wajah Harjunot yang sembab.
__ADS_1
...***...
Setelah satu jam setengah perjalanan Harjunot sampai di rumah sakit. Lelaki itu langsung berlari ke kamar jenazah. Dia membuka kain putih yang menutupi jenazah istrinya. Dadanya sesak saat melihat wajah istrinya yang pucat.
"FITRIIIII!" Harjunot berteriak sangat keras sambil menghamburkan tubuhnya ke jenazah istrinya.
"Kenapa kau meninggalkan aku Fit? Aku mencintaimu Fit! Bagaimana aku bisa merawat anak kita. Tanpamu Fit! Katakan Fit!" Harjunot menangis sambil mencium wajah istrinya yang terbujur kaku.
"Not! Not istighfar!" Langit menarik tubuh Harjunot dan memeluknya.
"Kenapa harus aku yang ada diposisi ini Pak! Kenapa haaaa!"
"Junot! Istighfar Nak!" Kata Langit yang tidak pernah memanggil Harjunot dengan panggilan Nak.
Jangan tanya dimana keluarga Harjunot. Keluarga itu sangat terpukul atas kepergian Fitri. Ibu tidak sadarkan diri.Sedangkan kedua adik Harjunot menangis tidak ada yang bisa menenangkan. Cahaya sudah berusaha menenangkan tapi tetap saja itu tak berarti. Sedangkan Bapak, menemani Bu Dewi yang tidak sadarkan diri.
"Astagfirullah hal adzim!" Harjunot beristighfar berkali-kali mencari kekuatan.
"Minumlah!" Langit menyodorkan minuman untuk Harjunot.
...***...
Setelah hampir satu jam menuggu akhirnya jenazah Fitri sudah dimandikan. Kini mereka sudah ada diluar ruangan jenazah. Semua orang yang ada di sana. Dibuat bingung tentang nasib si kembar. Saat seluruh keluarga mengatakan Fitri ke peristirahan terakhirnya.
"Terus si kembar siapa yang menjaga. Jika kita semua pergi ke pemakaman?" tanya Langit.
"Biar saya yang menjaganya!" Suara datar itu memenuhi ruang tunggu.
Semua orang menatap kearah pemilik suara itu. Sosok perempuan berpakaian serba hitam dipadukan dengan sepatu boots dan kacamata hitam. Perempuan itu melepaskan kacamatanya.
...***...
...Saya mau bilang!...
...Kalau ceritanya kenggak nyambung!...
...MAAF...
...🙏🏻...
__ADS_1