Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Debat Yang Tidak Berujung


__ADS_3

Rasya keluar dari mobilnya, malam itu dia akan mengajak sahabatnya untuk pergi.


"Assalamu'alaikum!"


Setelah mendapatkan jawaban dari pemilik rumah. Ia pun masuk kedalam sambil mencium tangan orang tua sahabatnya itu.


"Begini Om dan Tante, maksud kedatangan saya kemari. Saya ingin mengajak putri, Om! Keluar untuk makan bersama!" Rasya menundukkan kepalanya tidak berani menatap Papa Langit.


"Kenapa tadi, tidak chat dulu Sya?"


"Sebenarnya tadi saya ingin begitu, tapi ponselnya lowbat!"


Arsy keluar dari lift dan berjalan kearah ruang tamu. Senyuman merekah menghiasi di bibirnya.


"Malam Pa! Bun!"


"Benar, Yi kalian mau jalan?" Bunda Cahaya langsung bertanya.


Sedikit ragu saat ingin menjawab pertanyaan dari Bundanya. "Emmm ...maaf Bun! Sebenarnya kami telah merencanakan hal ini sebelumnya!"


"Terus kalau sudah ada rencana, kenapa enggak bilang sama Papa?" Papa menatap kearah Arsy. Tatapan matanya menggambarkan ketidak sukaannya dengan sikap putrinya itu.


"Ayolah Pa! Biarkan Ayi, jalan-jalan! Toh dia juga baru pulang dari Muskowa. Mungkin saja Ayi, butuh refreshing menghilangkan penat. Ya kan Yi?" Kafka menghempaskan bokongnya di sofa.


Papa Langit menatap putra bungsunya. Dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Dengan satu syarat, kamu harus ikut dengan mereka!"


"Oh ... my God! Maaf Pa, aku tidak bisa ikut dengan mereka. Kaka harus belajar!" Kafka menjawab dengan tenang.


"Ini malam Minggu, besok kamu libur!"


"Aku ingin mempersiapkan diriku, karena hari Senin ada ulangan. Masalahnya ada dua mapel yang harus dipelajari!"


Papa Langit membuang napas dengan kasar. Sedangkan Bunda Cahaya, yang ada disampingnya mengelus pundak suaminya lembut. Langit menatap istrinya. Dia ingin mendapatkan persetujuan dari istrinya. Cahaya yang mengetahui isyarat dari suaminya. Ia menganggukkan kepalanya.


"Come on Pa! Kita mengenal Kak Rasya sudah puluhan tahun. Berikanlah kepercayaan padanya, selaku sahabat dari putri Papa!" Kafka menceletuk kembali.


"Baiklah, tapi ingat jangan pulang larut malam oke!"

__ADS_1


Mobil itu melaju meninggalkan rumah elit bergaya luar negeri.


"Kita ke restoran Sya?"


Rasya tersenyum tipis dan berkata. "Nanti juga tahu!"


...***...


Sepasang suami-istri itu sedang bergandengan tangan. Sesekali mereka tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Ada ninja!" Wanita itu tersenyum sinis menatap perempuan serba hitam.


Harjunot mengepalkan tangannya karena seseorang telah mencaci istrinya. Lelaki itu ingin melangkah menghampiri wanita yang tadi menghina istrinya. Dengan cepat Fitri memeluk lengan suaminya. Agar tidak emosi dan membuat keributan.


"Lepaskan Fit! Orang seperti itu harus diberi pelajaran," ujarnya sambil mencoba melepaskan tangan istrinya yang ada di lengannya.


"Sabar Mas! Jangan mudah emosi. Coba pikirkanlah apa yang akan terjadi. Jika Mas Arjunot, memarahi dia. Masalahnya kita sekarang ada di khalayak umum. Aku enggak mau, orang lain memandang dirimu yang tidak-tidak!"


"Tapikan Fit—" Belum juga Harjunot selesai bicara. Fitri segera memotongnya. " Tidak ada tapi-tapian Mas! Andai saja seseorang itu bisa melihat sebesar apa pahala seseorang yang dihina, tapi dia memilih untuk diam. Mungkin saja orang akan memilih diam daripada meladeninya," tuturnya lembut.


"Ada beberapa fakta tentang bagaimana doa. Seseorang terdzalimi itu diijabah oleh Allah! Maka kamu akan meminta kepada Tuhan, disaat itulah kemungkinan besar doa yang kau panjatkan itu akan segera diberikan! Hal ini terjadi pada diriku malam ini" Mereka berdua kembali berjalan-jalan mengelilingi keramean. Karena malam itu mereka sedang meluangkan waktu untuk pergi ke pasar malam.


"Yang aku minta adalah keinginan kita!"


Harjunot mengerutkan keningnya karena tidak paham apa yang dimaksud Fitri.


"Maksudnya Fit?"


"Kehadiran keluarga baru ditengah-tengah kita berdua! Bukanya Mas, pengen jadi orang tua?"


Harjunot menghentikan langkahnya karena jawaban istrinya.


"Tentu saja, jadi kau berdoa kepada Allah, agar kita cepat dikaruniai keturunan?"


Fitri mengangguk-anggukkan kepalanya.


'Bagaima aku bisa menghiyanati cintanya. Jika dia sebaik ini. Semua akan berlalu begitu saja, cinta yang salah akan hilang. Dan cinta yang tulus akan tetap ada. Sebagaimana aku mencintai istriku' batin Harjunot.


...***...

__ADS_1


"Yang benar Sya, kita ke mari?" Arsy baru saja turun dari mobil. Langsung bertanya seolah tak percaya. Jika sahabatnya mengajak ia ketempat seperti malam itu.


"Ya lah, kita makan disini aja. Banyak menu makanan, kalau mau bermain bianglala juga bisa," sahutnya sambil mengulurkan ponselnya dari saku celananya.


"Aku kira, kita akan diner di restoran bintang lima. Kenapa malah, apa sih ini namanya?" crocos Arsy karena apa yang ia ekspektasi kan. Tidak sebanding dengan kenyataan yang harus ia dapatkan.


"Pasar malam!"


"Kenapa enggak di resto aja sih? Ramai nih, masa iya. Jalan saja dorong-dorongan. Enggak ada etika!" Arsy bersendekap.


"Bukan enggak ada etika Tiffu! Jika saja enggak seramai ini, pasti sistuasinya berbeda! Inikan malam Minggu, semua kalangan pasti ingin menikmati kebersamaan dengan orang yang ia cintai. Entah itu anak muda yang kencan. Atau orang tua yang ingin membuat anaknya bahagia memainkan beberapa wahana."


"Kenapa enggak didufan saja? Toh disana mereka juga bisa menjajaki beberapa wahana. Dan tempatnya lebih menjanjikan!"


"Tidak semua kalangan bisa pergi ke Dufan Tiffu. Bisa jadi karena faktor ekonomi. Membuat mereka memilih pasar malam, yang tidak perlu membeli tiket untuk masuk!"


"Tapi kualitasnya kan lebih bisa dipercaya di Dufan, Sya!"


"Orang menengah kebawah, jarang memikirkan kualitas. Semakin berkualitas semakin banyak yang harus ia keluarkan. Jika di Dufan, lima ratus ribu hanya bisa menjajaki satu mainan. Di sini cuma dua puluh ribu sudah bisa memilih satu wahana."


"Ternyata mereka lebih memilih kuantitas dibanding kualitas. Orang berpikir yang penting dapat banyak. Tapi kualitasnya tidak menjamin keselamatannya." Arsy mencibir.


"Apa kamu berpikir jika harga mahal kualitas okey?"


"Tentu saja Sya!"


"Pendapatku berkata lain, ada kok yang murah tapi kualitasnya bagus. Bahkan barang ini, bisa lebih tahan lama dari pada. Barang berharga mahal, tapi kualitasnya belum tentu terjamin!"


"Pendapatmu itu bukan dari logika. Tapi dari perasaan, logikanya itu Sya. Sesuatu yang dipikirkan dengan matang akan menghasilkan produk bagus, penyurveian layak dan tidak layaknya barang/produk ini. Sebelum melakukan pembuatan barang atau apalah. Mereka sudah merancangnya dahulu, mereka sudah mengaturnya dengan detail. Maka mereka bisa menjamin jika kualitas barang ini oke!"


"Apa aku perlu memberikan contoh padamu?"


"Silahkan!"


"Seorang penjahit A menjahit baju memikirkan kualitasnya, sehari hanya satu. Sedangkan penjahit B harus dapat sepuluh, ini misal! Jadi mana yang berkualitas? Jadi mana—" Belum juga Arsy menyelesaikan ucapannya ada seseorang yang memanggilnya.


"Dek Arsy!" Panggilan itu membuat Arsy membalikkan badannya. Untuk melihat siapa yang memanggilnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2