Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Candaan Santai


__ADS_3

Mentari pagi beri salam lagi, untuk manusia. Awan bergerak perlahan, kemudian Tuhan, mengumpulkannya, kemudian menjadikannya bertumpuk-tumpuk, dan lihatlah hujan keluar dari celah-celahnya. Dan Allah, juga yang menurunkan butiran-butiran es dari langit, yaitu dari gumpalan-gumpalan awan seperti gunung-gunung. Semua itu telah dijelaskan dengan jelas dalam kitab suci Al-Qur'an.


Arsy pagi itu membuka jendela kamarnya, menarik napas kemudian membuangnya. Alhamdulillah! Masih bisa bernapas, setidaknya masih punya kesempatan untuk tobat. Itulah yang ada dipikiran perempuan itu. Perempuan itu mengingat bagaimana, saat tinggal di Moskwa salju yang turun menutupi aspal jalanan. Kalau ingin keluar apartemen harus memakai baju berlapis-lapis dan plato. Ah ... ingatan musim semi di Moskwa juga tak mau kalah, di bayangan


Arsy.


Badan perempuan itu sudah lebih baik, meskipun belum seratus persen fit. Arsy pagi itu masih di rumah. Karena dia akan pergi ke sekolah sedikit siang.


Kini perempuan itu sudah siap untuk pergi ke sekolahan untuk mengajar.


"Bun! Ayi pamit ya?" teriaknya sambil mengambil paper bag di atas meja.


Perempuan itu masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan lewat aplikasi. Zaman mulai berubah, semua serba digital. Mungkin saja jasa manusia tidak akan berguna sepuluh tahun lagi. Karena banyak kafe, toko baju sampai taman pariwisata menggunakan robot sebagai pelayan. Sungguh miris, jika memikirkan masa depan. Yang semua digerakkan oleh alat canggih.


"Makasih Pak!" Arsy turun sambil membayar. Bukan dengan uang tunai, melainkan Kode QR.


Arsy berpikir sejenak, mungkin dia akan menemui seseorang dahulu sebelum masuk ke sekolahan.


"Dimana dia?" Matanya celingak-celinguk tapi tak menemukan yang ia cari.


"Cari siapa?" Suara dari belakang membuat Arsy, membalikkan badannya.


Lelaki itu membungkuk sedikit sambil menaruh tangannya kebelakang. Arsy sangat terkejut karena jarak mereka dekat.


"Ah..." Arsy nampak canggung karena lelaki yang ia cari sudah ada dibelakangnya.


"Iya?" Harjunot menggeser tubuhnya seakan menjaga jarak.


"Ini bajunya, yang waktu itu tertinggal!" Arsy menunduk saat menyodorkan paper bag itu.


"Oh ... terima kasih! Saya rasa hal ini merepotkan Bu Guru!"


"Tidak, sama sekali tidak!" Arsy menggeleng cepat, seakan ia tidak keberatan jika lain kali Harjunot meninggalkan sesuatu. Dan ia akan mengembalikan dengan senang hati.


...***...


"Ah ...masa Bu Guru secantik dan sepintar Anda, mau disuruh nganterin barang orang lain! Apa Pak Dirut yang menyuruh Anda?" Arsy seakan salah tingkah karena ucapan Harjunot. Yang terang-terangan memujinya.


"Anda terlalu tinggi memuji saya!" Pipi putih itu menjadi merah.


"Saya tidak merasa memuji Anda, tapi saya mencoba mengatakan yang sesungguhnya. Anda lulusan Moskowa, pasti banyak pelajaran yang ada dapat saat belajar di sana. Dan sekarang Anda, menjadi Guru. Tidak mungkin seorang Guru itu bodoh!"

__ADS_1


Sedangkan Arsy menunggu sesuatu, sepertinya yang ditunggu tidak akan keluar dari mulut lelaki yang berdiri di sampingnya itu. Sebenarnya Arsy menunggu Harjunot menyinggung, soal parasnya yang cantik nan elok. Ah ... ternyata Harjunot hanya memuji profesinya dan otaknya saja.


"Apa yang aku tunggu!" gumam Arsy pelan, akan tetapi Harjunot bisa mendengar meskipun tidak jelas.


Fitrahnya wanita memang seneng kalau dipuji, begitupun Arsy dia juga seperti perempuan lain. Berbanding terbalik dengan perempuan, fitrahnya lelaki itu suka memuji dan menjual gombalan ke seluruh perempuan. Tapi Harjunot, sepertinya belum masuk kriteria di atas. Yang ada dia malah keluar dari komunitas peng–gombal papan atas.


"Tunggu?" Harjunot mengerutkan keningnya.


"Eh tidak-tidak!" Arsy melambaikan telapak tangannya cepat. Harjunot hanya mengangguk saja.


"Ah, bagaimana jika Anda ikut saya!" Harjunot tetap memanggil Arsy dengan panggilan saya, lain di pesan lain saat berhadapan langsung dengan orangnya.


"Kemana?" Arsy bicara sambil melihat jam tangannya.


"Sudahlah, cuma sepuluh menit saja!" Harjunot meninggalkan Arsy dan berjalan. Sedangkan Arsy hanya mengikuti dari belakang.


"Hati-hati, becek karena tadi malam daerah sini hujan!" ujarnya, sambil menengok kebelakang. Sedangkan Arsy sedikit berhati-hati, karena sepatunya berhak tinggi.


Setelah itu mereka sampai didepan kos-kosan yang dijadikan tempat makan para tukang dan mandor.


"Tin, dua porsi nasi sama oseng jambu!" Harjunot duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu.


"Siap Mas!" Titin tersenyum kearah Harjunot, dan menatap Arsy tidak suka.


"Anda harus nyobain oseng jambu buatan Titin, saya yakin pasti Anda ketagihan." Sedangkan Titin, tersenyum saat Harjunot memujinya.


"Emang enak? Jambu?" Arsy membayangkan bagaimana jambu diolah menjadi lauk-pauk.


"Ini bukan jambu biji yang manis itu loh, bukan! Ini jambu monyet. Maklum ya, Anda makanannya roti hitam saat di Rusia."


"Hmmm!" Arsy mengangguk, pesanan mereka sudah datang. Arsy nampak menahan ludahnya, karena nasi putih liwet asapnya masih mengepul. Ditambah suwiran jambu dan irisan cabai.


"Sepertinya Anda, sudah tidak sabar!" Harjunot terkekeh.


...***...


Tanpa pikir panjang, Arsy memasukkan nasi dan oseng jambu itu ke mulutnya. Sedikit kemudian dia mengeluarkan nasi itu dari mulutnya. "Nanas! Asinnn!"


Sedangkan Titin menahan tawanya, rencananya berhasil.


"Kenapa ini asin sekali?" Arsy langsung mengambil gelas yang berisi teh tinggal separuh itu. Sedangkan Harjunot menggeleng pelan, sambil berkata. "Jangan diminum!"

__ADS_1


Glek! Sedangkan air teh itu sudah membasahi kerongkongannya Arsy.


"Kenapa?" tanya Arsy, sambil meletakkan gelas itu kembali.


"Apa Anda tidak melihat itu gelas siapa?" Harjunot menatap datar gelas itu.


"Ah ...maaf saya tidak lihat, ya sudah Anda minum punya saya saja!" Arsy menggeser gelasnya kearah Harjunot.


'Hal sepele saja, kenapa membuat dia marah?' batin Arsy.


"Bukan itu masalahnya!"


"Terus?"


"Kata orang Jawa itu, kalau makan atau minum di wadah yang sama nanti cintanya bertambah!" Harjunot nampak kesal karena kesalahan yang Arsy lakukan.


"Ah ...itu hanya pamali! Saya di Singapura kok nggak ada kayak gitu!"


Kedua terdiam sejenak, sampai Titin memberikan makanan untuk Arsy.


"Makasih!" Arsy tersenyum kaku, dia tahu jika Titin tidak suka padanya.


"Emang enggak mau kalau saya mencintai Anda?" Arsy bercanda sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Lelaki mana yang tidak mau dengan Bu Guru, cantik, cerdas bisa masak. Saya yakin tidak ada yang berani menolak!" Harjunot menimpali candaan Arsy dengan santai.


Sedangkan Arsy tersipu karena mendapat pujian dari Harjunot.


"Kenapa pipi Anda merah? Apa Anda alergi?"


"Ti-tidak! Ehm ... sudah berapa wanita yang Anda puji?" Arsy melirik kearah Harjunot.


"Maksudnya?"


"Yang Anda bilang cantik."


"Saya pikir semua wanita cantik, tapi terkadang dia membandingkan dengan yang lebih cantik. Membuat dia insecure!"


Arsy menganggukkarena jawaban Harjunot.


"Terima kasih, sudah di ajak makan. Ini sangat enak!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2