
Malam harinya Arsy mengecek ponselnya apa ada balas pesan dari Harjunot.
Ternyata hasilnya nihil, pesan yang ia kirim kemarin malam pun hanya centang satu.
"Sebenarnya lelaki ini kemana sih. Ngilang enggak ada kabar."
"Bete gue jadinya kayak diasinin!"
"Besok gue samperin ke rumahnya lah!" Setelah itu Arsy menaruh ponselnya di nakas.
Pagi harinya Arsy nampak rapi dengan atasan Hoodie pink dan bawah celana levis. Berbeda dengan biasanya pagi itu Arsy tidak memakai sepedanya. Karena sepadahnya dalam fase perbaikan setelah digunakan nyemplung ke selokan siang itu.
"Cieee yang mau ngapel ciyhuwit!" Gibril tertawa terbahak-bahak menatap wajah datar Arsy.
"Awokkk!"
"Aku berangkat dulu, sepertinya taksi pesanku sudah sampai!" Arsy meninggalkan ruang makan tanpa mencium kedua tangan orang tuanya.
"Apa kamu tidak makan dulu Yi? Nanti sakit loh!" teriak Kak Vi yang khawatir jika adik iparnya sakit.
...***...
Taksi itu mulai membelah kota Jakarta. Didalam mobil Arsy hanya menyandarkan kepalanya sambil menutup matanya. Tak terasa mobil itu berhenti didepan rumah bergerban kayu yang menjulang tinggi.
"Sudah sampai Mbak!"
Arsy segera keluar dar taksi, kemudian berjalan kearah gerbang kayu yang terbuka sedikit. Arsy memasukkan kepala sedikit. Perempuan itu bisa melihat sosok wanita paruh baya sedang menggendong bayi laki-laki.
"Permisi!" Arsy mengetuk gerbang rumah itu. Berharap paruh baya yang sedang menggendong bayi itu mendengarnya.
Bu Dewi yang pagi itu sedang menenangkan baby Kai karena rewel. Paruh baya itu membalikkan badannya saat mendengar suara seseorang.
"Ah ...Nak Arsy ternyata! Masuklah!" ujarnya menyuruh Arsy masuk.
Arsy mendorong gerbang kayu itu sedikit agar dia bisa masuk.
"Pagi Tante!" sapanya seraya mencium tangan Bu Dewi. Dan menatap baby Kai yang menangis.
"Pagi!"
"Kenapa dia Tan?" tanyanya basa-basi agar tidak dibilang cuek.
"Biasa, kalau mau tidur memang oyeng(rewel)!" jawabannya seraya menimang-nimang cucunya.
"Padahal Tante belum beres-beres rumah, tapi baby Kai enggak mau bobok!"
Arsy mengaguuk pelan saat mendengar keluhan Bu Dewi.
"Ehem ... bagaimana jika saya aja yang gendong. Tantenya bisa berberes rumah!" saran Arsy tersenyum, entah tulus atau malah senyum terpaksa hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Emangnya enggak ngrepotin? Apa Junot yang menyuruhmu kemari?"
__ADS_1
Arsy yang mendengar pertanyaan Bu Dewi hanya mampu mengerutkan keningnya.
"Ti-tidak! Sebenarnya saya hanya kangen saja sama si kembar. Jadi saya ingin main ke rumah!" Bohongnya agar tidak terlihat mencurigakan.
"Gimana hubungannya sama putra Ibu?"
"Ma-maksudnya gimana Tan?" Arsy menelesik.
"Enggak usah malu, Ibu sudah tahu! Karena Junot, minta ijin buat nikah sama Nak Arsy!"
'Hah? Ternyata sebelum bertanya kepada yang bersangkutan langsung. Dia terlebih dahulu meminta izin orang tuanya dan orang tua ku! Tapi itu terlihat lebih gentleman.Dari pada sudah pacaran lama tapi terhalang restu orang tua! Kan nyesel huaaaaa' batin Arsy tersenyum cekikikan.
'Berarti si Enjun belum ngasih tahu orang tuanya, kalau aku menolaknya dong! Ah si Enjun ngeselin tapi pintar juga sembunyiin aib' batin Arsy tersenyum samar.
"Nak Arsy kenapa senyam-senyum?" Bu Dewi bertanya.
"Ah ...ah! Anu-anu!"
"Aku apa?" goda Bu Dewi.
"Ayo Baby Kai! Ikut Kakak!" Arsy mengambil baby Kai dari gendongan Bu Dewi.
"Orangnya mana Tan?" tanya Arsy yang dari tadi mencari keberadaan Harjunot yang tidak pernah terdeteksi keberadaannya.
"Orangnya siapa?" tanya Bu Dewi tersenyum tipis.
"I-itu M-mas Jun!"
"Lah orangnya baru saja berangkat kerja!"
"Ha?" Arsy ternganga lebar karena jawaban calon mertuanya kalau jadi.
'Apa selama ini lelaki itu kongkalikong dengan bawahannya. Tapi dia ngumpet di mana, kenapa aku tidak pernah liat batang hidungnya. Terus motornya ditaruh mana saat dia kerja' batin Arsy geram dengan tingkah laku Harjunot yang seperti anak kecil. Lelaki macam apa Harjunot itu masa setelah ditolak mentah-mentah oleh Arsy. Dia tidak berani memunculkan tampangnya.
...***...
Arsy menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam bermain bersama putra-putri Harjunot. Perempuan itu pun memutuskan untuk langsung balik setelah melihat si kembar terlelap.
"Saya pamit undur dulu ya Tan!" Arsy melambaikan tangannya kearah Bu Dewi.
Perempuan itu telah memesan taksi terlebih dahulu. Tujuan selanjutnya adalah ketempat kerja Harjunot. Perempuan itu keluar dari taksi sambil menghela nafas panjang.
"Pagi menjelang siang Bapak-bapak!" sapa Arsy sambil memicikkan matanya mencari keberadaan Harjunot yang dua hari ini menghilang.
"Mbak Arsy! Nyari Mas Mandor ya? Mas mandornya belum masuk Mbak!" Tukang itu tahu jika Arsy sedang mencari atasannya.
'Fuih ...si Enjun tahu agama, tapi kok ngajarin orang bohong sih! Ini orang dibayar berapa sama si Enjun kepo jadinya' batin Arsy.
"Dibayar si Enjun berapa Pak?" tanya Arsy to the points.
"Maksudnya Mbak?" Yang ditanya bingung harus jawab apa.
__ADS_1
"Ya, Bapak dibayar berapa kalau bohong gini?" Arsy bertanya datar.
"Mbak Arsy kalau bercanda enggak lucu, masa saya dibilang bohong! Saya tahu Mbak, saya hanya tukang! Tapi bukan berarti saya menghalalkan segala cara untuk dapat uang!" tukang itu terlihat menahan emosi. Bagaimana tidak jika dia dituduh menjadi pembohong bayaran.
'Aduh ... gimana ini! Kok Bapaknya marah! Terus kalau dilihat dari tampangnya Bapak ini sangat baik. Bukan Kang bohong. Putar otak Arsy ... ayo selamatkan dirimu!' batin Arsy berpikir mencari cara agar keadaannya tidak runyam.
"Ahay! Saya hanya ngeprenk Bapak! Selamat ini uang satu juta buat Bapak dan keluarga! Karena Bapak enggak marah-marah sama saya. Saat saya tuduh!" Arsy menyodorkan uang yang baru ia ambil dari tas beruangnya.
"Yang benar Mbak! Ini buat saya! Mbak Arsy ini kayak YouTubers yang namanya Baim Orang saja! Suka ngeprenk tapi akhirnya ngasih hadiah! Matur nuwun Gusti Allah!" Tukang itu jingkrak-jingkrak sambil mencium uang satu juta dari Arsy.
Sedangkan Arsy menelan ludahnya dengan susah payah.
'Apessssss itu uang dari Abang buat pegangan selama seminggu. Aku kasih ke orang cuma-cuma. Terus nanti ini aku pulang jalan gitu? Turus kalau kowta habis, pulsa habis. Aku beli pakai apa?' batin Arsy menepuk keningnya berkali-kali.
Arsy menengadahkan wajahnya kearah langit dengan mimik sendu.
'Ya Tuhan! Aku ikhlas, mungkin uang itu yang bukan untuk hambaMu. Tapi untuk Bapak ini! Semoga saja Engkau melipat gandakan atau menukarnya dengan sesuatu yang lebih dari uang satu juta ini. Amin' batin Arsy berharap penghuni langit mengaminkan dan Allah azza wa jalla mengabulkan.
Ditukar kamu mendapatkan jodoh. Mungkin.
"Mbak Arsy kok dari tadi diam!"
"Eh ...eh tadi saya baru minta sama Allah, Pak!" Arsy tersenyum kikukuk.
"Ah iya-iya semoga Allah mengabulkan permintaan Mbak Arsy ya!" si Bapak mukanya seneng bener baru dapat ketiban rejeki.
"Ah iya Pak saya mau tanya! Emang YouTubers Baim Orang itu dari negara mana? Kok saya baru dengar!" Arsy menggaruk kepalanya.
"Oh itu yang suaminya Paula Verhoeven!"
"Hai bukanya itu Baim Wong ya Pak?" Arsy mengerutkan keningnya.
"Ya itu kan versi Jawanya, kalau versi Indonesia mah Baim Orang! Karena Orang dalam bahasa Jawa bermakna Wong!"
Arsy menepuk jidatnya sambil terkekeh karena candaan receh Pak tukang.
...***...
Arsy memutuskan untuk menunggu Harjunot dibawah pohon mangga.
"Aku yakin si Enjunot kalau sholat pasti lewat sini! Gua tungguin lah meski adzan Dzuhur masih lama!"
"Entah ngumpet di mana si Mouseky Enjun! Keberadaannya tidak bisa terdeteksi oleh kaca pembesar! Aku jadi yakin untuk manggil dia Mouseky karena kayak tikus susah ditangkap kalau enggak pakai jebakan!" Arsy berjongkok di bawah pohon mangga.
Matanya menatap lurus, perempuan itu telah mendeteksi keberadaan Mouseky. Ya, motor Kawasaki hitam yang dikendarai oleh Mouseky berjalan kearahnya. Arsy tertawa renyah karena berhasil menemukan Mouseky yang telah lama menghilangkan. Dengan cepat Arsy berdiri dari jongkoknya. Perempuan itu merentangkan kedua tangannya untuk menghadang motor yang Mouseky kendarai.
"Settttooooppppppp!" Arsy memejamkan matanya saat motor hitam itu ingin mencium tubuhnya.
Lalaki yang mengendarai motor hitam itu, segera mencengkram rem motornya saat ada gadis berdiri didepannya, seperti sudah siap ditabrak.
"Setttt!" umpat lelaki itu yang berhasil mengerem tepat waktu.
__ADS_1