Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Titipin Dia....


__ADS_3

Seluruh tukang sedang istirahat karena jam menunjukkan pukul sebelas lebih. Arsy dan Harjunot juga ikut duduk di tengah mereka sambil mendengar candaan dari para tukang.


Arsy berdiri dari duduknya, membuat Harjunot menatap perempuan itu.


'Apa yang akan dia lakukan, aku harap dia tidak merepotkanku' batinnya was-was.


"Saya lapar, ayo kita ke resto!" Arsy menarik tangan Harjunot. Membuat para tukang menatapnya.


Harjunot langsung menepis tangan Arsy dengan pelan.


"Kenapa harus ke resto, kita makan disini saja."


"Saya enggak mau!" Arsy menggeleng.


"Sudah Mas, turutin saja!" ujar anak buah Harjunot.


Akhirnya Harjunot menyetujui permintaan Arsy. Perempuan itu berjalan dibelakang Harjunot.


Saat itu Arsy tak sengaja melihat katak meloncat ke sepatunya. Dia langsung meloncat ke punggung Harjunot. Lelaki itu pun terkejut saat ada seseorang yang meminta gendong tiba-tiba.


"Huaaaaaa ada katak!" Arsy berteriak sambil mengigit pundak Harjunot.


Sebuah ingatan melintas dibenak perempuan itu. Kejadian yang dialami siang itu, sepertinya pernah terjadi sebelumnya.


'Apa yang terjadi padaku. Kenapa aku sering mengalami hal ini saat bersama dia. Kenapa aku merasa hal ini pernah terjadi, tapi siapa lelaki itu' batin Arsy mencoba mengingat sesuatu. Akan tetapi hal itu membuat kepalanya pusing.


Harjunot meringis saat mendapatkan gigitan tiba-tiba.


"Turun Bu! Apa yang Anda lakukan?"


"Ada Katak, saya takut!" ujarnya melingkarkan kakinya diperut Harajunot.


"Ck!" Harjunot berdecak kesal, lelaki itu harus berjalan kearah mobilnya sambil menggendong Arsy.


'Semakin hari kita sering sekali melakukan dosa. Meski tidak sengaja' batin Harjunot.


"Turun!"


Arsy pun turun dari gendongan. Perempuan itu terkekeh geli karena ekspresi Harjunot yang menahan kesal.


"Bu Guru, saya harap ini untuk terakhir kalinya. Kita bersentuhan!"


"Saya juga ogah bersentuhan dengan situ!"


"Saya harap juga begitu!" ujarnya seraya masuk mobil.


...***...


Mobil itu mulai membelah jalanan. Hampir lima belas menit perjalanan mobil itu berhenti di restoran.


Keduanya masuk restoran bintang lima sesuai permintaan Arsy.


Arsy mulai memesan makanan sesuka hatinya. Tanpa berpikir siapa yang akan membayarnya.


"Saya air putih saja!" Harjunot.


"Anda yakin cuma itu?" Arsy bertanya dan dijawabi dengan anggukkan.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesanan datang.


Harjunot hanya menggeleng dan diiringi dengan helaian nafas.


"Saya pamit ke toilet sebentar!"


Arsy hanya mengangguk dengan mulut penuh.


Harjunot terus berjalan meninggalkan Arsy hingga tidak terlihat lagi punggungnya.


Hampir lima menit lelaki itu kembali duduk di depan Arsy.


"Ayo makanlah ini sangat banyak!"


Harjunot menolak sambil meneguk air putih.


"Aaaaaak!" Arsy ingin menyuapi Harajunot. Akan tetapi lelaki itu menggeleng pelan.


Arsy sangat kesal karena Harjunot berani menolaknya.


Harjunot memanggil pelayan untuk membayar.

__ADS_1


"Berapa Mbak?"


Pelayan itu menyerahkan bills. Lelaki itu berdiri dan merogoh sakunya.


"Sepertinya ketinggalan!" gumamnya pelan.


"Apanya yang ketinggalan?" Arsy mulai panik.


"Dompet saya!"


"Apa?" pekik Arsy sambil mengusap rambutnya.


"Terus bagaimana ini?" Arsy bertanya.


Harjunot mencari sesuatu disaku jaketnya.


"Apa ini bisa membayar satu gelas air putih? Karena tadi saya cuma minum air saja." Harjunot menyerahkan uang berwarna hijau.


Pelayan itu terlihat ragu menerima uang dari Harjunot.


"Baiklah!" Pelayan itu mengangguk.


"Maksudnya apa? Anda hanya membayar pesanan Anda saja. Terus saya bagaimana?"


"Kalau Mbak tidak bisa membayar. Mbak, bisa membayarnya dengan cara membantu membersihkan meja. Atau mencuci piring!" Pelayan itu bersuara.


"Ha? Saya enggak mau!" Arsy menggeleng.


"Terserah Mbak saja, mau pilih nyuci piring. Atau Anda mau dijebloskan ke penjara?"


"Ha?"


"Sudah terima saja, dari pada dipenjara!" sahut Harjunot.


"Dasar duker, semua ini gara-gara Anda!"


"Kok nyalahin saya, kenapa Anda tidak mau introspeksi diri. Anda tidak punya uang tapi mintanya makanan di restoran!"


"Hih!" Arsy ingin sekali meremas wajah Harjunot.


"Sudah begini saja! Anda tetap disini dan lakukan apa yang pemilik restoran suruh. Nanti sore saya jemput untuk pulang!" Harjunot meninggalkan Arsy yang sedang mengumpatnya.


"Dasar kere!" Arsy meneriaki Harjunot.


...***...


Ponsel Harjunot berdering menandakan ada telpon masuk.


"Pak Dirut!" gumam Harjunot.


"Hmmm, iya Pak!"


"Apa dia baik-baik saja?"


"Anda jangan khawatir, putri Anda insyaallah aman!"


"Kamu enggak nyuruh dia buat naik tangga lagi kan, Not?"


Harjunot terdiam, dia sangat sungkan dengan atasannya.


"Tidak Pak, hanya saja—" Harjunot menggantung ucapannya. Membuat Langit penasaran.


"Hanya saja apa Not, jangan membuat penasaran orang saja!"


"Saya titipkan putri, Bapak! Di resto!" Harjunot memejamkan matanya. Harjunot takut jika sang atasan akan marah.


"Apa?" pekik Langit kaget.


"Tolong dengarkan penjelasan saya dulu Pak! Saya harap, Anda tidak marah dengan apa yang saya lakukan!"


"Baiklah, aku akan mendengar penjelasanmu!"


...***...


Flashback on.


"Saya pamit ke toilet sebentar!"


Arsy hanya mengangguk dengan mulut penuh.

__ADS_1


Harjunot terus berjalan meninggalkan Arsy hingga tidak terlihat lagi punggungnya. Lelaki itu berjalan kearah kasir.


"Maaf Mbak, saya mau tanya kira-kira makan yang tadi perempuan itu pesan. Habis berapa ya?" Harjunot menujuk Arsy dari belakang.


"Tunggu dulu ya Mas!" Setelah menunggu beberapa saat.


Pelayan itu menyerahkan bills kearah Harjunot.


Lelaki itu merogoh sakunya dan mengambil dompet. Kemudian menyerahkan kartu debit.


Sambil menunggu kartu debitnya dikembalikan. Harjunot mengeluarkan suara.


"Mbak, saya boleh minta bantuan?" Harjunot bertanya ragu.


"Apa yang bisa saya bantu Mas!"


Harjunot berbicara pelan sambil melirik kearah Arsy. Takut jika perempuan itu tahu keberadaannya.


"Begini nanti saat saya memanggil Mbak untuk membayar pesanan. Mbak pura-pura saja, kalau saya belum membayarnya."


"Sebenarnya tujuan Mas, apa sih?" Pelayan itu penasaran.


"Tujuannya adalah, saya ingin membuat perempuan itu. Menjadi pelayan resto untuk sementara!"


Pelayan itu tertawa renyah karena jawaban Harjunot.


"Okey-okey Mas, saya paham maksudnya! Anda ingin mengerjainya?"


"Emang itu masuk kategori mengerjai orang ya Mbak?"


Pelayan itu mengangguk membenarkan.


"Akan tetapi, saya tidak ingin mengerjainya. Sebenarnya saya hanya ingin mengajari dia. Tentang tanggung jawab!"


...***...


Flashback off.


Langit terbahak-bahak karena mendengar cerita Harjunot.


"Wah Not, ada-ada saja, kamu menguras energinya."


"Mau bagaimana lagi, ini kan yang Anda katakan saat di kantor. Membuat putri Anda, lelah di pagi hari. Agar saat malam hari, dia tidak melakukan hobinya yang menyesatkan!"


Langit kembali tertawa renyah karena ucapan Harjunot.


"Ternyata kamu masih ingat apa yang aku katakan tempo hari lalu Not! Oh ... ya Not ada yang ingin aku sampaikan."


Harjunot berdeham menyetujui.


"Boleh enggak Not, kalau putriku ajak pulang ke rumahmu dahulu!"


"Maksudnya?" Harjunot terkejut.


"Tenanglah Not, setelah aku pulang dari rumah mertuaku! Aku akan menjemput putriku. Masalahnya kunci rumah, kami bawa. Jadi kalau pun kamu mengantarkan dia pulang, dia juga tidak bisa masuk rumah kan? Dia perempuan Not, masa kamu tega sih membiarkan. Dia sendirian di luar rumah, menunggu keluarganya pulang!"


Harjunot menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sebenarnya lelaki itu ingin sekali menolak permintaan atasannya. Tapi mendengar penjelasan dari Langit. Membuat Harjunot tidak bisa menolak.


"Baiklah!"


...***...


Sore telah tiba, sesuai janjinya Harjunot akan menjemput Arsy. Saat itu pula Arsy baru saja keluar dari restoran. Perempuan itu berjalan kearah Harjunot. Dengan wajah dibasahi oleh keringat.


Tanpa sadar Harjunot tersenyum melihat ekspresi Arsy yang mengembung kan pipinya. Sambil menyeka keringat dengan lengan.


"Gara-gara Anda, tubuh saya jadi bau keringat!" gumam Arsy yang terdengar di telinga Harjunot.


"Belum selesai acara mengumpatnya?" Harjunot bertanya sambil membuka pintu mobil.


"Belum! Saya sangat-sangat kesal dengan Anda. Kenapa Anda bodoh sekali! Masa ke restoran lupa bawa dompet! Benar-benar kesel saya, hari ini Anda membuat saya menjadi tukang cuci piring! Jangan-jangan Anda sengaja ya ngelakuin ini!" tuduh Arsy sambil menjulurkan telunjuknya kearah Harjunot.


"Cepat masuk! Atau mau tetap di sana?" tanya Harjunot dari dalam mobil.


Arsy menghentakkan kakinya. Kemudian masuk ke dalam mobil.


Harjunot melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil itu membelah jalanan.


"Nanti ini, Anda singgah di rumah saya dulu ya. Soalnya tadi, Pak Dirut bilang jika dia sedang ada di rumah Kakek Anda. Kuncinya dibawa, kalau pun saya mengantarkan Anda pulang. Anda juga tidak bisa masuk."

__ADS_1


"Terserah, saya mau tidur dulu! Awas ya, Anda jangan ambil kesempatan saat saya tidur!"


...***...


__ADS_2