Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Hanya Fitri Seorang


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, Harjunot masih saja merasa jika Fitri masih bersamanya. Seperti pagi ini, Harjunot berteriak memanggil nama almarhumah istrinya itu.


"Fitri! Kamu dimana? Tolong bantu aku melipatkan lengang bajuku!" teriakan itu menggelegar. Membuat seluruh penghuni rumah mendengarnya.


Bu Dewi berjalan dari arah belakang.


"Istighfar, Not!"


Harjunot mengusap wajahnya kasar, dia baru ingat jika istrinya sudah meninggalkannya.


"Astagfirullah hal adzim!"


"Sini Ibu yang lipatkan bajumu," ujar Bu Dewi.


Setelah selesai bersiap .Harjunot menemui kedua anaknya yang ada dibelakang rumah.


"Abi, berangkat kerja dulu ya Sayang! Nanti kita main lagi!" ujarnya sambil mencium pipi gembul kedua anaknya bergantian.


Si kembar sudah bisa mengangkat kepalanya. Bukan hanya itu saja, si kembar juga bisa meraih mainan.


"Senyum dulu dong anak Abi!" Si kembar tersenyum sambil menggesek-gesekkan kedua kakinya.


Harjunot terkekeh melihat ekspresi kedua anaknya, yang tertawa dengan air liur membasahi sekitar mulut.


"Daa Abi!" Aghnia mengerakkan tangan baby Kai seperti melambaikan tangannya.


...***...


Sore telah berlalu sudah waktunya Harjunot pulang kerja. Tapi sebelum pulang ke rumah lelaki itu memutuskan untuk menemui belahan hatinya terlebih dahulu.


Sore itu Harjunot duduk di samping pusara makam istrinya. Selama tiga bulan istrinya meninggal. Lelaki itu tidak pernah absen untuk mengunjungi makam Fitri.


Setelah membaca surah Yasin, Harjunot menaburkan bunga ke makam istrinya.


"Fit! Kau tahu, aku tidak bisa melupakanmu. Hampir satu tahun lamanya kita bersama, aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu. Hingga saat ini, aku masih berpikir jika kamu masih bersamaku. Fitri, cintaku! Kenapa takdir secepat ini memisahkan kita. Kenapa kita tidak diberi waktu lama untuk bersama, Fitri aku merindukanmu!" Harjunot menyandarkan kepalanya di batu nisan istrinya.


"Fit! Kenapa kamu tidak mau, menemui suamimu dalam mimpi? Aku ingin melihatmu Fit! Aku rindu dengan belaian lembut darimu. Aku rindu dengan senyumanmu! Istriku, rasanya hidup ini berat tanpa dirimu." Harjunot menyeka air matanya. Dia begitu merindukan istrinya.

__ADS_1


"Anak-anak sudah besar, mereka sudah bisa bicara meski hanya bilang Ma! Wajah baby Kai mewarisi wajahmu. Aku bersyukur meskipun kau tak ada disampingku sekarang. Tapi wajah baby Kai, menjadi pelipur rasa rinduku padamu! Dan baby Bell, dia sangat menggemaskan. Kau tahu, pipinya saja seperti bakpao. Kadang-kadang aku menggigitnya karena gemas. Andai saja, kamu ada ditengah-tengah kami. Pasti kamu akan menegurku! Agar tidak mejaili si kembar!" Harjunot membayangkan seandainya istrinya itu masih bersamanya.


Harjunot membuang napas kasar, karena hayalan itu, tidak akan pernah menjadi nyata.


"Aku pulang dulu ya Fit! Besok aku akan kemari!" Harjunot mengecup nisan istrinya sebelum benar-benar meninggalkan pusara sang istri.


...***...


Saat Harjunot ingin keluar dari pemakaman, ponselnya berdering.


"Halo, iya ada apa ya Pak?" tanya Harjunot sambil berjalan kearah motornya.


"Bagaimana ya Pak, bukanya saya berniat menolak permintaan Pak Dirut. Akan tetapi, ini sudah sore. Ibu sedirian dirumah karena adik saya kuliah. Saya takut jika Ibu kuwalahan, mengasuh si kembar!" Harajunot mendengar jawaban dari atasannya.


"Begini saja, kan kantor sama rumah jaraknya lumayan dekat nih. Mending Pak Dirut, main saja ke rumah gimana. Sekalian magrib dan makan malam bersama!" ajak Harjunot sesopan mungkin.


"Okey, saya tunggu kedatangan kalian!" Harjunot terkekeh, dan setelah itu panggilan berakhir.


...***...


Adzan magrib berkumandang, Harjunot menuggu tamunya belum datang juga. Padahal katanya lima menit lagi sampai tapi tidak ada mobil memasuki pekarangan rumahnya. Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya yang ia tunggu datang juga.


"Kenapa jamnya bisa mundur dari perkiraan.Supirnya ngantuk atau gimana nih?" canda Harjunot saat melihat Langit baru keluar dari kursi kemudi.


"Kita kehabisan bahan bakar tadi!" jawab Langit, seraya menjabat tangan Harjunot diiringi dengan tepukan dipundak.


Harjunot tertawa renyah karena jawaban sang atasan.


"Maklum semakin tua, pikiran bertambah Not!" celetuk Black.


"Ya sudah, mari masuk!"


...***...


Harjunot mempersilahkan tamunya untuk duduk diruang keluarga. Karena lebih nyaman dibanding ruang tamu.


"Lama enggak nongkrong kita, sudah berapa Minggu ya?" Black berbicara sambil selonjoran disofa.

__ADS_1


"Terakhir kali, aqiqahan si kembar! Hitung saja berapa bulan usia si kembar sekarang!" sahut Langit sambil mengerakkan kepalanya kekanan-kekiri karena sakit.


"Lama juga ya?" Harjunot menimpali.


"Kok sepi Not, pada kemana?" Langit celingak-celinguk mencari seseorang.


"Bapak ada dikamar menemani si kembar yang tidur. Sedangkan Ibu, keluar sebentar katanya mau beli sesuatu!"


"Oh Ayi, gimana kabarnya Bang? Aku tidak pernah main-main ke sana, setelah pindah rumah!" Black bertanya sambil menatap layar ponselnya.


"Makin parah Black, suatu bulan yang lalu Gibril ke Singapura. Membuat aku kuwalahan mengasuhnya!"


Harjunot hanya diam memilih untuk menjadi pendengar setia saja.


"Dan kau tahu Black, aku baru tahu kalau Ayi sekarang sudah bisa mengemudikan mobil!" Lanjutnya lagi.


"Kok bisa? Emang siapa yang ngajarin?"


"Kenalannya banyak Black, aku tidak tahu persis siapa yang mengajarinya menyetir. Saat aku bertanya, dia bilang jika ia membayar seseorang!"


"Aku bingung harus bagaimana lagi, melihat tingkahnya semakin hari semakin menjadi-jadi!" keluhnya.


"Kawinin saja gimana Bang?"


"Main kawin-kawin saja, bagaimana pun dia adalah putriku Black. Toh juga dia belum punya pacar!" Langit tak terima dengan perkataan Black.


"Ya kan mungkin dengan dia berkeluarga. Kebiasaan buruknya hilang, karena dia sudah memiliki tanggung jawab!"


Harjunot diam mendengar dialog antar kakak ipar dan adik ipar itu bergantian.


"Lakiknya kagak ada!" Langit bicara ngegas.


"Kata siapa enggak ada, itu duda depan Abang, bukan laki?"


Harjunot tersentak karena Black menarik dirinya dalam urusan keluarga atasannya.


"Pak GM!" Harjunot geram, dia tidak pernah berpikiran menikah lagi. Yang ada dalam hatinya hanya Fitri seorang. Cintanya untuk Arsy yang dulu benar-benar hilang tanpa berbekas.

__ADS_1


"Hehehe aku hanya bercanda Not! Biar mengurangi beban Abang!"


__ADS_2