
Lelaki itu duduk berjongkok di pusara makam istrinya. Harjunot mengusapkan telapak tangannya diwajah. Kini tangannya mulai menaburi bunga dipusara tersebut. Lelaki itu sedikit membenahi posisi jongkoknya. Dieluslah nisan yang terbuat dari batu itu. Bibirnya tersenyum getir mengingat jika sang istri telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Aku bersyukur karena sore ini, aku bisa zarah ke makammu!" Air matanya sudah berkaca-kaca. Selama sang istri meninggal setiap hari, lelaki itu selalu zarah ke makam istrinya.
"Anak-anak dia baik, ya meskipun seperti yang aku bilang kemarin. Jika baby Bell diopname!" Lelaki itu seolah melaporkan bagaimana keadaan anaknya.
"Aku bahagia karena wajah putraku mewarisi wajahmu! Jika aku kangen denganmu, ku pandangi wajahnya."
"Fitri! Kenapa takdirku begitu membingungkan?" Harjunot mulai curhat dengan istrinya.
"Dulu disaat aku ada rasa dengan putrinya Pak Dirut! Tuhan, mengirimkan dirimu!"
"Aku tahu ini tidak pantas untuk diceritakan! Tapi aku butuh mencurahkan segala unek-unek yang ada di dalam hatiku ini!"
"Aku ingat betul dimana posisiku dulu!"
"Waktu itu, cinta itu baru saja tumbuh dihatiku! Cinta untuk Bu Guru! Dan disaat yang bersamaan, aku juga harus mencitaimu!"
"Terdengar egois, ya aku adalah lelaki egois Fit! Tapi meskipun begitu, aku terus mencoba membuang perasaan cintaku untuk Bu Guru! Dan tepatnya dua bulan kita bersama! Cinta untuk Bu Guru telah hilang tanpa bekas!"
"Tapi Fit!" Harjunot tersenyum getir mengingat kisah cintanya yang terlalu. Mempermainkan dirinya.
"Kenapa disaat aku hanya mencintaimu! Takdir memisahkan kita? Dan diwaktu yang bersamaan pula, aku dipaksa untuk bersamanya kembali!"
"Disaat cinta telah hilang dari hatiku untuknya! Dan disaat ini hatiku hanya mencintaimu seorang!"
"Terus aku harus bagaimana Fit?" Harjunot menunduk dalam.
"Malam nanti kita akan bertunangan! Maaf aku tidak bisa menjadi pasangan sejati untukmu!" Satu butiran air mata jatuh dipipinya.
"Ada banyak alasan aku memutuskan untuk berhubungan dengannya kembali! Yang pertama aku dan si kembar membutuhkan sosok perempuan sebagai istri dan ibu untuk si kembar! Aku tidak bisa menyuruh ibuku, untuk selalu merawat si kembar! Umurnya sudah menginjak setengah abad! Aku ingin Ibu istirahat! Semenjak kamu tidak ada! Peranmu diambil alih oleh beliau! Aku kasian melihat Ibu! Aku ingin nyari baby sitter buat si kembar! Tapi Ibu melarang,"
"Alasan selanjutnya, aku berharap dengan berhubungan dengannya. Ingatannya segera kembali! Aku tidak bisa melihat Pak Dirut berlarut dalam kesedihannya. Saat memikirkan perubahan yang terjadi dalam diri putrinya! Jujur aku merasa bersalah akan semua itu!"
"Dan yang terakhir, setiap aku berdoa dan bertanya kepada Tuhan, apa arti mimpiku! Dan aku ingin Tuhan, memberikan sebuah isyarat! Jika dia memang jodohku dekatkanlah. Dan entah kenapa waktu selalu mengizinkan kita untuk bersama!"
"Harapanku kedepannya adalah bisa mencintainya tanpa harus mengurangi rasa cintaku padamu!"
"Aku tidak ingin menjadi lelaki yang egois dan tidak adil! Doakan aku semoga tidak melakukan kesalahan yang pernah aku lakukan dulu!"
...***...
Harjunot berjalan kearah motornya. Lelaki itu mengambil ponselnya didalam sakunya. Tangannya mulai mengaktifkan kembali ponselnya. Saat membuka data internet, lelaki itu mendapati. Pesan masuk dari kontak bertuliskan Humaira GC💣 Gdis Cerewet).
Humaira GC💣
"Anda dukun! Kenapa bisa tahu kalau saya pengen nelpon?"
"Atau Enjun takut ya kena marah sama Ayi?"
"Makanya bilang lagi sibuk!"
"Aku kesel tahu, karena tadi saat. Aku baru sampai di ruang tamu. Ada WO lamaran, Enjun mah gituh orangnya."
"Diam-diam mengesalkan! Main ngelakuin sesuatu seenak jidat sendiri!"
Harjunot yang membaca pesan dari Arsy dia menahan senyumnya. Lelaki itu hanya menggeleng-geleng kepalanya. Tapi tidak niat membalas pesan chat itu.
"Saya harap, saya bisa menjadi lelaki yang baik untuk Anda!"
"Saya akan berusaha mencintai, Anda Bu Guru!"
...***...
Malam hari telah tiba, di rumah Langit nampak ramai. Semua keluarga besar telah berkumpul. Pihak dari keluarga lelaki telah datang. Gibril dan Kafka bertugas untuk menjemput keluarga besar Harjunot.
__ADS_1
Rombongan dari pihak lelaki telah memasuki rumah Langit. Dengan membawa beberapa kotak yang dibungkus rapi sebagai seserahan.
"Kami persilahkan kepada keluarga besar Bapak Tara Ahmad dan Ibu Dewi dapat memasuki ruang acara dan menempati tempat duduk yang telah disediakan." Paruh baya yang ditunjuk sebagai pembawa acara itu mempersilahkan rombongan lelaki.
Harjunot nampak lebih berwibawa saat mengenakan baju batik. Dengan lengan panjang dan bawahan celana hitam dipadupadankan dengan sepatu pantofel.
Sedangkan Arsy baru masuk ketempat acara dengan digandeng Kak Vi. Perempuan itu memakai kebaya merah muda, rambutnya disanggul. Dengan makeup tipisnya. Akan tetapi hal itu membuat auranya semakin keluar. Tak sengaja matanya melirik kearah Harjunot. Dan disaat itu pula, sang empu juga memandangnya. Keduanya terlihat malu-malu. Membuat mereka saling menunduk.
***
Lelaki itu duduk sambil memangku putranya yang menjilati genggamannya. Sedangkan baby Bell tertidur di gendongan Aghnia. Seluruh keluarga sudah duduk rapi. Arsy ada ditengah-tengah kedua orang tuanya. Begitu pula dengan Harjunot.
" Baiklah kita buka lamaran ini dengan mengucapkan sholawat serta salam atas kehadiran Allah SWT!!"
"Assalamualaikum! Salam sejahtera bagi kita semua"
"Pertama-tama perkenalkan saya Black Agam Ariaja selaku pembawa acara yang notabenenya adalah Om dari Arsy Latthif!" Semua tertawa saat Black memperkenalkan jati dirinya.
"Saya disini selaku keluarga mewakili Bapak Muhammad Langit Arkana Abdullah dan Ibu Bintang Cahaya Bulan mengucapkan selamat datang kepada keluarga Bapak Tara Ahmad dan Ibu Dewi!"
"Serta tamu undangan yang berbahagia, puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga pada hari ini Minggu 12 Februari kita dapat berkumpul dalam acara lamaran Ananda Harjunot Ali & Adinda Arsy Latthif. Untuk memberikan keberkahan pada hari ini, mari kita baca Suratul Fatihah bersama-sama." Semua orang menundukkan kepalanya. Untuk berdoa.
"Selanjutnya kami persilakan kepada perwakilan tuan rumah, Bapak Arkana untuk memberikan sambutan sekaligus menanyakan maksud & tujuan kedatangan dari keluarga Bapak Tara Ahmad."
Gibril berdiri dari duduknya, pria itu mengambil mikrofon.
"Ehem ... Assalamu'alaikum warahmatullahi wa'barokatuh!" Seluruh orang menjawab salamnya.
"Pertama-tama saya selaku Abangnya Arsy Latthif yang mewakili Papa saya! Saya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kehadiran keluarga Bapak Tara Ahmad! Yang sudah berkenan bertamu ke rumah kami! Langsung saja pada intinya. Tujaan Bapak kesini karena apa?" Gibril.
Pihak dari Harjunot berdiri dan mulai memberikan maksud dan tujuan datang ke rumah Langit.
"Perkenankanlah saya Om Baskoro sebagai wakil dari Bapak Tara Ahmad ingin menyampaikan tutur kata secara resmi. Maksud dan tujuan kedatangan kami pada malam ini!"
"Malam hari ini, kami hadir di tengah-tengah keluarga Bapak Muhammad Arkana Abdullah/Ibu Bintang Cahaya Bulan. Tiada lain dalam rangka!" Om Baskoro menjeda ucapannya sejenak. Paruh baya itu membaca taks yang ada ditangannya.
"Kedua kalinya, saya wakil dari Bapak Tara Ahmad, ingin menanyakan, berhubung anak kami Ananda Harjunot Ali sudah lama kenal dan terlihat begitu akrab dengan Adinda Arsy Latthif. Jadi saya ingin menanyakan. Apa Adinda Arsy Latthif sudah memiliki laki-laki yang mengikat (melamar) atau belum?"
Arsy menatap baby Kai yang terlihat menggemaskan dengan baju moyetan. Perempuan itu menjulurkan lidahnya, untuk menggoda baby Kai yang ada dipangkuan Harjunot. Bayi itu menggesekkan kedua kakinya seolah ingin, digendong Arsy.
Bunda yang duduk disebelah kanan Arsy menyikut lengan putrinya. Agar mendengar acara selanjutnya. Akan tetapi sang putri malah asik menggoda bayi lelaki yang memiliki mata lebar. Arsy kembali menjulurkan lidahnya. Baby Kai tertawa kecil sambil memasukkan genggaman tangan ke mulutnya.
Sedangkan Harjunot menatap Om Baskoro yang bicara. Lelaki itu tidak melihat interaksi putranya dengan tunangannya.
Papa berdiri dari duduknya, paruh baya itu menerima mikrofon dari Black.
"Bagaimana putriku apa sudah ada lelaki yang melamarmu?" Papa bertanya kepada putrinya.
Sedangkan Arsy masih tersenyum kearah baby Kai. Seluruh keluarga menatap kearah Arsy yang tidak sadar dengan keadaan.
Bunda mencubit paha putrinya, agar sadar dengan kondisi.
"Aduh!" Arsy mengaduh kesakitan. Seluruh keluarga menahan tawanya, karena tingkah Arsy. Harjunot menggeleng karena tingkah tunangannya.
Sedangkan Papa menghembuskan nafas panjang. Karena malu, ternyata putrinya tidak menyimak rangkaian acara. Malah sibuk menggoda baby Kai.
"Bagaimana putriku apa sudah ada lelaki yang melamarmu?" Papa bertanya dengan nada tegas.
Arsy yang sudah sadar dengan kondisi dia mengambil mikrofon dan berkata.
"Belum!" jawabnya tegas.
"Jadi Adinda Arsy Latthif menerima lamaran Ananda Harjunot Ali?" tanya Om Baskoro
"Kalau saja Baby Kai, sudah besar. Saya lebih menerima lamaran darinya. Daripada Abinya! Tapi berhubung baby Kai masih bayi! Maka saya menerima lamaran ini!" ujar Arsy tersenyum.
__ADS_1
Sedangkan yang lain tertawa kecil karena jawaban Arsy yang menjadikan suasana lebih hidup. Dari pada waktu awal-awal acara. Berbeda dengan yang lain, kedua orang tua Arsy menahan malu. Karena ulah putrinya.
"Jika memang benar Adinda Arsy Latthif belum ada yang mengikat. Maka pada kesempatan ini kami dari keluarga Bapak Tara Ahmad. Dengan niat tulus bermaksud melamar anak Bapak Arkana yang bernama Adinda Arsy Latthif."
"Dan sebagai wujud ikatan anak kami Harjunot Ali memberikan ini seserahan sederhana! Mohon untuk tidak melihat nilai dari seserahannya. Akan tetapi ini dalah bentuk niat tulus dari kami untuk melamar anak Bapak Arkana!" Om Baskoro mengambil napas sejenak. Sebelum melanjutkan ucapannya.
"Semoga apa yang menjadi niat tulus dari keluarga kami mendapat ridho dari Allah SWT, Aamin." Semua orang mengamini dan Om Baskoro segara duduk ditempatnya. Keluarga Harjunot memberikan seserahan itu kepada keluarga Langit.
"Baiklah untuk acara selanjutnya, Ibunya dari Harjunot Ali bisa memasangkan cincin. Di jari manis Adinda Arsy Latthif!" Black membaca rangkaian acara.
Arsy berdiri dari duduknya perempuan itu berjalan kearah dekorasi minimalis. Bu Dewi memasangkan cincin pertunangan dijari Arsy. Setelah selesai dengan acara pasang cincin, Arsy mencium tangan Bu Dewi dengan takzim. Bu Dewi menerimanya, paruh baya itu memeluk Arsy. Dan melanjutkan acara cepika-cepiki.
"Selanjutnya Ibunda dari Arsy Latthif bisa memasang cincin pertunangan dijari manis Ananda Harjunot Ali!"
Harjunot nampak kebingungan karena anaknya tidak mau digendong siapa-siapa.
Langit memberikan kode kearah bungsunya. Pemuda itu mengangguk, dan mendekati Harjunot.
"Coba Kak Arjunot, kalau Kaka yang gendong mau enggak!" Kafka menjulurkan kedua tangannya untuk menggendong baby Kai.
Harjunot tersenyum tipis melihat calon adik iparnya. Yang cepat tanggap.
"Ayo ikut Paman, biar Abi nyelesain acaranya! Paman punya banyak mainan!" ujarnya seraya mengangkat baby Kai dari gendongan Harjunot. Baby Kai nampak menerima ajakan Paman barunya itu. Kafka berjalan menjauh untuk melipur baby Kai.
Sedangkan Harjunot merapikan bajunya dan berjalan kearah ketiga wanita yang berdiri didekor minimalis itu.
Bunda tersenyum kearah calon menantunya. Paruh baya itu segera memasangkan cincin pertunangan dijari manis Harjunot. Lelaki itu mencium tangan calon mertuanya. Dan berpulukkan sedikit kaku.
Suara tepuk tangan terdengar riuh diruang tersebut.
"Acara selanjutnya mungkin sesi foto dengan para keluarga besar!"
Pasangan yang bertunangan itu berfoto dengan kedua perempuan paruh baya itu. Setelah itu dengan beberapa keluarga lainnya. Hingga saatnya foto berdua.
"Masnya, badannya sedikit miring terus tangannya masuk ke dalam saku!" Atur sang fotografer.
Harjunot pun menuruti permintaan fotografer.
"Terus Mbaknya, berdiri tepat didepan Masnya!"
Arsy hanya mengikuti saja.
"Sedikit mepet dengan dada Masnya, Mbak!" Arsy sedikit memundurkan badannya agar nempel dengan dada Harjunot.
"Okey good!" Sang fotografer memberikan jempol. Dan siap mengambil gambar pasangan itu.
Ada bayak lima pose yang telah diambil gambarnya. Sekarang sang fotografer sedangkan memperlihatkan foto yang diambil
tadi kepada tunangan baru itu.
"Muka kamu yang ini terlalu datar! Seperti triplek bangunan. Mentang-mentang jadi mandor!" cibir Arsy sambil menunjuk kearah kamera digital.
Sedangkan Harjunot hanya diam tanpa ekspresi. Lelaki itu lebih asik menggendong putrinya yang terbangun.
"Mas, beberapa jepretan lagi ya? Saya mau pose sama si kembar," ujar Arsy memerintah.
"Oke siap!"
Arsy tersenyum dan langsung menghampiri Kafka yang menggendong baby Kai.
"Ka ...mana si baby boy kita akan foto bersama!" Arsy langsung mengambil baby Kai dari gendongan adiknya. Dan mencium pipi gembul bayi itu.
"Hilih tadi ngapain? Pacaran? Kagak ingat anaknya huuu!" Kafka mencibir sambil berlalu.
Arsy ingin ngegetok kepala adiknya. Akan tetapi kalah gesit dengan Kafka yang langsung berlari. Arsy memutuskan kembali kearah Harjunot. Kedua pasangan itu sudah siap berfoto bersama. Si kembar dijadikan sebagai properti yang menambah kelengkapan gambarnya. Sesekali Arsy tertawa saat berpose. Kafka yang melihat dari kejauhan tersenyum tipis. Melihat tawa kakak perempuannya seperti dulu.
__ADS_1
"Aku ingat kata-katamu Yi! Cinta memang tidak harus memiliki. Tapi kalau jodoh sudah pasti memiliki! Dan benar saja, sekarang hal itu terjadi pada dirimu dan Kak Arjunot! Terima kasih Tuhan, telah memberikan berkah kepada Kakak perempuanku! Aku berdoa dia dilimpahi kebahagiaan!" ujar Kafka, kemudian melangkahkan kakinya keluar rumah dan memasukkan kedua tangannya disaku.