
Harjunot berserta istrinya bersiap menuju ke rumah Langit. Mobil berwarna putih itu, membelah jalanan.
"Fit! Gedung itu akan menjadi sekolah Aliyah, nantinya!" ujar Harjunot sambil mengemudi.
Fitri yang tadi melihat kearah depan, dia menatap luaran.
"Apa kamu kerja di sana?"
Harjunot hanya mengangguk.
"Jaraknya lumayan dekat sama rumah ya Mas!"
"Hem!"
"Fit! Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Harjunot bertanya pelan, dan melirik kearah istrinya.
Fitri menatap suaminya, kemudian mengangguk.
"Maaf sebelumnya! Kalau aku terlalu lancang menanyakan hal ini!" Harjunot menggenggam tangan istrinya. Sedangkan yang satu tetap memutar setir.
"Mengenai?" Fitri berpikir, apa Harjunot Ingin bertanya mengenai masa lalunya.
"Mengenai, kenapa kamu bahagia sekali saat aku memberikan nafkah tadi siang. Bukanya kamu sudah pernah menikah sebelumnya," ujarnya sedikit mengecilkan kalimat belakang. Takut jika pertanyaan yang ia lontarkan itu, menyinggung perasaan Fitri.
Harjunot menatap matanya Fitri sekilas, dia tahu jika Fitri tidak nyaman dengan pertanyaan barusan.
"A-aku minta maaf Fit! Karena lancang!"
"Tidak apa-apa, tapi maaf aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu!" Fitri mencoba untuk bicara tenang. Meskipun hatinya sesak karena pertanyaan Harjunot.
'Maafkan aku Mas Arjunot, karena tidak bisa menjawab pertanyaan darimu. Biar aku saja yang tahu'. Fitri membatin.
'Apa suaminya tidak memberikan nafkah padanya. Aku sadar betul, bagaimana Fitri begitu antusias saat aku bilang jika ada amplop diransel untuk keperluan satu bulan kedepannya. Dia seperti baru mendapatkan nafkah lahir saja' batin Harjunot menatap istrinya yang menunduk.
Mobil itu memasuki gerbang rumah Langit. Harjunot keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Kemudian menggenggam tangan istrinya dengan erat.
...***...
Gelak tawa memenuhi ruangan keluarga. Malam itu keluarga Langit sedang menonton bersama. Terdengar ketukan pintu berkali-kali membuat keluarga itu menghentikan tawanya.
"Sepertinya ada yang mengetuk pintu. Coba lihat siapa yang datang," ujar Langit.
"Palingan juga OB!" Kafka menyahuti sambil berdiri dari duduknya.
"Sepertinya tidak, jika itu Kak Black pasti langsung masuk deh!" Gibril tertawa renyah karena tahu sifat Black.
Pintu utama terbuka, di sana pemilik rumah terkejut. Saat melihat lelaki dan perempuan bergandengan tangan. Entah mengapa hatinya sesak saat melihat pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
"Silahkan masuk!" Arsy menunduk saat melihat pengantin baru itu. Lelaki itu mengangguk. Mengapa hatinya berdebar-debar tak karuan. Hingga menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Eh ... pengantin baru ternyata! Yi kenapa tidak disuruh masuk?" Suara Langit sambil berjalan menghampiri Harjunot.
"Su-sudah kok Pa! Ta-di, maaf saya kedalam dahulu!" Arsy berjalan dan meninggalkan mereka sambil menunduk.
'Oh Tuhan! Aku tidak tahu kenapa semua ini terjadi. Kenapa dengan mudahnya aku mengagumi lelaki itu'. batin Arsy sambil berjalan cepat.
...***...
Langit berjabatan tangan dengan Harjunot dan memeluknya sebagai tanda persahabatan.
"Terima kasih Not, sudah mau berkunjung ke rumah kami!" ujarnya seraya melerai pelukan hangat itu.
"Wah ... sepertinya ada tamu agung nih!" Cahaya baru saja keluar dari dapur menghampiri mereka. Dan memeluk Fitri sambil cipika-cipiki. Kemudian salam panjalu untuk Harjunot. Harjunot pun membalas diiringi senyuman.
Keluarga Langit pun meminta tamunya untuk duduk.
"Gimana Not, tidurnya sudah enggak kedinginan? Istilah sudah ada Istri!" tanya Langit yang mendapatkan cubitan kecil dari istrinya dibagian pinggang.
Langit mendesis kesakitan karena cubitan yang Cahaya berikan.
"Tanyanya enggak dipikir dulu!" Cahaya berbisik ditelinga Langit.
Sedangkan Harjunot menggeleng karena keromantisan yang terjadi didepannya. Fitri pun tersenyum dibalik niqabnya.
"Pak Dirut ternyata romantis banget sama istrinya!"
'Romantis dari mananya, orang dapat cubitan. Sepertinya Harjunot tidak bisa membedakan mana romantis, mana realistis. Jelas-jelas aku menahan sakit' batin Langit kesal.
"Lebih romantis kalau kita dikamar Not!" Langit menjawab asal, membuat dia mendapatkan cubitan dari istrinya.
"Emmm!" Langit meringis karena Cahaya menginjak kakinya.
'Kenapa Masnya, malah bicara seperti itu, sungguh memalukan' keluh Cahaya dalam hati.
Harjunot menahan tawanya karena atasannya disiksa istrinya sendiri didepan matanya.
"Emmm, emang romantis yang sesungguhnya itu seperti apa?" Harjunot bertanya. Tapi kali ini dia mendapatkan tepukan lembut dari Fitri. Seolah Fitri menyuruhnya untuk mengalihkan pembicaraan saja.
Langit yang melihat hal itu dia sedikit iri, dengan Harjunot.
'Harjunot kau dapet tepukan lembut, nah aku dapat cubitan istriku tercinta. Apa kau sengaja bertanya seperti itu, agar aku tersiksa. Jangan-jangan kau ingin melihat aku disiksa didepan matamu' batin Langit kesal.
"Ehem ...oh ya Not, bagaimana proyek yang kau tangani lancar?" Langit mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah!" Harjunot menjawab sambil meminum teh hangat yang masih mengepul asapnya.
__ADS_1
"Kalau istri, kesehariannya ngapain?" Kini Cahaya yang bertanya.
"Jawablah Fit!" Harjunot menggesekkan pundaknya dengan pundak Fitri.
"Berberes rumah, setelah itu paling baca dan nulis!"
"Apa kamu seorang jurnalis?" Cahaya antusias karena jawaban Fitri.
"Emmm ... ya seperti itu. Tapi itu dulu saat diluar negeri. Untuk sekarang aku sedang fokus riset untuk novelku!"
"Kamu juga seorang novelis?" Cahaya terlihat girang, membuat Langit yang duduk disebelahnya heran.
"Iya!"
"Emang menulis sejak kapan?" Cahaya bertanya.
"Sejak aku TK sudah nulis!" jawaban Fitri membuat semua yang ada diruang tamu tidak percaya.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan jawaban ku? Bukannya kalian juga sama, aku berpikir jika kita bisa menulis saat kita memasuki TK!" Semua orang mencerna perkataan Fitri. Terdengar gelak tawa diruang tamu karena ketiga orang itu sadar jika Fitri sedang melemparkan candaan.
"Istrimu ternyata bisa bercanda juga Not! Gaya bercandanya itu simpel dan realistis, membuat kita harus pintar mencerna perkataan yang keluar dari mulutnya. Apa kayak gini kalau bercanda dengan orang pintar?" pujian sekaligus pertanyaan dari Langit untuk istri sahabatnya.
"Ah ... aku terkesan bodoh dengan pertanyaan yang aku lontarkan padanya. Harusnya aku bertanya kapan dia memulai menjadi seorang jurnalis. Dan mengapa memutuskan sebagai seorang novelis juga," ujar Cahaya terkekeh sambil menepuk lembut paha suaminya.
"Pekerjaannya hampir sama dengan putriku ternyata!" Langit berucap.
"Kalau boleh saya tahu, apa pekerjaan putri Anda?" Fitri bertanya ingin tahu.
"Dia penerjemah, sekarang sedang menerjemahkan buku milik Adreee Luiz. Tentang kehidupan yang sesungguhnya" jawabnya.
"Apa putrinya lulusan, sastra bahasa?"
"Benar! Alhamdulillah diusianya yang masih 23 tahun kurang, dia sudah mendapatkan gelar S2. Setelah S1 di Malaysia!" Langit nampak antusias jika membahas tentang putri kesayangannya.
Harjunot jadi tahu jika usia Arsy sangat muda. Entah mengapa dia tidak nyaman jika membahas tentang Arsy setelah dia menikah.
'Ya Allah! Jangan biarkan hatiku bermain dengan perempuan lain. Aku tak tahu kenapa perasaanku jadi tak karuan seperti ini. Oh Tuhan! Ada hati yang harus aku jaga saat ini' batin Harjunot.
Dulu dia selalu menipis jauh-jauh. Jika dia telah memiliki perasaan dengan putri atasannya yang baru ia kenalnya. Tapi entah mengapa sekarang, justru dia yakin jika ada secuil rasa buat putri sahabatnya.
'Tuhan! Bantu aku untuk menghapus rasa yang seharusnya tidak pernah ada. Fit! Demi kamu, aku akan menghapus perasaan ini. Karena hanya kamu yang pantas mengisi hatiku! Aku janji' batin Harjunot yang tidak sadar sampai menggenggam tangan istrinya kuat.
Fitri yang sedang bercengkrama dengan lawan bicaranya. Dia sontak kaget karena genggaman tangan Harjunot sangat kencang.
'Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Arjunot, genggaman tangan ini seperti tadi saat kita masuk rumah ini. Tepatnya saat perempuan berambut pirang itu membuka pintu untuk kami' batin Fitri sambil mengelus punggung tangan suaminya.
...***...
__ADS_1
Cieeeeee yang ketemu.....