
Pagi itu Harjunot seperti biasa akan menjemput putri atasannya. Mobil itu memasuki gerbang perumahan elit.
Harjunot keluar dari mobilnya, sambil mengecek ponselnya.
"Pagi Not!" Seseorang menyapa.
Harjunot yang familiar dengan suara itu, ia mengangkat kepalanya.
"Pak Dirut, belum berangkat kerja?" Harjunot bertanya sambil menyimpan ponselnya di saku.
"Nanti siang ada pertemuan dengan Dewan direksi, jadi berangkatnya agak siangan!"
"Emmm!" Harjunot mengangguk.
"Oh ... ya Not, sejujurnya aku ingin mengucapkan terima kasih!"
"Buat apa?" Harjunot mengerutkan keningnya.
"Sekarang Ayi, jarang keluar rumah saat malam. Sehabis isya dia langsung tidur, katanya kau membuat dia seperti kacung! Jadi dia lelah dan tidak memiliki tenaga untuk hobinya itu." Langit terkekeh. "Hobi yang menyesatkan," tambahnya lagi.
Harjunot tersenyum terpaksa, sebenarnya lelaki itu sedikit tersindir. Karena perkataan Langit, mengenai dirinya yang katanya membuat Arsy seperti kacung.
Belum juga Harjunot menjawab, orang yang diomongin datang.
"Aku kedalam dahulu ya Not!" pamit Langit.
...***...
Harjunot membukakan pintu bagian penumpang untuk Arsy.
"Tidak mau!" Arsy menggeleng.
"Kenapa?"
'Ayolah untuk hari ini, jangan berdebat' batin Harjunot.
"Didepan kosong, kenapa tidak didepan saja!" Arsy tahu jika Harjunot tidak suka berduaan dengan perempuan.
"Ini masih pagi, saya tidak mau berdebat dengan Anda!"
"Huh!" Arsy langsung masuk ke dalam mobil.
Dalam mobil Harjunot memikirkan mimpinya. Lelaki itu tidak menanggapi mimpinya dengan serius. Toh hal seperti itu, bukan untuk yang pertama kalinya. Bagi lelaki itu.
Sesampainya di tempat kerja Harjunot segera melakukan tugasnya. Sedangkan Arsy hanya mengikuti Harjunot dari belakang.
"Tolong, berikan betel! Kepada tukang yang di atas!" ujar Harjunot kepada Arsy.
"Kenapa enggak Anda saja!" tolak Arsy sambil memainkan ponselnya.
"Saya ada urusan, dengan pemilik proyek!"
"Saya harus manjat gitu?"
__ADS_1
"Ada tangga kan Bu!"
"Ba-Bu ba-bu, jangan-jangan selama ini Anda manggil saya Bu, itu maksudnya babu!" tuduh Arsy sambil menatap sinis.
"Maaf, saya tidak punya waktu buat berdebat dengan Anda! Lakukan apa yang saya minta, atau mau saya bilang sama Papa, Anda. Jika putrinya..."
"Iya-iya! Dasar duda Wek!" Arsy menjulurkan lidahnya kearah Harjunot.
Arsy menatap tangga itu dari bawah.
"Kalau aku jatuh dari tangga, bisa-bisa tulangku patah nih!" ujar Arsy.
"Dia benar-benar kelewatan, aku tidak menyukai lelaki sepertinya." Arsy pun mulai menaiki tangga dengan hati-hati. Lumayan lama Arsy menaiki tangga itu, akan tetapi ia berhasil naik ke atas.
"Nih, Pak betel yang Bapak perlukan!" Arsy menyerahkan betel kearah tukang itu.
"Kenapa Mbk yang nganterin?" Tukang itu bertanya.
"Ya karena dia, sedangkan menemui pemilik proyek!" jawabannya yang duduk disamping tukang.
"Oh ... Mas Mandor orangnya baik ya Mbak!"
"Hahaha!" Arsy tertawa getir, sambil membatin. 'Baik darimana nya'
"Saya turun dahulu ya Pak!"
...***...
"Aaaaaaaaaa!" teriakan itu terdengar di telinga para tukang tak terkecuali telinga Harjunot juga mendengar.
Lelaki yang tadi sedang bercengkrama dengan pemilik proyek itu membalikkan badannya. Betapa terkejutnya dia, saat melihat perempuan yang terjun bebas dari atas. Harjunot langsung berlari, guna menyelamatkan Arsy.
'Ya Tuhan! Tolong jaga dia. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, jika sesuatu terjadi padanya' batin Harjunot sambil berlari kearah tangga.
Hap! Jika terlambat sebentar saja mungkin Harjunot tidak akan memaafkan dirinya. Untungnya lelaki itu bisa menangkap tubuh Arsy.
"Papa huaaaaaa!" Arsy memejamkan matanya sambil menagis.
"Bu Guru, jangan menangis!"
"Diam! Karena Anda saya hampir celaka huuuu!" Perempuan itu menyembunyikan wajahnya di dada Harjunot.
"Sa-ya minta maaf! Tapi sekarang Anda tidak apa-apa kan?" ujarnya sambil menurunkan Arsy dari gendongannya.
Seluruh tukang melihat kejadian itu, membuat Harjunot sedikit risih.
Arsy yang masih sedikit shock dengan kejadian yang menimpanya.Dia menghamburkan tubuhnya kearah Harjunot.
Harjunot terkejut karena Arsy memeluknya erat. Lelaki itu berusaha untuk melepaskan pelukan itu. Akan tetapi Arsy malah memeluknya semakin erat dan menjadikan dadanya sebagai sandaran.
Harjunot membuang napas kasar, dengan berat hati. Dia membiarkan Arsy memeluknya.
"Mas Mandor, kasih minum kasian!" Harjunot tersenyum sambil menerima botol air. Dan membuka tutupnya, sebelum ia memberikan ke Arsy.
__ADS_1
"Minuman dulu," ujarnya sambil melerai tangan Arsy yang memeluknya.
Arsy mengusap wajahnya kemudian meminum air.
"Sudah baikkan?" Harjunot bertanya.
Sedangkan yang ditanya tidak menjawab.
Para tukang sudah kembali bekerja. Hanya meninggalkan kedua orang itu saja.
"Ayo kita ke sana, kita duduk di sana!" Harjunot mempersilahkan Arsy untuk berjalan terlebih dahulu.
Sedangkan Arsy mendekati Harjunot dan bergelayutan ditangan lelaki itu.
Harjunot mengepalkan tangannya karena ulah Arsy.
"Bisa dilepaskan tangan saya?" tanyanya dipaksakan selembut mungkin.
Arsy hanya menggeleng pelan.
'Ya Tuhan ampunilah dosaku, karena bersentuhan dengan yang bukan mahram!' batin Harjunot.
"Kita bukan muhrim loh Bu!"
Arsy malah menyandarkan kepalanya di pundak Harjunot dengan santai.
"Saya antar pulang saja ya, kalau begitu. Anda sepertinya perlu istirahat!"
Arsy mengangguk setuju. Akhirnya kedua orang itu berjalan kearah mobil. Dengan mesra bak pasang muda-mudi yang baru kencan ahir pekan.
Harjunot terus melafadzkan istighfar karena godaan setan cantik. Yang sedang bergelayutan dilengannya.
Harjunot membukakan pintu bagian penumpang. Tapi Arsy segera menutupnya.
"Kenapa?" Harjunot ingin tahu kenapa Arsy menutupnya.
"Saya enggak mau duduk di kursi penumpang!"
"Terus?"
"Saya tidak mau berbicara dengan orang yang mau mencelakai saya!"
Harjunot memijit pelipisnya dengan sebelah tangannya. Karena yang satu digelayuti setan berparas aduhaiii.
"Baiklah! Saya turuti permintaannya Anda. Tapi tolong lepaskan tangan saya, apa kata orang mengenai kita! Kita ini bukan muhrim, apalagi dengan status yang saya miliki. Image saya jadi rusak!" Harjunot berusaha melepaskan tangan Arsy.
Arsy tersenyum penuh arti, karena dia berhasil mengerjai dan mencoreng nama baik Harjunot. Dihadapan para tukang.
'Emang itu rencana pertamaku. Membuatmu dicap sebagai orang buruk! Karena kamu sudah merusak kebahagiaanku waktu di Bar' batin Arsy.
Ternyata Arsy masih memiliki dendam, yang belum terselesaikan untuk Harjunot.
'Untunglah dia setuju untuk pulang. Setidaknya nanti sore aku bisa ke makam Fitri. Maaf Fit, aku kemarin sore tidak menemui mu' batin Harjunot.
__ADS_1