
"Terus kamu mualaf sejak kapan?"
"Umur dua puluh, setelah Kakek meninggal!"
"Emmm!" Harjunot mengangguk paham.
"Setelah mualaf, kamu langsung mengenakan pakaian muslim dan niqab?"
"Tidak!" Fitri menggeleng.
"Umur dua puluh tahun, setahun sebelumnya Kakek meninggal. Kakek berwasiat kepada Nenek, agar menjagaku hingga Tuhan, memanggil Nenek. Dan Nenek menyetujui hal itu. Saat itu, Nenek selalu bercerita tentang Rasulullah SAW! Bagaimana Rasulullah menerima wahyu untuk yang pertama kali pada tahun 610M. Tepatnya di Gua Hira. Agama Islam pertama kali muncul di Jazirah Arab pada abad ke-7 Masehi. Dan kata Nenek, Nabi Muhammad adalah sosok yang mula-mula memperkenalkan agama Islam di Makkah. Dan yang membuat aku, memutuskan untuk masuk Islam adalah karena aku kagum dengan sosok lelaki yang hebat dan tangguh yang tak lain adalah Rasulullah! Fitri selalu mendengar cerita Rasulullah dari Nenek, bagaimana Rasulullah berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan. Bagaimana Baginda Rasulullah dicaci, dihina, dilempari batu hingga dilempari kotoran juga pernah."
"Salah satunya, dari Rasulullah! Aku jadi tahu tentang Islam yang sesungguhnya." Fitri menatap wajah Harjunot.
"Kok aku jadi malu ya Fit! Aku yang terlahir sebagai muslim, tidak tahu banyak tentang Rasulullah. Sedangkan kamu yang mualaf tahu tentang ini!" Harjunot selalu dibuat istrinya untuk mengakui jika istrinya itu pintar.
"Mas Arjunot, semua itu tidak benar! Intinya adalah mau mencari sesuatu, maka kamu akan mendapatkan sesuatu yang belum pernah kamu ketahui."
"Tapi aku melihat Mas Arunot! Lelaki yang percaya dengan takdir Tuhan! Mengapa kau bertanya seperti ini? Saat kau menjelaskan tentang takdir Allah dan aku lihat kamu seperti orang yang tahu agama!"
"Kau menilai seperti itu ya?" Fitri mengangguk.
"Sebenarnya lima tahun terakhir ini, aku mencoba memperbaiki diri Fit! Aku mencari tahu tentang gimana menjadi muslim yang baik!"
"Ah ...Mas Arjunot, ternyata berhijrah toh?"
"Iya, seperti yang kau lihat. Semua ini gara-gara masa laluku!"
"Apa ini tentang sakit hati?" Fitri menggoda.
"Biasa anak muda, Fit jatuh cinta! Tapi dengan aku patah hati, aku tidak pernah berharap dengan manusia harapan ku hanya kepada Allah! Dari keterpurukan ku, aku mulai menghafal beberapa doa-doa gitu! Biar lupa dengan mantan" Harjunot menggaruk tengkuknya karena salah tingkah.
"Oh ...ya Fit kamu pakai niqab sejak kapan?" Harjunot mengalihkan pembicaraan.
"Satu tahun setelah meninggalnya suami!"
"Emang kamu nikah umur berapa?"
"Umur dua puluh, berstatus janda umur dua satu. Aku menikah satu bulan setelah memeluk Islam. Dengan seorang duda"
"Kenapa dengan duda?" tanya Harjunot.
"Kenapa dengan janda?" Fitri bertanya balik. Harjunot kembali dibuat kikuk.
"Ya karena Allah yang mejodohkan!" Harjunot menjawab.
"Ya karena itu jawabannya!" Fitri menimpali ucapan Harjunot.
Harjunot menelan ludahnya kenapa si Fitri selalu menjawab seperti yang ia jawab.
"Boleh aku membuka hijabmu?"
"Kamu ingin tahu?"
...***...
Jantungnya berdetak kencang saat istrinya bertanya seperti itu.
"I-ya!" Tersenyum kaku, sedangkan Fitri tersenyum malu membuat pipinya merona.
__ADS_1
"Em ... gimana ya?" Fitri menggaruk kepalanya yang tertutup hijab.
"Kalau tidak bisa, aku bisa membukanya!" Harjunot bicara pelan, sudah lama lelaki itu tidak berinteraksi dengan perempuan selayaknya kekasih pujaan hati.
"A- tidak per-lu!"
"Dikit!" Harjunot menaruh jari jempolnya diujung jari telunjuk.
"Emang bisa? Maksudnya cuma lihat anak rambut gitu?" Fitri tersenyum tipis, terkadang sifat jahilnya muncul saat melihat lawan bicaranya malu.
"Kalau ada Bapak rambut! Aku juga ingin melihatnya!"
"Anak rambutnya lahir sendiri, tanpa orang tua!"
"Kau itu! Aku beneran loh Fit! Masalahnya kan aku udah jadi suamimu! Jadi enggak salah dong?" Sorot mata Harjunot sedikit tajam.
"I-ya! Tunggu dulu aku ambil napas dahulu!" Fitri menepuk lembut paha suaminya.
Saat Fitri ingin menarik napas dan membuangnya pelan. Harjunot mengeluarkan suara. "Apa kau ingin melahirkan, kenapa tarik napas segala?" Protes Harjunot untuk istrinya. Fitri yang mendengar dia membuang napas kasar. "Mau cepat enggak nih? Kalau iya, bisa enggak diam dahulu?" Fitri memasang wajah marah. Tapi Harjunot tahu jika itu hanya akting.
Harjunot berpikir untuk mengerjai istrinya. "Sebagai suami yang baik, aku akan membantumu dan memberikan instruksi acara tarik napas! Kau setuju?" Harjunot mengedipkan mata. Fitri menatap mata suaminya lekat, perempuan itu mencari tahu apa suaminya itu bercanda.
"Jangan bercanda kamu!"
"Fitri! Istriku aku tidak bercanda, ayo lakukan saja!"
"Yasudah, katanya sebaik-baiknya wanita adalah istri yang selalu menaati perintah suami. Tapi dalam arti baik, kalau buruk ya enggak boleh!" ujar Fitri, Harjunot yang mendengar itu tidak enak. Apa iya dia harus melancarkan aksinya untuk mengerjai istrinya.
"Tarik napas pelan!" Instruksi yang Harjunot berikan kepada Fitri membuat perempuan itu mengikut saja.
"Hirup udaranya, iya tahan! Tahan" Harjunot terkekeh kecil karena berhasil mengerjai Fitri.
Fitri membuang napas dengan kasar, dan siap melontarkan protes kepada suaminya. "Mas Arjunot, mengerjai Fitri ya?"
Harjunot tertawa kecil, sambil menutup mulutnya dengan tangan. Gayanya sudah seperti orang yang batuk. Harjunot segera mengakhiri tawanya dan berucap. "Kapan lagi aku bisa memberi instruksi kepada seseorang untuk melakukan acara tarik napas?" Itupun masih dengan cekikikan. Sedangkan Fitri menggembungkan pipinya karena suaminya mentertawakan dirinya. Harjunot yang tadi tertawa ia menghentikan tawanya saat melihat ekspresi Fitri. Lelaki itu berpikir apa istrinya marah padanya. Harjunot benar-benar keterlaluan masa istrinya sendiri dikerjain.
"Em ...Fit kau marah?" tanyanya sedikit takut, suaranya terdengar ragu. Fitri yang mula menatap lurus ke depan, saat mendengar suaminya bertanya. Ia melirik kearah Harjunot, dan berkata lembut tapi lugas. "Tidak!" Sambil menggelengkan kepalanya.
Hal itu malah membuat Harjunot, merasa tidak enak. Kenapa istrinya begitu pemaaf, dan dia juga belum pernah mendengar Fitri berkata keras.
"Aku sangat beruntung karena menikah denganmu Fit!" Pujian yang dilontarkan Harjunot membuat hati Fitri terguncang.
"Hey ... kenapa pipimu memerah?" Lelaki itu menggoda istrinya.
"Emang iya, ya?" Spontan Fitri memegang kedua pipinya.
"He'em ...kau mau lihat tidak?"
"Baiklah aku akan bercermin!" Fitri merangkak kepinggiran kasur kemudian berdiri. Namun belum juga melangkah menuju cermin. Tangan kekar itu mencekal pergelangan tangannya, dan berkata. "Tidak perlu jauh-jauh, untuk mencari cermin. Disisi juga ada, Fitri akan melihat bagaimana merahnya pipi Fitri!" Fitri bingung karena ucapan suaminya, tapi perempuan itu memutuskan duduk disebelah Harjunot. "Caranya?"
"Gini nih!" Harjunot menangkup wajah Fitri dengan kedua tangannya. Sedangkan Fitri berpikir jika itu ulah jahil yang akan Harjunot lakukan.
"Nah, sekarang Fitri tatap mata Junot!" Fitri hanya mengikuti apa yang Harjunot katakan, tapi hati Fitri seolah berbunyi layaknya suara DJ.
"Fitri bisa melihatkan, di sana ada pantulan Fitri. Lihat saja, pipimu makin kesini makin memerah!" Lelaki itu benar-benar bikin Fitri kaget, kenapa dia punya suami seperti Harjunot kang gombal.
"Bisa enggak, jangan godain Fitri!" Fitri memajukan wajahnya, dan matanya melotot. Membuat Harjunot tercengang, ternyata Fitri juga tahan jika diajak lomba tatapan. Harjunot segera melepaskan tangan yang, ia gunakan menangkup wajah istrinya. Fitri menyunggingkan senyumnya, karena berhasil mengalahkan Harjunot.
Mereka berdua terdiam sejenak karena pada dasarnya saat melakukan pembicaraan terkadang ada jedanya.
__ADS_1
"Fit!"
"Iya!"
"Aku lupa dengan niat pertamaku!" Menatap lurus kearah dinding.
"Niat pertama? Apa itu?" Fitri melirik kearah Harjunot.
"Melihatmu tanpa hijab!"
"Em!" Fitri mengangguk, tangannya mulai mengambil peniti dibagian kepala kemudian lanjut ke dagu. Harjunot menatap istrinya, sepertinya lelaki itu sangat kepo.
"Nungguin ya?"
Harjunot yang fokus melihat kearah Fitri, tersentak saat istrinya bertanya seperti itu.
"Heh?" Jawaban Harjunot seperti orang kesal, Fitri tersenyum lebar.
Fitri pun membuka hijabnya dengan pelan. Di sana Harjunot sudah bisa melihat rambut istrinya warna hitam pekat. Setelah benar-benar sempurna dibuka, Harjunot melihat rambut istrinya memiliki dua warna biru dan hitam. Jika dijabarkan seperti apa, maka gaya rambutnya seperti tokoh utama yang bermain di Hot Girl.
"Dua warna?"
"Hem!" Fitri mengaguuk pelan, dan melanjutkan ucapannya. "Sebenarnya aku mewarnai rambut ku saat belum memeluk Islam. Terus saat aku, sudah menjadi muslim aku berinisiatif buat mengembalikan rambutku seperti semula, tapi kata Nenek dalam Islam tidak boleh mewarnai rambut dengan warna hitam, jadi ya sudah aku biarkan saja!"
"Tapi saat lahir rambutnya memang sudah hitam legam?" Fitri mengangguk sebagai jawaban.
"Fit, besok kita daftarkan pernikahan kita ke KUA ya? Biar pernikahan kita resmi secara agama dan hukum!"
"Iya! Tapi setelah itu kita tinggal di rumah ku ya? Soalnya rumah tidak ada yang merawat, Mas Arjunot mau kan?" Fitri memegang lutut Harjunot.
"Gimana ya Fit! Masa iya aku sebagai seorang suami harus numpang dirumah mu!"
" Mas, kita ini sudah menikah tidak sepantasnya seorang pasangan merasa tidak enak dengan pasangannya. Pepatah bilang, harta suami milik istri. Sedangkan milik istri adalah punya istri saja. Tapi itu tidak berlaku padaku, apa pun yang kita miliki, sebisa mungkin kita harus bisa mengelolanya bersama!" Tersenyum tulus dari bibir Fitri membuat Harjunot mengagumi istrinya, rasa syukur kepada Allah selalu mengiringi detak jantungnya. Harjunot sangat bersyukur karena Yang Maha Memberi, memberikan apa yang ia butuhkan. Seorang perempuan yang sangat baik, pengertian dan mampu membuatnya mengetahui apa yang belum diketahui.
"Fit, kenapa sih kamu selalu membuat aku mengagumimu?"
"Hah?" Fitri tidak paham, atau pura-pura tidak paham masalahnya dia sudah merasakan kode gombal Harjunot akan meluncur.
Harjunot terkekeh, dia tahu istrinya pura-pura tidak paham, padahal Fitri bukan perempuan bodoh yang tidak bisa memahami bahasa lugas dari Harjunot.
"Kau paham Fit, tapi kau pura-pura tidak paham kan? Jangan-jangan kamu pura-pura tidak paham, karena kamu ingin aku mengulangi ucapanku ya!" Tebak Harjunot sambil menunjuk wajah Fitri dengan jari. "Hayo ngaku!"
Harjunot benar-benar membuat Fitri salah tingkah.
"Mas Arjunot kalau sudah tahu ngapain tanya?" Fitri berhasil menahan rasa saltingnya didepan suaminya.
Sekarang sudah terbalik Harjunot yang jadi salah tingkah karena pertanyaan Fitri.
"Hayo jawab!" Fitri bertanya sambil menirukan gaya Harjunot saat bertanya kepadanya.
"A-anu!" Harjunot menggaruk tengkuknya.
"Iya ...a-anu apa?" Fitri gantian yang membuat Harjunot kikuk.
"Fit, sebenarnya kamu umur berapa? Kenapa aku ngerasa kamu itu mengayomi banget gitu. Berasa aku itu, kayak cildish saat bersamamu!" Harjunot mengalihkan pembicaraan. Dari pada pacu jantung mendingan mengalihkan pembicaraan saja. Fitri juga tahu jika suaminya lebih memilih mengalihkan pembicaraan. Tapi perempuan itu, sangat mengerti, jadi ia juga harus mengikuti apa yang suaminya pilih.
"Aku?" Fitri menunjuk dirinya sendiri. Harjunot mengaguuk dengan cepat.
"Nungguin ya?"
__ADS_1