Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Papa!


__ADS_3

Tok ...tok ...tok! Ketukan pintu dari luar.


"Masuk!" Suaranya terdengar lemas.


Lelaki paruh baya itu membuka pintu perlahan. Senyuman terukir indah di bibirnya, tangannya membawa mangkuk.


"Ah ...Papa!" Arsy yang tadi berbaring saat melihat Papanya, ia mengganti posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang.


"Bagaimana? Kepalanya masih sakit?" Papa Langit berjalan kearah putrinya. Kemudian duduk di samping sang putri.


"Lumayan!"


"Ayi! Tadi Bunda, bikini bubur. Kamu makan ya Nak?" Papa mengelus rambut putrinya sambil tersenyum.


Ingin sekali Arsy menolak, tapi dia pun tidak tega membuat orang tuanya khawatir. Karena keadaannya yang sakit.


Arsy pun mengangguk pelan.


"Oh ...ya! Papa, sampai lupa! Tadi Harjunot bilang makasih sama kamu," ujarnya, seraya menyuapi putrinya. Arsy pun menerimanya, meskipun rasanya hambar. Seperti hati yang tidak diisi dengan hati lain.


Arsy mengangguk, sambil menelan bubur. Setelah bubur itu masuk ke perut Arsy menjawab. "Ayi tahu!"


Paruh baya itu, terkejut bagaimana putrinya bisa tahu. Jika dia saja baru memberi tahunya. Kalau dilihat dari garis katulistiwa keluarganya tidak ada yang jadi indigo.


"Tahu?" Matanya menatap lekat, manik hitam milik sang putri.


Arsy gelagapan, bagaimana ia ceroboh.


"Aa-anu Pa! Kan Papa, yang barusan memberi tahu! Jadi Ayi ya-ya tahu!" Senyuman canggung dan suara yang terbata-bata membuat Langit curiga.


"Kenapa gagap? Ada yang Ayi sembunyikan?" Langit menatap raut wajah Arsy yang terkesan seperti ada yang ditutup-tutupi.


Sedangkan Arsy berperang dengan hatinya, apa dia harus jujur atau menyembunyikan kebenaran.


Langit menatap kearah laci, di sana ada ponsel Arsy yang menyala. Mungkin saja pesan masuk. Sedangkan Arsy melirik sebentar kearah ponselnya, ia bisa membaca siapa pengirimnya.


Papa Langit mengambil ponsel putrinya itu. Kemudian menggeser keatas, langsung masuk ke aplikasi WhatsApp. Langit membaca pesan itu, ada yang tertulis pesan telah dihapus. Ada juga yang masih bisa dibaca.


Langit menatap putrinya intens, sedangkan Arsy menunduk takut. Dia telah berbohong kepada Papanya. Arsy takut jika Papa, marah karena dua hal. Pertama karena berbohong, dan terakhir karena chatting dengan orang baru ia kenal.

__ADS_1


"Ma-maaf Pa!" Arsy meminta maaf, sebelum Papa, melemparkan pertanyaan yang mungkin akan membuat ia tersudutkan.


"Kenapa bohong?" Terdengar datar seperti jalanan.


"Ay-Ayi! Eng-gak bermaksud gitu!" Tubuhnya yang sakit tidak sebanding dengan pertanyaan Papa, yang terdengar mengintimidasi. Apalagi suara Papa yang datar lebih sakti terdengar di telinganya.


...***...


Pintu kamar terbuka wanita paruh baya itu, terdiam. Saat melihat anaknya dan suaminya hanya diam dan saling menunduk.


"Ehem ... apa ada acara istirahat bicara?" tanya Bunda, sambil berjalan kearah ranjang. Keduanya hanya diam, mereka sedang berperang dengan dirinya sendiri. Ada banyak pertanyaan yang Langit tanyakan kepada dirinya sendiri. Begitupun Arsy dia juga sama seperti sang Papa.


'Ada apa ini, anak sama Papa sama-sama diam. Ah ...aku tahu! Pasti ada masalah' batin Bunda Cahaya.


"Kok diam, pasti ada masalah!" tebak Cahaya langsung tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Tanyakan pada putrimu!"


Cahaya menatap Arsy yang hanya diam membisu sedangkan kepalanya menunduk dalam.


"Ada apa Nak?" Bunda Cahaya duduk di samping Arsy dan merengkuh tubuh anaknya.


"Katakan kenapa Pa?" Bunda Cahaya menatap suaminya.


"Ayi chatting dengan Harjunot!" Bunda membulatkan matanya sempurna, bukannya putrinya itu. Baru mengenal lelaki yang mengantarkan pulang kemarin.


"Bener Yi?"


Arsy hanya mengangguk takut.


"Kan baru kenal? Kenapa sudah tukeran nomer telpon! Terus kapan kalian saling bertukar nomor?" Arsy yang mendapat beberapa pertanyaan dari Bundanya tubuhnya bergetar. Dia seperti diintrogasi diruang yang berdebu membuatnya sesak.


Cahaya yang tidak mendapat jawaban dari putrinya, ia memutuskan untuk berbicara dengan suaminya.


"Coba sini Bunda, lihat bagaimana isi pesannya!" Langit memberikan ponsel itu kepada istrinya. Cahaya mulai membaca pesan yang masih bisa dibaca.


"Ini masih wajar kok Pa! Dia hanya bilang terima kasih. Tapi aku tidak tahu apa pesan yang sudah temen Papa, kirim kemudian ia batalkan!" Bunda Cahaya mengelus kepala putrinya.


Sedangkan Arsy, teringat tentang pesan yang Harjunot kirim kemudian dihapus karena typo. Apa yang akan kedua orang tuanya pikir, jika tahu isi yang sesungguhnya. Apalagi yang bilang 'Maaf Sayang' Pasti kedua orang tuanya akan memberikan pertanyaan yang lebih banyak dan parah.

__ADS_1


"Yang Papa, permasalahan itu Ayi tidak mau jujur dengan Papa!" Papa sangat kecewa kepada putrinya kenapa Arsy bohong. Padahal mereka semula chattingan. Harusnya Arsy bilang ke Papanya jika Harjunot sudah japri kepadanya. Oleh sebab itu Arsy mengetahui.


"Bohong?" Cahaya menatap keduanya bergantian. Langit menceritakan semuanya dari timur sampai barat.


"Kenapa Ayi! Sembunyikan dari Papa? Bukannya Ayi, bisa bilang seperti ini. Iya Pa, Ayi tahu tadi dia sudah content Ayi! Dan Om Black yang memberikan nomor ponsel Ayi!" Bunda Cahaya memberikan nasehat kepada putrinya itu. Alangkah baiknya jujur biar tidak hancur.


"Se-sebenarnya Ayi, takut Papa marah. Papa, tidak suka jika Ayi akrab dengan orang yang baru Ayi, kenal!" Arsy melirik kearah Papanya yang hanya diam membisu.


"Itu tidak salah Nak! Papamu, melakukan hal itu hanya karena ingin menjaga putrinya yang ia sayang. Papa, enggak mau Ayi, pergaulan bebas! Seperti remaja jaman sekarang! Saat Ayi, study di Rusia. Alangkah cemas nya Papa, padamu! Karena Rusia surganya *** bebas. Papa, selalu berdoa kepada Allah! Agar putrinya selalu dijaga. Bahkan dia menangis memikirkan nasibmu di sana." Cahaya memberikan pengertian dan pernyataan kepada Arsy. Arsy yang tahu kebenarannya dia sangat merasa bersalah. Sebegitu cintanya sang Papa padanya? Itulah yang Arsy pikiran. Tidak bisa ia pungkiri, jika kasih sayang Papa, membuatnya bahagia.


"Tapi kan Papa, kenal dia!" jawab Arsy yang ingin membela dirinya, bahwa bukan seratus persen itu salahnya.


"Ya, benar! Tapi kan YI, bisa aja Ayi ngelakuin hal serupa dengan orang lain, Yang mungkin, kami enggak tahu seluk beluknya!"


"Kok, Papa gitu? Papa secara enggak langsung, Papa itu bilang kalau Ayi..." Papa segera memotong ucapan putrinya. "Childish!"


Arsy mengerucutkan bibirnya, karena Papanya membuatnya malu.


"Sudah habiskan makanannya, ayo Papa! Suapin!" Papa menyuapi putrinya dengan telaten. Sedangkan, Bunda hanya tersenyum dan menggeleng. Dia tahu betul, jika suaminya tidak bisa marah dengan putrinya lama-lama.


"Selamat tidur putri Papa, yang paling cantik!" Papa mencium kening putrinya lembut. Sudah lama Papa, tidak mencium kening putrinya karena putrinya study jauh darinya.


"Papa juga! Bunda kenapa? Cemburu?" Arsy menatap terkekeh karena wajah Bundanya itu.


"Ti-tidak! Ngapain Bunda, cemburu?"


"Ya, mungkin saja. Istriku cemburu karena aku memuji perempuan lain!" Langit menatap menggoda.


"Ah ...Papa! Kalau begitu pujilah Bunda, sampai pipinya merah! Kalau bisa sampai panas, biar enak kalau dimakan!" Arsy mengedipkan sebelah matanya kearah Bunda.


Bunda Cahaya berucap."Dikira Bunda, ini roti?"


"Roti gulung?"


"Sudah malam, Ayi tidurlah semoga lekas sembuh. Dan Bunda, masuk kamar. Papa, akan ke kamar Kaka, dahulu! Mungkin dia sudah tidur!" ujar Langit keluar dari kamar putrinya.


...***...


.

__ADS_1


__ADS_2