
"Hati-hati!" Harjunot sudah memberhentikan motor di samping halte.
Sedangkan Arsy masih duduk di jok belakang, perempuan itu harus turun dengan susah payah. Dikarenakan hujan deras, ditambah footstep yang ia injak licin. Tapi meskipun begitu Arsy harus turun dari motor.
"Huft!" Arsy membuang napas lega, karena ia bisa turun dengan selamat. Perempuan itu berlari kecil, agar bisa berteduh di halte. Harjunot baru turun, lelaki itu baru membuka helmnya saat sudah berdiri di samping Arsy.
Arsy meletakkan buku-bukunya yang basah di samping, ia duduk. Sedangkan Harjunot memilih tetap berdiri.
"Kenapa hujan rintik-rintik?" Arsy bicara pelan, tapi telinga Harjunot mampu mendengar.
"Karena rain dalam bahasa Inggris artinya hujan. Sedangkan bunyi hujan tik-tik! Jadikan rintik-rintik!" Arsy tersenyum saat bicara sendiri.
Sedangkan Harjunot hanya menggeleng karena kelakuan Arsy.
"Eh ... Anda mau kemana?" Arsy bertanya kepada Harjunot yang lari kearah belakang halte.
"Tunggu ya? Nanti saya kembali lagi!" Harjunot berteriak dalam guyuran hujan. Sedangkan Arsy hanya diam, karena ia tidak tahu kenapa Harjunot meninggalkan dia.
...***...
Harjunot masuk ketempat pembelanjaan, setelah itu ia kembali ke halte. Belum juga sampai di halte, Harjunot melihat mobil yang berhenti di depan halte. Orang yang ada di dalam mobil berbicara kepada Arsy. Sedangkan Harjunot menatap paper bag yang ada di tangannya.
"Semua ini akan sia-sia!" Harjunot mengangkat tangannya yang membawa paper bag. Kemudian menatap kearah Arsy. Yang berbicara dengan orang yang ada di mobil.
"Tiffu! Ayo gua antar lu!" Rasya menawarkan diri.
Sedangkan Arsy terdiam, perempuan itu memikirkan sesuatu.
"Ayo! Kenapa bengong?" Rasya benar-benar jengkel, karena temannya hanya diam saja.
"Gua enggak bisa!"
"Kenapa? Lihat tubuh lu basah kuyup, begitu. Nanti lu sakit gimana?" Rasya menatap baju Arsy basah karena air hujan.
"Gua tadi sama temen Papa! Waktu hujan belum datang. Jadi gua enggak bisa ninggalin dia!"
"Pasti dia, tidak masalah jika lu ikut dengan gua!"
"Tetep saja, gua enggak bisa!" Arsy menggeleng. Harjunot hanya menatap dari belakang halte.
"Mana teman Om Langit? Biar gue izin, kalau lu akan pulang sama gua!" Rasya tetap saja memaksa.
Arsy membalikkan badannya kearah belakang halte. Sedangkan Harjunot yang tahu, jika Arsy akan menengok. Dia segera berjalan kearah halte. Agar Arsy tidak melihat, jika sadari tadi ia mengamatinya.
"Maaf!" Harjunot bicara sambil menatap Arsy kemudian Rasya.
"Bro! Biarkan Tiffu, gua yang antar ya?" Rasya bertanya tanpa basa-basi.
Sedangkan Harjunot tersenyum, sebelum menjawab."Sih–" Arsy segera memotong ucapan Harjunot. Membuat lelaki itu, melirik kearah Arsy yang berbicara. "Tidak! Sudah gua bilang, gua enggak bisa!"
"Rasyu, kalau lu maksa, gua paling enggak suka dengan sikap lu, yang satu ini!" Arsy mengomel sambil menunjuk Rasya.
__ADS_1
Sedangkan Rasya hanya membuang napas, karena temannya menolak ajakannya.
"Sudah pulang sana, nanti gue juga pulang. Jangan khawatir!"
Rasya tidak habis pikir, karena sifat keras kepalanya temannya itu.
Sedangkan Harjunot menatap kedua orang itu bergantian.
"Yasudah, nanti kalau sudah pulang kasih kabar ya?" Dengan berat hati Rasya meninggalkan temannya itu.
Setelah mobil yang ditumpangi Rasya menjauh. Harjunot mulai angkat bicara. "Kok pacarnya, mau nganterin ditolak?"
"Siapa yang pacaran? Dia hanya teman saya!"
Sedangkan Harjunot tersenyum karena jawaban Arsy. Akan tetapi Arsy tidak melihat.
"Nih!" Harjunot menyodorkan paper bag kearah Arsy.
Sedangkan Arsy terlihat bingung kenapa teman Papanya, ngasih dia paper bag.
Harjunot yang tahu Arsy, bingung. Dia memutuskan untuk angkat bicara kembali. "Saya beliin baju!" Perkataan Harjunot terdengar ambigu ditelinga Arsy.
"Hah?" Arsy melongo, sambil memajukan kepalanya. Harjunot memundurkan badannya, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lelaki itu nampak terlihat salah tingkah.
"Ma-maksud saya, pakaian ini buat Anda. Saya lihat Anda, basah kuyup. Dan rok yang Anda pakai, terkesan menyusahkan Anda. Saat membonceng!" Harjunot menunduk malu, hampir lima tahun dia tidak seperti lelaki yang semestinya. Mudah dekat dengan perempuan.
Arsy mengangguk sambil menerima paper bag itu, seraya berkata. "Terima kasih!"
Sedangkan Arsy menatap tangan Harjunot, yang menunjukkan toilet padanya.
"Baiklah!" Arsy berlari kecil menuju kearah toilet.
Sedangkan Harjunot menatap Arsy dari belakang sambil menutup mulutnya. Saat Arsy sudah masuk toilet. Harjunot masuk lagi kedalam tempat pembelanjaan itu.
...***...
Sedangkan Arsy yang ada didalam toilet. Dia mengeluarkan apa yang ada didalam paper bag itu.
"Levis, cardigan sama kaus!" Arsy tersenyum tipis sambil mengangguk.
Arsy keluar dari toilet itu, kemudian berjalan kearah halte.
"Ehem!" Harjunot membalikkan badannya, saat mendengar suara. Matanya menatap Arsy dari atas sampai bawah. "Astagfirullah!" Batin Harjunot, sambil memalingkan wajahnya.
"Maaf, saya enggak tahu ukuran baju Anda, jika ada yang tidak pas. Mohon maaf!"
"Tidak masalah, hanya saja celananya bagian perut sedikit longgar!"
Harjunot mengangguk sambil mengigit bibir bawahnya.
"Ah ... saya sampai lupa! Tadi saya beli sandal jepit buat Anda.Kasian nanti sepatunya yang tinggi kedinginan. Kalau Anda pakai hujan-hujanan!"
__ADS_1
Arsy yang mendengar candaan Harjunot, dia memalingkan wajahnya. Untuk menyembunyikan senyuman di bibirnya.
Setelah bibirnya tidak tersenyum, Arsy menatap kearah Harjunot lagi.
"Maaf ya, sandalnya harganya murah!" Harjunot memberikan sandal melly itu. Sebenarnya Harjunot ingin melihat Arsy memakai sandal jepit murahan.
"Ah ... iya, saya harusnya yang minta maaf! Karena yang saya pakai sekarang Anda yang kasih!" Arsy bicara sambil memakai sandal jepit itu.
Setelah itu Arsy memasukkan sepatunya kedalam paper bag.
"Mumpung hujannya reda, kita berangkat sekarang!" ujar Harjunot, sambil memakai tas punggung.
"Ah ...iya!" Arsy mengambil buku-buku yang ia taruh di kursi halte.
"Sini bukunya, saya taruh ransel saya! Maaf tadi saya lupa, jika saya bawa ransel!" Harjunot sepertinya tidak ingat, jika dipunggung nya ada wadah buat nampung barang-barang Arsy.
Kedua orang itu, sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.
"Pakai helm!" Harjunot memberikan helm itu kearah Arsy.
Arsy menerima sambil membatin.
'Darimana dia mendapatkan helm ini? Bukanya tadi tidak ada?' Arsy memakai helm itu, tapi dia tidak pernah memakai helm. Membuat Arsy tidak bisa mengaitkan pengamanan helm.
Harjunot yang sudah memakai helm, dia menatap Arsy kesusahan.
"Bisa enggak?"
"Saya, tidak pernah pakai helm, jadi ya gimana enggak bisa!" Arsy masih tetap berusaha, agar bisa mengaitkan pengamanan helm.
Harjunot berkacak pinggang, sambil membuang napas pelan.
"Saya bantu, tapi Anda jangan gerak, biar saya enggak nyentuh Anda!" Harjunot memerintah, sedangkan Arsy langsung menyembunyikan kedua tangannya kebelakang. Harjunot mengambil napas panjang. Perlahan tangan Harjunot sudah ada di dagu Arsy.
"Bisa mendongak sedikit, biar saya tidak kesusahan!" Arsy segera mendongakkan kepalanya. Akhirnya acara pasang helm sudah selesai.
...***...
Harjunot sudah menyalakan motornya. Arsy menginjak footstep, kemudian kedua tangannya memegang pundak Harjunot. Kemudian duduk di jok belakang.
"Sudah?" tanya Harjunot sambil menutup kaca helmnya.
"Hmmm!" Arsy mengangguk.
Harjunot mulai menginjak pedal gas, kemudian motor hitam itu. Melaju dengan kecepatan tinggi, karena Arsy juga tidak membonceng samping. Jadi Harjunot menambah kecepatannya.
"Bisa enggak, jangan ngebut-ngebut! Saya takut ini!" Arsy berbicara sambil memegang bagian belakang jok motor.
"Maaf-maaf, saya tidak tahu. Jika Anda takut diajak ngebut!" Harjunot harus mengurangi kecepatan laju kendaraannya. Karena penumpang yang ada dibelakang sangat bawel.
...***...
__ADS_1