Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Favorite Call From Harjunot


__ADS_3

Arsy menuntun sepedanya, dipertengahan jalan perempuan itu. Memutuskan untuk rehat sejenak. Arsy duduk di kursi panjang sambil meneguk air dalam botol.


Keningnya basah oleh keringat, perempuan itu mengelap dengan lengannya.


Arsy termenung karena perkataan Harjunot padanya.


"Sebenarnya apa yang Anda inginkan?" Geram Harjunot menatap perempuan yang tadi menimpuk kepalanya dengan botol.


"Apa Anda belum selesai berbicara?"


"Apa Anda ingin saya mendengarkan ucapan Anda?"


"Sampai-sampai Anda menendang botol ini kearah saya?" Harjunot membuang botol kasar ke sembarang arah.


"Bu Guru, jika Anda! Memang tidak mau menikah dengan saya!" Harjunot menarik napas dalam.


"Cukup bilang, maaf saya tidak bisa. Atau bilang aku tidak mau!"


"Ah ...tidak sepertinya dalam kamus Anda tidak ada kata maaf," sinis Harjunot.


"Anda tidak perlu capek-capek bicara panjang lebar yang membuat nafas Anda tersengal-tersengal." Harjunot berjalan kearah kursi yang tadi digunakan duduk. Lelaki itu mengambil botol air putih, kemudian berdiri tepat didepan Arsy. Lelaki itu menarik tangan Arsy kemudian menyimpan botol yang tadi diambil ke tangan Arsy. Seraya berkata, "Minumlah! Dan jangan khawatir ini bukan bekas orang! Saya tahu! Anda tidak level dengan sesuatu yang sudah pernah dimiliki! Maka saya kasih yang baru, karena gadis secantik Anda, harus menjadi yang pertama untuk memiliki sesuatu! Bukan kah perkataan saya benar?"


Arsy terdiam karena perkataan Harjunot terdengar meyindirnya.


Lelaki itu mendekatkan bibirnya dengan telinga Arsy membuat perempuan itu menegang.


"Tapi baru saja Anda menikmati barang bekas. Apa Anda lupa?"


Arsy terdiam mendengar perkataan Harjunot. Saat itu bibir Arsy seakan kaku.


Tidak bisa meyerang, ucapan yang keluar dari mulut lelaki berbadan tegap. Yang berdiri didepannya tanpa membuat jarak.


"Jangan mudah lupa dong! Saya berpikir jika Anda, tidak dengan mudahnya melupakan kejadian sepuluh menit yang lalu," tukasnya.


"Apa Anda lupa bagaimana, bibir ori Anda mencium pipi bekas ini!" Tunjuk Harjunot kearah pipinya. Hal itu membuat Arsy melirik kearah pipi yang tadi ia cium.


Huft! Harjunot membuang napas kasar. Perempuan yang ada didepannya itu bisa merasakan hembusan nafasnya.


"Saya harap ciuman yang Anda berikan ke saya, tidak membuat Anda menyesal. Karena saya tahu."


"Itu kesalahan besar bagi seorang Arsy Latthif! Mengenakan barang bekas untuk yang pertama kalinya!"

__ADS_1


"Dan saya juga berharap, semoga kejadian ini tidak menghatui pikiran Anda. Yang membuat Anda teringat dengan saya!"


"Arsy Latthif!" panggil seseorang yang mebuyarkan lamunan Arsy.


"Harjunot!" Arsy berdiri dari duduknya.


...***...


Lelaki yang tadi memanggilnya mengerutkan keningnya.


Arsy yang baru sadar jika lelaki yang ada didepannya bukan seseorang yang ada dalam pikirannya. Ia pun menggaruk tengkuknya karena salah tingkah.


Sedetik kemudian perempuan itu, mengerutkan keningnya karena lelaki yang berdiri disampingnya.


"Maaf Anda siapa? Kenapa Anda tahu nama saya? Dan tolong jangan panggil saya dengan nama panjang saya!" Bukan tanpa alasan Arsy meminta itu kepada lawan bicaranya. Karena hal itu mengingatkan dia dengan dua sosok lelaki. Yang sering memanggil nama panjangnya, kalau dirinya membuat kedua lelaki itu marah atau kesal karena ulahnya. Siapa lagi kalau bukan Papa dan lelaki kedua adalah Harjunot yang tidak pernah memanggilnya dengan nama panggilannya. Jika tidak, Anda dan Bu Guru. Ya itulah nama panggilan favorit Harjunot untuknya. Akan tetapi panggilan seperti itu akan menghilang. Mengingat bagaimana hubungannya dengan Harjunot. Seperti dua kubu yang saling menjatuhkan satu sama lain. Mengingat hal itu membuat Arsy menarik napas panjang.


"Ha? Kamu cuma bercanda kan?" Lelaki itu bersuara membuat Arsy menatap kearahnya.


"Memang benar, saya pernah bertemu dengan Anda?" Arsy bertanya balik.


"Kamu benar lupa sama aku?" Lelaki itu tidak percaya dengan mudahnya perempuan yang duduk di sampingnya melupakan dirinya.


Arsy menggeleng pelan dengan wajah datar.


Arsy menggeleng mencoba mengingatnya. Tapi nihil nama Rayemond tidak terdaftar di ingatannya.


Rayemond mengerutkan dahinya, lelaki yang memiliki wajah Cainese itu menatap lekat mimik wajah Arsy. Mencoba mencari sesuatu, yang belum ia pahami.


"Apa kau kehilangan ingatan? Sampai-sampai melupakan aku?" Rayemond terkekeh karena pertanyaannya terdengar konyol.


Arsy terdiam mendengar pertanyaan Rayemond. Perempuan itu memikirkan sesuatu yang menganjal pikirannya.


"Aku lupa!" Arsy bicara lirih.


Rayemond terdiam sejenak, sebelum berucap kembali.


"Awal pertemuan kita saat KBRI Muskow menggelar Festival kopi, kamu ingat enggak?"


"Rusia? Emang aku pernah ke Rusia? Jujur sih dulu aku pernah ingin kuliah di sana, tapi itu hanya mimpi!" Arsy meggelengkan kepala.


"Settt dah! Bukan cuman ke Rusia, tapi kamu juga kuliah di sana. Kamu ambil jurusan Sastra! Bener-bener dah, kamu itu hilang ingatan beneran atau ingin ngeprank saja!" ujarnya seraya mengakat satu kakinya agar duduknya bisa berhadapan dengan Arsy.

__ADS_1


"Aku berfikir jika kamu yang mengada-ada. Tapî kenapa kalau ngada-ngada tahu namaku?" Arsy meneguk minuman dari botol. Perempuan itu mengingat kejadian saat Harjunot memberikan minuman untuknya dan berkata. 'Minumlah! Dan jangan khawatir. Ini bukan bekas orang! Saya tahu Anda tidak level dengan sesuatu yang sudah pernah dimiliki! Maka saya kasih yang baru, karena gadis secantik Anda, harus menjadi yang pertama untuk memiliki sesuatu! Bukan kah perkataan saya benar?' Arsy menggelengkan kepalanya saat mengingat perkataan Harjunot yang tergiang-giang dibenaknya.


'Stttt! Kenapa aku teringat tentang dia, sepertinya sumpahnya manjur banget aihhhhhh' batin Arsy sambil menggaruk rambutnya dengan kedua tangannya.


"Sy kamu kenapa?" Rayemond menggoyang bahu Arsy.


"Ah, apa-apa kau tadi mengatakan sesuatu?"


"Dari tadi kamu enggak dengar aku bicara?" Kesal Rayemond yang mendengar pertanyaan Arsy.


"Maaf aku tadi tidak fokus!"


"Ini lihat, ini foto kita saat kita di KBRI. Terus ini saat weekend kita ke Lapangan Merah waktu itu kebetulan musim semi!" Arsy menatap ponsel Rayemond yang memperlihatkan gambarnya dengan Rayemond berpose dua jari.


Arsy memegangi kepalanya yang berdenyut. Bayangan seorang perempuan sedang merentangkan tangannya setiba Bandar Udara Domodedovo Moskow. Dan berteriak. "Moskow Ayi datangggg!" Arsy semakin mencengkram kepalanya yang berdenyut.


"Ahhhhhhh!" Arsy berteriak membuat Rayemond panik.


"Sy, yazyk?"


"Kepalaku pusing!"


"Jangan dipikirkan, apa yang aku ucapkan, nanti tanya pada ortu. Sebenarnya apa yang terjadi!"


Arsy mengangguk, perempuan itu akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Dering telepon Rayemond berbunyi. Lelaki itu berdiri dari duduknya dan mengangkat telepon masuk. Setelah beberapa menit bicara dengan lawan bicaranya di telpon. Lelaki itu menatap Arsy sebentar.


"Sy, aku harus ke klinik sekarang, tapi sebelum itu aku minta kontak mu. Agar mudah kalau aku ingin bertemu!"


Arsy mengambil ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp. Segera Rayemond menscreen QR-ad itu.


"Okey, aku sudah kirim emot! Aku cabut ya Sy!" ujarnya sambil melambaikan tanganya dan pergi.


Arsy menatap layar WhatsApp, matanya tertuju pada satu kontak yang ia beri nama DIA. Matanya nampak sendu saat poto profilnya kosong. Arsy mengecek info terakhir dilihat tida bisa dideteksi. Perempuan itu melihat Bio yang dulu tertulis `Abby loves the twins, the twins must love Abby' Akan tetapi tulisan itu juga hilang. Arsy menghela nafas panjang. Dia mulai beranggapan jika Harjunot memblokirnya. Akan tetapi sedetik kemudian, dia melihat status online. Bibirnya tertarik ke atas, saat dia tahu. Jika Harjunot tidak block nomernya.


Arsy mulai mengetik sesuatu' The enemy in the blanket And he's a mouse! MOUSEKY👾 (DIA musuh dalam selimut Dan Dia adalah tikus! MOUSEKY👾) itulah status yang Arsy tujukan di Wasstory nya.


Perempuan itu juga mengganti kontak Harjunot dengan nama ' MOUSKY👾 gabungan antara Mouse+sky(Tikusnya Langit)'


"Salah siapa, kalian sama. Jadi kamu aku panggil Mousky! Duplikatnya Papa!" Perempuan itu tersenyum memikirkan kesamaan Papanya dengan Harjunot.

__ADS_1


...***...


__ADS_2