
Harjunot merebahkan tubuhnya di kasur. Lelaki itu baru saja menidurkan putranya, yang kebetulan malam itu sangat rewel. Tangannya mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Membuka aplikasi WhatsApp, ada beberapa pesan dari teman-temannya. Harjunot membalas pesan teman-temannya satu persatu. Tak jarang lelaki itu terkekeh karena pesan yang temannya kirim. Aplikasi WhatsApp nya memiliki notifikasi siapa saja yang online. Matanya melebar saat satu nama kontak terdeteksi online. Segera ia memejet kontak tersebut dan mengirimkan dua pesan.
...***...
Arsy yang sedang rambahan di kasurnya. Menggulingkan tubuhnya menjadi tengkurap. Perempuan itu membaca pesan dari seseorang.
MOUSKY👾
Belum tidur?
MOUSKY👾
Maaf tadi saya lupa menanyakan, apa cincinnya kebesaran? Atau kekecilan?
Arsy yang membaca pesan dari tunangannya. Dia membalas pesan itu sambil menggerutu.
...***...
Harjunot yang sudah mendapatkan balasan pesan dari tunangannya. Segera membaca isi pesan itu.
Humaira GC 💣
Sudah tahu online, ya pasti belum tidurlah. Pakai nanya segala 😈
Humaira GC 💣
Emang saya siapa, yang harus diperhatikan? Saya rasa Anda lebih memperhatikan sahabat-sahabat Anda daripada saya👊🏻
Humaira GC 💣
Pakai tanya cincin kekecilan apa enggak? Sudah kaseppp(kelewat)
Harjunot mengingat bagaimana dia lebih memilih berbicara dengan Langit dan Black. Daripada menemani Arsy yang melihat foto-foto mereka di kamera digital.
Humaira GC 💣
Mau Video call!
Harjunot langsung bersandar di kepala ranjang. Dan menelpon tunangannya.
__ADS_1
"Ngapain video call?" Arsy bertanya sambil mengerutkan keningnya.
Harjunot yang mendengar ucapan Arsy terbengong.
"Kan kamu tadi yang mau saya video call!"
"Aku nanya Enjun!" jawab Arsy sambil menyandarkan ponselnya di bantal guling. Sedangkan dia menjauh dari ponselnya agar gambarnya jelas di ponsel Harjunot.
"Emang iya? Kamu kirimnya pakai tanda seru! Bukan tanda tanya. Didalam sebuah taks tanda seru berarti perintah atau penekanan yang tidak bisa dibantah! Sedangkan tanda tanya untuk menanyakan atau meminta persetujuan."
"Hem ... kamu terlalu berlebihan!" Arsy memijat kakinya yang diselonjorkan.
"Kenapa, kakinya sakit?" Harjunot menatap intens gambar Arsy yang sedang memijit kaki.
"Ya karena tadi saat foto! Aku harus menekuk kakiku! Agar tidak menutupi wajahmu! Dasar pendek!" Arsy mengejek tunangannya.
"Enak saja kalau ngomong, tinggi badan kamu berapa?" Harjunot bertanya dengan wajah kesal. Karena Arsy menghina tinggi badannya.
"171!"
"Saya 183! Berarti tinggian saya dong! Kamu ketolong karena heels! Salah siapa waktu prosesi foto, nggak dilepas heelsnya! Coba kalau dilepas Anda enggak perlu menekuk kaki!" ujarnya sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Aelah cuma selisih 12cm saja bangga!" cibir Arsy.
"Iya harus lah namanya juga Harjunot Ali! Ali kan dalam bahasa Arab maknanya di atas atau bisa diartikan tinggi!" Harjunot menatap wajah Arsy menahan kesal.
"Aku juga tinggi kenapa enggak ada Ali nya, ya? Mungkin saja jadi Arsy Ali Latthif gitu!"
Harjunot tertawa terbahak-bahak karena keluguan Arsy. Entah lugu atau bodoh karena kedua hampir sama.
"Ketawa terossss! Saya berdoa semoga tidak bisa diam! Kasian anaknya kalau tidur dengar ada yang ketawa, nanti pasti terbangun!" Arsy mengambil ponselnya agar Harjunot bisa melihat wajahnya saja.
Harjunot melirik kearah keranjang bayi. Lelaki itu kemudian menghentikan tawanya.
"Nama kamu memang tidak ada Ali nya! Akan tetapi Arsy itu adanya di atas surga Firdaus langit ke –7.Mungkin karena namamu Arsy jadi tingginya melebihi rata-rata!" Harjunot menahan senyumannya.
"Enak saja kalau bicara, yang gigantisme situ bukan saya! Kalau saya mah tingginya ideal. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Anaknya siapa dulu..." Harjunot segera memotong ucapan Arsy.
"Pak Haji Langit!"
__ADS_1
Arsy menekuk wajahnya karena Harjunot merebut kalimatnya.
"Kenapa mukanya ditekuk kayak gitu hoam!" Harjunot menutup mulutnya. Lelaki itu sepertinya sudah ngantuk.
Arsy terdiam tidak membalas perkataan Harjunot.
"Arsy Lattif mungkin saja Pak Dirut ingin anaknya menjadi. Wanita yang tinggi akan ke lemah-lembutan nya!" Harjunot mencoba membuat Arsy tidak memasang wajah masam.
"Kalau Harjunot Ali artinya apa? Kenapa namanya Harjunot Ali?" Arsy bertanya dengan pipi yang menggembung.
"Kata ibu sih, Harjunot itu diambil dari kata Arjuna, tokoh pewayangan yang memiliki wajah tampan. Sedangkan Junot itu artinya hadiah dari Tuhan! Sekarang coba kalau digabungkan semua artinya. Wajah tampan hadiah dari Tuhan yang Maha Tinggi! Atau bisa diartikan sebagai ketampanan tak terbatas!" Harjunot tertawa karena mengartikan namanya sendiri. Tanpa metode penelitian. Sedangkan Arsy hanya geleng-geleng kepala, karena tunangannya terlalu percaya diri.
"Masa sih ... tapi muka kamu pas-pasan gitu!" cibir Arsy Ingin melihat reaksi tunangannya yang ia ejek masalah tampang. Jika masalah tinggi badan saja langsung naik pitam. Apalagi masalah wajah bisa-bisa naik meja.
"Ya jelaslah wajah saya pas-pasan, kalau ke lebaran bukan wajah namanya! Tapi lapangan golf!" Sekak Harjunot, membuat mimik wajah Arsy terlihat kesal. Efek PMS pengen marah selalu.
"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat! Jangan bergadang, nanti sakit lagi!" Harjunot menahan kantuk dimatanya.
Arsy masih diam enggan menjawabi.
"Ya sudah saya matikan ya?" Harjunot bertanya.
Arsy segera bersuara. "Tunggu-tunggu aku mau curhat dulu!" Bibirnya cemberut.
Harjunot mengusap wajahnya kasar, lelaki itu sebenarnya sudah sangat ngantuk. Kenapa tunangannya malah mau curhat segala.
"Mahu curhaaaat tentang apaaah, hoam!" Karena manguap jadi setiap kata molor.
"Bunda!"
"Kenapa Bunda?" tanya Harjunot, dengan mata yang merem-melek.
"Ya masa, sampai saat ini Bunda enggak mau manggil aku dengan panggilan Ayi! Padahal aku sudah nurutin kemauan Bunda loh, nyesek tahu Enjun kalau didiamin kayak gini hiks! Aku juga kangen dipanggil Ayi oleh Bunda hiks ...hiks" Arsy mengelap ingusnya dengan ujung piyamanya. Merasa tidak ada jawaban dari lawan bicaranya. Arsy pun menatap ponselnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Harjunot terlelap sambil bersandar kepalanya dikepala ranjang.
"Enjunnnnn..." teriak Arsy berharap tunangannya bangun. Akan tetapi harapannya pupus saat ponselnya menampilkan atap kamar Harjunot. Itu pertanda ponsel Harjunot terjatuh dari genggaman tangan lelaki itu.
...***...
Arsy nampak kesal karena tunangannya mengabaikannya. Perempuan itu memutuskan video call tersebut.
__ADS_1