
"Halo, iya Ka?" Langit menjawab panggilan dari anak bungsunya.
"Apa?" tersentak kaget, karena informasi yang Kafka berikan.
"Baiklah!" Langit menjambak rambutnya kasar.
"Kenapa Pak?" Harjunot bertanya saat melihat ekspresi wajah Langit berubah.
"Putriku sedang ada di Bar sekarang!" Baru saja Langit dan Black ingin pamit pergi ke kantor. Karena ada meeting mendadak. Panggilan dari Kafka membuat permasalahannya bertambah.
"Apa?" pekik Black sambil berdiri dari duduknya.
"Apa yang harus kita lakukan, Gibril tidak ada disini. Terus siapa yang akan menjemput putriku. Aku takut dia mabuk, dan terjadi sesuatu yang buruk padanya!" Langit berbicara dengan nafas yang tersengal-sengal.
Black mulai berpikir, dia ingin mencari jalan keluar. Dari permasalahan Kakak iparnya.
"Ah ...jalan keluar ketemu," ujar Black seraya menjentikkan jarinya.
"Apa"
"Dia!" Black mengarahkan telunjuknya kearah Harjunot.
...***...
Harjunot yang tadinya hanya diam, matanya mendelik saat Black menyeretnya. Dalam pusaran masalah pribadi atasannya.
"Saya? Kenapa harus saya?" Harjunot menunjuk dirinya sendiri.
Langit baru memahami sesuatu, dia tersenyum karena menemukan jalan keluar dari permasalahannya.
"Not, aku berharap kamu mau membantuku. Karena sekarang hanya kamu yang bisa menolongku!" Langit berjalan kearah Harjunot.
Sedangkan Harjunot membuang napas pelan. Sebenarnya dia tidak ingin berurusan dengan perempuan lagi. Apalagi perempuan itu pernah mengutarakan perasaan padanya. Meskipun semua itu sudah berlalu.
"Apa yang harus saya lakukan?" Dengan berat hati Harjunot bertanya.
"Mumpung si kembar tidur, jadi tolong jemput putriku di Bar. Ajak dia pulang, aku mohon!" Langit bicara sambil menangkup kan telapak tangan.
Harjunot tidak pernah melihat atasannya memohon kepada manusia. Ia tidak bisa menolak permintaan atasannya itu.
"Baiklah! Dimana dia?”
Langit mengirimkan lokasi keberadaan putrinya.
...***...
Harjunot turun dari mobil, lelaki itu mendesah pelan. Sebelum memutuskan untuk masuk ke tempat laknat yang ia hindari.
"Menyusahkan saja!" Setelah mengeluarkan kalimat singkat ia masuk ke Bar. Tak lupa lelaki itu minta perlindungan kepada Tuhannya. Takut khilaf.
Harjunot meringis karena suara bising. Ditambah lagi ada adegan ciuman romantis, yang harus ia lihat.
Harjunot membelah kerumunan orang yang sedang asyik berjoget ria. Sambil meneguk minuman whisky. Perutnya mual karena bau minuman dan asap rokok yang menyatu. Segera ia memasang maskernya kembali. Dan melanjutkan tujuannya untuk mengajak putri Dirut pulang.
Hampir lima belas menit ada didalam Bar. Harjunot tidak menemukan keberadaan perempuan yang tiga bulan lalu. Menatapnya nyalang, karena mendengar umpatannya.
Harjunot terlihat putus asa, karena tak menemukan sosok perempuan yang ia cari.
Saat ingin keluar dari Bar, Harjunot melihat perempuan cantik sedang berjoget dikelilingi beberapa laki-laki.
...***...
Arsy terkejut saat lengannya ditarik lelaki yang tidak ia kenal.
__ADS_1
"Hey ... lepaskan!" Arsy memukul tangan lelaki itu.
Sekelompok lelaki yang tadi berjoget dengan Arsy. Ingin memukul lelaki yang menarik Arsy. Akan tetapi dengan gesit lelaki bertopi itu bisa menghindar.
Sedangkan Arsy masih terus berusaha melepaskan tangan lelaki yang tidak ia ketahui.
Lelaki itu terus berusaha menarik tangan Arsy agar keluar dari Bar. Akan tetapi Arsy tidak mau menurutinya.
Justru Arsy menggigit tangannya, membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Lepaskan saya! Tolong saya!" teriak Arsy.
Akan tetapi seluruh temanya tidak berani mendekat kearahnya. Karena lelaki berpakaian serba hitam itu menodongkan pistol kearah mereka.
Tanpa pikir panjang, lelaki itu mengangkat tubuh Arsy, seperti mengangkat beras. Tujuannya agar bisa keluar dari Bar. Perempuan itu berontak saat lelaki yang tidak ia kenal mengangkat tubuhnya.
"Turunkan saya!" Katanya sambil memukul punggung lelaki itu.
"Papa tolong aku huwaaaa!" Arsy menangis memanggil Papanya.
Setelah sampai di luar, lelaki itu menurunkan Arsy dari gendongannya.
Lelaki itu membuka topinya bersamaan dengan masker yang menutupi mulutnya.
...***...
"Kenapa Anda merusak kesenangan saya?" bentak Arsy sambil mengelap pipinya.
"Saya?" tanya Harjunot menunjuk dirinya sendiri.
"Tidak! Saya bertanya pada Setan!" cetus Arsy tepat didepan muka Harjunot.
Harjunot mengaguuk santai.
"Tunggu-tunggu tidak anak tidak Bapak sama saja. Maksudnya apa?" Harjunot bertanya balik.
"His!" Arsy mendesis sambil melangkahkan kakinya ingin masuk ke Bar kembali. Dengan gerakan cepat, Harjunot mencekal lengan Arsy.
"Mau kemana hem?"
"Bukan urusan Anda!" Arsy berusaha melepaskan tangan Harjunot.
"Ini urusan saya, karena Papa Anda. Meminta saya untuk menjemput putrinya!"
"Heh ...sok alim! Lepaskan tangan Anda dari lengan saya."
Harajunot tidak melanggapi ocehan Arsy yang menghinanya. Lelaki itu berusaha membuka pintu mobil bagian penumpang.
"Duda, saya yakin Anda tahu mengenai hukum bersentuhan itu haram. Terus kenapa Anda melakukan?"
Setelah pintu mobil terbuka, Harjunot memaksa Arsy untuk masuk kedalam.
Brak! Harjunot menutup pintu mobil dengan keras. Kemudian menguncinya agar Arsy tidak keluar.
"Woi buka!" Arsy memukul kaca mobil.
Lelaki itu sudah duduk di kursi pengemudi.
"Siapa ya, yang waktu tiga bulan lalu, diajak bersalaman tidak mau. Bilangnya bukan muhrim. Tapi malam ini, dia mengangkat seorang gadis dan merenggut kebahagiaan gadis itu kemudian menguncinya dimobil!" sindir Arsy dari kursi penumpang.
Telinga Harjunot panas karena Arsy selalu memancing amarahnya. Lelaki itu membalikkan badannya kearah Arsy.
"Apa Anda tidak bisa diam, sebentar saja! Anda pikir saya senang, malam-malam keluyuran ke Bar? Meninggalkan putra-putri saya yang tertidur tanpa Abinya. Jika saya bisa meminta kepada Tuhan, saya ingin malam ini tidur nyenyak bersama putra-putri saya! Tanpa harus berkelahi dengan orang yang tidak saya kenal."
__ADS_1
"Ya kalau gitu, ngapain Anda repot-repot ke Bar!"
"Saya bisa apa! Jika, seorang atasan meminta saya untuk menjemput putrinya! Katakan?" Harjunot memainkan pistol ditangannya. Arsy merinding jika Harjunot kehilangan akal terus menembaknya bagaimana.
"Kenapa Anda diam?"
Dengan tangan bergetar Arasy menunjuk kearah pistol yang ada ditangan Harjunot.
"I-itu—"
Harjunot memotong ucapan Arsy. "Oh ini? Bu Guru takut? Dengan mainan putra saya?" Harjunot mengangkat pistol mainan yang dimodifikasi seperti pistol sungguhan.
"Apa? Jadi itu hanya mainan anak-anak? Anda membohongi mereka semua?"
"Saya, membohongi? Tentu saja tidak, mereka saja yang kurang pintar. Kenapa mereka beranggapan jika ini pistol beneran!" Harjunot tersenyum tipis.
"Anda menyindir saya! Kurang pintar?" tanya Arsy geram.
"Saya menyindir Anda?" Harjunot terkekeh, sebelum melanjutkan ucapannya kembali. "Buat apa? Apa untungnya jika saya menyindir Anda?" Harjunot menggeleng sambil menyalakan mobilnya.
Puk!
"Awwww!" pekik Harjunot menahan sakit dibagian kepala.
"Bu Guru, kenapa Anda tiba-tiba memukul saya dengan sepatu?" Harajunot nampak geram karena kelakuan Arsy yang sudah kelewat batas.
"Oh ... itu! Hanya pengen saja. Mungkin saja ingatan Anda telah kembali ke tiga bulan yang lalu!" jawabannya santai.
"Bu Guru, apa Anda tidak lihat jika saya memakai kaus tangan? Jadi saya tidak bersentuhan kulit dengan yang bukan mahram, paham! Mengenai kenapa saya menggendong Anda, sebenarnya saya sangat ogah bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim. Sekalipun ada yang ngasih uang satu M. Saya akan menolak, tapi demi atasan saya yang meminta saya agar menjemput putrinya. Dengan berat hati saya melakukannya." Tegasnya dengan kesal.
Harjunot melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah mengapa saat bersama Arsy dia selalu ingin marah.
...***...
"Turun!"
"Anda mau nurunin saya ditengah jalan?" tanya Arsy dengan mata yang masih ngantuk.
"Sudah sampai rumah! Tadi Anda ketiduran, coba lihat ke sekeliling!"
"Benar saja, ternyata tadi aku ketiduran. Terus ...apa orang sok alim ini mengambil keuntungan saat aku tertidur?" gumamnya pelan sambil menyilangkan tangannya di dada. Kemudian melirik kearah Harjunot yang menatap depan.
"Apa Anda mengambil keuntungan saat saya tertidur? Ayo katakan!" Arsy memajukan kepalanya.
Harjunot terperanjat ketika ada kepala nongol disampingnya.
"Saya masih waras, jadi saya tidak akan melakukan hal bodoh!" jawabannya datar.
"Jangan bohong, dosa!"
Harjunot menghela napas panjang kemudian bersuara. "Seya berpikir jika Anda, sangat keberatan berpisah dengan saya!"
"Hah?"
"Buktinya saja Anda, masih ada di dalam mobil saya. Padahal saya sudah memberi tahu Anda. Kalau kita sudah sampai di rumah Anda!"
Brak! Arsy langsung keluar dari mobil itu. Dengan rasa kesal dicampur malu.
Harjunot hanya bisa mengelus dada. Karena kelakuan Arsy.
Sabar Not....
...***...
__ADS_1