
Arsy menatap wajah baby Bell kembali. Dia menggerakkan kepalanya pelan. Sepertinya dia tidak tega melakukan kejahatannya itu. Arsy mendekatkan bibirnya ke telinga baby Bell. Arsy membisikkan sesuatu ke telinga bayi itu.
"Jika aku mengingat, bagaimana perlakuan Bapakmu terhadapku tadi. Aku ingin sekali mencubit mu," bisik Arsy yang membuat bayi itu tersenyum.
'Hey! Kenapa dia senyum. Apa dia suka jika seseorang mengumpat Bapaknya!' batin Arsy bingung.
"Akan tetapi, aku tidak bisa melukai bayi yang ditinggal Ibunya meninggal saat melahirkan. Aku juga tidak mau egois, terhadap diriku sendiri. Aku juga harus membahagiakan diri ku sendiri. Katakan bayi, apa yang harus aku lakukan. Kamu tidak dapat cubitan. Sedangkan aku bisa ke Bar!" Arsy berbisik di telinga baby Bell.
Sedangkan baby Bell tertidur sambil mengangkat tangannya.
...***...
Langit dan Cahaya tersenyum karena melihat Arsy yang berbeda dari biasanya.
Mereka tidak tahu saja, apa yang direncanakan putrinya agar bisa tetap ke Bar.
Bibir Arsy tersungging karena dia mendapatkan ide cemerlang. Yang baru melintas di otaknya.
"Bunda, Ayi ingin buang air kecil!" Rengekannya.
"Ya sudah lakukan!" jawab Bunda santai.
Arsy tersenyum karena mendapatkan sinyal keberhasilan akan rencana yang telah ia siapkan.
"Gendong dia dulu!"
Bunda Cahaya mengambil baby Bell dari pangkuan Arsy.
Arsy bernapas lega, perempuan itu celingak-celinguk mencari ponselnya. Setelah itu ia mengetahui letaknya. Arsy segera menyambar ponselnya dan meninggalkan ruang tamu itu. Tapi langkahnya terhenti, dia lupa menanyakan letak kamar mandi.
Setelah mendapatkan jawaban, Arsy melangkahkan kakinya kearah kamar mandi. Belum juga lima langkah, Arsy mendengar tangisan bayi.
"Oek ...oek!"
Arsy memejamkan matanya sambil mengumpat. "Aiiihhh ... kenapa harus nangis sih!" Arsy melangkahkan kakinya dengan terburu-buru.
"Ayi, kamu harus cepat kembali. Baby Bell menangis lagi!" teriak Bunda.
Sedangkan Arsy masa bodoh dengan ucapan Bunda. Perempuan itu terus berjalan, sambil mengamati setiap ruangan yang ada didalam rumah itu. Dia harus menyiapkan strategi untuk keluar dari rumah itu. Tapi tetap izin dengan keluarganya.
Arsy mengaguuk-anggukkan kepalanya.
'Baiklah, nanti aku akan keluar dari kamar mandi. Kemudian aku melewati ruang tamu seperti orang terburu-buru. Dan setelah aku sampai diambang pintu utama. Aku meminta izin ke Papa. Sebelum Papa, mengeluarkan suara aku akan berlari' batin Arsy.
Langit menatap kepergian Arsy, lelaki paruh baya itu. Memberikan isyarat kepada anak angkatnya. Gibril mengaguuk pelan kemudian meninggalkan ruang tamu.
...***...
Arsy yang sudah ada di dalam kamar mandi. Ia sedang mengikat rambutnya. Kemudian mengecek tali sepatunya, apa ada yang terlepas. Setelah dirasa semua tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Arsy pun mengambil napas sebelum melakukan aksinya.
__ADS_1
Arsy membuka pintu kamar mandi perlahan. Perempuan itu membungkukkan badannya sambil menengokan kepalanya ke kanan. Dia tersenyum karena tidak ada siapapun. Perlahan ia menengok ke kiri. Betepa terkejutnya ia saat melihat kaki jenjang itu berdiri tegak didepan matanya. Arsy mendongakkan kepalanya untuk melihat kaki milik siapa itu.
"Aiiiihhhh!" ujar Arsy sambil memalingkan wajahnya.
"Mau kemana hem?" tanyanya sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok.
'Aduh kenapa dia ada disini sih' batin Arsy sambil menggaruk rambutnya.
"Kemana apanya? Ayi tidak akan kemana-mana!" ujar Arsy sambil melenggang pergi meninggalkan Gibril dengan santai.
"Baguslah kalau begitu!" Gibril mengagukkan kepalanya. Dan mengimbangi langkah Arsy. Setelah ada di samping Arsy. Gibril segera memegang lengan adiknya. Agar tidak bisa berlari dan meninggalkan rumah itu.
Arsy mendengus kesal karena rencananya gagal. Perempuan itu terlihat sangat frustasi karena Abangnya lebih pintar darinya.
...***...
Setelah sampai ruang tamu Arsy memasang wajah muram. Papa Langit yang melihat hal itu, ia tersenyum. Paruh baya itu tahu jika saat ini Arsy sedang bete karena rencana gagal.
"Bun, tadi Ayi bilang jika dia dengan senang hati. Mau menggendong baby Bell sampai acara aqiqahan ini selesai!" ujar Gibril tertawa dalam hati karena berhasil mengerjai adiknya.
Arsy yang mendengar ucapan Gibril dia melotot. Seakan tak terima, tapi ia juga tak bisa membantah. Karena itu sama saja mencoreng wajahnya didepan keluarga teman Papanya.
"Benarkan Yi! Yang Abangmu katakan?" Bunda Cahaya dengan mimik wajah ceria.
Arsy diam tidak menjawab, karena kenyataannya dia sangat keberatan dengan hal itu. Gibril yang berdiri di samping Arsy. Menggesekkan pundaknya dengan pundak Arsy. Entah apa artinya, tapi membuat Arsy mengaguuk.
"Baiklah kalau begitu, Ka! Ambilkan bajuku yang ada di bagasi mobil. Biar Ayi mengganti bajunya. Tidak mungkin dia berpakaian seperti preman, saat acara aqiqahan dimulai. Apa kata orang nanti." Ka Vi bersuara sambil menggendong anaknya.
Harjunot melirik kearah Arsy yang hanya diam. Mimik wajah perempuan itu terlihat datar. Harjunot segera membuang pandangannya. Kemudian meninggalkan ruang tamu dengan baby Kai yang ada dalam gendongannya.
...***...
Bunda Cahaya menarik tangan putrinya untuk mengikutinya. Arsy melangkahkan kakinya dengan malas. Setelah sampai di dalam kamar tamu. Bunda Cahaya meminta Arsy mengganti pakaiannya. Arsy tidak membantah lagi, dia sangat benci dengan situasi malam itu. Kebahagiaannya telah direnggut, harusnya dia malam itu dugem dan bersenang-senang. Tapi kenyataannya malah dia harus menjadi baby sitter dadakan.
Arsy keluar dari balik pintu, dengan wajah cemberut. Sedangkan Bunda Cahaya tersenyum bahagia karena bisa melihat Arsy berpakaian seperti muslimah pada umumnya.
"Duduklah Sayang!" Bunda Cahaya membantu putrinya untuk duduk.
Cahaya mengikat rambut putrinya, Kemudian meletakkan pasmina dikepala putrinya.
"Bunda, apa-apaan sih! Enggak usah dipentulin juga kali. Cukup diginiin saja!" ujar Arsy sambil menyampirkan bagian kanan-kiri pasmina dipundaknya.
"Sekali ini nurut sama Bunda, oke!"
"Aelah sekali kata Bunda! Ini bukan sekali Bunda tapi berkali-kali. Harusnya malam ini aku bisa seneng-seneng. Tapi gara-gara Abang, aku seperti tahanan dirumah ini. Selama aku di Jakarta baru sekali aku bisa keluar rumah, karena Abang selalu saja melarang ku. Tidak boleh ini lah, tidak boleh itulah! Ayi lelah Bunda, Ayi butuh kebebasan!" Rengeknya.
Sedangkan Bunda hanya menggeleng karena ocehan putrinya.
"Katakan Bunda, kenapa Ayi tidak bisa melakukan apa yang Ayi inginkan saat ada disini. Ayi nyesel pulang ke Indonesia mending Ayi, menetap di Rotterdam saja. Cari apartemen disana!"
__ADS_1
Saat putrinya mengoceh tidak jelas Bunda Cahaya tidak mau mensia-siakan hal itu. Paruh baya itu dengan cekatan memakaikan hijab yang menutupi dada putrinya.
"Selesai, kita keluar sekarang. Takut baby Bell menagis!' ujar Bunda sambil merapikan hijab putrinya.
Arsy menatap pantulan wajahnya dicermin.
"Tuh kamu cantik pakai hijab!" celetuk Bunda menggoda.
"Aelah ... Bunda itu memuji kecantikan ku atau memuji diri Bunda sendiri, karena berhasil mengerjai putrimu. Untuk memakai baju dan penutup kepala seperti ini. Katakan!" Arsy mendesis.
Bunda terkekeh geli karena putrinya marah padanya.
...***...
Semua tamu sudah berdatangan acara aqiqahan akan dimulai. Harjunot sudah duduk bersila sambil menggendong baby Kai. Sedangkan baby Bell ada digendongan Langit. Sesudah lama baby Bell menagis membuat Harjunot bersedih.
Sosok perempuan bergamis putih itu berjalan kearah Langit.
"Ehem!" Perempuan itu berdeham membuat Langit membalikkan badannya. Paruh baya itu tertegun dengan keberadaan perempuan itu.
"Putriku, ini kamu Nak?" tanya Papa Langit sambil menyentuh pipi putrinya dengan satu tangan. Karena yang satu buat menggendong baby Bell.
Arsy menatap manik mata Papanya. Tatapan penuh cinta dan kasih sayang memenuhi mata paruh baya itu.
"Papa, jelas saja aku putrimu. Kenapa Papa mempertanyakan hal ini? Apa Papa tidak mau mengakui aku sebagai anak Papa?"
Papa Langit terhenyak karena jawaban putrinya.
'Ayi, jika saja kamu tidak kehilangan ingatanmu. Papa yakin kamu akan langsung menghamburkan tubuhmu kepelukkan Papamu ini Nak' batin Papa Langit sedih.
...***...
Arsy duduk di samping Harjunot. Setelah itu baru Papa Langit meletakkan baby Bell dipangkuan Arsy. Karena dia tahu Arsy masih kaku saat menggendong bayi.
"Wah cucu Mbah Uty, tidak nangis lagi," ujar Bu Dewi sambil mengelus tangan cucunya.
"Kenapa bisa begitu ya?" Aghnia bertanya keheranan.
Arsy hanya diam tidak menjawab. Sesekali dia mengelus pipi baby Bell dengan jarinya.
Sedangkan Harjunot tidak mau melirik kearah Arsy. Dia lebih memilih fokus berbicara dengan Gibril yang duduk di sampingnya.
Acara aqiqahan dimulai seorag Kiyai membuka acara tersebut. Tibalah acara cukur rambut. Saat seseorang ingin mencukur rambut baby Bell. Arsy menghalanginya.
"Eh ... kenapa rambutnya harus dipotong. Dia bayi perempuan, jadi jangan. Tidak lucu jika si bayi ini gundul! Mending yang satu saja cowok!" Arsy menutupi rambut baby Bell dengan telapak tangannya.
Harjunot yang duduk di sampingnya melirik kearahnya. Lelaki itu hanya mampu membuang napas pelan karena celotehan Arsy.
"Tarzan-tarzan!" gumam Harjunot pelan tapi mampu terdengar ditelinga Arsy.
__ADS_1
Arsy melirik kearah Harjunot dengan tatapan nyalang.
...***...