
Harjunot membuka helmnya dan menggeleng kepalanya. Tangan kanannya mengusap rambut kebelakang.
Buehhh... Keren banget.
Lelaki ini turun dari motornya, tatapan matanya tajam. Menggambarkan jika ia sedang kesal.
"Anda mau bunuh diri?" tanyanya datar.
"His ... baru ketemu sudah ngajak perang saja!" Arsy mendesis pelan.
Harjunot menyunggingkan senyuman sinis.
'Sejak kapan lelaki ini bisa tersenyum sinis. Biasanya juga senyum tertahan, tertawa kalau lucu banget' batin Arsy.
"Akhirnya saya menemukan Anda Enjunnnn! Selama dua hari kebelakang Anda ngumpet di mana? Saat saya nyari ke sini, Bapak-bapak tukang bilang Anda enggak masuk kerja! Hayo ngumpet di mana jangan bilang di selokan!" tuduh Arsy sambil menunjuk kearah Harjunot.
Harjunot ingin mengeluarkan suara. Akan tetapi Arsy segera nyap-nyap kembali.
"Atau dirumah janda kembang? Istilah kan situ sudah lama menyandang status duu-du-du aye-aye!" Arsy memilih menyensor status Harjunot. Takut Mouseky-nya marah
Harjunot yang mendengar ucapan Arsy ingin memotongnya. Akan tetapi mulut Arsy yang selalu nyap-nyap tidak bisa dikalahkan.
"Untungnya tadi saya kerumah, jadi saya tahu. Jika selama ini Anda, selalu pergi kerja. Akan tetapi saat saya datang Anda ngumpet dan menyuruh anak buah Anda bohong saat saya tanya dimana keberadaan Enjun! Mereka jawab 'Mas Arjunot nya hari ini enggak masuk Mbak' Alah itukan cuma, suruh-suruhan Anda!"
"Sett!" Arsy membuka telapak tangan dan mendekatkan kearah bibir Harjunot agar tidak bicara.
"Pakai acara jual mahal segala, chat kagak dibalas! Jangankan dibalas dibaca saja! Kagak! Dasar pengennya dikejar!" Nampaknya Arsy sudah lupa dengan tujuannya bertemu dengan Harjunot. Tujuan pertamanya ingin meminta maaf kenapa malah menjadi baku hantam.
"Sudah bicaranya?" Harjunot bertanya dengan suara sedikit keras
Arsy jadi takut jika Harjunot marah sudah mirip Papa saja pikirnya.
"Wajahnya saja yang pucat! Tapi mulutnya buehh ... lemesnya!" Harjunot menggeleng kepala.
Arsy spontan memegang mulutnya yang tadi digunakan menceramahi Harjunot.
"Ngapain saya harus menghindari Anda! Emang Anda siapa hah?" tanya Harjunot sambil berkacak pinggang.
"Enggak ada gunanya! Dua hari terakhir ini, saya pusing kurang tidur! Karena Baby Bell diopname!"
Arsy terdiam karena penjelasan Harjunot. Perempuan itu jadi teringat tadi saat bermain dengan baby Bell tubuhnya terlihat berkurang.
"Terus apa yang Anda bilang tadi? Saya sok jual mahal enggak mau balas chat? Dengerin ya? Ponsel saya tidak bisa dicash! Lubang yang buat nyolokin rusak! Perlu diservis! Paham?"
Arsy semakin menunduk malu. Jika dipikir-pikir kenapa dirinya mirip seorang pasangan yang mengintrogasi pasangannya sedang melakukan hal buruk dibelakangnya.
__ADS_1
"Dan pagi ini, saya baru masuk kerja! Terus Anda berpikir saya main dirumah Janda kembang? Pertanyaannya apa urusannya dengan Anda?" teriak Harjunot yang sudah jengah dengan tuduhan yang Arsy betikan.
Arsy yang mendengar teriakkan Harjunot seketika kaget, hingga membuat bahunya terangkat.
"Lihat ban depan motor saya!" Harjunot menarik pundak Arsy untuk memperlihatkan ban motornya.
Arsy yang menunduk pun mulai melirik kearah ban motor Harjunot.
Satu kata yang ada dalam pikirannya 'baru'
"Bannya baru kan?" Harjunot bertanya, perempuan itu mengangguk pelan.
"Anda tahu kenapa bannya baru? Itu karena tadi dipertengahan jalan bannya sobek! Membuat saya harus ngedorong sampai tambal ban dan saya harus menunggunya. Hingga selesai!" jelas Harjunot sambil meremas rambutnya dengan frustasi karena tuduhan yang Arsy berikan.
Lelaki itu seolah memposisikan sebagai suami yang dicurigai istrinya. Karena pulang terlambat. Dan si suami harus menjelaskan pada istrinya. Kenapa dia bisa pulang telat.
"Jika kedatangan Anda kemari hanya ingin membuat emosi jiwa! Saya mohon pulanglah!" Harjunot menangkupkan telapak tangannya didepan Arsy.
Arsy yang tadi mencoba menahan air matanya. Karena ketakutan saat Harjunot memarahinya. Perempuan itu sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.
"A-aku minta maaf hiks!" Arsy tersungkur sambil memegang kaki milik Harjunot. Gayanya seperti anak tiri yang memohon kepada ibu tiri agar tidak mengusirnya.
"Se-sebenarnya sa-ya kemari hiks ... ingin minta maaf! Karena kemarin saya menghina Anda hiks!" Arsy meletakkan keningnya dilutut Harjunot.
"Arsy Lattif bangun! Ayo bangun, jangan begini nanti tidak enak dilihat banyak orang!" Harjunot membungkukkan badannya. Dan memegang pundak Arsy agar mau bangun.
"Kalau begitu saya juga enggak akan maafin kamu! Ayo bangun! Mau dimaafkan enggak?" Harjunot tidak tega jika melihat sosok perempuan bersimpuh padanya.
"Beneran, Enjun maafin kalau aku bangun!"
Harjunot membuang napas kasar.
"Iya! Ayo bangun!"
Arsy pun berdiri dengan dibantu oleh Harjunot.
"Dimaafin bener ya?" tanya Arsy.
"Saya maafkan, akan tetapi saya tidak pernah melupakan!" ujarnya datar.
"Ya, saya tahu semua butuh waktu untuk melupakan! Hiks!"
"Ya sudah sana pulang!" Harjunot mengusir Arsy.
"Enggak mau!" Arsy menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
"His!" Harjunot menggaruk kepalanya frustasi.
...***...
"Mau apa lagi sekarang?"
"Saya mau Anda menerima saya, menjadi istri Anda!'
Harjunot membulatkan matanya sempurna.
"Hahaha bukanya waktu itu Anda yang menolak. Kenapa sekarang Anda yang meminta saya untuk menerima Anda?" ejek Harjunot.
"Gini-gini, berikan satu saja alasan kenapa saya harus menikahi Anda."
Arsy menunduk dalam, harga dirinya kini telah hancur didepan Harjunot.
"Emmm ... apa karena Anda Cantik?"
"Atau karena umur Anda masih muda? Jadi saya harus bersyukur karena anak gadis seperti Anda mau menikah dengan saya?"
"Atau karena Anda berpendidikan tinggi?"
"Karena saya duda, bekas punya dua anak! Mendapatkan seorang gadis muda masih ori!"
"Atau–" Arsy segera memotong ucapan Harjunot. Perempuan itu sudah tidak tahan lagi karena Harjunot mengingatkan, saat kemarin dia mengatakan kelebihannya dan menghina kekurangan Harjunot.
"Akan saya kasih satu alasan kenapa Anda harus menikah dengan saya!" Arsy menunjuk dada Harjunot kemudian kearahnya.
"Karena hanya Anda yang bisa mempersatukan. Hubungan yang retak antara ibu dan anak! Yang lain tidak bisa!"
"Maksudnya?" Harjunot mengerutkan keningnya.
Arsy mulai menceritakan apa yang terjadi, saat dia bercerita bagaimana dia menolak ajakan nikah Harjunot.
"Bunda sangat murka karena putrinya berani menolak Harjunot!" Arsy bicara lemah.
Harjunot hanya membuang napas pelan.
"Pulanglah!" Harjunot menghentikan taksi. Dan membukakan pintu bagian penumpang. Dan menyuruh Arsy duduk kemudian menutupnya.
"Tapi Enjun?"
"Istirahat wajah Anda pucat!" Harjunot menatap wajah Arsy.
"Pak! Daerah Jakarta Selatan! Oke saya sudah scan QRadnya!"
__ADS_1
.