
"Nyesel banget gue nebeng lu Sya!" Arsy bicara dengan bibir yang manyun. Bagaimana tidak! Jika ban mobilnya Rasya kempis. Mereka keluar dari rumah sakit jam lima pas. Dan sekarang sudah jam setengah enam.
Rasya hanya diam sambil membuka bagasi mobil. Tidak tertarik untuk meladeni keluhan teman kecilnya. Setelah bisa mengeluarkan ban dari bagasi mobil. Rasya meletakkan ban serep di aspal. Belum juga dia menutup bagasi mobilnya, ada teriakan yang melengking di telinganya. "Rasyuuuu! Bannya menggelinding!" Arsy berteriak saat melihat ban yang baru Rasya keluarkan mengggeleding.
Spontan saja ia menengok kebelakang, dan benar saja bannya sudah menjauh.
"Kejar dong! Sya!" Arsy mendorong tubuh Rasya.
Akhirnya pemuda itu pun mengejar ban serep. Yang semakin jauh saja, mesti menambah kecepatan berlari nih, pikirnya.
Sedangkan Arsy yang berdiri disamping mobil, dia berteriak. "Ayo Rasyu! Jangan mau kalah sama bannya!"
Sedangkan Rasya mengumpat teman kecilnya itu, yang hanya berteriak.
Arsy yang melihat Rasya semakin jauh, tanpa pikir panjang. Arsy melepaskan sepatu heelsnya itu. Perempuan berambut pirang itu, berlari cepat mengajar Rasya. Arsy berlari sambil menjinjing rok span itu keatas. Untungnya dia memakai celana dalaman selutut. Tak butuh waktu lama, Arsy bisa ada dibelakang Rasya tepat.
"Rasyu awasss!" Arsy berteriak membuat Rasya menengok kebelakang. Rasya membulatkan matanya lebar, karena Arsy membawa batu bata ditangannya.
"Minggir Rasyu!" Arsy memberikan aba-aba, dengan cepat Rasya melimpir dijalan. Arsy tersenyum tipis, dia sudah siap melemparkan batu bata itu.
Bukkg! Pakkkg! Arsy tersenyum lebar karena dia bisa menghentikan ban yang mengggeleding. Sedangkan Rasya ternganga takjub dengan temanya.
"Prok! Prok! Prok!" Rasya bertepuk tangan seolah memberikan apresiasi untuk teman kecilnya itu.
Arsy menatap Rasya sambil mengerutkan bibirnya lebar.
"Rasyu! Jangan tepuk tangan saja, cepat bawa bannya!" Perintah Arsy sambil mengelap rambutnya yang menempel di kening, sudah gitu lepek lagi.
Rasya segera berlari kearah ban mobil itu, kemudian kembali kearah Arsy yang seperti menahan sakit sambil menatap kakinya.
"Eh ... Tiffu, lu kenapa?" Rasya bertanya cemas karena Arsy mendesis kesakitan.
"Kaki gua, tergores pecahan kaca!" Arsy baru sadar, padahal perempuan itu sudah menginjak pecahan kaca sejak tadi ia melepas alas kakinya.
"Bisa jalan kan? Soalnya jarak mobil lumayan Tiffu!"
"Tidak tahu Sya! Masalahnya, kedua-duanya terkena serpihan kaca!" Arsy bicara sambil ingin menagis karena menahan sakit nan perih.
"Terus bagaimana? Mau gua, bopong?" Rasya menawarkan jasa bopong gratis. Arsy menggeleng menolak tawaran Rasya.
"Terus bagaimana?"
"Entahlah!" Arsy mengangkat kedua pundaknya.
__ADS_1
Rasya mulai mencari solusi untuk masalahnya itu. Tak sengaja matanya menatap tali, yang ada dikiri jalan. Pemuda itu tersenyum dan berjalan untuk mengambil tali itu.
"Buat apa, itu Sya?" Arsy sudah duduk lesehan dijalankan. Karena dia tidak kuat berdiri. Jalanan sepi karena mereka lewat jalan pintas, semua itu gara-gara Rasya tidak membawa SIM jadi masuk gang sempit dan melewati hutan ia lalui. Sungai akan disebrangi. Tenggelam deh.
"Kau akan tahu!" Rasya bicara sambil mengikatkan tali itu, dibagikan velg dengan kuat-kuat. Sampai giginya Rasya bergemeretak.
"Hah!" Rasya mengelap keringat di keningnya dengan lengan.
"Ayo, naiklah ke ban! Aku akan menyeret ban ini dengan tali ini!" Rasya memberikan tangannya kearah Arsy. Arsy nampak tidak percaya jika ide Rasya akan berhasil.
"Jangan aneh-aneh deh Sya!"
"Ini pertolongan pertama, Tiffu! Ini juga sudah mau isya. Nanti Om Langit, marah lagi!" Rasya menggerakkan jari-jemarinya agar Arsy segera menerima bantuannya. Mau tidak mau Arsy mau menerima uluran tangan Rasya. Rasya membantu Arsy untuk duduk di atas ban mobil.
"Kakinya jangan gitu!" Rasya sudah siap menarik tali yang terikat dengan ban itu.
"Terus?"
"Bersila-bersila!"
Arsy mengikuti apa yang Rasya katakan.
"Tangannya, pegang tali biar enggak jatuh!" Arsy mengaguuk saja.
"Siap?" Rasya bertanya, Arsy mengaguuk dan berkata. "Asiapppp!"
Dendang sekuat tenaga Rasya menarik ban mobil yang ada Arsy diatasnya. Sedangkan Arsy yang semula takut, dengan ide temanya. Perlahan perempuan itu malah terbahak-bahak, karena merasa seru. "Hahahaha! Rasyu ini sangat menyenangkan!" Arsy tertawa lebar. Sedangkan Rasya mengumpat dalam hati, Arsy seru enak ditarik. Nah Rasya harus menahan sakit di telapak tangannya. Sialnya tali yang ia tarik sangat kasar.
"Rasyu! Kenapa dahulu kita tidak main seperti ini! Gua ngerasa jika gua kembali ke zaman dahulu!"
"Ya-ya! Silahkan nikmati, karena gue enggak mau ngelakuin ini lagi!" Rasya meringis karena keberatan.
Sedangkan Arsy terus tersenyum menikmati permainan yang belum pernah ia dan Rasya lakukan.
...***...
Akhirnya perjalanan naik ban mobil telah usa. Ternyata mereka sudah ada disamping mobil. Rasya langsung saja, mengambil dongkrak. Dan mulai melancarkan aksinya, agar segera selesai. Sedangkan Arsy masih setia duduk di atas ban mobil yang tadi mengggeleding. Arsy menatap bagaimana Rasya sangat lihai, mengontak-atik ban itu.
Tak butuh waktu lama Rasya bisa mencopot ban. "Tiffu, ayo berdiri! Gua akan memasang ban itu!" Rasya memberikan tangannya agar digunakan pegangan oleh Arsy. Perempuan itu pun menerimanya. "Mau, duduk didalam mobil?"
Arsy menggeleng pelan, sebagai jawabannya.
"Terus?"
__ADS_1
"Gua, akan menemani lu disini! Lumayan kan, gua bisa bantu memegang senter ponsel!" Arsy tidak akan membiarkan temannya sedirian.
"Baiklah, duduk diban yang satunya lagi kalau gitu!" Rasya membantu temannya duduk. Setelah itu Rasya segera memasang ban mobil itu dengan tergesa-gesa. Agar mereka bisa pulang tidak terlalu malam.
"Rasyu, kenapa lu tidak buka bengkel saja? Istilah lu, sangat lihai memasang ban!" Arsy bicara sambil mengarahkan baterai ponselnya kearah ban bagian belakang sisi kanan.
"Maksudnya, banting setir gitu?"
"Emang lu mobil, pakai acara banting setir?" Rasya terkekeh karena Arsy berusaha membuat lelucon.
Setengah selesai, Rasya meletakkan dongkrak mobil itu ke bagasi. Dan membersihkan tangannya. Dilanjutkan membantu Arsy berdiri.
"Tiffu! Naik bagian belakang ya? Biar enak kalau ngobatin lukanya!"
"Tidak usah, nanti saja biar Bunda, yang membantu!"
"Nanti infeksi, soalnya sudah lama didiamkan! Tidak diobati!" Akhirnya Arsy menerima tawaran Rasya.
Mereka berdua sudah ada didalam mobil, dengan kedua kaki Arsy dipangkuan Rasya. Sedangkan Arsy, menyandarkan kepalanya di bagian pintu mobil yang sudah dikunci. Perempuan itu, bermain ponsel. Saat Rasya mengobati lukanya dengan alkohol dan kapas.
"Iya, Pa?" Arsy terdiam saat mendengar suara paruh baya yang terdengar cemas.
"Ayi, bentar lagi pulang Bun! Janganlah, khawatir! Disini ada, pemuda hebat! Yang bersama denganku!" Arsy melirik kearah Rasya yang, fokus membersihkan lukanya.
"Bentar lagi! Kita pulang, Bunda jangan khawatir! Ayi akan jaga diri!"
"InsyaAllah! Assalamu'alaikum!" Arsy mengakhiri panggilan itu.
"Sya! sudah belum? Gua enggak tahan, perih ini!"
"Sabar, bentar lagi?"
Akhirnya Rasya bisa menyelesaikan tugasnya sebagai Dokter buat teman kecilnya itu.
Mata Arsy tak sengaja menatap telapak tangan, Rasya yang merah.
"Tangan lu, kenapa Sya?" Arsy menarik tangan Rasya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat telapak tangan Rasya yang lecet. "Ah ...ini tidak apa-apa, Tiffu!" Rasya menutup telapak tangannya dengan cara menggenggam erat tangannya.
"Enggak apa-apa gimana? Ini pasti karena tadi tangan lu buat menarik tali yang kasar itu kan?" Arsy membuka kotak obat kemudian mengambil kapas dan cairan alkohol. Untuk mengobati luka milik Rasya.
"Hisss!" Rasya mendesis karena perih. Sedangkan Arsy yang refleks pun meniup telapak tangan Rasya.
Pemuda itu menatap Arsy dengan lekat tanpa mengedipkan mata. Hal itu membuat Rasya, semakin jatuh cinta dengan Arsy. Yang penuh perhatian dan berhati baik.
__ADS_1
...***...
Berhari-hari enggak nulis karena baca novel. Kalau kapan-kapan up-nya teledor wajar:v