
Sore itu Arsy dan seluruh dewan Guru setuju untuk menjenguk Puput bersama.
"Tiffu! Nebeng enggak!" Rasya menyenggol pundak Arsy dengan pundaknya.
"Iy-iya!" Arsy tersadar dari lamunannya.
"Dari tadi pagi, gua lihatin lu selalu bengong! Apa ada masalah?" Rasya memajukan kepalanya, hal itu membuat Arsy tertegun karena tiba-tiba wajah Rasya didepan mukanya.
"Heh, apa yang kau lakukan?" Arsy mendorong tubuh Rasya agar jauh dari dirinya.
"Gua hanya mencoba mengamati wajah lu! Kenapa beda dari biasanya, yang segar dan ceria. Tapi pagi ini layu seperti bunga yang tidak mendapat sinar matahari dan siraman air!" Rasya bicara sambil memutar-mutarkan kunci mobilnya.
Arsy terdiam tidak menjawab ocehan Rasya.
"Tiffu, jangan bengong kesambet setan nanti!"
"Lah, yang tadi bicara ini bukan setan?"
"Suiiialll!" Rasya mendorong tubuh Arsy sedikit.
"Halah, lu itu Sya! Ama cewek kasar banget. Layak enggak laku!" Arsy mencibir sambil membuka pintu mobil.
"Kalau enggak laku, kan masih ada lu!" Rasya menjawab sambil membuka pintu mobil bagian supir.
"Hey apa yang lu maksud?" Arsy bertanya sambil memakai seat belt.
"Cadangan!" Rasya terkekeh sambil menginjak pedal gas mobil.
"Gua bukan batere jam, pakai ada cadangan segala!" Arsy menatap kearah depan.
"Ya sudah, cadangan pemain sepak bola mau enggak?" Rasya melirik kearah teman kecilnya itu.
"Wah ... masalah sepak-meyepak gua bukan ahlinya!"
"Lah terus lu, ahlinya apa?"
"Enggak tahu!"
"Lu mau enggak jadi ahli surga?"
"Caranya?"
"Menikah dan turuti apa yang suami bilang, yakin deh pasti masuk surga!"
"Gua kan belum nikah! Terus masa gua harus nurutin suami orang!"
"Itu sih bukan pahala, yang lu dapat, Tiffu!" Tangan Rasya mengelus rambut Arsy, akan tetapi matanya fokus kearah jalan.
Arsy tersentak karena sikap Rasya tidak seperti biasanya.
"Turunkan, tangan Anda! Atau mau tangannya, saya gigit rabies?" Arsy bicara tegas tapi Rasya malah tertawa.
"Jadi cewek, jangan cerewet! Nanti lelaki takut deketin lu!" Pungkas Rasya sambil menarik tangannya yang ada di atas kepala Arsy.
"Biarin!"
"Lu mau enggak jadi Ibu dari anak-anak gua?"
__ADS_1
"Lu siap enggak nyiapin maharnya?" Arsy menantang Rasya.
"Berapapun, gua siap! Asal lu yang menjadi istri gua!" Rasya melirik Arsy sambil tersenyum.
"500Dirham!"
"Tuhan! Itukan setara dengan 1.977.348,84 rupiah!"
"Gimana, kalau siap kita langsung KUA sekarang!" Arsy terkekeh geli melihat ekspresi Rasya.
"Yang benar saja Tiffu! Kenapa maharnya berat banget! Bisa enggak dikurangi!"
"Eh ...Sya! Ini bukan timbangan pakai acara dikurangi segala!"
"Beneran Tiffu, itu tarif mahar yang lu cantumkan. Jika ada lelaki yang mau menikah sama lu?"
"Tentu saja!" Arsy memberi jeda, sebelum melanjutkan ucapannya kembali. "Tidak! Gua hanya bercanda."
Rasya mengangguk-angguk paham. Mobil itu mulai memasuki Hospital. Kedua orang itu sudah keluar dari mobil, dan semua dewan Guru juga sudah pada datang.
"Ruangan Puput, ada dilantai beberapa ya? Apa kita tanya Pak Kepala! Atau Resepsionis?" Bu Fitroh mengawali pembicaraan.
"Iya, kita kan belum tahu, dimana Puput dirawat!" celetuk Pak Rudi.
"Dilantai tujuh, nomer tujuh ruang rawat inap khusus anak!" Arsy yang berdiri di samping Rasya menjawab.
"Lu, tau darimana?" Rasya bertanya menelisik. Seluruh dewan Guru juga ingin tahu. Sedangkan Arsy malu karena rekan sesama Guru, memandangnya.
"Ah ... sebenarnya kejadian Puput pingsan itu, saat itu saya juga ada bersamanya!"
"Maksudnya bagaimana Bu Arsy?" Guru berbadan tinggi itu bertanya. Arsy pun menceritakan bagaimana kejadian awal Puput pingsan.
Saat Arsy ingin melangkah bersama rekan Guru, tangannya ada yang menarik.
"Eh ... tunggu dulu! Lu harus jelaskan semua ke gua!" Rasya menarik tangan Arsy yang membuat perempuan itu jadi mundur.
"Rasyu, lu apa-apaan sih? Main tarik-tarik saja! Lihat kita jadi tertinggal dengan para Guru kan?" Arsy menghempaskan tangan Rasya yang memegangnya.
"Tiffu! Kalau ketinggalan juga enggak masalah. Bukannya lu, sudah tahu nomor kamar anaknya Pak Kepala? Ya sudahlah enggak usah sewot!"
"Enggak sewot gimana, orang lu main tarik-tarik saja!" Arsy bicara dengan sebal.
"Ah ... lupakan! Lu tadi malam pulang jam berapa?"
"Maksudnya?" Arsy menyilang kan tangannya di dada.
"Ya lu pulang dari rumah sakit jam berapa!Empok Nur!"
"Jamilah kurang seksi!" Arsy menjawab sambil meninggalkan Rasya. Sedangkan pemuda itu segera berlari agar bisa jalan beriringan dengan teman kecilnya itu.
"Ck ... gua tanya beneran!" Rasya ingin marah karena Arsy tidak menjawab.
"Setengah sembilan mungkin, gua juga lupa!"
"Lu, hati-hati dia statusnya duda. Kalau dia naksir lu gimana?" Pertanyaan Rasya membuat Arsy menghentikan langkahnya.
Rasya tersenyum puas, bisa menakut-nakuti teman kecilnya itu.
__ADS_1
"Beneran Sya?" tanya Arsy takut, perempuan itu menatap intens kearah Rasya.
"Tentu saja!" Rasya bicara serius.
"Hahaha, Rasya-Rasya! Lu itu bikin gue ketawa!" Arsy tertawa sambil menggeleng.
Sedangkan Rasya tersenyum kecut, dia pikir teman kecilnya akan takut.
"Lu kalau bicara suka ngacok! Enggak mungkin itu terjadi Sya!" Arsy meninggalkan Rasya yang terbengong.
...***...
Kedua orang itu memasuki lift, tidak terasa mereka sudah dilantai tujuh. Rasya menarik tangan Arsy saat keluar lift. Sedangkan Arsy bingung kenapa Rasya sangat beda dari biasanya.
"Rasyu! Lepaskan tangan gua!" Arsy memukul tangan Rasya.
"Diam Tiffu! Gua takut lu ngilang, jadi gua harus jaga lu!" Rasya terus berjalan sambil memegang tangan Arsy.
"Gua bukan anak kecil, Rasyu!"
"Ya, tapi gua anggap lu masih kecil seperti dulu!" Rasya bicara, sambil membuka pintu ruangan. Pemuda itu tidak mengetok pintu maupun mengucapkan salam, main langsung masuk saja. Seluruh orang yang ada didalam ruangan itu, menatap kearah pintu. Rasya tersenyum kaku sedangkan Arsy tersenyum malu. Karena seluruh dewan Guru dan keluarga Pak Kepala menatap kearah mereka.
"Sore!" Rasya segera mengubah ekspresinya menjadi ceria.
"Sore juga!" Abidco menjawab sambil menatap kedua anak manusia yang bergandengan tangan.
"Arsy!" Mbah Uty yang duduk di sofa memanggil.
Arsy tersenyum kearah Mbah Uty, sambil mengangguk kecil.
"Lepasin tangan gua Sya!" Arsy bicara pelan. Rasya melepaskan genggaman tangannya itu. Arsy berjalan kearah Mbah Uty. Dan mencium tangan Mbah Uty. Rasya juga mengikuti Arsy dari belakang dan mencium tangan Mbah Uty. Sedangkan para dewan Guru, mengerumuni Puput yang tertidur.
"Ini pacarnya Nak Arsy?" Mbah Uty bertanya sambil mengelus punggung Rasya.
"Saya calonnya Arsy!" Rasya bicara datar, sedangkan Mbah Uty mengangguk.
"Ah ... jangan percaya dengan ucapannya Mbah Uty, dia suka bercanda!" Arsy menatap tajam kearah Rasya.
"Ternyata anak muda ini, suka bercanda?" Mbah Uty bertanya sambil mengangguk.
"Tapi kalau dianya, mau jadi calon saya! Saya siap!" Rasya tersenyum tipis. Sedangkan Arsy menginjak kaki Rasya.
"Aduh!" Rasya kesakitan.
"Makanya diam!" Arsy berbisik ditelinga Rasya. Kemudian tersenyum kearah Mbah Uty. Abidco menatap sikap kedua anak manusia itu aneh.
"Pak Abidco! Maaf kami tidak bisa berlama-lama disini, karena mungkin para istri dan anak menuggu kita di rumah. Jadi kami pamit undur diri!" Abidco mengangguk dan mengantarkan mereka sampai depan pintu. Arsy sudah duduk di ranjang Puput, sedangkan Rasya berdiri di samping Arsy. Menatap Puput yang masih setia memejamkan matanya.
"Nanti kalau kita punya anak mau dikasih nama siapa? Yang pasti harus ada nama lu dan nama gua dong!" Rasya menyenggol pundak Arsy. Arsy yang tadi mengelus wajah Puput, tersentak ada yang menyenggol pundaknya.
"Rasy!" Arsy bicara kesal.
"Siapa tuh Rasy?" Rasya bertanya.
"Rasya! Arsy! Puas lu?"
Rasya tersenyum puas karena jawaban Arsy. Sedangkan Abidco yang baru masuk ruangan menatap kedua orang itu datar.
__ADS_1
...***...