Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Interview Jadi Mantu


__ADS_3

Disebuah ruang tamu, kedua lelaki itu saling berhadapan. Nampak di sana belum ada yang mau mengawali perbincangan.


“Not! Gimana Arsy?” Pertanyaan yang sangat jelas ditelinga.


Lelaki yang tadi menunduk itu, perlahan mengangkat kepalanya dan menatap lawan bicaranya.


“Ma-maksudnya?” Lelaki itu bertanya dengan suara yang tertahan, karena pertanyaan yang mengejutkan.


Paruh baya itu menggeleng, karena jawaban lelaki yang ada didepannya.


“Not! Aku tahu, kau menyukai putriku!”


Harjunot terdiam menunduk, karena pernyataan yang atasannya ucapkan sembilan-sembilan persen benar.


“Not! Apa yang membuatmu ragu?”


Harjunot masih terdiam, sambil menunduk. Mulutnya bungkam seribu bahasa. Entah apa yang membuatnya takut mengutarakan perasaan yang sesungguhnya. Mungkin orang lebih layak jika menyebut dia seorang pengecut.


“Kau hanya diam?” Paruh baya itu menatap mendelik. Karena merasa jika lelaki yang ada di depannya tidak mau menjawabi ucapannya.


“Saya tidak tahu harus jawab apa!” Lelaki itu menjawab pelan.


“Apa kau suka dengan putriku?” Pertanyaan terulang dari bibir paruh baya itu.


“Saya hanya seorang Mandor!” Harjunot malah mengeluarkan sebuah pernyataan.


“Aku bertanya sekali lagi! Apa kau suka dengan putriku? Jika kau tidak menjawab, maka akan ku terima lamaran Rasya! Untuk meminang putriku!” Paruh baya itu, bicara dengan nada terkesan menggertak lelaki yang ada didepannya.


Lelaki itu terperanjat karena pernyataan yang keluar dari sang atasan.


“I-iya!” Lelaki itu menjawab dengan yakin meski dengan nada suara terbata-bata.


“Nah, cuma bilang iya. Apa susahnya sih?” Paruh baya itu, menjawab dengan nada ejek kan.


“Kalau begitu! Aku akan menolak lamaran Rasya, jika kau berniat meminang putriku.”


“Kau niat meminang tidak? Atau kau hanya mau mempermainkan putriku? Atau kau cuma mencintai, tak niat meminang?” Paruh baya itu, bertanya sambil menggertak. Dan ingin melihat seberapa serius lelaki yang ada didepannya itu.


Lelaki yang selalu menunduk itu menelan ludahnya kasar. Lelaki itu beranggapan jika ia sedang di interview sebelum kerja. Ah- ini lebih membuat jantung berdebar-debar.


“Saya niat meminang, putri Anda Pak!” Mau tidak mau, lelaki itu harus menjawab dengan tegas.


...***...


“MAS ARJUNOT!!! BURUNGNYA TERBANG!” Yang bener saja, kenapa tetangga sebelah teriak.


Harjunot yang mendengar teriakan, dia berusaha membuka matanya yang masih ngantuk.

__ADS_1


“Astagfirullah! Kenapa Pak Edri, teriak-teriak. Ganggu orang tidur saja!” Harjunot bicara sambil jalan kearah balkon. Dengan wajah yang masih ngantuk, sarung yang tidak rapi ditambah rambutnya berantakan.


“Kenapa, Pak Endri teriak-teriak?” Harjunot menatap kearah bawah.


“Burung saya terbang!”


“Terus, apa hubungannya dengan saya?” Harjunot tidak habis pikir karena burung terbang dia harus bangun dari mimpinya.


“Burungnya terbang ke kamar Mas Arjunot!” Pak Endri mendongak menatap ke atas.


“Apa?” Harjunot terkejut bukan kepalang. Bagaimana bisa burung tetangga masuk kamarnya.


Semua itu gara-gara dia yang lupa menutup pintu selding seusai sholat subuh.


Sedetik kemudian Harjunot melihat burung berwarna kuning, melintas disampingnya. Huft. Harjunot membuang nafas lega, karena burung itu telah keluar dari kamarnya.


“Maaf ya, Mas! Ganggu tidure sampean!” Pak Endri tersenyum kearah Harjunot.


“Lain kali, burungnya jangan dibiarkan terbang! Kandangin saja Pak!”


“Lha …yowes tak kok nek kurungan. Tapi kebetulan tadi saya mau kasih makah. Eh …enggak tahunya malah nyamperin Mas Arjunot!”


“Iya, Pak Endri! Harusnya itu burung diikat dahulu, sebelum dikasih makan. Agar enggak kemana-mana.”


“Berarti burung nya, enggak ada bedanya dengan kambing dan sapi dong?”


“Yasudah, kalau begitu. Bagaimana kalau Mas Arjunot beli burung? Biar burung saya enggak terbang jauh karena sudah ada temannya!” Ide gila macam apa itu, kenapa Pak Erdi tidak mau beli burung lagi. Buat nemenin burungnya itu.


“Mendingan Anda beli lagi, masalahnya saya jarang di rumah. Enggak ada yang ngerawat kasian nanti!”


“Kira-kira burung apa yang cocok, buat nemani Prengkiy!” Pak Erdi burung saja pakai dikasih nama. Berasa jadi manusia martabatnya turun, karena enggak ada bedanya manusia sama hewan sama-sama bernama.


“Kokok Beluk!”


“Mas Arjunot! Iki gimana toh, masa si Prengkiy! Disuruh temenan sama burung Kakak Tua!”


“Yang namanya Kakak itu, tua. Karena lahirnya awalan, enggak ada yang namanya Kakak muda!”


“Benar juga ya Mas, ya sudah Mas, besok saya tak beli. Buat nemani si Prengkiy!” Harjunot menggeleng sambil masuk kedalam kamar, tak lupa ia menutup pintu. Takut si Prengkiy masuk lagi. Lelaki itu saja, belum mengecek apa ada kotoran Perngkiy didalam kamarnya.


Harjunot memutuskan untuk mandi, setelah itu dia akan mengawasi anak buahnya bekerja.


...***...


Lelaki itu berdiri didepan cermin sambil mengancingkan kemeja putih.


“Bagaimana mungkin aku bermimpi seperti tadi?” Gumamnya pelan.

__ADS_1


“Tidak mungkin seorang Pak Dirut, mudah memberikan putrinya untuk lelaki. Aku yakin jika di dunia nyata, Pak Dirut akan memilih lelaki yang baik nan tepat untuk putrinya itu!" Harjunot mengacak rambutnya dengan tangan. Kemudian menyisir nya.


"Pasti semua ini gara-gara surat yang tadi malam aku baca." Harjunot menyemprotkan minyak ketubuhnya.


"Sejujurnya, aku masih bingung kenapa aku selalu memimpikan dia."


"Ah ... aku rasa, mimpiku ini disebabkan oleh diriku sendiri! " Tepis Harjunot yang berpikir jika itu hanyalah mimpi dari dirinya sendiri.


Dilansir dari My Islamic Dream, mimpi dikelompokkan menjadi tiga jenis menurut sunah yaitu Ru'yaa atau mimpi baik, mimpi buruk, dan mimpi dari diri sendiri.


...***...


Harjunot berjalan kearah ruang makan.


"Pagi!" sapa Harjunot kepada cinta pertamanya.


"Poga-pagi! Ini sudah siang Nottt!" Bu Dewi bicara sambil membereskan meja makan.


"Iya, Bu! Maaf!" Harjunot menyodorkan tangannya kearah Bu Dewi.


"Kebiasaan deh, Not. Kalau kamu di rumah pasti Ibu, dapat kerjaan tambahan!"


"Ya kalau enggak Ibu, siapa lagi?" tanya Harjunot tersenyum kepada Ibunya.


"Ya cari istri, biar enggak Ibu! Yang melipatkan lengan bajumu!" ujar Bu Dewi kesal, meskipun begitu Bu Dewi, tetap membantu anaknya itu.


Harjunot itu tidak bisa melipat lengan bajunya sendiri. Kalau pun bisa, pasti tak serapi lipatan orang lain. Memang ada sih sebagian manusia itu tidak bisa ngelakuin hal sepele.


"Mohon doa nya!" jawaban Harjunot membuat Bu Dewi, menghentikan acara melipat lengan.


"Emang sudah ada?" Wajahnya tampak riang.


"Belum!" Harjunot menggeleng pelan.


"Kurang ajar! Ibu, pikir sudah ada. Biasanya kau hanya diam dan berlalu saat ditanya istri!" Tangannya menjewer telinga Harjunot.


"Aduh ...Ibu ini, kalau anaknya dijewer mulu bisa-bisa telinganya copot. Terus enggak laku gimana? Katanya mau punya menantu!" Harjunot meringis karena jeweran Bu Dewi, sangat aduhai. Aduh sakitnya.


Bu Dewi pun melepaskan jeweran nya. Sepertinya paruh baya itu, takut jika tak punya menantu.


"Awas ya Not! Kalau tahun depan belum nikah, tak nikahkan sama anaknya Pak Erdi!" Ancaman Bu Dewi terkesan seperti rampok pasar.


"Yang siapa nih?"


"Yang janda, biar kamu buy one get four!"


Cegeluk... Harjunot menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


...***...


__ADS_2