
Ponsel yang ada di dalam saku berdering. Sang pemilik masih tertidur pulas. Terlalu lelah mungkin saja, hampir tiga panggilan tidak terjawab.
Panggilan ke empat kali, sang empu mulai. Mengerjap-ngjapkan matanya. Perlahan tangannya masuk, ke dalam saku. Dan membaca siapa yang menelponnya, di siang bolong. Arsy menatap ponselnya malas, saat tahu nama yang tertera dilayar ponselnya. Arsy me—reject panggilan itu.
Perempuan itu meletakkan ponselnya diatas nakas. Kemudian membaringkan tubuhnya kembali. Dan memeluk baby Kai, gemas.
Perempuan itu melirik kearah baby Bell yang mulai mengumpulkan nyawanya.
"Ao ...ao ...ao!" Baby Bell langsung mengoceh sambil mendongakkan kepalanya menatap atap.
Arsy langsung terbangun dari berbaringnya. Perempuan itu melangkahkan kakinya kelantai, dan mengangkat baby Bell.
"Uluh-uluh Adek pintar banget, bangun enggak nangis!" Arsy mencium pipi baby Bell gemas.
"Na ..." Baby Bell memasukkan genggaman tangannya.
"Adek mau minun esusuy?" tanya Arsy sambil berjalan kearah meja kecil. Yang ada didalam kamar. Di meja itu sudah tersedia susu bubuk dan botol susu. Perempuan itu mulai membuatkan susu untuk baby Bell. Setelah selesai Arsy berjalan kearah ranjang. Dan duduk ditepi ranjang. Tak sengaja matanya menatap ponselnya. Ada pesan suara masuk, dari nomor yang tadi memanggilnya. Arsy mengambil ponselnya dengan satu tangannya. Karena yang satu digunakan untuk membantu baby Bell memegang botol susu.
Arsy mulai memutar pesan suara itu.
"Tolong angkat telepon saya! Kenapa dirijeg?"
Baby Bell yang mendengar suara dari ponsel, bayi perempuan itu memelototkan matanya. Kemudian tertawa kecil.
"Emmmma!" Baby Bell bersuara.
"Abi bukan Emmmma, Sayang!" sahut Arsy.
Ponsel Arsy kembali berdering, membuat baby Bell bahagia. Arsy mengembuskan napasnya saat melihat. Produk luncuran nampak bahagia. Saat mendengar panggilan masuk. Dari peluncur produk.
...***...
Arsy mulai mengangkat panggilan itu.
"Hay, Sayang?" Harjunot melambaikan tangannya, saat melihat wajah putrinya menghiasi layar ponselnya.
Bayi itu menggerakkan tangannya, seperti ingin mengambil ponsel yang memperlihatkan gambar peluncur produk.
Arsy hanya bisa diam saat melihat orang tua dan anak sedang berinteraksi.
"Adek, mimik susu? Siapa yang buatin Sayang?" Harjunot menatap putrinya.
"Emmmma ...aooo!"
"Oh ... Tante Ai?" Harjunot menatap tunangannya. Lelaki itu mengerutkan keningnya, saat melihat Arsy tanpa ekspresi.
"Kamu kenapa?"
Arsy hanya diam saja, sambil memalingkan wajahnya.
Harjunot hanya mampu menghela nafas panjang. Dia kenal betul, jika sang tunangan. Sudah memasang wajah datar, pasti ada yang salah.
"Jangan diam, saya menelpon kamu itu. Ingin bicara sama kamu! Ingin tahu kabarmu gimana," ujar Harjunot sambil mengusap wajahnya.
"Arsy Lattif!" Penekanan untuk Arsy.
"Baru ingat sama saya, maklum baru lima hari!" sindirnya kepada Harjunot.
Harjunot langsung paham, dengan sindiran yang Arsy berikan.
"Bukan begitu, tapi memang. Selama lima hari ini, ponsel saya tidak bisa. Itu alasannya!"
"Tapi kenapa kata Ibu, setiap hari kamu nelpon si kembar?"
"Oh ... masalah itu, ya emang! Tapi saya nelpon nya, minjam ponselnya Pak Agas!"
Arsy terdiam tidak merespon. Melihat tunangannya diam, Harjunot berucap kembali.
"Sebenarnya ponsel saya itu rusak, karena jatuh kena air. Untung saja ponselnya masih bisa dipakai, setelah saya servis ke counter. Dan mengenai kenapa saya enggak ngabarin kamu."
"Ya saya sungkan kalau mau minjam ponselnya Pak Agas, buat nelpon tunangan saya! Kamu harus ngertiin posisi saya dong!" Harjunot menghembuskan nafas pelan.
__ADS_1
Kenapa calon istrinya terlalu protektif dan pencemburuan.
"Dimana Kakak?" Harjunot mengalihkan pembicaraan.
Arsy langsung mengganti kamera belakang, dan memperlihatkan baby Kai yang masih tertidur.
"Oh ... putraku! Boboknya posisinya wenak tenan!" Harjunot menggeleng gemas.
"Bisa kameranya diubah?" Harjunot bertanya, tidak menjawab Arsy langsung menuruti.
"Enggak mau bicara?" tanya Harjunot yang melihat Arsy hanya diam.
Arsy menggeleng cemberut.
"Saya ingin berpesan sama kamu. Agar enggak pernah kecewa sama saya! Ra ... jangan terlalu berekspektasi lebih dengan saya! Jangan pernah berpikir jika saya, akan selalu melakukan. Apa yang ada di benakmu."
"Seperti kasus sekarang ini contohnya. Apa benar kamu berharap setiap hari saya video call kamu?"
Arsy mengangguk pelan.
"Terus saat, saya enggak ngabarin kamu! Kamu kecewa?"
Arsy mengangguk kembali.
"Sekarang ganti ekspektasi mu, yang semula ekspektasi berlebih. Rubah menjadi ekpektasi minimalis, agar kamu. Enggak mudah kecewa dengan sikap saya."
Arsy terdiam, akan tetapi dia mengangguk setuju.
"Masih marah Ra?" Herjunot bertanya.
"Ra-ra siapa yang kamu maksud. Ini Arsy bukan Ra!" Nadanya terdengar kesal.
"Jika kamu saja memberikan, nama panggilan yang berbeda untuk saya. Apa salahnya saya melakukan hal serupa seperti yang kamu lakukan!”
Bibir Arsy tersenyum tipis saat mendengar jawaban Harjunot.
"Jangan berekspektasi lebih ya Ra, nanti kamu kecewa!" Harjunot mengingatkan.
Arsy langsung menarik senyumannya.
"Ku panggil kau Humaira GC!"
"Humaira? Bukanya itu nama panggilannya Rasulullah ke Sayidah Aisyah?" Arsy mengerutkan keningnya, dan menatap baby Bell yang mulai memejamkan matanya kembali.
"Ya, emang! Saya niru Rasulullah! Ra ...kan katanya ucapan adalah doa. Siapa tahu dengan saya memanggil Humaira! Kamu bisa seperti Sayidah Aisyah!" Harjunot terkekeh melihat ekspresi Arsy.
"Oh ...gitu? Nah GC itu apa, grup chat! Atau Gadis Cerdas? Istilah kan Ummu Aisyah, cerdas! Wah-wah terima kasih pujiannya!" Arsy tersenyum lebar, plus bangga.
"Kalau Humaira nya, Rasulullah ya Gadis Cerdas! Tapi kalau kamu beda!"
"Oh .. saya tahu pasti gadis cantik kan?' Arsy nyengir.
"Itu masih katagorinya Humaira nya Rasulullah! GCC Gadis Cerdas Cantik!"
Arsy menggembungkan pipinya karena tebakannya selalu salah.
"Titel kamu juga GCC kok Ra!" Harjunot tersenyum penuh arti.
"Saya tidak perduli!" jawab Arsy kesal.
"Yang benar kamu enggak mau tahu, kepanjangannya GCC buatmu?" goda Harjunot.
"Kalau mau ngasih tahu, silahkan! Enggak juga silahkan!" ketus Arsy.
"Moodyan kamu!" Harjunot kesal.
"Dasar Gadis Cerewet Cengeng!"
Arsy melotot tatkala dia tahu kepanjangannya GCC untuknya.
"Apa maksudnya cerewet cengeng?" Tak terima.
__ADS_1
"Lah ...kamu enggak ngerasa! Kalau kamu cerewet? Setiap ngikut saya, pasti mulut kamu tidak berhenti nyap-nyap. Ngomong mulu!"
Arsy memicingkan matanya, dia belum. Menempatkan dirinya kepada Arsy yang dulu. Kalem dan pemalu. Entah mengapa bicara dengan Harjunot seperti saat sekarang. Membuatnya lebih bebas. Daripada saat dulu tepatnya, satu tahun yang lalu. Nampak malu-malu dan canggung.
"Cengeng, saat di Bar kamu nangis. Jatuh dari tangga nangis, ada katak nangis. Sampai-sampai saat saya bilang mau main ke rumah buat ngelamar kamu. Juga nangis!" Harjunot mengingat kejadian Arsy, yang menangis saat bersamanya.
"Itu bisa dibilang cewek Cengeng!"
Arsy kesal karena ucapan Harjunot.
"Kan tadi sudah saya bilang, Jangan berekspektasi lebih tentang saya! Tuh kan cemberut, pertanda kamu kecewa dengan kepanjangannya GCC!" Harjunot terlihat lebih santai saat menghadapi Arsy.
"Ya sudah kalau begitu, saat saya pulang. Saya ajak mukbang mau?" Harjunot mencoba menghibur.
"Saya bisa makan bersama Kaka!" jawabnya pelan.
"Kalau sama Enjun beda Ra, mukbangnya! Kata mukbang sih cuma trik doang. Agar Pak Dirut ngizinin buat keluar. Padahal tujuan pertamanya adalah kencan diakhiri status singgel buat kita!" Harjunot tertawa ngakak karena berhasil membuat pipi tunangannya merona.
Arsy yang ditertawakan oleh Harjunot. Dia harus berpikir gimana caranya membalas kejahilan yang tunangannya lakukan.
"Enggak takut khilaf kamu, kayak yang kamu lakukan di Airport?" tanyanya kalem, yang mampu membuat Harjunot salah tingkah dan malu.
"Bukan hanya saya, tapi kamu juga kan? Kamu yang memulai ngapain berdiri di depan saya. Terus mepet-mepet! Ingat Ra, saya itu hanya manusia. Dan lelaki normal!"
Arsy kembali menundukkan kepalanya dan menahan malu. Kenapa tuduhannya untuk Harjunot. Malah menjadi bomerang untuknya.
Harjunot tersenyum samar, karena melihat ekspresi sang tunangan.
"Ra, Baby Bell kok tidurnya gitu!" Harjunot menatap putrinya yang tidur, dipangkuan Arsy. Sambil menundukkan kepalanya dengan mulut cemberut.
Arsy menundukkan kepala, untuk melihat wajah baby Bell.
"Kau tahu kenapa dia tidurnya cemberut?" Arsy menatap Harjunot.
"Kenapa emangnya?"
"Karena Bapaknya, Harjunot Alayyyyyy! Dia tidak suka mungkin dengan kealayyyan yang Bapaknya, miliki!"
"Astagfirullah hal adzim!" Harjunot terkejut mendengar kesimpulan yang Arsy berikan.
Arsy tertawa kecil, sambil menggelengkan kepalanya.
"Biasanya kalau, aku video call. Si kembar mereka selalu kirim CV! Tapi sekarang mereka pada bobok. Gimana kalau Ra, saja yang kirim CV!" ujar Harjunot.
Sedangkan Arsy mengerutkan keningnya, tidak paham maksudnya.
"Lah ... ngapain ngirim CV? Aku enggak mau daftar kerjaan! Terus, si kembar ngirim CV maksudnya apa?"
"Ckckck, kamu sudah dewasa masa enggak tahu CV!" Harjunot menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya taulah, Curriculum Vitae!"
"CV bagi saya berbeda!"
Arsy diam tak bergeming. Dia tahu Harjunot suka mengganti arti seenaknya jidatnya.
"Kamu tahu caranya ngirim CV?" Harjunot bertanya.
Arsy yang ingin tahu dia mengangguk.
"Dekatkan wajahmu dengan ponsel!" Perintah Harjunot, yang diturutin oleh Arsy.
"Kerucutkan bibir mu!" Arsy hanya mengikuti saja.
Arsy mengerutkan keningnya, saat ponselnya memperlihatkan. Full gambar pipi sang tunangan.
Arsy mulai menggunakan otaknya, yang tadi belum terkoneksi. Dengan maksud Harjunot.
"Nah CV sudah dikirim! Terima kasih Raaaa!" Harjunot menahan senyumannya.
"Apa sih enggak jelas banget kamu," sinis Arsy, yang sudah tahu maksudnya. Tapi dia menutupinya. Takut Harjunot mentertawakan kebodohannya.
__ADS_1
"Baru saja kamu melakukan. Cium virtual!"
Arsy segera mematikan sambungan telepon. Ngeri juga melihat perubahan Harjunot. Yang semakin enggak jelas. Arsy bergidik mengigat ciuman virtual yang ia lakukan.